
Jeslyn memutuskan untuk memejamkan matanya, rasa kantuk mulai menyerangnya. Kehangatan tubuh Dave membuatnya merasa nyaman dan tenang. Merasa sudah terlalu lama memeluk tubuh istrinya.
Dave perlahan mencoba melepaskan pelukannya. Dengan sangat hati-hati dia mengangkat tangan Jeslyn. Di saat bersamaan Jeslyn merubah posisi tidurnya menghadap Dave lalu memeluk tubuhnya.
Tubuh Dave menegang. Dia mencoba untuk menunduk untuk melihat wajah Jeslyn. Dia takut kalau Jeslyn akan marah lagi dengannya kalau sampai dia tahu dirinya masuk tanpa ijin ke kamarnya dan memeluknya diam-diam.
Dia melihat Jeslyn tampak masih tertidur pulas. Dia langsung menghela napasnya panjang. Jantungnya berdetak cepat. Dia seperti maling yang hampir tertangkap basah.
Dave berusaha melepaskan pelukan istrinya. Perlahan dia mengangkat tangan Jeslyn yang melingkar di tubuhnya. Saat berhasil mengangkat tangan Jeslyn, Dave berencana untuk turun dari tempat tidur tanpa diduga Jeslyn kembali memeluk tubuh Dave. Kali ini justru Jeslyn membenamkan wajahnya ke dada bidangnya.
Dave memutuskan untuk membiarkan saja. Dia tidak ingin mengganggu tidur Jeslyn dengan menyingkirkan tangannya. Dave kemudian melingkarkan tangannya ke tubuh istrinya. Dia memandang wajah jeslyn sejenak kemudian mengecup kening dan pucuk kepalanya. Dave memang masih merindukan istrinya.
“Jeslyn, apakah kali ini kau sungguh tidak bisa memaafkan aku? Apa aku terlalu egois karena terus menahanmu di sisiku?” gumam Dave dalam hati.
Dave tampak menatap lurus ke depan. Dia sedang berpikir, langkah apa yang akan diambil sebelum Jeslyn mengguggat cerai dirinya. Haruskah dia tetap mempertahankan Jeslyn dengan resiko dibenci oleh Jeslyn atau memilih untuk melepaskan Jeslyn agar dia bisa hidup bahagia.
Dave sedang berperang dengan pikiran dan hatinya. Di satu sisi dia tidak ingin melepaskan Jeslyn, tapi di sisi lain dia tidak bisa melihat Jeslyn terus menderita jika terus bertahan dengannya.
Jelsyn mulai membuka matanya perlahan. Dia terkejut saat melihat Dave ada di depannya. Dia langsung melepaskan pelukannya. Dave yang merasa ada pergerakan di depannya langsung membuka matanya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Jeslyn dingin. Dia merasa marah saat melihat Dave masuk ke kamarnya tanpa ijin.
Dave langsung bangun dari tidurnya. “Maafkan aku Jeslyn. Aku hanya sangat merindukanmu,” sesal Dave.
Jeslyn bangun dari tidurnya, kemudian berdiri. “Keluar sekarang dari kamarku.” Jelsyn berjalan menuju kamar mandi tanpa menoleh pada Dave.
“Apa kau sungguh membenciku Jeslyn?” tanya Dave dengan suara berat.
Jeslyn berhenti lalu menoleh pada Dave. “Iyaaa. Seharusnya saat kau memutuskan untuk menikah dengan Felicia aku sudah mengguggat dirimu,” ucap Jeslyn dengan suara tegas. “Aku menyesal sudah menikah denganmu Dave,” ucap Jeslyn dengan suara bergetar.
“Apa hubungan kita tidak bisa diperbaiki lagi? Aku bisa membuktikan kalau itu bukan anakku Jeslyn.”
“Tidak bisa. Gelas yang sudah pecah tidak akan kembali utuh seperti semula. Luka yang kau berikan padaku tidak akan hilang begitu saja."
Mata Jeslyn sudah berkaca-kaca. Kata-kata yang keluar dari mulutnya juga menyakiti dirinya.
“Aku ingin menanyakan satu hal padamu. Aku harap kau menjawab dengan jujur. Jawabanmu kali ini menentukan langkah apa yang akan aku ambil nantinya.”
“Apa?”
“Apa kau masih mencintaiku atau saat ini hanya ada rasa benci di dalam hatimu?”
Jeslyn terdiam sesat. Dia tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Dave. Dia merasa bimbang. Dia berbalik menatap Dave yang tampak sedang duduk menatap dirinya.
“Dave, saat ini yang ada di dalam hatiku hanya kebencian dan kekecewaan.”
__ADS_1
"Tidak adakah sedikit pun rasa cinta yang tersisa untukku Jeslyn?”
Jeslyn meremas kedua ujung bajunya. “Tidak ada.”
Dada Dave terasa sesak saat mendengar perkataan Jeslyn. “Kau yakin dengan perkataanmu?” Dave ingin memastikan lagi perasaan Jeslyn yang sesungguhnya.
“Yaa, aku sangat yakin,” ucap Jeslyn dengan lantang.
“Jadi, kau tetap ingin bercerai denganku? Apa kau sudah memikirkannya dengan matang?”
“Ya, aku sudah memikirkannya”
“Apa kau akan hidup dengan bahagia kalau aku melepasmu?”
Jeslyn tampak ragu sesat. “Iyaaa.”
Dave terdiam, menatap ke bawah sebentar kemudian beralih menatap Jeslyn. “Baiklah kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu. Aku akan melepasmu.”
Tubuh Jeslyn langsung terasa kaku. Dia tidak menyangka kalau Dave dengan mudah menyutujui perceraian mereka. Jeslyn berusaha keras menahan air mata yang keluar dari matanya.
