Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Kabur...


__ADS_3

"Kau ingin kita berbulan madu ke mana?" tanya Dave sambil memiringkan tubuh menghadap pada istrinya.


"Aku juga tidak tahu Dave." Jeslyn masih juga belum menoleh pada suaminya.


"Kau sedang apa sayang?" Dave merasa heran dengan istrinya yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya.


Jeslyn menoleh sekilas pada Dave. "Aku sedang membalas chat temanku, Dave."


"Teman siapa? Pria apa wanita? Apa jangan-jangan Dion?" cecar Dave dengan wajah tidak suka.


"Ini pesan dari teman-temanku semasa sekolah dan kuliah Dave," jawab Jeslyn cepat sebelum Dave membahas masalah Dion lebih dalam lagi.


Melihat istrinya kembali sibuk dengan ponselnya, Dave mulai merasa kesal karena Jeslyn mengacuhkanya. Dia kemudian merebut ponsel Jeslyn. "Dave, kembalikan ponselku," pinta Jeslyn ketika ponselnya sudah diambil oleh Dave.


"Aku tidak suka kau bermain ponsel disaat bersamaku." Dave menyembunyikan ponsel Jeslyn di bawah bantalnya.


Jeslyn menghela napas. "Ini juga semua karena ulahmu Dave. Teman-temanku semuanya menghubungiku untuk menanyakan kebenaran mengenai pernikahan kita."


Setelah berita pernikahan Jeslyn dan Dave dirilis, semua teman-temannya yang sudah melihat berita tesebut langsung menghubunginya. Mereka penasaran dengan kebenaran berita tentang pernikahan Jeslyn dengan Dave.


Banyak dari mereka tampak tidak percaya kalau Jeslyn akan menikah dengan pewaris dari Tjendra Group. Teman wanita Jeslyn termasuk pengagum Dave. Tidak sedikit dari mereka ingin masuk ke perusahaan Dave hanya untuk menggaetnya.


Semasa sekolah dan kuliah, Jeslyn memang sudah dikenal cantik dan pintar, hanya saja dia kurang bergaul dengan yang lain karena lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan di belajar perpustakan bersama Dion. Dia lebih suka menyendiri dari pada berkumpul dengan teman-temannya.


Jadi, bisa dibilang dia hanya dekat dengan beberapa orang saja. Salah satunya paling dekat adalah dengan Dion. Walaupun dirinya dikenal banyak orang, tetapi Jeslyn tidak pernah tahu akan hal itu.


"Kau tinggal memberitahu kebenarannya kepada mereka sayang," ucap Dave lembut.


"Aku mendadak jadi terkenal karena dirimu Dave."


"Kau bisa mengabaikan mereka, jika kau merasa terganggu."


Jeslyn mulai berbaring menghadap suaminya. "Banyak dari mereka ingin bertemu denganmu Dave," ucap Jeslyn sambil menatap suaminya. "Mereka ingin melihatmu secara langsung," lanjut Jeslyn lagi.


Dave memang sulit untuk didekati. Banyak wanita melalukan berbagai cara untuk mendekatinya. Dari sekolah sampai jadi pengusaha, Dave selalu menjadi sorotan. Jeslyn bahkan langsung jatuh hati pada Dave pada saat bertemu kembali dengannya ketika mereka sudah remaja. Saat itu, ada pertemuan antara Keluarga Dave dan keluarga Jeslyn. Sikap dingin dan acuh Dave, membuat Jeslyn memilih untuk mengubur dalam-dalam perasaannya.


Tanpa Jeslyn dan Dave tahu, kalau sebenarnya ketika masih kecil, mereka berdua sering bermain bersama, jika ayah Dave sedang berkunjung ke rumah Jeslyn. Dave bahkan sering menenangkan Jeslyn disaat dia menangis. Saat itu, Jeslyn masih balita, sementara Dave sudah SD.


"Apakah mereka semua teman dekatmu?" Dave mulai membelai rambut istrinya.

__ADS_1


"Bukan, aku tidak dekat dengan mereka," jawab Jeslyn menggeleng pelan. "Mereka memaksaku untuk mengenallan mereka denganmu, tapi langsung aku tolak permintaan mereka. Aku tahu, mereka pasti memiliki niat buruk karena selama ini mereka tidak pernah menghubungiku sama sekali."


