Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Menikah Lagi


__ADS_3

Dave beberapa kali memijat pelipisnya. Hari ini banyak sekali pekerjaan yang harus dia kerjakan. Dia bahkan harus mengikuti meeting bulanan yang sangat menyita pikiran dan waktunya.


"Di, apakah masih ada berkas penting yang harus aku periksa hari ini?" tanya Dave pada sekertarisnya melalui sambungan telpon.


"Tidak ada Pak, semuanya bisa dikerjakan besok. Tidak ada yang mendesak," jawab Diana cepat.


"Baiklah, pulanglah Di. Aku juga akan pulang sebentar lagi," ujar Dave sebelum menutup sambungan telponnya.


Suasana kantor sudah mulai sepi karena wakktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Hanya terlihat beberapa karyawan yang masih berada di meja kerja mereka karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum selesai.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Dave langsung pulang diantar oleh asistennya. Hari ini adalah hari yang sangat memelahkan baginya.


"Zayn, apakah bagaimana hasil sidang putusan Felicia dan kekasihnya?" tanya Dave seketika saat mereka baru saja tiba di depan mansion orang tuanya.


Beberapa hari lalu adalah sidang terakhir untuk Felicia dan kekasihnya. Dave baru ingat karena akhir-akhir ini dia banyak sekali pekerjaan sehingga sidang Felicia luput dari pantauannya. Tentu saja ada asistennya yang selalu siaga dan selalu memantau perkembangan kasus mereka berdua.


"Nona Felicia di vonis 20 tahun penjara, sementara kekasihnya seumur hidup, Tuan," jelas Zayn cepat.


Dave megangguk-angguk. "Bagus," ucap Dave puas. "Pulanglah," ucap Dave sambil membuka pintu mobil.


Langkah Dave yang ingin turun dari mobil, seketika terhenti karena teringat dengan suatu hal. Dia kemudian menoleh pada asistennya. "Zayn, apakah kau sudah mengurus yang aku pertintahkan kemarin?"


"Sudah Tuan," jawab Zayn cepat. "Saya akan mengirim detailnya kepada Tuan nanti," lanjut Zayn lagi.


"Baiklah." Zayn kemudian melangkah masuk ke dalam mansion orang tuanya.


"Maa.. Mama," panggil Davebketika dia tidak menemukan keberadaan ibunya. Suasana rumah tampak udah sepi karena sudah pukul 8 malam lebih.


"Maaa," panggil Dave lagi.


Anis yang mendengar suara Dave, langsung menghampiri Dave. "Nyonya Westi sedang berada di ruang santai di atas Tuan bersama dengan nona Alea," beritahu Anis.


"Lalu istriku di mana?" tanya Dave.


"Ada di kamar, Tuan."


"Baiklah." Dave langsung menuju lantai atas untuk menemui ibunya.


"Ma," panggil Dave ketika melihat ibunya sedang bermain dengan Alea.


Ibu Dave dan Alea seketika menoleh pada Dave. "Kau baru pulang?"


"Iyaa Ma," jawab Dave singkat.


"Daddy," panggil Alea sambil berlari ke arah Dave.


"Iyaa sayang," jawab Dave sambil mencium pipi Alea lalu tersenyum lebar. "Apa Alea sudah makan malam?" tanya Dave seraya berjongkok di depan Alea.


Alea mengangguk pelan. "Sudah Daddy."


Dave kemudian mengajak Alea untuk duduk. "Ma, ada yang ingin aku bicarakan dengan Mama," ujar Dave dengan wajah serius.


Ibu Dave tampak penarasan dengan apa yang akan anaknya bicarakan. "Alea ke kamar dulu bersama Mama ya? Ada yang mau Daddy bicarakan dengan Oma," pinta Dave lembut sambil menatap Alea yang sedang duduk di sampingnya.


Alea mengangguk cepat. "Iya Daddy." Alea kemudian berjalan menuju kamar Jeslyn dan Dave.

__ADS_1


"Apa yang mau kau bicarakan dengan Mama Dave?" tanya ibunya dengan wajah penasaran.


"Aku mau menikah lagi, Ma."


Mata Westi langsung membesar. "Apa kau sudah gila? Bukankah pernikahanmi dengan Felicia seharusnya menjadi pelajaran berharga untukmu? Kenapa kau malah ingin menikah lagi Dave? Apa kau bertengkar dengan Jeslyn?" cecar ibu Dave dengan wajah terkejut.


Tidak pernah terlintas dipikirannya, kalau anaknya sendiri yang ingin menikah lagi. Dia merasa heran, kenapa tiba-tiba anaknya ingin menikah lagi.


"Ma, dengarkan aku dulu," jawab Dave.


Ibu Dave lalu menatap tajam anaknya. "Cepat katakan apa maksudmu berkata seperti itu?" Ibu Dave sudah tidak sabar ingin mendengar alasan dari anaknya.


"Aku ingin menikah kembali dengan Jeslyn."


Wajah ibu Dave yang semula menegang berangsur melunak. "Apa maksudmu? Bukankah kalian sudah menikah?" tanya Ibu Dave dengan dahi berkerut.


"Mama tahu sendiri hanya beberapa orang yang mengetahui pernikahan kami, apalagi pernikahan kami dilaksankan secara sederhana. Aku juga ingin dia meraskan pernikahan seperti orang lain," jelas Dave dengan wajah serius.


Ibu Dave terdiam sesaat. Dia sedang mencerna perkataan anaknya. "Baiklah, mama setuju. Semua orang harus tau kalau Jeslyn adalah menantu dalam keluarga kita. kau harus membicarakannya dengan ayahmu dulu."


