Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Gejala Hamil


__ADS_3

Jeslyn berusaha untuk menyusul Felicia, tetapi tidak berhasil karena Felicia sudah masuk ke dalam mobil bersama dengan laki-laki itu. Jeslyn mengerutkan keningnya. Bola matanya bergerak. Dia berusaha mengingat di mana dia pernah melihat laki-laki itu. Jeslyn merasa pernah bertemu dengannya.


Tiba-tiba Jeslyn teringat sesuatu. Dia pernah melihat laki-laki itu berjalan bersama dengan Felicia juga ketika dia sedang berbelanja dengan Dion. Saat itu dia ragu apakah itu Felicia atau bukan, karena saat itu, Felicia mengenakan kacamata hitam, sementara hanya wajah laki-laki itu saja yang terlihat sangat jelas.


Kejadian tersebut sudah terjadi sekitar 3 bulan lalu yang lalu.bJeslyn berusaha untuk menyusul mobil yang Felicia kendarai. Jeslyn menghentikan taksi lalu mengikuti mobil hitam yang berada tidak jauh di depannya.


Jeslyn menduga kalau Felicia memiliki hubungan khusus dengan pria itu, melihat interaksi keduanya tadi saat Felicia mengapit lengan pria itu dengan tersenyum bahagia.


Saat dalam perjalanan, Jeslyn kehilangan jejak mobil Felicia. Dia terjebak lampu merah sehingga dia kehilangan mobil hitam itu. Jeslyn memutuskan untuk pulang ke apartemennya.


Beberapa hari ini dia merasa tidak enak badan. Badannya mudah lelah dan dia mudah mengantuk. Dia juga tidak memiliki napsu makan lagi. Dia hanya memakan roti dan makanan ringan untuk mengisi perutnya.


*******


“Hooeek... Hooeekk.”


Jeslyn berlari menuju wastafel di dekat meja makan. Dia sudah muntah beberapa kali hari ini. Dia merasa tubuhnya lemas sekali. Kepalanya juga terasa pusing. Jeslyn berjalan menuju kamarnya setelah memuntahkan isi perutnya.


Tubuhnya terasa hangat. Dia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya lalu memejamkan matanya. Jeslyn sudah 2 hari tidak bekerja karena tubuhnya masih lemas. Dia sudah meminta cuti untuk beristirahat.


Di saat seperti ini, tiba-tiba dia teringat dengan Dave. Dia merasa sangat merindukannya. Dia kembali meneteskan air mata melalui sudut matanya. Setelah beberapa saat kemudian Jeslyn mulai tertidur.


Tepat pukul 3 sore, Jeslyn terbangun. Dia berjalan menuju dapur karena merasa lapar. Dia mengambil roti dan beberapa buah untuk dia makan. Selesai menghabiskan makanannya, Jeslyn berjalan ke kamar untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah mandi dia berjalan ke ruang santai. Dia menyalakan televisi lalu berbaring. Jeslyn tersenyum ketika melihat gambar bayi yang baru saja dilahirkan. Jeslyn langsung berlari menuju kamarnya setelah teringat sesuatu.


Dia melihat kalender yang bertanda merah. Matanya terbelalak, saat dia menyadari kalau dia sudah terlambat datang bulan. Dia merasa gejala yang dialami belakangan ini menunjukkan tanda-tanda kalau dirinya sedang hamil. Jeslyn lalu mengambil jaketnya dan berjalan menuju rumah sakit.


Jeslyn langsung berjalan menuju ruangan dokter Sarah. “Jes, kenapa kau ada di sini?” tanya Sarah heran saat melihat Jeslyn baru saja membuka pintu ruangannya.


“Sar, kamu uda selesai prakteknya?” Jeslyn tidak menghiraukan pertanyaan Sarah.


“Iyaa, kenapa?”


“Tolong periksa aku.” Jeslyn langsung berjalan tempat tidur pasien yang ada di ruangan Sarah tanpa memperdulikan tatapan heran Sarah.


“Periksa apa maksudmu?”


“Tolong periksa, apakah aku hamil atau tidak.” Jeslyn berbaring ke tempat tidur pasien.

__ADS_1


Mata Sarah langsung terbelalak. Dia sangat terkejut mendengar perkataan Jeslyn. “Jangan bercanda denganku Jes. Bukankah kau belum menikah? Bagaimana bisa kau hamil?”


Sarah memang tidak mengetahui kalau Jeslyn sudah menikah, itulah sebabnya dia merasa sangat terkejut.


“Nanti akan aku jelaskan, yang harus kau lakukan saat ini adalah memeriksaku.” Jeslyn sudah tidak sabar karena Sarah terus bertanya.


“Baiklah.”


Sarah menutup tirai lalu berjalan mendekati Jeslyn. Dia mulai mempersiapkan alatnya yang akan digunakan untuk memeriksa Jeslyn. Sarah mulai menaikkan baju Jeslyn sampai bagian dadanya.


Dia mulai mengoleskan gel bening di bawah pusar Jeslyn. Sarah kemudian menggerakkan alat USG dan menatap pada layar monitor yang ada di depannya. Sarah berhenti sejenak kemudian menatap Jeslyn.


