Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Mengandung Anakmu Lagi.


__ADS_3

Seketika Jeslyn dan Dave menoleh ke belakang dan melihat Alea sudah terbangun dengan posisi duduk menatap ke arah mereka sambil mengucek kedua matanya.


Dave langsung tertunduk lesu. "Kenapa dia bangun saat seperti ini?" ucap Dave dengan nada pelan. Dia kemudian meletakkan kepalanya di bahu istrinya.


"Maaf Dave, sepertinya malam ini kau harus menahannya lagi," ucap Jeslyn sambil menoleh kebelakang dan mengusap lembut wajah suaminya.


Jeslyn kemudian menoleh pada Alea yang sedang menatap ke arah mereka.


"Tidak ke mana-mana sayang," jawab Jeslyn lembut.


Jeslyn kemudian menghampiri Alea, saat Dave sudah menjauhkan kepalanya dari bahu Jeslyn. Dia duduk di pinggir tempat tidur, sementara Dave duduk di dekat Jeslyn. "Kenapa Alea bangun sayang?" tanya Jeslyn lembut sambil mengelus kepala Alea. 


"Alea mau pipis," jawab Alea polos.


"Ayoo, mama temani." Alea mengangguk, setelah itu berjalan ke arah kamar mandi bersama Jeslyn.


Dave sudah tidak bersemangat lagi. Wajah tampak frustasi. Dia hanya kemudian duduk bersandar di tempat tidur.


Setelah selesai menemani Alea. Jeslyn langsung berbaring kembali dengan Alea. Sama seperti tadi, Alea berada di tengah antara Dave dan Jeslyn. Dia memeluk Alea dan mengelus-elus kepala Alea agar dia cepat tertidur.


Ketika Alea sudah tertidur, Jeslyn mengangkat kepalanya menatap ke arah Dave yang tampak suda berbaring sambil memejamkan matanya. "Dave, apa kau sudah tidur?" tanya Jeslyn dengan suara pelan.


Dave membuka matanya. "Aku tidak bisa tidur Jes."


Mendengar itu, Jeslyn langsung merasa iba pada suaminya. "Maaf Dave, tolong mengerti. Ini di luar kendaliku."


Dave merubah poisisi tidurnya menjadi miring menghadap Jeslyn dan Alea. "Iyaa, aku tahu sayang. Aku tidak marah."


"Tidurlah Dave, ini sudah malam. Bukankah kau harus bangun pagi besok?"


Dave kemudian bangun, turun dari tempat tidur, lalu berjalan ke sisi lain tempat tidur di mana Jeslyn berada. "Dave sempit. Kenapa kau malah pindah ke sini?" tanya Jeslyn ketika Dave sudah berbaring di belakangnya.


"Aku hanya ingin tidur sambil memelukmu sayang," ucap Dave sambil mempererat pelukannya.


Jeslyn menoleh sedikit ke belakang. "Kau akan jatuh nanti Dave. Tidak nyaman juga, jika kita tidur seperti ini."


"Aku tidak bisa tidur sayang, jika tidak memelukmu," aku Dave.


Dave juga baru menyadari kalau dia kesulitan untuk tidur, jika dia tidak tidur dengan Jeslyn. Dia baru tahu hal itu ketika tidak tinggal bersama Jeslyn, saat mereka berdua tinggal terpisah. Mungkin karena Dave sudah terbiasa tidur bersama dengan istrinya, apalagi dia selalu tidur sambil memeluk Jeslyn.


"Kalau begitu angkat Alea ke pinggir, agar kau bisa tidur dengan leluasa Dave. Tubuhmu bisa pegal nanti, jika tidur berhimpitan seperti ini," usul Jeslyn.


Dia tidak mau kalau sampai suaminya tidur tidak nyaman, apalagi dia harus bekerja esok harinya.


Dave mengangguk pelan lalu berjalan mendekati Alea. Dengan hati-hati dia mengangkat tubuh Alea ke tempat yang kosong. Setelah itu Jeslyn mengambil guling dan beberapa beberapa bantal yang diletakkan di pinggir tempat tidur sebegai pembatas agar Alea tidak jatuh. Walaupun Alea kenyataannya, Alea tidak banyak bergerak saat tidur, tetap saja Jeslyn khawatir Alea akan jatuh.


Dave lalu berbaring disamping Jeslyn. Mereka tidur saling berhadapan. "Sayang, setelah pulang dari sini, bagaimana kalau kita langsung pindah ke rumah baru?" usul Dave. Dia memang berencana untuk pindah setelah Jeslyn pulih.


"Tapi aku belum berkemas Dave."


"Kau tidak perlu berkemas sayang, semuanya sudah tersedia di sana. Aku sudah melengkapi semua kebutuhan rumah tangga kita termasuk semua keperluan dan kebutuhanmu," jelas Dave.