"Kalau begitu abaikan saja mereka sayang. Jangan membebani pikiranmu dengan hal yang tidak penting."


"Iyaa," jawab Jeslyn singkat. "Dave, bisakah kau menjaga jarak dengan wanita yang menyukaimu?"


Dave tersenyum. Dia merasa senang kalau Jelsyn menunjukkan kecemburuannya. "Aku sudah berusaha menjauhi mereka sayang, hanya saja terkadang dari mereka masih ada yang nekat untuk mendekatiku. salah satu alasanku mempublikasikan pernikahan kita juga karena hal itu. Setelah berita perceraianku dengan Felicia, mereka mulai mendekatiku lagi."


Jeslyn mendekati Dave lalu memeluk tubuh suaminya dan membenamkan wajahnya di dada suaminya. Dave tampak terkejut dengan tindakan Jeslyn yang tiba-tiba. "Aku mencintaimu Dave. Jangan pernah berpaling dariku."


Dave membelai rambut Jeslyn dengan lembut. "Tidak akan sayang. Kau harus percaya padaku."


Jeslyn mengangguk. Dave kemudian mengurai pelukannya, setelah itu meraih dagu istrinya dan langsung memagut bibir istrinya dengan lembut. Jeslyn tidak hanya diam, dia mulai membalas pagutan suaminya. Mereka saling memangut dan mencecap dalam waktu yang lama.


Dave kemudian melepaskannya. "Tidurlah sayang. Kau pasti lelah."


Jeslyn mengangguk, lalu kembali memeluk tubuh suaminya. Dave menunduk sejenak menatap wajah istrinya. Sebelum tidur, Dave mengecup kening istrinya dengan lembut. "Selamat tidur sayang. Aku mencintaimu."


*******


"Ryan, lepaskan aku," teriak Stella dengan wajah marah.


"Kau harus ikut aku. Kita akan menikah." Laki-laki yang bernama Ryan mencoba menarik Stella, ketika dia baru saja keluar dari restoran miliknya.


Situasi di depan restoran terlihat sepi, karena waktu memang suda menunjukkan pukul 12 malam. Restorannya baru saja tutup, jadi hanya tersisa beberapa karyawan yang sudah bersiap untuk pulang.


"Aku tahu, karena itu aku harus menikahimu, agar keluargaku tidak kehilangan Alea. Hanya dia satu-satunya penerus dalam keluarga kami. Bagaimana pun kau harus menikah denganku," ucap Ryan dengan wajah tegas. Dia kembali menarik tangan Stella menuju parkiran mobil depan restoran tersebut.


Stella langsung menghempaskan tangan Ryan dengan kuat. "Dengar Ryan. Keluargamu sudah membuangku. Apa kau lupa bagaimana kalian memperlakukan aku dulu? Aku tidak akan pernah mau masuk ke dalam ke dalam keluarga kalian lagi," ucap Stella dengan emosi yang sudah memuncak.


Bagaimana bisa dengan mudahnya Ryan datang dan memaksanya untuk menikah dengannya, hanya agar mereka bisa mendapatkan Alea kembali. Masih teringat jelas dalam ingatannya bagaimana keluarga Daniel memperlakukannya dan mengusir dia layaknya binatang.


Mereka bahkan tidak memberikan kesempatan padanya untuk sekedar berkamas dan mengambil barag yang penting. Tanpa belas kasih mereka menyeretnya keluar dari rumah yang dia tempati dengan Daniel. 


Ryan menatap Stella sambil menahan emosinya. "Kami tidak akan memperlakukanmu begitu lagi. Aku akan pastikan itu."


Stella menatap Ryan dengan tatapan menyala. "Aku tidak akan pernah mau menikah denganmu sampai kapanpun!" ucap Stella dengan tegas.


Dia kemudian berjalan meninggalkan Ryan.

__ADS_1


"Stella tunggu..!" Melihat Stella semakin menjauh, Ryan langsung melangkah menyusul Stella kemudian mencekal tangan Stella. "Dengarkan aku dulu! Mereka sudah berubah. Tidak akan ada yang menyakitimu lagi," jelas Ryan cepat.


Stella langsung menoleh. "Tetap saja aku tidak mau." Stella langsung berjalan menjauhi Ryan.


