
Ketika melihat Jeslyn sudah terlelap, Dave mencium pucuk kepala Jeslyn. Dia merasa bimbang dengan perceraiannya. Dengan adanya kejadian tadi membuatnya jadi ragu. Dia memikrikan bagaimana kalau Jeslyn justru hamil anaknya saat mereka sudah berpisah.
Dia merasa heran kenapa Jeslyn menahannya tadi saat akan mengeluarkan benihnya di luar. Dave merasa bersalah karena tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh Jeslyn.
“Lagi-lagi aku bertindak egois padamu. Maafkan aku Jeslyn. Seharusnya aku bisa menahan diriku tadi.” Dave memeluk erat istrinya.
“Tidak seharusnya aku datang menemuimu hari ini. Aku berharap kejadian ini tidak berdampak padamu di kemudian hari.” Dave berusaha untuk memejamkan matanya, tetapi tidak bisa. Akhinya dia hanya menemanimu Jeslyn tidur.
Setelah Jeslyn melepaskan pelukannya. Dave membenahi selimut untuk menutupi tubuh istrinya, kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai mandi, Dave berjalan keluar dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Dia melirik ke arah Jeslyn yang tampak tertidur pulas. Dave kemudian duduk di tepi tempat tidur.
“Semenjak kapan kau jadi tukang tidur?” Dave mengusap pelan pipi istrinya sambil tersenyum.
Dave merasa heran dengan tingkah Jeslyn. Biasanya Jeslyn tidak pernah tidur selama ini. Dia juga merasa kalau tingkah Jeslyn saat ini sedikit manja pada dirinya.
Dave berpikir lagi, mungkin karena Jeslyn kesepian. Sebab itulah dia bersikap seperti itu. Dave mengecup kening Jeslyn lalu berjalan mengambil pakaiannya.
****
“Kau sudah bangun?” Dave menoleh saat mendengar pintu kamar Jeslyn terbuka. Dia melihat Jeslyn sudah mengganti pakaiannya.
“Iyaa.”
Jeslyn tampak canggung saat Dave menatap dirinya. Dia merasa malu saat mengingat kejadian tadi. Kalau saja dia tidak menahan Dave, mungkin mereka tidak akan melakukannya lagi.
“Kemarilah.” Dave menepuk sofa yang ada di sampingnya.
Jeslyn berjalan pelan ke arah Dave. “Apa kau habis mandi?” tanya Dave saat melihat rambut Jeslyn tampak basah.
“Iyaaa.” Jeslyn duduk di samping Dave.
“Aku sudah memandikanmmu tadi, kenapa kau mandi lagi?”
Jelsyn tampak menunduk karena merasa malu saat mengetahui kalau Dave memandikannya. “Badanku lengket, jadi aku mandi lagi.”
Saat Jeslyn bangun dan dia tidak melihat Dave ada di kamarnya. Jeslyn berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya karena tubuhnya lengket, apalagi aroma tubuh Dave menempel di badannya.
Dave berjalan ke kamar Jeslyn lagi lalu kembali dengan membawa handuk di tangannya. “Kau harus mengeringkan rambutmu dulu. Kau bisa masuk angin nanti.” Dave membenarkan posisi tubuhnya menghadap Jeslyn lalu mengosokkan handuk di kepala Jeslyn.
Jeslyn tampak berpikir sejenak. “Dave, kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Jeslyn sambil menatap heran pada Dave.
Dave berhenti sejenak lalu menatap Jeslyn. “Aku merindukanmu.” Dave kembali mengeringkan rambut Jeslyn dengan handuk.
Jeslyn merasa hatinya menghangat. “Selama ini kau ke mana? Kenapa tidak pernah pulang ke rumah?” Jeslyn sangat penasaran di mana Dave berada selama ini.
__ADS_1
Dave meletakkan handuknya di pangkuannya. “Aku sedang menenangkan diri.”
Dave berjalan ke kamar untuk menaruh handuk. Setelah itu dia berjalan ke dapur untuk membawa beberapa makanan dan buah untuk Jeslyn.
“Kau harus makan dulu.” Dave meletakkan makananannya di atas meja. Dia meminta Zayn untuk membelikannya saat Jeslyn masih tertidur.
Dave mulai memasukkan beberapa makanan di piring Jeslyn, termasuk seafood dan langsung membuat Jeslyn merasa mual. “Dave singkirkan seafood itu dari sini.” Jeslyn berusaha menahan agar dia tidak muntah lagi.
Dahi Dave mengernyit. “Kenapa? Bukankah kau sangat menyukai seafood? Aku sengaja memesannya untukmu karena aku melihat kau tampak kurus sekali sekarang.”
Sebelum hamil Jeslyn sangat menyukai olahan seafood. Dia biasanya akan makan seafood jika sedang tidak selera makan.
“Aku tidak tahan baunya Dave, amis sekali.” Jeslyn menutup hidungnya dengan tangannya.
Dave menunduk untuk mencium baunya. Dia merasa penasaran. “Ini tidak bau amis, Jeslyn.” Dave menatap curiga pada Jeslyn.
Dave terus menatap Jeslyn dengan tatapan tak terbaca. “Tapi aku tidak suka baunya, Dave.” Jeslyn terlihat mulai marah.
