Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Pernikahan Part2


__ADS_3

Dave sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya. Dengan langkah cepat dia menghampiri dan memencet bel kamar yang di tempati oleh Jeslyn. Di belakangnya sudah berdiri kedua asisten Lian. Ketika pintu dibuka oleh Lian. Dave langsung menerobos masuk tanpa basa-basi. Dave berhenti tepat di belakang Jeslyn yang sedang berdiri memunggunginya.


"Jes," panggil Dave dengan suara pelan.


Jeslyn yang namanya dipanggil seketika membalikkan badannya. "Kau sudah datang?" ujar Jeslyn seraya tersenyum.


Dave tertegun saat melihat Jeslyn yang tampak sangat cantik dengan mengenakan gaun pengantin yang mewah dan elegan.


"Kau bisa menembus wajah Jeslyn kalau kau terus menatapnya seperti itu Dave." Ucapan Stella seketika membuyarkan lamanunan Dave.


Jeslyn terlihat sedikit malu mendengarnya. "Itu karena istriku sangat cantik hari ini," ucap Dave seraya menoleh pada Stella.


Stella menanggapi ucapan Dave dengan tersenyum. Dia kemudian berdiri. "Karena kau sudah datang, aku akan keluar sekarang."


"Terima kasih Stella karena sudah menemaniku," ucap Jeslyn tulus.


Stella mengangguk lalu berjalan keluar kamar. Sementara Lian dan asistennya terlihat menjauhi dua pengantin tersebut. Mereka sengaja ingin memberikan waktu sebentar untuk mereka berdua.


Dave melangkah pelan ke arah Jeslyn yang terlihat sedang menunduk. Dave berdiri tepat di depan istrinya, meraih dagunya agar mereka bisa bertatapan. "Kau terlihat sangat cantik sayang hari ini," puji Dave seraya menatap lekat mata istrinya.


Jeslyn berusaha menghindari tatapan mata suaminya. Dia merasa malu ketika mendengar pujian dari suaminya sendiri. "Tatap aku, Eayang. Kenapa kau masih saja malu terhadapku?"


Jeslyn langsung menatap manik hitam suaminya. "Kau juga sangat tampan Dave," ucap Jeslyn dengan suara pelan.


Dia jarang sekali memuji suaminya secara langsung. Biasanya dia hanya berani memuji suaminya dalam hati bahkan dia hanya berani menatap wajah suaminya dari dekat, hanya saat suaminya sedang tidur.


Dave menyunggingkan senyumnya mendengar pujian istrinya. Dia menatap bibir istrinya yang sangat menggoda. Perlahan dia mendekatkan wajahnya pada Jeslyn hingga hidung mereka bersentuhan. Ketika Dave ingin mencium bibir istrinya. Gerakannya langsung terhenti ketika Lian datang memanggil mereka berdua.


"Apa kalian sudah siap?" Lian baru menyadari kalau dirinya telah mengganggu pasangan suami istri tersebut.


Seketika Dave langsung menghembuskan napas kuat seraya menunduk. "Iyaa, kami sudah siap," sahut Jeslyn seraya memandang ke arah Lian.


"Baiklah. Aku tunggu di depan." Lian sedikit merasa bersalah karena sudah mengganggu mereka berdua.


"Aku akan menahannya untuk saat ini, tapi setelah acara ini selesai. Jangan harap aku akan melepaskanmu sayang," bisik Dave dengan suara paraunya.


Jeslyn langsung menelan salivanya. "Ayo Dave, kita sudah ditunggu." Jeslyn memilih untuk menyudahi pembicaraan mereka.


*****


Dave dan Jeslyn terlihat tersenyum kepada setiap tamu undangan yang ingin berpamitan pada mereka. Pestanya terlihat mewah dan megah sesuai yang diinginkan oleh ibu Dave. Sepanjang acara berlangsung, tidak hentinya tamu terus berdatangan silih berganti.


Jeslyn dan Dave bahkan tidak sempat untuk sekedar duduk karena banyaknya tamu yang datang. Sepanjang acara juga Dave tidak hentinya mengeluh kapan mereka bisa beristirahat. Semejak mereka masuk hingga sudah 3 jam lamanya mereka hanya duduk sebentar.


"Jangan tersenyum terlalu lebar sayang. Aku tidak suka."


Dave mulai kesal ketika melihat beberapa pria nampak terus menatap ke arah istrinya bahkan secara terang-terangan memuji kecantikan istrinya.


