Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Melepas Rindu


__ADS_3

Jeslyn mengapit tangan Dave saat mereka baru saja turun dari mobil. “Apa kau takut aku hilang sayang?”


Dave terkekeh saat melihat Jeslyn tampak memegang erat lengannya ketika mereka berjalan masuk ke dalam rumah mereka.


“Kau belum sepenuhnya pulih Dave.” Jeslyn tampak tidak peduli saat Dave berusaha untuk menggodanya.


“Selamat datang, Tuan.” Seorang wanita berumur 40 tahun datang menghampiri Jeslyn dan Dave.


"Ya." Jeslyn langsung menoleh pada Dave. “Dia Bi Asri yang akan mengurus rumah kita sayang,” jelas Dave ketika melihat wajah Jeslyn yang seolah bertanya tentang siapa wanita yang berdiri di depannya.


Beberapa hari sebelum Dave pulang ke rumah, dia meminta Zayn untuk mencarikan seseorang untuk mengurus rumahnya. Dia tidak mau kalau istrinya kerepotan dengan urusan rumah, apalagi Jeslyn sedang hamil.


Selama ini Dave memang tidak pernah mencari pelayan karena biasanya mereka memakai jasa kebersihan. Untuk urusan makan Dave dan Jeslyn terbiasa makan di luar, jadi Dave hanya menyewa seseorang untuk membersihkan rumahnya saja.


Jelsyn mengangguk. “Ini adalah istriku, Jeslyn.” Dave memperkenalkan Jeslyn pada Bi Asri.


“Selamat datang, Nyonya Jeslyn,” ucap Bi Asri seraya sedikit membungkuk.


Bi Asri sudah tahu kalau Dave memiliki 2 istri. Zayn sudah memberitahukan semuanya pada bi Asri, termasuk siapa istri yang paling Dave dicintai.


“Terima kasih, Bi.”


“Siapkan makan siang untuk kami, sesuai instruksi cacatan yang diberikan Zayn.”


Bi Asri langsung mengangguk. “Baik, Tuan.”


Dave menyuruh Zayn untuk memberitahukan daftar makanan apa saja yang boleh dimakan oleh Jeslyn dan mana yang tidak boleh. Dave benar-benar memperhatikan asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh istrinya.


“Lebih baik kita ke kamar sayang.” Dave mengajak Jeslyn berjalan sambil merangkul pinggangnya. Sesekali matanya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.


“Kau mencari siapa sayang?” Dave melirik sekilas pada Jeslyn sambil terus berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka.


Setelah mereka tiba di depan kamar mereka berdua, Jeslyn menoleh pada suaminya. “Friska ke mana?”

__ADS_1


“Dia sedang di rumah mama. Nanti dia akan pulang ke sini diantar oleh Mama.”


Dave membuka pintu seraya menarik tangan istrinya untuk masuk ke dalam kamar mereka dan berhenti tepat di samping tempat tidur lalu menaiki tempat tidur. Dave duduk sambil bersandar kemudian menarik tangan istrinya hingga Jeslyn terduduk di pangkuannya.


Dave memeluk tubuh Jeslyn sambil meletakkan dagunya di bahu istrinya. “Aku merindukanmu, Eayang.”


Jeslyn menoleh ke samping lalu menatap heran pada suaminya. “Jangan bercanda Dave. Bukankah kita selalu bertemu setiap hari. Kita bahkan tidur di kamar yang sama Dave.”


Dave membalikkan tubuh Jeslyn agar berhadapan dengannya. Setelah itu merapikan rambut Jeslyn yang tampak terurai. Dia menyelipkan rambut istrinya ke belakang telingannya.


“Jangan pura-pura tidak mengerti sayang.” Dave menatap penuh arti pada istrinya.


Wajah Jeslyn bersemu merah. “Dave, lebih baik kau istrirahat. Kau pasti sangat lelah, kan?” Jeslyn berusaha untuk bangkit, tetapi tubuhnya ditahan oleh Dave.


“Jangan mengalihkan pembicaraan sayang. Aku tidak lelah sama sekali.”


Jeslyn mengalihkan pandangannya ketika Dave menatap lekat iris matanya. “Aku ingin mengganti bajuku Dave.” Jeslyn berusaha untuk melepaskan tangan Dave yang masih melingkar di pinggangnya.


