
"Masuklah." Dion membuka lebar pintu kamarnya. Setelah selesai berbicara dengan orang tuanya. Mereka baru selesai berbicara saat pukul 9 malam. Dion mengantarkan Stella dan Alea ke kamarnya yang dulu dia tempati.
Stella mengangguk dan menggandeng Alea untuk masuk. "Alea, mau, kan menginap di sini? Besok pagi baru om anter pulang?" tanya Dion lembut seraya berjongkok di depan Alea dan memegang tangannya.
"Iyaa Om," jawab Alea yang disertai anggukan. "Alea mau."
"Anak pintar." Dion mengucap kepala Alea, lalu berdiri.
"Kenapa kau diam saja?" Dion memperhatikan wajah Stella yang sedikit muram. Dia terlihat lebih banyak diam setelah berbicara dengan kedua orang tua Dion.
Stella tersenyum paksa. "Dion, apa kau yakin akan menikah denganku?"
Stella tampak masih ragu dengan rencana pernikahan mereka. Bukannya tidak senang, hanya saja dia merasa sedikit terbebani oleh kebaikan Dion yang ingin menikahi hanya karena ingin menjaganya dari gangguan keluarga Daniel.
"Lebih baik kita kau tidurkan Alea dulu. Sepertinya dia sudah mengantuk," saran Dion ketika melihat Alea baru saja menguap.
"Baiklah. Aku akan menidurkan Alea dulu." Dion mengangguk lalu berjalan ke sofa, sementara Stella membaringkan Alea di tempat tidur.
Stella tampak mengusap-usap kepala Alea dan punggungnya. Dion hanya diam saray terus menatao ke arah Stella dan Alea. Dia memperhatikan Stella dengan seksama.
Sebenarnya terlepas dari status Stella yang sudah memiliki anak. Dia masih terlihat seperti wanita yang berlum memiliki anak. Wajahnya terlihat lebih muda dari usianya. Orang yang tidak mengenalnya akan berpikir kalau dia belum memiliki anak.
Wajah kecil, dagu runcing, bibir tipis, mata sipit dan hidung mancung menggambarkan sosok cantik Stella. Dion mengakui kalau Stella memang sangat caktik. Kencantikan Stella di atas rata-rata dari kebanyakan gadis cantik lainnya, jadi wajar saja dulu Dave tergila-gila padanya.
__ADS_1
Stella berjalan ke arah Dion setelah berhasil menidurkan Alea. Dia duduk di depan Dion. Dia merasa sedikit salah tingkah karena sedari tadi Dion terus memandang ke arahnya. Wajahnya bahkan memanas ketika dia tidak sengaja bertatapan dengan Dion ketika dia sedang berusaha menidurkan Alea tadi.
Apa yang membuatmu ragu dengan pernikahan ini?" Dion langsung melayanglan pertanyaan pada Stella setelah melihat Stella duduk.
"Dion, aku tahu kalau kau tidak mencintaiku. Aku hanya tidak ingin kau mengorbankan hidupmu hanya demi menjagaku. Kau tidak memiliki kewajiban apa-apa terhadapku. Aku bisa menjaga diriku sendiri, Dion."
Melihat keluarga Dion yang memperlakukannya dengan baik membuatnya merasa bersalah. Orang tua Dion berpikir kalau mereka saling mencintai, padahal nyatanya mereka tidak memiliki perasaan apapun. Mereka berdua masih terikat dengan bayang-bayang masa lalu mereka.
Dion menyandarkan tubuhnya di sofa, lalu menatap serius pada Stella. "Aku menikahimu bukan hanya untuk menjagamu dari keluarga mantan suami. Aku sungguh ingin menjalin hubungan serius denganmu. Kita jalani dulu pernikahan ini, jika dalam beberapa tahun kedepan, kau tidak juga mencintaiku, dan kau bisa menemukan pria yang kau cintai, aku akan menceraikanmu."
"Aku hanya merasa ini tidak adil bagimu Dion. Aku adalah wanita dengan status janda beranak satu. Aku tidak mau keluargamu akan menjadi gunjingan nantinya karena kau menikah denganku. Kau bisa mendapatkan dengan mudah gadis diluar sana. Ibaratkan barang. Aku sudah bekas Dion. Sudah tidak mempunyai nilai lagi," ucap Stella dengan wajah muram.