"Aku hanya berusaha untuk menyambut tamu undangan dengan ramah, Dave," jawab Jeslyn.


"Kau tidak perlu bersikap manis pada mereka, Sayang," ucap Dave dengan wajah kesal.


"Jangan melirik pria lain, sayang. Kau membuatku cemburu."


"Ingin sekali aku mencongkel mata pria yang terus menatapmu."


"Seharusnya aku menyuruh Lian untuk mendandanimu dengan sederhana saja. Aku benci melihat mereka yang terus saja memujimu kecantikanmu."


"Sayang, lihat aku saja. Jangan lihat pria lain."


"Jangan membuatku cemburu sayang atau aku akan menghukummu nanti."


"Jangan tersenyum manis pada prian lain sayang, cukup tampilkan senyum manismu padaku saja."


"Apa pria-pria ini menganggapku hanya pajangan saja di sampingmu."


"Aku benci melihat tatapan liar pria-pria itu."

__ADS_1


"Apa perlu aku menyuruh Lian untuk mencarikan topeng untukmu agar mereka tidak bisa melihat wajah cantikmu."


Dave terus saja berkomentar selama acara pernikahannya berlangsung. Jeslyn hanya berusaha sabar menghadapi sikap suaminya yang sedari tadi terlihat kesal. Semenjak kemunculan mereka dipelaminan, suasana jadi lebih riuh. Banyak dari mereka memuji pasangan pengantin yang sedang berbahagia nampak sangat serasi.


Tidak sedikit juga yang mencibir Jeslyn karena dianggap tidak pantas menjadi pendamping Dave apalagi setelah mereka tahu kalau Jeslyn adalah anak yatim piatu yang berprofesi sebagai dokter dan bukan berasal dari kalangan konglomerat di negeri mereka. Meskipun dulunya ayah Jeslyn sempat menjadi pengusaha sukses tetap saja tidak sebanding jika dibandingkan dengan keluarga konglemerat lainnya terlebih lagi keluarga Tjendra.


Sebenarnya mereka hanya iri kepada Jeslyn karena berhasil meluluhkan hati Dave karena selama ini belum ada yang bisa mendekati Dave selain Felicia.  Jeslyn bisa mendengar beberapa bisikan dari mereka yang sedang membicarakan dirinya yang intinya mereka tidak suka dengannya dan mengatakan kalau dirinya tidak cocok menikah dengan Dave.


"Aku kira sangat cantik, ternyata biasa saja."


"Dave, ternyata memiliki selera rendah."


"Bagaimana bisa aku kalah dari wanita seperti dia?"


"Meskipun dia cantik, tetap saja aku lebih baik darinya."


"Aku kira Dave akan menikahi wanita yang sangat hebat, ternyata hanya wanita biasa. Sangat mengecewakan."


"Dia tidak cocok sama sekali berdampingan Dave."


"Aku benci melihat wanita itu tersenyum dengan bangganya. Dia kira dia pantas untuk Dave. Aku benci melihat wajahnya."


"Berlagak polos. Aku rasa Dave salah memilih istri."


"Jelas-jelas, aku lebih dari baik dari wanita itu. Sebenarnya apa yang Dave lihat dari wanita itu?"


"Selera Dave sangat buruk."


"Aku lebih cantik dan lebih dari segalanya dari dia, tapi kenapa aku bisa kalah darinya? Aku merasa terhina."


"Aku sungguh tidak habis pikir, apa yang Dave lihat dari wanita itu."


"Dave, menolakku hanya untuk perempuan biasa seperti itu? Aku tidak percaya kalau aku bisa kalah dari wanita seperti dia," ucap Sonya seraya memandang Jeslyn dengan tatapan sinis dan mengejek.


Itu adalah beberapa komentar yang Jeslyn dengar. Masih banyak komentar menyakitkan yang dia dengar, walaupun mereka mengatakan dengan pelan, tetap saja dia bisa mendengarnya.


Dave menggenggam tangan istrinya saat melihat wajah istrinya nampak murung. "Jangan pernah dengarkan ucapan orang lain, Sayang. Jangan rusak dari kebahagiaan kita dengan memikirkan ucapan sampah dari mereka."


Jeslyn menoleh pada Dave seraya tersenyum paksa. "Iyaa aku tahu, aku harus memiliki mental yang kuat karena menikah denganmu. Aku sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi hal seperti ini karena aku tahu, akan ada banyak yang tidak menyukaiku karena berhasil mengambil posisi yang sangat mereka inginkan."