Dave diam-diam meminta asistennya untuk mengisi semua perabotan rumah barunya, membelikan pakaian untuk dirinya dan istrinya serta semua keperluan yang akan mereka gunakan nanti ketika sudah pindah.


Dave juga menyuruh bi Sarti untuk bekerja di rumah baru mereka nanti. Dave sudah mempersiapkan semuanya dengan sempurna.


"Baiklah," ucap Jeslyn sambil tersenyum. "Dave," panggil Jeslyn suara pelan. Ada keraguan ketika menyebutkan nama suaminya.

__ADS_1


"Apa sayang?" tanya Dave sambil merapikan rambut istrinya. "Bolehkah aku bekerja lagi?" tanya Jelsyn dengan hati-hati.


Sebenarnya Dave sudah pernah mengatakan kalau dirinya tidak boleh bekerja selama seminggu kedepan, tapi tetap saja Jeslyn harus memastikannya lagi, apakah dia masih boleh bekerja.


"Nanti sayang, 3 minggu lagi kau baru boleh bekerja," jawab Dave pelan.


Jeslyn langsung bangun dari tidurnya, lalu menatap pada suaminya dengan tatapan terkejut. "Kenapa jadi 3 minggu? Bukankah kau bilang seminggu lagi aku boleh bekerja?" tanya Jeslyn dengan wajah heran.


"Ada yang harus aku urus sayang, jadi kau tidak boleh bekerja dulu," cap Dave sambil menarik tangan Jeslyn. "Berbaringlah sayang," ucap Dave lembut.


Jeslyn  kemudian merebahkan tubuhnya. "Apa hubungannya denganku Dave?" protes Jeslyn.


"Kau harus menemaniku sayang. Aku tidak bisa jauh darimu," goda Dave sambil tersenyum.


"Jangan bercanda Dave!" " pekik Jeslyn.


"Pelankan suaramu sayang, Alea bisa terbangun nanti," ucap Dave sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir.


Jeslyn kemudian mengangguk. "Untuk apa aku menemanimu Dave? Aku tahu kau pasti hanya mencari alasan."


Sebenarnya Dave sudah melarang istrinya untuk bekerja lagi, hanya saja Jeslyn terus memohon pada Dave, agar dirinya diinjinkan untuk bekerja lagi karena dia akan merasa bosan jika tidak bekerja. Dia tidak mau berdiam diri saja di rumah.


"Aku serius sayang. Ada hal penting yang harus aku lakukan dan kau harus ikut denganku," ucap Dave lembut sambil memeluk istrinya.


"Hal penting apa sehingga aku harus ikut?" tanya Jeslyn sambil mendobgakkan kepalanya menatap wajah suaminya.


"Kau akan tahu nanti sayang. Sekarang tidurlah. Aku sudah mulai mengantuk," ucap Dave sambil menguap.


Jeslyn mengangguk pelan, lalu membalas pelukan suaminya sambil membenamkan wajahnya ke dada Dave.


****


"Sayang, kita sarapan dulu ya?" tanya Jeslyn setelah dia selesai mendadani Alea. Dia harus memastikan Alea sarapan sebelum mengantarnya ke sekolah.


"Iya Ma." Mereka kemudian berjalan turun ke lantai bawah menuju ruang makan.


"Pai Ma, Pa," sapa Jeslyn, ketika dia tiba di ruang makan saat melihat mertuanya sudah duduk di meja makan.


Orang tua Dave langsung mengangguk. "Duduklah Jes," ucap ibu Dave lembut.


"Iya Ma."


"Dave ke mana?" tanya ibu Dave ketika tidak melihat Dave turun bersama mereka.


"Sedang mandi Ma," jawab Jeslyn pelan sambil mengoleskan roti dengan selai coklat untuk Alea.


Ibu Dave mengangguk tanda mengerti. "Apakah kau akan mengantar Alea sekolah?"


Jeslyn menatap ibu mertuanya sambil tersenyum. "Iya Ma."


Dengan wajah berbinar ibu mertua Jelsyn langsung berkata, "Bolehkah kalau Mama yang mengantarnya ke sekolah?"


"Tapi Ma, aku tidak mau merepotkan Mama," ucap Jeslyn dengan wajah tidak enak.


"Mama tidak keberatan sama sekali Jes. Biarkan Mama yang mengantarnya, lagi pula kau harus mengurus suamimu sebelum berangkat kerja," ucap Ibu Dave bersemangat.


"Baiklah Ma."

__ADS_1


Ibu Dave langsung menatap pada Alea. "Alea, bagaimana kalau Oma yang mengantar Alea ke sekolah. Apakah Alea mau diantar oleh Oma?" tanya Ibu Dave dengan wajah antusias.


"Iyaa Oma," ucap Alea tersenyum.


