Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Kedatangan Ibu Dave dan Felicia


__ADS_3

Dave mengecup pipi dan bibir Jelsyn lalu melajutkannya. Jeslyn beberapa kali meremas kuat punggung suaminya. Keringat dan peluh sudah membanjiri tubuh mereka berdua, di siang hari yang cerah.


Suara lenguhan dari mulut Jeslyn memenuhi kamar mereka. Sesekali Dave memanggil nama Jeslyn, begitu pun sebaliknya. Mereka bagaikan pengantin baru saya baru saja menikmati bulan madu mereka.


Dave menaikkan temponya ketika merasa akan melakukan pelepasan. Jeslyn tidak hentinya melenguh membuat Dave menambah kecepatannya. Tubuh Dave bergetar dan dia melenguh panjang ketika menyemburkan seluruh benihnya ke dalam tubuh istrinya.


Setelah melakukan pelepasan, dia kemudian tersenyum sambil menunduk menatap wajah istrinya yang tampak lesu. Keringatnya menetes di pipi istrinya. Dave tampak terengah-engah, berusaha untuk mengatur napasnya.


“Maafkan aku sayang karena tidak bisa menahan diri.”


Jelsyn menyeka keringat suaminya. Dia tersenyum sambil mengusap lembut wajah suaminya, ketika melihat ada guratan penyesalan di wajah suaminya.


“Kau tidak perlu merasa bersalah Dave. Aku juga mengingkannya.”


Sebenarnya Jeslyn merasa sangat malu karena berkata seperti itu. dia hanya tidak ingin kalau suaminya merasa bersalah padanya.


“Aku akan menyuruh Zayn untuk membawa dokter Sarah besok ke sini untuk memeriksamu.”


Jeslyn menggeleng lemah. “Tidak perlu Dave, aku baik-baik saja. Aku juga tidak merasakan sakit. Aku hanya lelah Dave.”


Jeslyn tahu kalau Dave merasa bersalah sekaligus khawatir padanya dan janin yang ada di dalam kandungannya.


“Maafkan aku sayang. Aku akan berusaha menahan diri ke depannnya.”


Dave mengecup kening istrinya lalu beranjak dari tempat tidur. Dia berjalan ke kamar mandi, tidak lama kemudian dia mendekati Jeslyn lagi lalu menggendongnya masuk ke kamar mandi.


Tanpa mereka tahu kalau Felicia sudah tiba di depan rumah mereka bersama dengan ibu Dave.


******

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamarnya. Dengan gerakan pelan Dave turun dari tempat tidur. Dia menoleh sejenak pada istrinya yang sedang tertidur pulas di tempat tidur, setelah memastikan Jeslyn tidak terbangun, Dave melangkah cepat membuka pintu.


Setelah mereka selesai mandi bersama, Jeslyn langsung tertidur tidak lama setelah dia berbaring di tempat tidur. Berbeda dengan Jeslyn, Dave justru tampak tidak bisa memejamkan matanya. Dia justru sibuk dengan ponselnya.


“Maaf mengganggu Tuan, ada Nyonya Felicia dan Nyonya Besar di bawah. Mereka menunggu Tuan dari tadi,” ucap bi Asri dengan wajah takut.


Dia sebenarnya tidak berani mengetuk pintu kamar Dave, tetapi karena paksaan dari ibu Dave, terpaksa mengetuk pintu kamar Dave. Sebelum mulai bekerja, Zayn sudah menyampaikan pada bi Asri kalau dirinya tidak boleh mendekat atau mengganggu Dave ketika mereka sedang berada di dalam kamar kecuali urusan yang sangat penting. Dia hanya boleh mendekat ke sana jika dipanggil oleh Dave ataupun Jeslyn.


“Iyaa, aku akan turun sebentar lagi.” Dave menutup pintu ketika selesai bicara.


Dave berjalan ke lemari untuk mengganti bajunya, setelah itu Dave mengecup kening Jeslyn sebelum akhirnya keluar dari kamarnya.


Dengan langkah pelan Dave mendekati Felicia dan ibunya. Dia bersandar di sofa berhadapan langsung dengan mereka berdua.


“Ada apa Ma?” tanya Dave dengan wajah malas.


Saat dirinya tiba, dia menyuruh bi Asri untuk memanggil Dave, tetapi bi Asri mengatakan kalau Dave tidak ingin diganggu oleh siapapun karena sedang beristirahat.


Sebenarnya itu adalah pesan dari Zayn jika ada yang mencari Dave, saat Dave sedang berada di dalam kamar. Zayn tahu kalau Dave tidak suka diganggu jika sudah berdua dengan Jeslyn.


“Aku sedang istirahat Ma, aku lelah.” Dave mantap Felicia yang tampak hanya diam saja sambil menunduk.


“Ke mana Jeslyn?”


Ibu Dave tampak mengedarkan pandangannya mencari menantu yang tidak disukainya.


Dave hanya melirik sekilas pada ibunya. “Dia sedang istirahat Ma..Tubuhnya masih lemah.”


Ibu Dave tampak acuh ketika mendengar jawaban anaknya. “Fel, bagaimana kandunganmu?” Dave langsung melontarkan pertanyaan yang membuat Felicia terkejut.

__ADS_1


“Mmmhh.. tidak ada masalah Dave. Anak kita baik- baik saja.” Felicia berusaha menutupi kegugupannya, saat Dave manatapnya tanpa berkedip.


“Anak kita?” Dave mengerutkan keningnya sambil menyunggingkan sudut bibirnya. “Bukankah itu anakmu dengan..”


“Dave! Kau jangan keterlaluan!” Ibu Dave menatap marah pada anaknya.


Ibunya tahu kalau Dave akan mengatakan kalau anak yang ada di kandungan Jeslyn bukankah anaknya. Dave sudah pernah memberitahu ibunya, tetapi ibunya tidak percaya dengan ucapan anaknya. Menurutnya itu hanya alasan yang dibuat Dave untuk segera menceraikan Felicia.


Dave menoleh pada ibunya. “Lebih baik Mama pulang. Felicia harus istirahat, wajahnya juga pucat.”


Ibu Dave memegang bahu Felicia. “Apa kau sakit sayang?” tanya ibu Dave dengan lembut.


“Tidak Ma.. Aku hanya lelah,” ucap Felica bohong.


“Aku akan meminta dokter Sarah besok ke sini untuk memeriksanya Ma. Tenang saja. Aku tidak akan mengabaikannya, apalagi dia sedang hamil.”


Dave tahu tidak ada gunanya dirinya berdebat dengan ibunya, karena ibunya pasti akan terus membela menantu kesayangannya.


Ibu Dave menatap tajam pada anaknya. “Dave, kalau sampai mama tahu kau tidak memperlakukan Felicia dengan baik, apalagi kalau Jeslyn sampai mencelakai Felicia. Mama tidak akan tinggal diam,” ancam ibu Dave.


Dia sebenarnya ragu meninggalkan Felicia di sana, apalagi Jeslyn juga sedang hamil. Dia takut kalau Dave akan mengabaikan Felicia.


“Ma, selama ini bukankah Felicia yang selalu mengganggu Jeslyn? Untuk apa juga Jeslyn mencelakai Felicia Ma.”


Dave sungguh tidak mengerti jalan pikiran ibunya. Bagaimana bisa dia berpikir buruk tentang Jeslyn, padahal selama ini Jeslyn tidak pernah mencari masalah dengan Felicia.


“Mungkin saja dia iri karena anak Felicia akan menjadi cucu pertama sekaligus pewaris Tjendra group nantinya,” ucap ibu Dave dengan enteng.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2