
"Kita sudah sampai, Tuan." Zayn menoleh sedikit ke belakang tempat bos dan istrinya sedang duduk.
Dave mengangguk. "Ayo kita turun sayang," ajak Dave sambil menggenggam tangan istrinya untuk turun dari mobil.
Jeslyn mengangguk lalu mengikuti langkah suaminya. Mereka baru saja tiba di kantor Dave pukul satu siang.
Saat memasuki kantor suaminya, terlihat banyak sekali pegawai yang baru ingin kembali bekerja setelah menghabiskan waktu istirahat mereka. Jeslyn berjalan dengan mengapit lengan Dave ketika melihat banyak yang memperhatikan mereka saat sedang berjalan berdampingan.
"Ada apa sayang?" Dave berajalan seraya menoleh pada istrinya.
Jeslyn menggeleng. "Tidak apa-apa." Sebenarnya Jeslyn hanya merasa risih dengan pandangan beberapa karyawan suaminya.
Semua karyawan Dave yang mengertahui mengenai pernikahan Dave, tentu saja penasaran dengan siapa pemilik dari perusaan mereka bekerja melabuhkan hatinya. Sebab itulah mereka terlihat menatap ke arah mereka berdua karena penasaran dengan wanita yang dibawa Dave.
"Apa kau merasa tidak nyaman ikut ke kantorku?" tanya Dave ketika mereka sudah berada di dalam lift.
Jeslyn mendongakkan kepalanya menatap Dave. Dengan senyum kaku Jeslyn menjawab, "Tidak Dave. Aku hanya belum terbiasa ikut denganmu ke sini."
"Hal yang tidak penting, tidak perlu kau pikirkan. Aku tidak mau kau stress karena memikirkan hal yang tidak berguna." Seolah tahu apa yang sedang dirasakan oleh istrinya, Dave langsung menenangkan istrinya.
Jesly mengangguk seraya berjalan keluar lift mengikuti langkah suaminya. "Selamat siang, Pak," sapa Diana dengan sedikit membungkuk.
"Hhhmm," gumam Dave, "bawakan berkas yang harus aku tanda tangani," pinta Dave seraya berlalu menuju ruangannya bersama istrinya.
"Baik, Pak." Diana mulai mempersiapkan berkas yang diminta oleh Dave.
"Duduk sayang." Dave mengarahkan Jeslyn untuk duduk di sofa. Jeslyn mengangguk lalu duduk, sementara Dave mash berdiri.
"Kau tunggu di sini dulu, aku bekerja sebentar," pinta Dave sembari menunduk menatap istrinya.
Jeslyn langsung mengangguk. "Bekerjalah dengan tenang. Aku akan menunggu di sini," ucap Jeslyn dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Baiklah." Dave kemudian berjalan menuju mejanya, melepas jasnya, setelah itu duduk di meja kerjanya.
"Tok... Tok." Pintu terbuka. Diana masuk dengan membawa tumpukan berkas di tangan kanannya. Dia berjalan menghampiri meja Dave. "Ini berkasnya, Pak." Diana meletakkan di atas meja Dave.
"Tadi Glen ke sini," ucap Diana, "dia mencarimu. Katanya kau tidak mengangkat telpon dan tidak membalas pesannya tadi pagi," info Diana.
Dave yang sedang menunduk, seketika mengangkat kepalanya menatap Diana. "Jam berapa dia ke sini?"
"Jam sepuluh pagi," jawab Diana cepat. "Dia bilang akan datang lagi ke sini nanti."
Dave melirik Jeslyn sekilas lalu meminta Diana mendekat dengan gerakan tangannya. "Tahan dia di depan jika dia datang saat masih ada istriku. Jangan biarkan dia masuk ke sini. Arahkan ke ruangan tunggu VIP. Aku akan menemuinya di sana," perintah Dave dengan suara pelan.
Dahi Diana tampak berkerut, dia penasaran kenapa Dave memerintahkan hal seperti itu. Dia sebenarnya ingin bertanya, hanya saja karena masih jam kantor. Dia tidak ingin berbicara masalah pribadi.
"Baik, Pak." Diana meninggalkan ruangan Dave, setelah Dave memintanya untuk membawakan minum dan camilan untuk istrinya.
Dave tampak termenung setelah kepergian Diana, sementara Jeslyn sedang duduk dengan mata yang sedang fokus pada ponselnya.