Dave seketika merasa bersalah. "Maafkan aku, Sayang. Ini semua salahku," ucap Dave dengan wajah penuh sesal.


Jeslyn mengusap tangan Dave. "Ini bukan salahmu, Dave. Aku justru sangat bahagia karena akhirnya orang lain tahu kalau posisi Nyonya Dave sudah terisi, jadi mereka harus berpikir dua kali untuk mendekatimu. Aku tidak akan memberikan mereka peluang untuk bisa mendekatimu ataupun menggodamu."


Dave langsung mengecup kening istrinya. "Terima kasih, Sayang."


Jeslyn sendiri tidak menampik kalau dirinya juga sakit hati mendengar ucapan mereka. Dia sebenarnya sudah mempersiapkan diri akan hal itu. Dia hanya sedikit tidak menyangka kalau dari mereka terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaan mereka padanya. Mereka terlihat tidak bisa menyembunyikan kekesalan mereka terhadapnya.


Jeslyn hanya berusaha untuk tetap tenang. Dia berusaha untuk tidak memperdulikan perkataan dari mereka. Itu adalah resiko yang harus dia tanggung karena menikahi pewaris dari Tjendra Group. Konglemerat paling di segani dan paling kaya di negeri mereka.


"Apa kau lelah sayang?" tanya Dave ketika melihat tidak ada lagi tamu undangan yang mendatangi mereka.


Jeslyn mengangguk seraya duduk dengan hati-hati dibantu oleh Dave. "Kakiku pegal, Dave." Dave kemudian membungkuk lalu meraih kaki sang istrinya setelah itu melepaskan heels istrinya seraya memijat betis sang istrinya.


"Bagaimana, Apakah lebih baik?" Dave menoleh pada sang istri dengan posisi masih setengah membungkuk ke bawah.


"Iyaa, tapi jangan memijat kakiku lagi, Dave."


Dave menghentikan jemari tangannya. "Kenapa?" tanya Dave heran.


Jeslyn melirik ke sekitarnya. "Semua tamu sedang menatap ke arah kita, Dave," ucap Jeslyn dengan wajah tidak enak. Dia tidak mau kalau sampai orang lain membicarakan Dave nantinya karena dia memijat kakinya saat pesta pernikahan berlangsung.


Dave melihat ke sekelilingnya lalu kembali memijat kaki Jeslyn dari luar gaunnya. "Aku tidak peduli," ucap Dave acuh tak acuh.


Jeslyn menunduk lalu memegang tangan Dave. "Aku sudah baikan Dave, berhentilah," pinta Jeslyn dengan suara lembut.


Dave akhirnya menghentikan tangannya lalu kembali duduk tegak. "Aku akan memijatmu nanti di kamar." Dave sebenarnya tahu, kalau Jeslyn sebenarnya sedang melindungi reputasinya di depan banyak orang.

__ADS_1


"Baiklah."


*****


Tepat pukul 5 sore, ibu Dave meminta mereka untuk beristiharahat di kamar selama dua jam karena pesta akan dilanjutkan hingga pukul 9 malam sehingga ibu Dave ingin anak dan menantunya beristiraha sejenak. Jeslyn dan Dave juga terlihat sudah sangat lelah. Mereka berjalan menuju kamar pengantin mereka. Sesampainya di kamar Dave langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Dia langsung memejamkan matanya karena merasa lelah.


Jeslyn menoleh pada suaminya. "Dave, aku ganti baju dulu."


Jeslyn berjalan menuju meja rias dibantu oleh Lian. Setelah gaun terlepas dari tubuh Jeslyn. Lian kemudian memberikan bathrobe pada Jeslyn. Setelah itu, dia membantu Jeslyn untuk membersihkan makeup dan mengubah tatanan rambut Jeslyn.


Saat Jeslyn melihat suaminya dari pantulan cermin sedang berbaring tidak bergerak sama sekali, dia akhirnya memanggil suaminya, "Dave."


"Iya, Sayang." Dave membuka matanya lalu duduk di tepi ranjang.


"Ganti dulu pakaianmu." Melihat Dave tertidur dengan pakaian formal membuat Jeslyn merasa sesak.


"Iyaa, Sayang." Dave akhirnya bangun dan melepas jas yang melekat di tubuhnya. Dia kemudian berjalan mendekati Jeslyn.