Ibu Dave juga baru menyadari kalau selama ini belum banyak yang tahu mengenai identitas Jeslyn yang asli. Dia juga merasa bersalah pada menantunya karena tidak pernah merasakan resepsi mewah seperti yang dirasakan oleh Felicia.


"Papa sudah tahu Ma. Aku sudah mengatakannya pada papa dan papa juga langsung menyetujuinya."


Beberapa hari sebelum datang ke mansion orang tuanya, Dave terlebih dahulu mengatakan pada ayahnya tentang rencananya.


Tentu saja ayah Dave menyetujuinya karena dari dulu dialah yang merancang pernikahan Jeslyn dan Dave.


"Baiklah. Kapan rencana kalian akan melakukan resepsinya?" tanya Ibu Dave.


"Tidak boleh Harus mama yang mengurus resepsi kalian," ucap ibu Dave, "biarkan Mama yang mengambil alih. Mama akan buat resepsi yang sangat mewah untuk kalian."


Saat Dave menikah dengan Felicia, ibu Dave jugalah yang mengurus semua persiapan pernikahan mereka. Maka dari itu, dia juga ingin melakukan hal yang sama. Dia akan membuat pesta yang jauh lebih mewah dan megah dari pernikahan Dave sebelumnya.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengatakan pada Zayn agar tidak mengurusnya lagi."


"Iyaa. Mama akan mengurus semuanya," ucap ibu Dave dengan wajah senang, "apa kau sudah mengatakan rencanamu ini pada Jeslyn?"


"Belum. Aku berencana memberitahukan padanya setelah aku berbicara dengan Mama."


"Baiklah. Percayakan sepenuhnya pada Mama. Mama janji tidak akan mengecewakan kalian," ucap Ibu Dave yakin.


"Baiklah. Kalau begitu aku ke kamar dulu," ucap Dave sambil berdiri.


Ibu Dave langsung mengangkat kepalanya menatap ke arah Dave. "Tunggu Dave!"


"Ada apa Ma?"


"Menginaplah di sini sampai Stella pulang. Mama akan membantu Jeslyn untuk menjaga Alea," pinta ibu Dave.


Dia masih ingin berkumpul dengan anaknya, menantu dan Alea. Suasana menjadi ramai dengan kehadiran mereka bertiga. Ibu Dave lebih bersemangat ketika semuanya sedang berkumpul.


"Aku akan menayakan dulu pada Jeslyn Ma. Aku takut dia merasa tidak nyaman jika terlalu lama menginap di sini," ujar Dave pelan.


"Baiklah, jika Jeslyn setuju, biarkan Alea tidur dengan mama," usul ibu Dave. 

__ADS_1


Dave mengangguk lalu berjalan menuju kamarnya.


"Aleaa," panggil Dave ketika dia sudah memasuki kamarnya dan melihat Alea sedang menonton televisi dengan istrinya.


"Iya Daddy," jawab Alea sambil menoleh pada Dave.


"Alea dia panggil oleh oma," ucap Dave sambil melepaskan jas dan dasinya.


"Iyaa Daddy,"


Alea lalu keluar dari kamar mereka. "Kata Alea kau tadi sedang berbicara dengan mama? Apa yang kalian bicarakan?" tanya Jeslyn dengan dahu berkerut


Dave menghampiri Jeslyn lalu duduk di samping istrinya. "Nanti akan aku beritahu," ucap Dave sambil menggulung lengan bajunya.


"Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Dave sambil memeluk istrinya dari samping. "Apa kau masih merasa lelah?" tanya Dave dengan suara lembut.


"Aku masih sedikit lelah, Dave," jawab Jeslyn pelan.


"Baiklah. Tidurlah cepat malam ini."


"Aku sudah tidur lama hari ini Dave. Aku bahkan dilarang oleh mama untuk melakukan apapun. Aku rasa itu juga yang membuat tubuhku lemas," ungkap Jeslyn.


"Apa kau sudah makan?"


Jeslyn menggeleng. "Aku menunggumu pulang."


"Seharusnya jangan menungguku sayang. Makanlah jika kau sudah lapar," ucap Dave sambil menyampirkan rambut istrinya ke belakang.


"Aku belum terlalu lapar tadi, Dave."


"Baiklah. Aku mandi dulu setelah itu kita makan bersama."


Jeslyn mengangguk. "Jes," panggil Dave pelan.


"Heemm?"


"Mama meminta kita menginap di sini lagi sampai Stella pulang dari luar kota," tutur Dave. "Bagaimana menurutmu?"


"Iyaa, tidak apa-apa. Kasihan mama. Dia pasti kesepian selama ini," ucap Jeslyn sambil tersenyum.


"Mama juga minta Alea untuk tidur dengannya," lanjut Dave lagi.


Jeslyn lalu menimang sejenak permintaan ibu mertuanya. "Baiklah, asalkan Alea mau tidur dengan mama."


"Sepertinya mama sengaja menyuruh Alea tidur dengannya agar kita bisa menghabiskan waktu berdua. Mama pasti ingin kita segera memberinya cucu," goda Dave dengan senyum senang di wajahnya.


"Jangan macam-macam Dave. Tubuhku masih lelah," ucap Jeslyn dengan tatapan tajam.


"Aku tahu sayang, masih ada hari esok, bukan?" tanya Dave dengan alis terangkat satu dan senyum yang mengembang di wajahnya.


Jeslyn menghela napas. "Mandilah Dave setelah itu kita makan," ucap Jeslyn sambil melepaskan pelukan suaminya.


"Baiklah sayang. Aku mandi dulu." Dave mencium pucuk kepala Jeslyn sebelum berlalu ke kamar mandi.


Bersambung...

__ADS_1


Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..


__ADS_2