Setelah dilepaskan oleh Dave, Jeslyn langsung melangkah cepat menuju lemari pakaiannya. Dia takut kalau Dave berubah pikiran nanti. Saat dia sudah melepaskan pakaiannya, sebuah tangan melingkar di perutnya.


“Dave lepaskan, aku mau ganti baju dulu.” Jeslyn menoleh ke belakang saat melihat Dave sudah berada di belakangnya sambil memeluknya.


“Kau lebih cantik kalau tidak memakai apapun sayang. Tidak usah memakai baju. Lagi pula, hanya ada kita berdua di sini.”


Dave mulai mengecup pundak Jeslyn dengan lembut. Tubuhnya meremang saat Dave terus memberikan kecupan kecil di bahunya. Jeslyn memang sudah lama tidak di sentuh oleh Dave sehingga membuatnya tubuhnya langsung merespon setiap sentuhan Dave.


“Dave, jangan seperti ini.” Jeslyn tampak memejamkan matanya saat merasakan gelenyar aneh setiap bibir Dave mengecup bahunya.


“Bagaimana kabar anakku? Apa dia baik-baik saja?” Dave tidak menghiraukan Jeslyn yang tampak berusaha untuk melepaskan diri darinya.


“Dia baik-baik saja Dave. Perkembangannya juga bagus. Tidak ada masalah sedikitpun.” Jeslyn berusaha untuk tidak terpancing saat Dave mulai menelusuri leher jenjangnya.


“Kalau begitu, aku ingin menengok anakku. Sudah lama aku tidak menengoknya. Dia pasti kangen denganku.” Beberapa detik kemudian Dave sudah mengangkat tubuh Jeslyn menujur tempat tidur.

__ADS_1


“Dave, bukankah kau belum pulih. Kau tidak boleh kelelahan Dave.”


Dengan hati-hati Dave meletakkan tubuh Jeslyn ke tempat tidur. Dia menatap istrinya sejenak sambil tersenyum. “Aku sudah pulih sayang. Aku bahkan sanggup melakukannya sampai sore.”


Jantung Jeslyn langsung berdebar kencang. Entah kenapa dia masih merasa malu pada suaminya. “Dave, kita baru sampai. Ini juga masih siang. Aku...aku....”


Dave mengecup singkap bibir Jeslyn lalu berkata, “Kenapa kau gugup sayang? Aku ini suamimu. Kenapa kau masih saja malu denganku?” Dave terkekeh melihat wajah istrinya yang tampak gugup dan bersemu merah.


“Aku hanya belum terbiasa Dave.” Jeslyn memalingkan wajahnya ke samping untuk menghindari tatapan Dave padanya.


“Apa kau tidak menginginkanku?” Dave mulai menelusuri leher Jeslyn sambil mengecupnya.


“Dave,” lenguh Jeslyn ketika tangan Dave mulai menyelusuri daerah sensitifnya setelah membuat tubuh istrinya polos.


“Apa sayang?” tanya Dave tanpa menghentikan aksinya. Dia mulai membuka pakaian yang melekat pada tubuhnya.


Jeslyn tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya bisa memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan Dave pada tubuhnya. Tidak bisa dipungkiri kalau Jeslyn juga menginginkan lebih.


Dave terlihat terus memberikan rangsangan kecil pada istrinya agar istrinya lebih rileks. Dia menjelajahi setiap inci tubuh istrinya dengan perlahan dan penuh kelembutan, sementara Jeslyn tampak sudah pasrah dan mulai larut dalam permainan suaminya.


Dave lalu menghentikan aksinya kemudian menatap istrinya. “Sayang, aku akan melakukannya.”


“Dave, pelan-pelan.” Jeslyn hanya khawatir dengan kondisi janinnya. Dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan anaknya nanti.


Dave tersenyum lalu mengecup kening istrinya. “Iyaa sayang. Aku akan melakukannya dengan sangat pelan. Aku tidak akan menyakiti anak kita.”


Dave mulai melesat masuk dengan perlahan dan Jeslyn melenguh ketika merasa ada sesuatu yang menabrak dinging rahimnya saat Dave mulai bergerak.


Dave menghentikan sejenak aksinya. “Apakah sakit sayang? Apa aku menyakitimu?” Dave menatap khawatir pada istrinya.


Jeslyn menggeleng pelan dengan wajah malu. “Tidak Dave. Teruskanlah,” jawab Jeslyn pelan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2