“Baiklah, aku akan singkirkan ini.” Dave mengambil olahan seafood yang ada di depan Jeslyn dan membawanya ke dapur.
“Kalau begitu kau makan bubur saja.” Dave mengambilkan bubur ayam lalu meletakkan di depan Jeslyn.
“Aku tidak suka, Dave. Ada bawang gorengnya. Bawangnya bau sekali.” Lagi-lagi Dave dibuat heran dengan tingkah Jeslyn.
“Semenjak aku ha..” Jeslyn langsung menghentikan ucapannya. Hampir saja dia memberitahu Dave kalau dia sedang hamil.
“Mulai sekarang,” ralat Jeslyn.
Dave menghela napas. “Baiklah, aku akan membuang bawang gorengnya. Dave berjalan ke dapur lagi, setelah membuang bawang gorengnya dia kembali duduk di samping Jeslyn. “Makanlah.” Dave meletakkan buburnya di depan Jeslyn.
Dave menyenderkan tubuhnya di sofa. “Aku tidak selera makan, Dave.” Jeslyn merasa perutnya seperti penuh.
“Lalu kau mau makan apa? Kau bisa pingsan lagi kalau tidak makan.” Dave benar-benar tidak mengerti dengan perubahan sikap Jeslyn saat ini.
“Aku ingin makan es krim.”
“Haaaah?” Dave tampak terkejut dengan permintaan Jeslyn. “Es krim?” Dave memastikan lagi.
Jeslyn melirik Dave. “Iyaa, aku ingin sekali makan es krim, Dave,” ucap Jeslyn manja.
“Tapi kau habis demam Jeslyn.”
Dave masih ragu untuk menuruti keinginan Jeslyn karena tadi dia sempat demam tinggi. Dave meletakkan tangannya di dahi Jeslyn.
“Badanmu saja masih hangat.” Dave terus memikirkan keanehan yang terjadi pada Jeslyn hari ini.
__ADS_1
“Aku tidak akan makan kalau kau tidak membelikanku es krim.” Jeslyn membuang wajahnya ke samping dengan wajah cemberut.
Dave merasa Jeslyn saat ini sangat menggemaskan. “Baiklah, aku akan membelikannya tetapi kau harus menghabiskan bubur ini dulu.” Dave memutuskan untuk menuruti keinganan istrinya.
Jeslyn langsung tersenyum. “Biar aku suapi.” Dave mulai menyendokkan bubur ke mulut Jeslyn. Dave terus menatap wajah jeslyn.
“Jeslyn,” panggil Dave.
Jeslyn menoleh pada Dave. “Apa?”
Dave terdiam sesaat. Dia kemudian menggelengkan kepalanya. “Tidak apa-apa. Pelan-pelan makannya.”
Dave sebenarnya ingin menyampaikan sesuatu tapi dia urungkan. Dave ingin meminta Jeslyn untuk mempertimbangkan kembali mengenai perceraian mereka.
Dia berharap Jeslyn mau menerimanya kembali, tetapi setelah berpikir lagi, Dave merasa Jeslyn tidak akan mau memberikan dia kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka.
“Aku sudah kenyang.” Jeslyn meraih air dingin yang ada di depannya. “Sekarang belikan aku es krim rasa coklat.” Saat membayangkan makan es krim coklat membuat air liurnya hampir menetes di sudut bibirnya.
“Bukankah kau bilang sudah kenyang. Nanti saja makannya.” Dave meletakkan mangkok bubur di atas meja.
“Aku mau makan sekarang. Aku merasa mual, Dave.”
Dave berdiri. “Baiklah. Aku akan meminta Zayn untuk membelikanmu es krim.” Dave meraih ponselnya yang ada di atas nakas lalu menghubungi Zayn.
Setelah Jeslyn selesai makan, Dave membawa semua makanan yang ada di meja ke dapur. Beberapa menit kemudian Zayn datang membawakan es krim untukknya.
“Kenapa es krimnya banyak sekali?” Jelsyn terbelalak saat Dave meletakkan es krim dalam ukuran besar dengan berbagai macam rasa.
“Supaya kau bebas memilih.” Dave kembali duduk di samping Jeslyn.
“Terima kasih, Dave.” Jeslyn langsung mengambil es krim rasa coklat dan memakananya.
Jeslyn tampak sangat menimati es krim tersebut sampai dia mengabaikan Dave yang sedari tadi menatap heran padanya.
Jeslyn langsung berlari ke dapur saat merasa mual. “Hoeeekkk.” Terdengar suara Jeslyn memuntahkan isi perutnya. “Hoeeeekk.”
Dave langsung menghampiri Jeslyn lalu memijat tengkuknya. “Hoeekk.” Jelsyn terus mengeluarkan makanan yang dia makan tadi.
“Apa kau sakit?” Dave terus memijat tengkuk Jeslyn hingga dia berhenti muntah.
Jeslyn mengelap mulutnya dengan tisu. “Aku hanya kekenyangan Dave.” Jeslyn kemudian mencuci mulutnya.
Dave menatap Jeslyn cukup lama. “Jeslyn apa ada yang kau sembunyikan dariku?”
Bersambung...
__ADS_1