
Dave menoleh pada istrinya sambil memicingkan matanya. "Jangan banyak alasan Sayang. Jangan-jangan kau tidak ingin aku ikut denganmu karena kau akan bertemu dengan Dion?" tuduh Dave, "ingat Sayang, ada anakku di perutmu."
Jeslyn menoleh di sekitarnya. Dia rasanya ingin berteriak pada Dave saat ini. Dia merasa kesal pada suaminya karena masih saja membawa-bawa Dion padahal sudah jelas Dion akan menikah dengan Stella.
"Daveee." Jeslyn berusaha untuk menahan emosinya.
"Kenapa kau jadi membawa-bawa nama Dion? Lagi pula, Dion sudah pulang. Tadi Stella memberitahuku kalau Dion sudah pulang dari rumah sakit."
Sebelum Dave mencurigainya lagi, Jeslyn langsung menjelaskan secara rinci dan jelas pada suaminya.
"Baiklah. Kau boleh bertemu dengan Dokter Sarah, tapi...." ucap Dave, "kau tidak boleh ke mana-mana sebelum aku datang menjemputmu."
Jeslyn tersenyum paksa. "Baiklah." Jeslyn dan Dave akhirnya masuk ke dalam lift.
"Ingat Sayang, jangan ke mana-mana. Tunggu aku." Dave memperingatkan Jeslyn kembali sebelum istrinya keluar dari lift.
"Iyaa, Sayang." Jeslyn mengecup pipi kiri Dave sebelum keluar dari lift.
"Tunggu dulu, kau harus mencium sebelahnya juga." Dave menahan tangan Jeslyn ketika dia akan melangkah keluar.
Dengan gerakan cepat Jeslyn langsung mencium pipi Dave sebelah lagi lalu keluar dari lift. "Jangan lari-lari Sayang, ingat kau sedang hamil," teriak Dave ketika melihat istrinya berlari kecil ketika keluar dari dalam lift.
Dave tersenyum lebar ketika melihat istrinya sudah pergi. Untung saja saat itu mereka hanya berdua saja di dalam lift sehingga Jeslyn tidak merasa malu dilihat orang lain.
****
"Jeslyn." Seorang wanita berumur sekitar 60an menghampiri Jeslyn yang sedang berjalan dengan Dave ketika mereka sudah berada di loby. Dave dan Jeslyn berniat untuk pulang ke rumah setelah Dave menyelesaikan urusannya dengan Adnan.
Jeslyn langsung tersenyum lebar ketika melihat siapa yang memanggilnya. "Selamat siang Nyonya Merry, bagaimana kabar anda?" tanya Jeslyn ramah.
"Tentu saja baik," jawab wanita tersebut, "kau sendiri, bagaimana kabarmu?"
"Baik, Nyonya," jawab Jeslyn.
"Beberapa hari ini aku mencarimu. Kata petugas rumah sakit kau sedang cuti," papar wanita yang bernama Merry.
Mata Jeslyn membesar dan alisnya mengerut. "Ada perlu apa Nyonya mencariku?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin melihatmu. Sudah lama kita tidak bertemu." Wanita itu terlihat sangat senang bertemu dengan Jeslyn, "aku hanya merindukanmu."
Wanita itu meraih tangan Jeslyn dan memegangnya. "Kau terlihat makin cantik," puji wanita itu, "seandainya saja kau dan Ric..." Wanita tersebut menunduk dengan wajah sedih dan tidak melanjutkan ucapannya lagi.
Dave terlihat mengeryit sekaligus penasaran ada hubungan apa Jeslyn dengan wanita yang ada di depan mereka. Jeslyn terlihat akrab dengan wanita tersebut.
"Nyonya, kenapa bisa ada di sini?"
Wanita tersebut lalu mengangkat kepalanya menatap Jeslyn. "Suamiku dirawat rumah sakit," jawab wanita itu sambil melepaskan tangan Jeslyn.
"Tuan Adrew sakit apa?" tanya Jeslyn dengan wajah terkejut.
"Awalnya darah tingginya kumat, dia juga kelelahan dan sempat pingsan," jawab wanita tersebut.
Jeslyn manggut-manhgut. "Berapa lama Nyonya di sini?" tanya Jeslyn basa-basi.
"Belum tahu, kami akan pulang setelah urusan Ricky selesai di sini," jawab wanita itu.