“Kau hamil.” Ucapan Sarah sukses membuatnya terkejut sekaligus syok. Jeslyn seketika merasa lemas.


“Lalu?”


Sarah beralih menatap layar lagi. “Kantung bayinya sudah terbentuk Jes. Ukuran kira-kira seukuran kacang polong. Beberapa orangannya sudah mulai terbentuk.”


Air mata Jeslyn langsung mengalir saat mendengar penjelasan Sarah.


“Kandunganmu sudah memasuki usai 6 minggu. Kandunganmu juga baik-baik saja,” lanjut Sarah lagi sambil mengelap bekas gel yang ada dibawah perut Jeslyn.


Sarah mengangguk, kemudian berjalan menuju mejanya. Dia juga tidak ingin terlalu ikut campur masalah pribadi Jeslyn. Dia berpikir pasti ada alasan kenapa Jeslyn merahasiakn pernikahan sekaligus kehamilannya.


“Apa saja yang gejala yang kau alami?” Sarah mulai menuliskan sesuatu di kertas putih.


Jeslyn duduk di depan meja Sarah. “Aku sering merasa mual di pagi hari. Aku juga selalu muntah setelah makan sesuatu. Aku merasa tubuhku cepat lelah, kepalaku juga sering sakit.”


Sarah berhenti menulis. Dia beralih menatap Jeslyn. “Apa kau mengalami demam?”


Jeslyn menggeleng. “Tidak, tubuhku hanya hangat saja.”


Sarah kembali menuliskan sesuatu. “Aku akan meresepkan beberapa obat dan vitamin untukmu.”


“Terima kasih, Sarah.”


Sarah memberikan resep obat pada Jeslyn. “Ini. Kau bisa menebusnya di apotik. Aku rasa aku tidak perlu menjelaskan hal lainnya, selain kondisi janinmu. Seharusnya kau tahu, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh wanita hamil.”


Walaupun Jeslyn bukan Dokter Kandungan, tetapi dia pernah memperlajarinya saat dia menepuh pendidikan kedokterannya.

__ADS_1


Jeslyn mengangguk. “Iyaa aku tahu. Terima kasih, Sarah.”


Sara mengangguk cepat. Dia bersandar di kursinya sambil menatap Jeslyn. “Sepertinya kau kehilangan banyak berat badanmu. Kau harus lebih memperhatikan lagi asupan yang masuk ke dalam tubuhu. Sekarang kau sudah tidak sendiri lagi Jes. Kau harus benar-benar menjaga tubuhmu.”


“Iya aku tahu.” Jeslyn berdiri, “kalau begitu aku pulang dulu,” pamit jeslyn.


“Iyaa. Hati-hati.”


Jeslyn berjalan menuju apotik yang ada di rumah sakit tersebut. Setelah selesai menebus obat, dia kemudian pulang ke apartemennya. Jeslyn perlahan turun dari taksi.


Dia tidak langsung masuk ke apartemennya. Dia memutuskan untuk berjalan ke taman. Dia ingin menenangkan pikirannya sejenak. Cuaca saat itu sedang mendung. Jeslyn duduk di salah satu bangku yang ada di taman itu. Seperti biasa, taman itu selalu ramai. Jeslyn menunduk.


“Apa yang harus mama lakukan sekarang sayang?” gumam Jeslyn sambil mengelus perutnya.


“Mungkin kau akan tumbuh tanpa ayah nanti, karena sebentar lagi mama akan bercerai dengan papamu.”


Jeslyn merasa sedih mengingat nasibnya nanti setelah dia bercerai dengan Dave. Dia tidak menyangka kalau dirinya akan hamil di saat akan bercerai dengan Dave.


“Mama berjanji untuk selalu menyayangimu. Mama harap, nanti kau tidak membenci mama karena sudah membuat papamu pergi meninggalkan kita.” Jeslyn menitikkan air matanya kembali.


Terdengar suara geluduk dan di sambut dengan hujan deras. Jeslyn sudah tidak sempat menghindar lagi. Tubuhnya sudah basah terkena guyuran air hujan. Jeslyn memejamkan matanya sejenak sambil mendongakkan wajahnya ke langit. Dia ingin melampiaskan kesedihannya saat air hujan terus berjatuhan membasahi tubuhnya.


“Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak lihat hujan sangat deras? Apa kau mau sakit?” terdengar suara berat yang berasal dari depannya.


Jeslyn membuka matanya setelah mendengar suara yang sangat dia rindukan selama ini. Dia melihat Dave sedang berdiri sambil memayungi tubuhnya.


“Daveeee.”


Jeslyn masih tidak percaya kalau Dave ada di depannya saat ini. Dia merasa seperti mimpi saat melihat Dave sedang berdiri dihadapanya.


Dave merasa khawatir saat melihat wajah pucat Jeslyn. “Cepat bangun. Kau bisa demam kalau terlalu lama terkena hujan.”


Jeslyn perlahan bangun dari duduknya, dia merasa tubuhnya sangat lemah


“Apa kau sakit? Kenapa wajahmu pucat sekali?” Dave memegang wajah Jeslyn dengan tatapan cemas.


“Aku tidak apa-apa.”


Dave kemudian memegang lengan Jelsyn. “Tubuhmu sudah dingin. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit.”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2