Sorot mata Dion berubah menjadi tajam. "Tapi masalahnya kau bukan barang, Stella. Gadis atau janda menurutku sama saja. Tidak ada bedanya bagiku. Aku tidak pernah memandang wanita dari statusnya. Menikahi seorang gadis tidak menjamin kehidupan rumah tanggaku akan bahagia nantinya," ujar Dion.
Pandangan buruk masyarakat mengenai janda memang menjadi momok tersendiri bagi yang menyandang status tersebut. Tidak banyak dari mereka mendapatkan gunjingan, cibiran bahkan direndahkan hanya karena status mereka seolah status janda adalah sebuah dosa yang tidak termaafkan.
Banyak sekali sikap sinis yang tertuju kepada mereka dari orang-orang sekitar mereka, terkadang justru datang dari orang terdekat bahkan keluarga mereka sendiri. Hal itu juga yang kerap Stella dapatkan orang orang sekitarnya.
"Aku tahu Dion, tapi melihat kebahagiaan ibumu tadi, membuatku merasa bersalah. Hatinya pasti akan hancur jika dia tahu kalau kita menikah bukan atas dasar cinta."
"Kalau begitu cobalah untuk mencintaiku dan berikan aku kesempatan untuk bisa masuk ke dalam hatimu," ucap Dion.
"Bagaimana kalau setelah kita mencoba, tapi diantara kita berdua tidak juga tumbuh rasa cinta?" Stella sebenarnya hanya takut kalau nantinya Dion lah yang tidak bisa mencintainya.
__ADS_1
"Seperti yang aku bilang tadi, aku akan melepaskanmu, dengan syarat, kau harus sudah memiliki pengganti diriku, tapi aku harap hal itu tidak akan pernah terjadi. Aku hanya minta kau buka hatimu untukku, jangan membangun dinding pembatas yag tidak bisa aku tembus," pinta Dion sungguh-sungguh.
"Aku akan berusaha untuk mencintaimu dan membuatmu jatuh cinta padaku," sambungnya lagi.
Stella bisa melihat keseriusan Dion dalam sorot mata dan ucapannya. Entah mengapa, Stella merasa dalam situasi seperti, Dion terlihat lebih dewasa dari pada dirinya.
Pola pikirnya tidak sempit seperti dirinya. Dia sangat tersentuh dengan ucapan dan kegigihan Dion dalam meyakinkan dirinya. Seketika Stella merasa beruntung karena akan menikah dengan Dion.
"Terima kasih Dion karena sudah mau menerimaku dan Alea. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu."
"Hhmmm," guman Dion.
"Kalau begitu mulailah dari sekarang, anggap saja latihan sebelum kau menjadi istriku yang sesungguhnya. Karena kau sudah menjadi calon istriku, maka aku tidak akan sungkan lagi padamu. Begitu pun denganmu, jangan pernah membatasi diri jika sedang bersamaku."
"Iyaaa," jawab Stella yang diikuti dengan anggukan.
"Aku harap Alea juga bisa menerimaku sebagai pengganti ayahnya nanti," ucap Dion penuh harap. "Kalau kau tidak keberatan, bisakah kau pelan-pelan memberi pengertian padanya kalau kita akan segera menikah? Aku juga berharap kalau dia mau merubah panggilannya terhadapku. Bagaimanapun aku akan menjadi ayah sambung baginya nanti."
"Tentu saja aku tidak keberatan. Aku akan memberikan pengertian padanya. Aku akan membiasakannya memanggilmu dengan sebutan Daddy."
"Kalau begitu tidurlah. Aku akan tidur di kamar sebelah. Kau bisa memanggilku jika kau membutuhkan sesuatu," ucap Dion sembari berdiri.
"Baiklah." Stella mengantar Dion sampai di pintu. "Aku keluar dulu. Jangan begadang." Dion meraih wajah Stella lalu mengecup keningnya. Mata Stella membesar ketika merasakan kecupan lembut di keningnya. "Tidurlah." Stella mengangguk lalu Dion keluar dari kamar.
__ADS_1
Bersambung ..