Setelah terdiam beberapa saat, Dave mengambil berkas yang ada di atas meja di sebelah kiri tangannya dan mulai membuka dan membacanya.
Jeslyn yang sedang sibuk dengan ponnselnya, mengalihkan pandangannya saat Diana mengantar minuman dan makanan untuknya. Setelah meletakkan makanan dan minuman, Diana langsung keluar dari ruangan Dave tanpa berkata apa-apa.
Jeslyn menoleh sejenak, melihat suaminya tampak sedang fokus pada pekerjaannya. "Ternyata suamiku sangat tampan saat sedang bekerja," gumam Jeslyn seraya tersenyum.
Jeslyn berpindah tempat duduk. Dia duduk di tempat yang bisa dengan leluasa melihat wajah Dave. Jeslyn duduk sambil menyilangkan kakinya, dengan kaki kanan bertumpu dengan kaki kiri lalu dia bertopang dagu menatap Dave yang tampak masih serius dengan pekerjaan.
Dave bahkan tidak menyadari kalau Jeslyn udah berpindah posisi dan sedari tadi sedang memandangnya.
Sudah 3 jam berlalu tetapi Dave belum juga selesai dengan pekerjaannya. Jeslyn mulai merasa bosan dan pegal karena terlalu banyak duduk. Dia kemudian berdiri menghampiri meja Dave.
Mendengar suara langkah kaki, Dave kemudian mengangkat kepalanya. "Apa kau bosan sayang?" tanya Dave saraya meletakkan pulpen yang ada di tangan kanannya.
Jeslyn berjalan sambil tersenyum. "Iyaaa," jawab Jeslyn singkat. Jeslyn kemudian berdiri di sisi kanan kursi Dave. "Apa aku boleh turun ke bawah. Aku ingin mencari udara segar," ujar Jeslyn.
__ADS_1
Dave memutar kursinya menghadap istrinya, meraih tangan Jeslyn, kemudian menariknya hingga Jeslyn terduduk di pangkuannya. "Aku selesaikan pekerjaanku dulu. Aku akan menemanimu nanti," ucap Dave seraya melingkarkan kedua tangannya di perut istrinya.
"Tidak usah Dave. Aku akan pergi sendiri ke bawah. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu. Aku tidak mau mengganggu pekerjaanmu," tolak Jeslyn lembut.
"Aku tidak menginjinkanmu pergi sendirian," ucap Dave dengan tegas.
Jeslyn kemudian merubah posisi duduknya. Dia memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan suaminya. Tangan Dave masih setia berada di perut istrinya. Jeslyn lalu mengalungkan tangannya ke leher Dave.
"Boleh yaa? Aku tidak akan ke mana-mana. Aku hanya ingin minum di cafe bawah sebentar," bujuk Jeslyn dengan manja. Dia berharap suaminya akan luluh jika dia bersikap manis pada suaminya.
Dave tersenyum sembari menatap Jeslyn. "Akan aku pertimbangkan jika kau bisa menyenangkan hatiku."
Jeslyn langsung tersenyum. Dia tahu, apa yang harus dia lakukan agar Dave memberikan ijin padanya. Jeslyn menarik tangannya yang ada di leher Dave, kemudian menangkup wajah Dave dan perlahan memajukan wajah.
Dengan gerakan pelan Jeslyn mulai melu*mat bibir suaminya dan Dave hanya diam, membiarkan Jeslyn melakukannya. Ketika Jeslyn akan mengakhirinya, Dave langsung menekan kepala istrinya dan melanjutkan pagutan mereka.
Mereka terus memagut hingga Jeslyn menepuk dada suaminya ketika merasa mulai sulit bernapas. "Maaf sayang," ucap Dave ketika dia baru saja melepaskan pagutan mereka.
Jeslyn mendengus. "Kau selalu saja memanfaatkan kesempatan yang ada," ucap Jeslyn dengan wajah cemberut.
Dave terkekeh. "Kau adalah istriku, jadi itu adalah hal yang wajar sayang," kilah Dave. "Kau selalu membuaku ketagihan."
Jeslyn hanya mencebikkan bibirnya. Dave tersenyum lalu mengusap bibir Jeslyn dengan ibu jarinya. "Jangan menampilkan wajah seperti itu sayang. Kau membuatku ingin menciummu lagi," goda Dave dengan senyum nakalnya. "Kau selalu bisa membuatku tidak bisa menahan diri."