“Tapi aku mempunyai syarat.”
“Apa?”
Dave tidak ingin jika setelah bercerai dengannya, Jeslyn harus bekerja keras untuk bertahan hidup. Walaupun dia tahu gajinya sebagai seorang Dokter Bedah cukup besar, tetapi Dave tidak akan membiarkan Jesyn tidak mendapat apa-apa setelah mereka bercerai.
Dave berencana memberikan sebagian besar asetnya pada Jeslyn. Kalau ibunya tahu Jeslyn yang mengguggatnya. Dia pasti akan ikut campur dan akan berusaha membuat Jeslyn tidak mendapatkan apa-apa saat bercerai dengannya. Berbeda jika dia yang menggugat Jeslyn. Ibunya tidak akan bisa ikut campur lagi.
“Aku tidak membutuhkannya. Aku bisa hidup dengan kerja kerasku sendiri.”
Dave berjalan mendekati Jelsyn. “Anggap saja itu sebagai kompensasi dariku karena sudah membuat hidupmu menderita selama ini, Walaupun aku tahu, itu tidak bisa menyembuhkan luka di hatimu."
Dave seolah tahu apa yang ada dipikiran Jeslyn saat ini. "Kalau kau tidak menyetujui syarat dariku. Aku tidak akan melepasmu. Kau seharusnya tahu kalau kau tidak mungkin menang melawanku jika aku tidak menyetuju perceraian ini,” sambung Dave lagi.
Jeslyn tampak berpikir. Apa yang dikatakan oleh Dave ada benarnya. Dengan latar belakang keluarga Dave, dia tidak akan bisa melawannya.
“Baiklah. Setelah 2 minggu kau harus langsung mengguggatku.” Jeslyn tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui persyaratan yang diajukan oleh Dave.
“Baiklah, tapi selama 2 minggu ini, ijinkan aku selalu berada di sisimu. Jangan menolak apapun yang aku lakukan untukmu.” Dave hanya ingin menghabiskan lebih waktu dengan Jeslyn sebelum perceraian mereka tiba.
“Baiklah, tapi aku tidak mau pulang ke rumahmu lagi. Aku akan tinggal di sini.”
Jeslyn tidak mau bertemu dengan Felicia. Dia yakin kalau Felicia akan mengolok-olok dirinya kalau sampai dia bertemu dengannya di rumah Dave.
“Baiklah, aku setuju.”
__ADS_1
“Aku akan menunggumu di luar. Aku sudah membelikan makanan untukmu.” Dave berjalan mendekati Jeslyn kemudian mencium pucuk kepalanya lalu berjalan keluar kamar Jeslyn.
Air mata Jeslyn langsung mengalir setelah Dave keluar dari kamarnya. Rumah tangga yang selama ini dia pertahankan, kali ini, sudah berada di ujung tanduk. Tinggal menghitung hari sebelum hari perceraiannya tiba.
Jeslyn bejalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya, setelah itu dia keluar kamar.
“Duduklah.” Dave sudah menyiapkan makanan di atas meja makan.
Jeslyn hanya diam. Dia duduk bersebrangan dengan Dave. “Makanlah, wajahmu pucat sekali. Seharusnya sebagai seorang Dokter, kau bisa menjaga tubuhmu sendiri.” Dave meletakkan makanan di depan Jeslyn.
“Kau tidak perlu memperdulikan aku,” ucap Jeslyn dengan ketus
Dave meletakkan sendok di piringnya. “Bukankah kita sudah sepakat kalau kau tidak boleh menolak apapun yang aku lakukan untukmu?” Dave berusaha sabar dan berusaha memaklumi sikap dingin istrinya.
“Makanlah, setelah itu akan pergi ke kantor.”
Jeslyn langsung meraih sendok lalu menyendokkan makanan ke mulutnya. Dia tidak ingin berdebat dengan Dave lagi dan memutuskan untuk makan tanpa membuka suara.
“Kenapa makanmu sedikit sekali?” tanya Dave ketika melihat Jeslyn sudah berhenti makan.
“Aku sedang tidak napsu makan.”
“Kau ingin makanan apa? Biar aku suruh Zayn membelikan untukmu?” tanya Dave lembut.
“Aku akan membelinya sendiri.”
Dave menghela napas halus. “Selama 2 hari ini, kau tidak usah bekerja dulu. Aku sudah meminta Adnan untuk mengalihkan semua pekerjaanmu pada dokter lain.”
Jeslyn menatap tajam pada Dave. “Jangan pernah mencampuri urusan pekerjaanku mulai sekarang.”
“Aku hanya ingin kau istirahat dulu. Lagi pula, masih ada Felicia di rumah sakit. Aku tidak ingin kau bertemu dengannya.”
“Apa kau sudah selesai? Jika sudah, pergilah ke kantor. Ibumu akan memarahiku, jika dia tahu kau di sini bersamaku di saat jam kantor.”
Jeslyn sangat tahu watak ibu mertuanya, walaupun saat ini dia sedang bahagia. Dia tidak mungkin membiarkan Jeslyn begitu saja apalagi setelah Felicia memfitnahnya.
“Baiklah, aku pergi dulu.” Dave mencium pucuk kepala Jeslyn, “jaga dirimu.” Dave kemudian melangkah keluar apartemen Jeslyn.
Dia tidak langsung pergi ke kantornya, melainkan duduk di dalam mobilnya sambil memejamkan mata.
“Tuan, Nyonya Jeslyn ada di depan loby apartemen,” ucap Zayn ketika melihat Jeslyn keluar dari pintu.
Dave langsung membuka matanya dan langsung melihat sosok Jeslyn baru saja masuk ke dalam taksi. “Ikuti dia.”
Bersambung...
__ADS_1