*****


"Kau dari mana sayang?" tanya Dave ketika melihat istrinya membuka pintu. Dave sedang mengancing lengan bajunya ketika Jeslyn masuk ke kamar mereka.


"Dari bawah Dave. Aku menemani Alea sarapan. Maaf tidak menunggumu dulu," ucap Jeslyn sambil berjalan menuju lemari pakaian. Dia tampak mengambil sesuatu, setelah itu dia berjalan menghampiri suaminya.


"Lalu ke mana Alea sekarang?"


Jeslyn berdiri tepat di depan Dave, lalu mengangkat kerah baju suaminya. "Dia sudah berangkat ke sekolah diantar oleh Mama," ucap Jeslyn sambil memasangkan dasi pada suaminya.


Dave menunduk menatap istrinya yang tampak sedang fokus memakaikan dasi. "Mama bersikeras ingin mengantar Alea," sambung Jeslyn lagi.


"Itu artinya tidak akan ada lagi yang mengganguku kita," ucap Dave dengan senyum jahilnya.


Jeslyn yang baru saja selesai memasangkan dasi seketika langsung mengangkat kepalanya dan langsung bertatapan dengan mata Dave. "Apa..apa maksudmu Dave?" tanya Jeslyn dengan gugup. Dave mulai melingkarkan kedua tanggannya di pinggang istrinya lalu mendekatkan wajahnya pada Jeslyn.


"Jangan pura-pura tidak tahu sayang," ucap Dave dengan seringaiannya.


"Lepaskan Dave. Kau akan terlambat nanti," ucap Jeslyn sambil berusaha melepaskan tangan Dave yang ada di pinggangnya.


"Sepertinya aku akan datang siang hari ini," ucap Dave mempererat pelukannya.


"Lebih baik kau sarapan dulu Dave," ucap Jeslyn dengan wajah panik.


"Aku akan memakanmu terlebih dahulu sayang," bisik dengan suara serak.


Dave kemudian memgangkat tubuh istrinya dengab gerakan cepat. "Dave, lepaskan aku! Kau harus bekerja," pekik Jeslyn.


Dave tidak menghiraukan ucapan istrinya. Doa terus melanhkah menuju temapt tidur, lalu dengan gerakan hati-hati, Dave meletakkan tubuh istrinya di kasur. Dia kemudian menatap istrinya yang sudah berada di bawahnya.


Tanpa menunggu lama, Dave langsung melu*mat bibir istrinya dengan sedikit liar sementara tangannya mulai melepaskan dasi yang tadi dipasang oleh istrinya, setelah itu tangannya bergerak bebas menjelajahi tubuh istrinya.


Jeslyn yang awalnya hanya diam, mulai membalas ciuman suaminya. Mereka saling memagut tanpa memikirkan hal lain lagi. Setelah cukup lama saling memagut, Dave lalu menghentikannya.


Dia kemudian menatap istrinya. "Aku sangat menginginkanmu sayang," ucap Dave dengan suara parau. "Bolehkah aku melakukannya?" tanya Dave dengan wajah yang sudah diliputi oleh gairah yang membuncah.


Jeslyn mengangguk dengan wajah malu dan memerah. "Kunci dulu pintunya Dave," pinta Jeslyn.


"Iyaa sayang," ucap Dave sambil mengangguk, lalu berjalan uuntuk mengunci pintu. Setelah itu dia kembali menghampiri istrinya. Dia kemudian melanjutkan apa yang sempat tertunda. 


Setelah tubuh mereka polos, dengan perlahan Dave mulai mendesak masuk untuk menyatukan tubuh mereka. Erangan dan lenguhan terdengar menggema di kamar tersebut.


Dave yang memang sudah lama tidak menyentuh istrinya dibuat hilang kendali. Dia tampak sangat bersemangat pagi itu. Setelah menghabiskan waktu selama 2 jam lebih. Dave akhirnya menghentikan pergulatan panas mereka, setelah mencapai puncaknya untuk yang kesekian kalinya.


Setelah mengatur napas, Dave kemudian berbaring di sebelah istrinya sambil memeluknya. "Aku sangat mencintaimu sayang," ucap Dave sambil mencium pucuk kepala istrinya.


"Aku juga sangat mencintaimu Dave," ucap Jeslyn pelan.


"Aku harap kau bisa cepat hamil sayang. Aku sudab tidak sabar memiliki anak darimu."


Penyesalan terbesar Dave adalah membuat Jeslyn terluka dan kehilangan calon anaknya. Sehingga kali ini, dia berharap Jeslyn segera mengandung anaknya lagi agar rumah tangga mereka terasa lebih lengkap.


"Iya Dave. Aku juga berharap bisa mengandung anakmu lagi."

__ADS_1


Bersambung...


Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..


__ADS_2