
"Apa kau tahu, aku sangat bahagia malam itu Jes. Aku merasa menjadi laki-laki paling beruntung di dunia." Dave mulai memberikan kecupan lembut di leher Jeslyn. Seraya tangannya terus berkeliaran di dalam baju istrinya.
"Aku juga sangat bahagia malam itu Dave. Laki-laki yang selama ini aku cintai ternyata membalas cintaku," kenang Jeslyn dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Jess," panggil Dave dengan suara parau dan serak.
Dengan gerakan cepat, Jeslyn langsung melepaskan diri dari Dave. Dia tahu kalau suaminya saat ini sedang menahan hasratnya. Bukannya Jeslyn tidak mau, tetapi waktunya tidak tepat.
Dia kemudian meleparkan baju pada suaminya. "Maaf Dave, aku harus keluar. Mereka pasti sedang menunggu kita." Jeslyn langsung berjalan keluar dari kamar sebelum Dave mampu bereaksi.
Dave menyunging senyumnya, kemudian meraih baju lalu memakainya. Setelah itu, dia menyusul istrinya.
"Dave kemarilah, kita makan malan dulu," ajak Jeslyn ketika melihat Dave berjalan ke arah ruang makan. Di sana semuanya sudah berkumpul, termasuk Alea.
"Daddy, duduk di sini."
Alea menepuk tempat duduk yang ada di sebelahnya yang masing kosong. Di samping kiri Alea ada Jeslyn dan di sebrang mereka ada ibu dan ayah Dave.
Tanpa banyak tanya Dave langsung duduk di sebelah Alea. "Apa tidak ada yang berniat menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Dave sambil menatap satu persatu orang yang berada di ruang makan tersebut, sebelum mereka memulai makan.
Dave merasa heran saat tadi tidak sengaja melihat ibunya dan Jeslyn tampak berbincang sambil tertawa.
Melihat wajah serius suaminya, Jeslyn langsung menoleh lalu bekata, "Dave, setelah ini, aku akan menjelaskan semuanya padamu. Lebih baik kita makan dulu," usul Jeslyn ketika melihat wajah suaminya yang tampak tidak tersenyum sama sekali.
"Sebaiknya kalian siapkan penjelasan yang tepat yang bisa aku terima," ucap Dave dengan suara berat.
"Dave, papa awalnya juga tidak tahu apa-apa. Jadi hanya mereka berdua yang berhak memberitahumu," sela ayah Dave sebelum Jeslyn membuka suaranya.
"Iyaa Dave benar kata Papa. Biar aku yang menjelaskan padamu nanti."
"Baiklah." Mereka makan dengan tenang. Hanya terdengar suara dentingan garpu, sendok yang bersentuhan dengan piring.
Setelah selesai makan, mereka berjalan menuju ruang keluarga. Jeslyn tidak mau menunda-nunda lagi. Dia langsung menceritakan pada Dave semuanya. Awalnya wajah Dave tampak mengeras, tetapi setelah mendengar ceritanya sampai akhir. Wajahnya mulai melunak. Dia juga sempat menyungging senyum tipisnya.
"Aku harap Mama sungguh sudah berubah. Aku tidak akan memaafkan Mama, jika sampai Mama melakukan hal buruk lagi pada istriku," ucap Dave dengan penuh penekanan diakhir kalimatnya.
"Mama janji Dave," ucap ibu Dave penuh kesunguhan.
"Baiklah."
__ADS_1
"Apa itu berarti kau juga sudah memaafkan mama?" tanya ibu Dave dengan nada hati-hati.
"Yaa," jawab Dave singkat.
"Terima kasih Dave." Ibu Dave merasa sangat senang akhirnya dia, menantu berserta anaknya sudah saling memaafkan.
"Kalau begitu kami kembali ke kamar dulu. Ini sudah malam. Alea juga harus tidur," ucap Dave setelah dia sempat melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 20.20 Wib.
"Biarkan Alea tidur di kamar mama Dave," pinta Ibu Dave. Dia sebenarnya masih ingin berlama-lama dengan Alea karena masih merindukannya.
"Jeslyn takut nanti mama akan kerepotan mengurus Alea Ma, biarkan Alea tidur di kamar kami," jawab Jeslyn cepat. Dia tidak ingin ibu mertuanya tergganggu karena membiarkan Alea tidur bersama mereka.
"Mama malah senang jika Alea mau tidur bersama mama," ucap ibu Dave sambil tersenyum
"Alea mau tidur sama Mama dan Daddy," celetuk Alea seketika.
Dave langsung menoleh seketika pada Alea. "Baiklah." Dave kemudian beralih menatap ibunya. "Ma, biarkan Alea tidur bersama kami. Besok pagi mama masih bisa bermain bersamanya lagi," ucap Dave.
"Baiklah." Dengan berat hati, terpaksa ibu Dave menyetujui permintaan anaknya.
Mereka bertiga kemudian berjalan menuju kamar.
Sementara Dave tampak bersandar di bagian kepala ranjang sambil menatap ke layar ponselnya. Dia sedang mengecek beberapa email masuk yang berkaitan dengan masalah pekerjaan.
Seteah selesai dengan pekerjaannya, Dave meletakkan ponselnya di atas nakas kemudian berbaring di sebelah Alea yang tampak memunggunginya. Alea berada di tengah-tengah antara mereka. "Sayang, apakah Alea sudah tertidur?" tanya Dave dengan suara sangat pelan. Dia sangat berharap kalau Alea sudah tidur.
