
Siang ini, rumah Jeslyn dan Dave sudah diramaikan dengan kedatangan mertuanya. Untuk pertama kalinya, mertua Jeslyn melihat cucu mereka berjalan.
Mereka sedang berkumpul di ruangan keluarga untuk melihat Levin belajar berjalan sendiri tanpa bantuan orang lain. Orang tua Dave tidak menyangka kalau cucu mereka sudah bisa berjalan saat umurnya masih 9 bulan.
Dulu, saat Dave kecil, dia baru bisa berjalan saat umur 11 bulan, meskipun begitu saat Dave kecil dia lebih cepat berbicara dibandingkan dengan anaknya, giginya pun lebih cepat tumbuh dibandingkan dengan Levin.
Umur Levin baru menginjak 9 bulan seminggu yang lalu. Jeslyn yang saat itu sedang menonton televisi sambil menemani anaknya bermain dibuat terkejut ketika Levin tiba-tiba berdiri lalu berjalan dengan 3 langkah untuk mengambil mainan bola yang menggelinding menjauh darinya.
Setelah terjatuh, Levin kembali bangun dan melanjutkan langkahnya, setelah melangkat 5 kali, Levin kembali terjatuh, dilanjutkan lagi dengan 7 langkah dan seterus.
Jeslyn hanya memandangi anaknya tanpa ada niat untuk membantunya. Dia ingin Levin berusaha sendiri, meskipun begitu Jeslyn berada di samping Levin setiap Levin belajar berjalan jika anaknya jatuh dia bisa langsung menangkap tubuh anaknya.
Jeslyn sebenarnya tidak terlalu khawatir karena Levin berjalan di atas karbet bulu tebal yang bila terjatuh tidak akan membuat Levin kesakitan atau cidera.
Hanya saja diawal Levin berjalan, berbeda dengan Jeslyn terlihat lebih santai, Dave Justru yang terlihat sangat khawatir anaknya terjatuh sehingga dia selalu memegangi Levin saat dia belajar berjalan.
"Levin, kemari sayang," panggil ibu Dave sambil menjulurkan kedua tangannya ke arah cucunya dengan satu tangan memegang mainan agar Levin berjalan menghampirinya.
Levin yang sedang berada di pangkuan Jeslyn, seketika bangun menghampiri Ibu Dave. Meskipun tertatih dan sempat terjatuh beberapa kali, Levin tetap bangun dan berjalan ke arah ibu Dave. Jeslyn, Dave dan ayah Dave hanya memandangi Levin yang tampak sudah berjalan mendekati omanya.
"Cucu, oma memang pintar," ucap Ibu Dave ketika Levin berhasil menghampirinya dan mengambil mainan yang ada di tangannya.
Dave beranjak dari duduknya lalu berjongkok di dekat istrinya. Dia menghadap ke arah Levin dan memanggilnya, "Levin, sini sayang." Dave merentangkan agar Levin mendekat ke arahnya.
Dengan senyum lebar Levin langsung membuang mainan yang ada ditangannya dan langsung berjalan cepat ke arah Dave.
"Lihatlah cucumu Pa. Kalau papanya yang memanggil, dia langsung melupakan mainannya dan berjalan cepat ke arah ayahnya," ucap ibu Dave pada suaminya.
"Levin memang lebih sayang dengan papanya, Ma," adu Jeslyn pada ibu mertuanya.
Dave memang sangat memanjakan anaknya. Setiap hari Dave meluangkan waktu khusus untuk bermain dengan anaknya sebelum dia berangkat kerja. Dan setiap weekend Dave akan menghabiskan waktu seharian dengan anaknya.
Dave tersenyum ketika Levin sudah berada di pelukannya. "Tentu saja dia sayang padaku, sayang. Dia kan anakku," ucap Dave setelah meraih tubuh Levin dan langsung menggendongnya.
"Orang bodoh juga tahu kalau dia anakmu, Dave. Lihat saja wajahnya itu, mirip sekali denganmu," sela ibu Dave sambil menatap anaknya.
__ADS_1
Dave memberikan kecupan bertubi-tubi pada anaknya. "Memangnya mama tidak suka kalau Levin mirip denganku?" Dave menoleh pada ibunya setelah dia sudah selesai mencium pipi anaknya.
"Tentu saja mama senang. Mama seolah memiliki anak lagi," jawab Ibu Dave sambil tersenyum pada anaknya. "Berikan mama cucu lagi untuk menemani mama di rumah," gurau Ibu Dave.
Dave melirik pada istrinya. "Kalau aku sih terserah Jeslyn Ma karena dia yang hamil dan melahirkan."
Dave sengaja melemparkan keputusan pada istrinya karena dia tidak mau merepotkan istrinya. "Itu kemauan mama sayang, bukan aku," lanjut Dave lagi ketika mendapatkan lirikan tajam dari istrinya.
"Mama hanya bercanda Jes. Mama tidak akan memaksamu." Ibu Dave menghampiri Dave yang sedang menggendong cucunya.
"Berikan pada mama." Ibu Dave menjulurkan tangannya untuk meraih cucunya.
Dave mengoper tubuh Levin pada ibunya dengan hati-hati. "Cucu, oma sepertinya bertambah berat," ucap Ibu Dave ketika sudah meraih tubuh cucunya.