Dave yang sedari tadi hanya diam, ketika mendengar nama Ricky disebut langsung memicingkan ke arah istrinya, menatap tajam pada wanita yang ada di depan mereka.
__ADS_1
"Jadi Ricky juga sedang ada di Indonesia?" tanya Jeslyn dengan wajah terkejut.
"Apa Ricky tidak bilang padamu kalau kami sedang di Indonesia?"
Jeslyn menggeleng. "Tidak, Nyonya."
Dahi wanita tersebut mengerut. "Dia bilang akan menghubungimu. Apa mungkin dia lupa? Aku memintanya untuk menghubungimu karena aku ingin bertemu denganmu," ungkap wanita yang bernama Merry.
Ekspresi Dave langsung berubah. Jeslyn mulai salah tingkah. Dia takut kalau Dave salah paham lagi padanya. "Apa kau belum bertemu dengannya?"
"Belum Nyonya," jawab Jeslyn, "kau sedang apa di sini? Bukankah kau sedang cuti?" tanya wanita itu.
"Sedang menemani suam...."
"Maaa, kenapa kau di sini?" Dave dan Jeslyn langsung menoleh ke samping ketika mendengar suara seorang pria.
"Ricky, mama sedang bicara dengan Jeslyn," jawab wanita itu ketika melihat anaknya menghampirinya. Wanita yang sedari tadi berbicara dengan Jeslyn ternyata adalah ibu dari Ricky.
Ricky melirik sesaat pada Dave kemudian beralih pada Jeslyn. "Hai Jes, bagaimana kabarmu?" tanya Ricky sambil menatap Jeslyn.
Jeslyn tersenyum kaku. "Baik," jawab Jeslyn singkat.
Dave terlihat langsung melingkarkan tangannya di pinggang Jeslyn. "Aku dengar kau sedang cuti?"
"Iyaa benar," jawab Jeslyn singkat.
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini," ucap Ricky sambil tersenyum, "kapan kau mulai bekerja lagi?" tanya Ricky.
"Istriku tidak akan bekerja dalam waktu yang lama karena dia sedang hamil." Jeslyn menutup mata sejenak sambil menghela napas mendengar suara tidak bersabahat dari mulut Dave.
Ricky menyunggingkan sudut bibir sebelah kiri. "Jadi kau adalah suami Jeslyn?" tanya Ibu Ricky.
"Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kau adalah suami Jeslyn." Ibu Ricky terlihat menampilkan wajah bersalah.
"Istri? Kau pikir aku tidak tahu bagaimana kau memperlakukan Jeslyn dulu?" Ricky menatap tersenyum mengejek. Mereka saling meleparkan tatapan permusuhan.
"Sepertinya kau tahu banyak mengenai kehidupan rumah tanggaku. Apa kau masih belum bisa melupakan istriku?"
Jeslyn langsung memegang lengan suaminya. "Dave, hentikan, lebih baik kita pulang."
Jeslyn langsung menoleh pada Ricky dan ibunya. "Maaf Nyonya, Ricky, kami harus pulang. Kami masih ada urusan." Jeslyn tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia merasa kalau pembicaraan mereka akan berakhir tidak mengenakkan nantinya.
Ibu Ricky langsung mengangguk. "Baiklah, hati-hati."
Jeslyn langsung menarik lengan Dave pergi dari sana. "Jes, tunggu!" Ricky mengejar langkah Jeslyn dan Dave.
Jeslyn terlihat menghela napas sebelum berbalik. "Ada apa, Rick?
"Bolehkah aku menghubungimu nanti? Aku ingin menanyakan sesuatu padamu," ujar Ricky sambil menatap penuh harap pada Jeslyn.
Dave langsung berdiri di hadapan Jeslyn. "Tuan Ricky, sepertinya Anda melupakan sesuatu, dia adalah istriku. Aku tidak suka kalau kau masih menghubunginya."
"Kenapa kau begitu waspada terhadapku? Apa kau takut kalau aku akan merebutnya darimu?" tanya Ricky dengan senyum sinisnya.
"Kau sudah kalah Tuan Ricky, istriku sudah menolakmu. Tidak ada alasan bagiku untuk takut padamu," jawab Dave dengan angkuh.
Jeslyn memegang lengan suaminya. "Dave sudah. Lebih baik kita pulang."
__ADS_1
"Ricky, maaf kami harus pergi. Kami masih ada urusan," ucap Jeslyn dengan wajah tidak enak.
"Baiklah, hati-hati."