Jeslyn tampak mengangguk pelan. "Iyaa, baru saja tertidur," ucapJeslyn tak kalan pelan. Dia takut kalau suaranya akan membangunkan Alea yang baru saja terlelap.
Dave memiringkan tubuhnya menghadap Jeslyn lalu siku kirinya bertumpu pada tempat tidur sementara telapak tangannya menyangga kepalanya.
"Sayang, bagaimana kalau kita membuat adik untuk Alea?" tanya Dave dengan suara yang masih pelan. "Kasihan dia tidak memiliki teman. Dia pasti kesepian. Maka dari itu kita harus memberinya adik segera," usul Dave dengan senyum penuh makna.
Dave memang sudah menganggap Alea seperti anaknya, begitu pun Jeslyn. Apalagi istrinya memang menyukai anak-anak, tidak butuh waktu lama bagi Jeslyn untuk bisa dekat dengan Alea. Dia juga sangat menyayangi Alea karena Alea adalah anak yang penurut dan sangat pengertian. Dia juga tidak rewel seperti anak kebanyakan.
"Jangan mengatasnamakan Alea untuk membujukku Dave."
Dave tampak tersenyum penuh arti. "Itu memang keinganan Alea sayang. Bukankah kau sering mendengarnya meminta adik? Dia sudah besar. Sudah waktunya dia memiliki adik. Kita Harus memberinya banyak adik supaya rumah kita ramai. Apa kau tidak kasihan dengan Alea sayang..? Kau dan aku juga tahu, bagaimana rasanya jadi anak tunggal."
Alea memang sempat beberapa kali menyampaikan keinganannya untuk memiliki adik pada Dave, Jeslyn dan Stella saat mereka berkumpul. Stella dan Jeslyn hanya bisa menanggapi permintaan Alea dengan senyuman. Sementara Dave berjanji untuk memberikan banyak adik pada Alea asalakan dia berjanji menjadi anak pintar dan penurut.
__ADS_1
"Iyaa Dave aku mengerti, tetapi tidak bisa sekarang Dave, ada Alea di sini. Bagimana kalau dia tiba-tiba terbangun nanti, ketika kita sedang melakukannya?"
"Kita tunggu sampai Alea benar-benar terlelap. Setelah itu kita pindah ke kamar sebelah," usul Dave lagi. Dia tidak kehabisan akal agar tujuannya bisa tercapai.
"Dave, aku takut Alea akan mencari kita nanti."
Jeslyn bukannya menolak permintaan Dave, tapi dia hanya khawatir Alea terbangun dan panik saat tidak melihat salah satu dari mereka, jika mereka ke kamar sebelah.
"Sebentar saja sayang. Ayolaah. Aku sudah tidak bisa menanahannya," mohon Dave dengan wajah memelas.
"Jangan malam ini Dave. Nanti saja kalau kita sudah pulang, bagaimana?" tawar Jeslyn.
"Apa kau tidak kasihan padaku? Aku sudah terlalu lama menahannya sayang," ucap Dave dengan wajah frustasi.
Jeslyn menghela napas panjang. "Baiklah, tapi janji tidak boleh lama," tukas Jeslyn. Dia merasa tidak tega ketika melihat wajah Dave yang tampak memelas. Akhirnya dia menyetujui permintaan suaminya.
"Iyaa sayang," ucap cepat dengan wajah girang.
"Janji?" Jeslyn harus memastikan dulu kalau Dave akan melakukannya dengan cepat. Bukannya dia tidak rela harus memenuhi keinginan suaminya. Hanya saja Jeslyn mengkhawatirkan Alea yang berada di kamar mereka.
"Aku janji sayang," ucap Dave yakin. Mereka pun menunggu Alea hingga terlelap.
Jeslyn sebenarnya merasa bersalah kepada suaminya karena selama beberapa waktu dia tidak bisa menjalankan kewajibannya, sebab itulah dia menyetujui permintaan Dave malam ini. Mereka memang sudah lama tidak melakukannya. Dave memang menahan diri selama ini sampai Jeslyn benar-benar pulih.
Saat Jeslyn mendengar napas Alea yang sudah mulai teratur, perlahan Jeslyn melepaskan tangan Alea yang sedang memeluknya. Setelah terlepas, dengan gerakan pelan, dia turun dari tempat tidur. Jeslyn langsung menghampiri Dave yang sudah terlebih dahulu sudah turun dari tempat tidur dan sedang berdiri menunggu Jeslyn di dekat ranjang.
Sebelum keluar mereka menoleh sejenak pada Alea. Setelah memastikan Alea masih terlelap, mereka berdua melangkah menuju pintu dengan langkah pelan.
Dave kemudian meraih gagang pintu kemudian mulai membuka pintu dengan pelan. "Ceklek." pintu terbuka.
"Daddy dan Mama mau ke mana?" Belum sempat melangkah keluar sudah terdengar suara dari arah belakang mereka.
Seketika Jeslyn dan Dave menoleh ke belakang dan melihat Alea sudah terbangun dengan posisi duduk menatap ke arah mereka sambil mengucek kedua matanya.
Bersambung...
Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author.
Terima Kasih..
__ADS_1