"Stop!" ujar Jeslyn seraya meletakkan jari telunjuknya di bibir suaminya. "Ini kantor Dave. Jangan berbuat yang tidak-tidak."
Dave tersenyum simpul. "Aku sudah tidak sabar untuk segera berbulan madu. Aku harap kau mempersiapkan dirimu dengan baik sayang, karena aku akan membuatmu tidak bisa turun dari tempat tidur dan tidak akan membiarkankanmu berisitirahat dengan cukup," bisik Dave dengan suara pelan.
Jeslyn langsung bergidik ngeri. "Dave, kita bukanlah pengantin baru. Aku rasa kita tidak perlu melakukan bulan madu," ucap Jeslyn dengan senyum kaku. Seketika Jeslyn merasa takut untuk pergi berbulan madu.
"Bagiku setelah resepsi pernikahan kita nanti, itu akan menjadi awal dari kehidupan rumah tangga kita sayang, jadi anggap saja kita pengantin baru. Bukankah kau tahu kalau keinginan terbesarku selain hidup bahagia denganmu adalah dengan hadirnya malaikat kecil yang lahir dari rahimmu," ucap Dave sembari membelai lembut wajah Jeslyn. "Aku harap kehidupan kita akan lebih bahagia lagi setelah kita memiliki anak sayang."
Jeslyn langsung memeluk suaminya. "Aku juga berharap kita hidup bahagia selamanya Dave. Aku ingin segera mengandung anakmu dan melahirkan penerusmu Dave," ucap Jeslyn penuh harap.
"Kalau begitu, kita perpanjang bulan madu kita supaya kita memiliki waktu yang lama untuk membuat anak yang lucu," gurau Dave seraya tersenyum menggoda.
"Maka dari itu, jangan menggodaku terus," ucap Jeslyn dengan wajah cemberut.
Dave tersenyum lagi. "Aku serius dengan perkataanku sayang."
"Daveee!" pekik Jeslyn lagi.
Dave terkekeh melihat wajah kesal istrinya. "Maafkan aku sayang," ucap Dave sambil mengecup singkat hidung istrinya.
"Turunlah ke bawah, tetapi Zayn akan mengawasimu," ucap Dave.
"Tapii Dave...."
"Kau tidak akan terganggu dengan kehadirannya sayang. Aku akan memintanya mengawasimu dari jauh," cetus Dave.
Jeslyn menghela napas halus. Dia sudah tahu kalau tidak ada gunanya dia membantah ucapan Dave karena suaminya tidak akan merubah keputusannya. "Baiklah." Jeslyn berdiri dengan wajah lesu.
"Kau mau pergi begitu saja?" Jeslyn yang baru saja melangkah seketika berhenti.
"Lalu aku harus apa?" tanya Jeslyn dengan dahi mengerut.
"Seharusnya kau memberikan ucapan terima kasih dulu pada suamimu karena sudah mengijinkanmu untuk ke bawah."
Jeslyn mendekat lalu mengecup bibir suaminya. "Terima kasih suamiku." Jeslyn tersenyum lalu berniat melangkah.
"Tunggu sayang." Dave meraih tangan istrinya. "Kenapa kau buru-buru sekali?"
Jeslyn menoleh dengan perasaan kesal. "Ada apa lagi suamiku?"
Dave membuka laci lalu memberikan kartu pada istrinya. "Pakai kartu ini untuk bertransaksi di bawah."
__ADS_1
Jeslyn menatap kartu yang ada di tangannya sejenak, lalu menatap Dave. "Baiklah. Kalau begitu aku turun dulu." Dave mengangguk.
****
Dave mengangkat kepalanya saat mendengar pintu terbuka. "Kau ke mana saja, Dave?" Glen masuk dan langsung berjalan ke meja sahabatnya.
Dave yang sedang sibuk dengan berkas yang ada di meja, seketika menutup map yang ada di tangannya ketika melihat Dave sudah berdiri di depannya. "Aku sedang sibuk Glen. Tadi pagi aku bangun kesiangan, jadi tidak bisa mengangkat telponmu," jawab Dave.
"Kita duduk di sana." Dave menunjukk sofa lalu berjalan bersama dengan Glen.
Mereka berdua duduk berhadapan. "Aku melihat Elin di kantormu Dave. Apakah dia salah satu karyawanmu?"