"Dia kuat sekali minum susu, Ma," terang Dave.
Ibu Dave duduk di samping suaminya lalu memangku cucunya. "Kau juga kuat minum susu waktu kecil Dave."
"Benarkah?" Dave seolah tidak mau mengakui kelakuannya ketika dia masih kecil.
"Aku tidak ingat, Ma." Jawab Dave santai.
Ibu Dave melirik pada anaknya. "Tentu saja karena kau masih kecil." Ibu Dave kemudian beralih menatap menantunnya "Jes, mama berencana untuk merayakan ulang tahun pertama Levin dengan meriah di vila kita yang di bali, bagaimana?"
"Tidak usah Ma, letaknya terlalu jauh, lagi pula kami sudah memiliki rencana lain," sela Dave sebelum istrinya membuka suara.
Dave tahu kalau istrinya tidak akan berani menolak permintaan ibu mertuanya meskipun dia keberatan dengan permintaan ibu mertuanya dengan alasan tidak enak. Dave sangat tahu sifat Jeslyn yang satu itu.
"Rencana apa?" tanya Ibu Dave sambil menoleh pada anaknya.
Dave yang sedang duduk santai di samping istrinya sambil bersandar di sofa seketika menatap ibunya. "Kami akan merayakan di panti asuhan milik Jeslyn, Ma."
Wajah ibu Dave terlihat sedikit kecewa. Dia sebenarnya ingin membuat pesta besar karena ingin memperkenalkan cucunya pada semua kerabat dan kenalannya. "Padahal mama sudah mempersiapkan semuanya."
Panti asuhan itu adalah panti asuhan yang dibuat oleh Dave yang diberikan khusus untuk istrinya ketika Jeslyn berulang tahun beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
Ketika Jeslyn masih gadis dan masih menjadi Dokter Umum dia sering kali datang ke beberapa panti asuhan untuk sekedar berbagi dengan anak-anak yang kurang beruntung.
Jeslyn bahkan menjadi donatur tetap di dua panti asuhan yang berada di pinggiran kota. Dia juga memiliki anak asuh yang dia sekolahkan sampai tamat kuliah yang memiliki otak cerdas tapi memiliki keterbatasan biaya.
Sudah ada total 15 anak yang berhasil dia sekolahkan sampai tamat kuliah sebelum menikah dengan Dave. Bahkan ketika dia sudah menjadi Dokter Spesialis Bedah, anak yang biayai pendidikannya sampai taman kuliah bertambah sampai 40 anak.
Jeslyn memang wanita pekerja keras. Dia bekerja dengan giat untuk mengumpulkan banyak uang untuk membiayai biaya kulian anak-anak yang kurang mampu, itulah sebabnya Jeslyn jarang sekali libur dan tidak pernah mengambil cuti sebelum dia menikah dengan Dave.
Bahkan saat menikah Dave juga, waktunya lebih banyak dia habiskan di rumah sakit apalagi di awal pernikahannya hubungannya dengan Dave tidak baik.
Dave lebih banyak mengacuhkannya sehingga Jeslyn memilih menghabiskan waktu bekerja di rumah sakit. Jeslyn juga tidak pernah menghabiskan uang untuk bersenang-senang, dia lebih suka menabung dan menggunakan gajinya untuk membantu orang lain.
"Bagaimana kalau setelah merayakan di panti asuhan kita rayakan juga di Bali, sesuai dengan keinginan Mama?" usul Jeslyn.
Dia merasa tidak tega melihat wajah kecewa ibu mertuanya. Dia bisa memaklumi perasaan ibu mertuanya yang ingin memberikan yang terbaik untuk cucuknya apalagi cucu itu sudah lama dia inginkan dan akhirnya baru dia dapatkan setelah penantian yang cukup lama.
"Kau tidak perlu menuruti keinginan mamamu jika kau keberatan, Jes," sela ayah Dave setelah mendengar usulan menantunya. Ayah mertua Jeslyn memang tahu juga bagaimana sifat menantunya yang sulit menolak permintaan istrinya.
Jeslyn menoleh pada ayah mertuanya. "Tidak apa-apa, Pa. Jeslyn tahu kalau Mama melakukan ini karena ingin membuat Levin senang."
"Jes, kalau kau memang keberatan, mama tidak memaksa. Mama tidak keberatan kalau kita merayakan ulang tahun Levin di panti asuhan."
"Iya sayang. Kau tidak perlu merasa terpaksa jika kau tidak setuju," timpal Dave lagi.
"Aku tidak keberatan Dave," ucap Jeslyn sambil menoleh pada suaminya. "Kita juga sudah lama tidak liburan semenjak Levin lahir. kita belum pernah mengadakan acara kumpul keluarga lagi, bukan?"
"Baiklah, kalau memang itu maumu." Keinginan Jeslyn memang yang paling utama bagi Dave. Dia akan menuruti keinganan istrinya selama masih dia masih bisa memenuhinya.
"Jadi, mama boleh membuatkan pesta untuk Levin?" tanya Ibu Dave dengan wajah senang.
"Iyaaa Ma," jawab Jeslyn lembut.
"Terima kasih, Jes," ucap Ibu Dave dengan wajah senang.
Bersambung...
__ADS_1