"Sudah selesai, aku akan keluar. Nanti aku ke sini lagi untuk membantumu memakai gaun yang kedua," ucap Lian cepat setelah dia selesai membersihkan riasan wajah Jeslyn.


Dia tidak ingin tinggal berlama-lama di dalam kamar tersebut karena takut mengganggu mereka berdua.


"Iyaa, terima kasih, Lian," ucap Jeslyn. Lian mengangguk lalu berjalan keluar.


Setelah kepergian Lian, Jeslyn berjalan menuju lemari untuk memakai bajunya. Setelah menemukan pakaian yang akan dia kenakan sementara, Jeslyn langsung melepas bathrobenya sehingga dia hanya memakai pakaian dalam saja . Belum sempat dia memakai baju yang ada di tangannya, Dave sudah melingkarkan tangannya di pinggang Jeslyn.


"Dave, lepaskan tanganmu. Aku mau memakai pakaianku dulu." Jeslyn memegang tangan Dave yang ada perutnya.


"Tidak usah memakai baju, Sayang. Tidak ada orang lain di sini. Kau tidak perlu malu." Dave mulai menghujami pipi istrinya dengan kecupan kecil.


"Tapi Dave, aku kedinginan."


Dave tersenyum, detik kemudian dia langsung mengangkat tubuh Jeslyn dan berjalan ke tempat tidur. "Dave, biarkan aku memakai baju dulu."


Jeslyn berusaha untuk turun tapi terlambat karena Dave sudah membaringkan tubuhnya ke tempat tidur. "Kalau kau malu. Kau bisa menutupi tubuhmu dengan selimut, Sayang."


Karena Jeslyn juga merasa lelah, akhirnya dia memilih untuk menarik selimut. Dave mulai melepaskan kemeja yang melekat di tubuhnya lalu berbaring di samping istrinya.


"Tidurlah sebentar sayang. Kau pasti lelah,kan?"


Jeslyn mengangguk. "Iyaa." Dave dan Jeslyn kemudian memejamkan mata mereka.


Pada pukul 7 malam mereka sudah bersiap akan kembali ke pelaminan. Jeslyn sudah berganti dengan gaun pengantin yang satu lagi. Dia tampak lebih segar setelah tidur selama satu jam. 


Dave dan Jeslyn kembali berjalan menuju pelaminan. Malam hari ternyata tamu bukannya berkurang justru bertambah lebih banyak. Sebenarnya Dave tidak setuju pesta diadakan terlalu lama, hanya saja karena tamu undangan mereka yang sangat banyak membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.


"Jes, aku harap kau bisa hidup bahagia selamanya," ucap Glen tulus.


"Iyaa, terima kasih, Glen. Harapanku juga sama, semoga kau cepat menemukan kebahagianmu." Dave hanya mendengarkan mereka berdua tanpa mau ikut berbicara.


"Iyaa, terima kasih. Seandainya dia menyakitimu. Jangan ragu untuk datang padaku. Aku akan membawamu pergi dengan senang hati."


Meskipun Glen terlihat sedang bergurau tetapi kata-katanya terlihat seperti sungguhan dan itu membuat Dave melirik tajam pada sahabatnya.


Dave yang mendengarnya langsung berekasi. "Kau tenang saja. Aku tidak akan pernah menyakitinya, jadi kau tidak perlu khawatir, Glen."


Glen mengangguk. "Kalau begitu, aku pamit dulu."


"Iya," jawab Dave dan Jeslyn seraya mengangguk bersama.


Pesta pernikahan berlangsung sampai pukul 9 malam. Setelah pesta usai, Jeslyn dan Dave kembali ke kamar mereka.


"Dave, tolong bantu aku lepaskan gaunku," pinta Jeslyn ketika dia merasa kesulitan untuk membuka gaunnya.


Dave tersenyum. "Iyaa, Sayang." Dia menghampiri Jeslyn lalu membantuntya membuka gaun pengantinnya.


"Dave, singkirkan tangannyamu. Aku ingin membersihkan wajahku dulu," ucap Jeslyn ketika melihat tangan Dave sudah mulai menjelajahi tubuhnya dari belakang. 

__ADS_1


"Baiklah. Aku ingin mandi dulu." Dave akhirnya menjauhkan tubuhnya dari Jeslyn. "Setelah ini, persiapkan dirimu karena kita akan melewati malam yang panjang sayang," bisik Dave sebelum berlalu ke kamar mandi.


Bersambung.


__ADS_2