Sebelum melangkah, Dave melayangkan tatapan tajam pada Ricky. Jeslyn hanya diam sambil mengikuti langkah Dave yang terlihat berjalan cepat menuju mobil mereka yang sudah terparkir di depan rumah sakit. Dalam perjalanan mereka terlihat hanya diam.
Tidak ada pembicaraan sama sekali diantara mereka berdua hingga mereka tiba di rumah. Dave langsung duduk membuka pintu kamar dan masuk ke kamar mandi tanpa mengatakan apapun. Jeslyn tahu kalau saat ini suasana hati suaminya sedang buruk dan tidak ingin diganggu, jadi Jeslyn memutuskan untuk diam saja.
Beberapa saat kemudian Dave keluar dan duduk bersandar di sofa. Sementara Jeslyn duduk di tempat tidur. Dia terlihat ragu mendekati suaminya ketika melihat Dave menampilkan wajah datarnya.
Setelah beberapa saat, Jeslyn memutuskan untuk mendekati suaminya yang sedang sibuk dengan ponselnya. "Dave," panggil Jeslyn dengan suara pelan.
"Hhhmmmm," gumam Dave tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa kau marah denganku?" tanya Jeslyn hati-hati.
"Tidak."
"Lalu kenapa kau diam saja?"
"Apa dia pernah menghubungimu beberapa hari ini tanpa sepengetahuanku?" tanya Dave sambil menoleh pada Jeslyn.
Dave teringat dengan perkataan ibu Ricky yang mengatakan kalau Ricky ingin menghubungi Jeslyn.
"Aku tidak tahu Dave. Aku sudah menghapus nomer ponselnya. Aku juga tidak hapal nomernya."
Jeslyn memang sudah tahu sikap diam Dave pasti berhubungan dengan pertemuan mereka tadi dengan Ricky.
"Kenapa kau hapus? Apa kau sengaja menghapusnya agar aku tidak tahu kalau dia menghubungimu?"
"Aku hanya tidak ingin kau ribut masalah Ricky, Dave."
"Aku lihat kau sangat akrab dengan keluarganya. Apa kau yakin tidak pernah menjalin hubungan dengan Ricky sebelumnya?"
Entah mengapa setelah melihat kedekatan Jeslyn dengan Ricky dan ibunya membuat hati Dave resah, apalagi, setelah tahu kalau Ricky juga mengetahui bagaimana hubungan rumah tanggannya dengan Jeslyn dulu.
"Apa kau tidak percaya padaku?"
"Aku hanya bertanya, kau tinggal menyangkal jika itu tidak benar."
Jeslyn menatap tajam pada suaminya. "Kau bukan bertanya, tapi kau menuduhku, Dave!"
Dave langsung meletakkan ponselnya di atas meja ketika mendengar nada tinggi dari Jeslyn. "Kenapa kau jadi marah? Seharusnya aku yang marah, Jeslyn." Dave merasa terkejut melihat reakasi dari Jeslyn.
"Kau selalu mencurigaiku dan menuduhku. Aku juga bisa lelah kalau kau bersikap seperti itu terus." Jeslyn terlihat mulai emosi, "Aku tidak suka dengan sikapmu yang berlebihan. Aku merasa tertekan kalau kau terus saja curiga padaku."
Dave tampak terkejut mendengar perkataan Jeslyn. "Jadi, selama ini kau tertekan hidup denganku?" tanya Dave dengan wajah kecewa.
"Dave, kau selalu melarangku ini itu, dan mengekangku. Aku merasa sesak Dave kalau kau seperti itu terus."
Dave tersenyum getir. "Jadi, itu yang kau rasakan selama ini? Baiklah, mulai sekarang aku tidak akan pernah mengekang dan melarangmu lagi. Lakukan apapun yang kau inginkan."
"Apa tidak bisa kau mempercayaiku? Kau menuduhku seolah aku memiliki hubungan dengan Ricky. Kenapa kau masih saja bertanya padaku mengenai Ricky dan Dion? Aku capek menjelaskan padamu."
"Kalau kau tidak suka aku bertanya mengenai Ricky ataupun pria lain yang mendekatimu. Aku tidak akan pernah bertanya lagi padamu. Terserah kau mau dekat dengan siapa saja."
Dave langsung berdiri dan berjalan keluar dari kamarnya sementara Jeslyn langsung meneteskan air mata setelah kepergian Dave.
__ADS_1
Bersambung...