Beberapa menit kemudian tangannya dicekal. "Kau harus ikut denganku, Stella. Aku sudah lama sekali menunggu waktu yang tepat untuk membawamu," Ryan menarik Stella dengan kasar. "Kau tidak bisa terus bersembunyi di belakang Dave Tjendra, Stella."


Ryan sebenarnya sudah lama mengetahui keberadaan Stella. Hanya saja selama ini anak buah Dave selalu berada di dekat Stella untuk menjaganya, jadi dia tidak berani mendekati Stella.


Dia hanya bisa mengawasi dari jauh sampai memiliki kesempatan untuk membawa Stella. Saat dia tahu Stella keluar kota tanpa pengawasan dari Dave. Dia mengikuti Stella dan menginap di hotel yang sama dengan Stella.


"Kau memata-mataiku?" tanya Stella dengan wajah terkejut.


Ryan terus menarik tangan Stella menuju mobilnya. "Menurutmu, bagaimana bisa aku menemukan keberadaanmu di sini?" tanya Ryan yang menghentikan langkahnya sejenak untuk menoleh pada Stella.


"Aku tidak bisa mendekatimu karena pengawal Dave selalu di dekatmu. Hanya ini cara satu-satunya untuk bisa membawamu pergi. Lebih baik kau ikut aku, jangan merepotkan Dave lagi. Dia tidak akan kembali padamu lagi Stella."


Saat tahu, kalau Stella dalam perlindungan seseorang. Ryan menyuruh orang untuk menyelidiki orang tersebut, sampai akhirnya dia tahu siapa orang yang berusaha melindungi Stella. Dia menyuruh orang untuk mengorek informasi lebih dalam lagi mengenai Dave. Dari situlah dia tahu mengenai latar belakang keluarga Dave, sehingga dia tidak berani membawa Stella pergi.


Ryan kembali menarik tangan Stella. "Ryan, tunggu dulu! Aku akan ikut dengamu, tapi dengan satu syarat." Seketika langkah Ryan berhenti.


"Jangan coba-coba membodohiku Stella, atau aku tidak akan segan lagi padamu," ancam Ryan dengan tatapan tajam.


Stella mengangguk cepat. "Apa yang kau inginkan?"


Stella sebenarnya sedang mengulur waktu. Dia sedang mencari cara untuk bisa lepas dari Ryan. "Ijinkan aku kembali ke hotel untuk mengambil barang-barangku."


"Apa kau pikir aku bodoh? Aku tahu, kau pasti akan menghubungi Dave untuk meminta bantuan darinya," ucap Ryan.


"Kau bisa ikut denganku jika tidak percaya."


Melihat Ryan yang tampak berpikir, Stella melirik ke kanan dan ke kiri, lalu membuka tasnya dan mengambil sesuatu dalam tasnya. "Ryan," panggil Stella dengan suara pelan.


Ketika Ryan menatapnya. Stella langsung menyemprotkan minyak wangi ke mata Ryan lalu mendorong Ryan dengan kuat hingga dia terjatuh. Ryan tampak mengucek matanya yang terasa perih akibat parfum ayng di semprotkan oleh Stella. Dia kesulitan untuk membuka matanya. "Stella beraninya melalukan ini padaku," ucap Ryan sambil terus mengucek matanya yang terasa sagat perih.


Stella langsung berlari kencang menjauhi Ryan menuju jalan raya sambil sesekali menoleh kebelakang. Ryan terlihat sedang berjalan untuk menyusulnya sambil terus mengucek matanya karena pandangan terlihat kabur.


Stella terlihat terus berlari hingga dia tiba di jalan raya. Dia berusaha untuk menghentikan beberapa mobil tapi tidak ada yang berhenti. Taksi yang lewat juga sudah terisi penumpang. Akhirnya Stella terus berlari sambil sesekali menghentikan mobil yang melaju, hingga dia mendengar suara klakson sebuah mobil sedan hitam.


Stella langsung menghentikan langkahnya. "Stella, apa yang kau lakukan di sini?" Terdengar suara seorang pria yang baru saja keluar dari pintu kemudi.

__ADS_1


Stella yang mengenali suara itu langsung menoleh. "Dokter Dion."


Bersambung...


__ADS_2