Dave tampak terkejut mendengar ucapan Glen. Dai tidak menyangka kalau Glen akhirnya melihat Jeslyn. "Apa aku sudah bertemu dengannya?" tanya Dave penasaran.
"Jadi benar Elin yang aku lihat tadi?"
Saat memasuki area kantor Dave. Dia sempat mengedarkan pandangannya sejenak ke arah cafe, tanpa di sengaja dia melihat Jeslyn sedang duduk di salah satu meja yang berada di pojok cafe tersebut.
Glen bermaksud untuk menghampiri Jeslyn, tetapi langkah kakinya terhenti ketika Zayn menghadangnya dan langsung menariknya menuju lift. Zayn beralasan kalau Dave sudah menunggunya dari tadi. Glen terpaksa mengikuti Zayn menuju ruangan Dave.
Sebenarnya Glen sedikit ragu kalau yang dia lihat adalah wanita yang selama ini dia cari. Untuk memastikan kebenarannya, Glen memutuskan untuk bertyanya langsung pada Dave, apalagi Dave bilang sudah menemukan wanita yang dia cari.
"Belum. Asistenmu sudah menarikku duluan masuk ke dalam lift. Dia bilang ada hal penting yang ingin kau sampaikan padaku."
Dalam hati Dave langsung memuji tindakan cepat asistennya. Glen sebenarnya seidkit kesal dengan asisten Dave karena langsung menariknya sehingga dia tidak memiliki waktu untuk menghampiri wanita yang dia lihat tadi.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Dave. Apakah yang aku lihat di bawah tadi adalah Elin? Wanita yang selama ini aku cari?" Glen memicingkan matanya ke arah Dave. Dia berpikir kalau Dave menyembunyikan sesuatu padanya.
"Benar, dia wanita yang selama ini kau cari," ucap Dave dengan wajah cepat.
Glen langsung berdiri. "Kalau begitu, aku akan menemuinya dulu. Aku tidak mau kehilangan jejaknya lagi."
"Tunggu!" Dave menghentikan langkah kaki Glen, "ada yang perlu aku beritahu padamu sebelum kau menemuinya."
Dahi Glen mengerut. "Aku harus...."
"Dia tidak akan pergi ke mana-mana, Glen. Kau bisa berbicara dengannya setelah aku mengatakan hal penting padamu."
Glen merasa ada yang aneh pada Dave saat ini. Wajah serius Dave membuat Glen penasaran dengan apa yang akan dia sampaikan oleh sahabatnya itu.
Glen kemudian kembali ke tempat duduknya. "Hal penting apa yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Glen the the point. Dia tidak ingin mengulur waktu terlalu lama. Dia sudah tidak sabar untuk menemui wanita yang dia cari.
"Lebih baik kau jauhi wanita itu, Glen," ucap Dave dengan wajah serius.
"Aku butuh alasan kuat untuk melakukan hal itu."
"Dia sudah menikah."
"Aku ingin memastikan langsung padanya. Bagaimana kehidupannya selama ini. Aku tidak bisa melepaskannya begitu saja setelah pencarianku yang memakakan waktu lama," ujar Glen.
"Dia tidak mencintaimu Glen. Dia sudah hidup bahagia dengan suaminya. Kau yang akan terluka jika memaksakan kehendakmu. Lebih baik kau melepasnya."
Glen menatap serius pada Dave. "Dari mana kau tahu dia tidak mencintaiku? Dan bagaimana kau bisa begitu yakin kalau dia sudah hidup bahagia dengan suaminya?" Glen tampak masih belum berniat untuk melepaskan wanita itu. "Apa kau sudah bertanya langsung padanya?"
"Yaa, dia bilang tidak mencintaimu."
"Aku akan memastikannya langsung Dave. Aku harus menemuinya sekarang." Glen langsung berdiri dan berbalik ke arah pintu.
Rahang Dave mulai mengeras melihat Glen yang tampak bersikukuh untuk menemui istrinya. "Kau tidak bisa menemuinya tanpa seijinku, Glen," ucap Dave dengan suara berat.
Glen kemudian menoleh pada Dave. "Apa maksudmu? Kenapa aku harus butuh ijinmu untuk menemuinya?" tanya Glen dengan dahi mengerut dan alis menyatu.
Dave menunduk sejenak lalu menatap Glen dengan wajah serius. "Karena wanita yang selama ini kau cari adalah istriku," ucap Dave dengan wajah serius.
Bersambung...
__ADS_1
Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..