Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Banyak Yang Menyukai


__ADS_3

Jeslyn mengulas senyum di wajahya sambil memegang tangan suaminya. "Kau tenang saja, Dave dan ibu mertuaku sangat memperhatikan asupan giziku. Dave juga memperlakukan aku dengan baik dan peniu kasih sayang," jelas Jeslyn.


Mendengar itu, Dion merasa lega. Dia masih ingat jelas bagaimana Jeslyn melewati masa sulit saat dia hamil pertama. Mual dan muntah yang parah dan tidak diimbangi dengan asupan yang masuk ke dalam tubuhnya sehingga membuat tubuhnya lemas dan dehidrasi akut, apalagi ketika Dave mengalami kecelakaan. Jeslyn jiga berkali-kali pingsan dan harus di rawat di rumah sakit bersama dengan suaminya, setelah Dave kecelakaan.


Bahkan untuk mengurus diri sendiri saja dia tidak bisa. Kecelakaan Dave membuat Jeslyn sangat terguncang sehingga memperngaruhi kesehatan janin dalam kandungannya, apalagi saat pertama kali melihat Dave tiba di rumah sakit dengan berlumuran darah. Seketika dunia Jeslyn seakan runtuh apalagi ketika Dave tiba-tiba mengalami henti jantung.


Hanya satu yang ada di benaknya saat itu yaitu dia bagaimana cara melanjutkan hidupnya, jika seandainya Dave tidak tertolong. Dia merasa tidak sanggup menjalani hidupnya tanpa Dave di sisinya, apalagi saat itu dia sedang hamil. Tentu saja Dave tidak mengetahui hal itu sampai sekarang. Dia tidak tahu penderitaan Jeslyn saat itu, melihat suami yang sangat dia cintai dalam keadaan kritis.


Hanya Dion dan Jeslyn yang tahu, bagaimana terpuruknya Jeslyn ketika sedang hamil dan butuh seseorang di sampingnya tetapi justru dia harus mendapati kenyataan ayah dari bayi yang dikandung dalam keadaan koma.


"Kau tidak perlu khawatir dengan kondisi istriku. Aku akan menjaganya dengan baik. Lebih baik kau fokus saja pada wanita yang di sebelahmu. Calon istrimu ini masih memiliki daya tarik yang kuat yang bisa memikat pria tampan di luar sana. Banyak pria yang menyukainya, meskipun dia sudah memiliki anak." Dave menatap Dion dengan santai setelah mengatakan itu.


"Asal kau tahu, saat dia bersamaku dulu, banyak sekali pria yang mengejarnya. Dan begitu tahu Stella sudah kembali lagi ke sini, banyak diantara mereka menanyakan padaku mengenai hubunganku dengan Stella. Mereka ingin mendeki Stella jika dia sudah tidak bersamaku. Mereka ingin memastikan status Stella terlebih dahulu sebelum mendekatinya. Jadi, jangan sampai dia direbut oleh pria lain karena banyak yang menginginkan dirinya selain dirimu."


Dion menyunggingkan sudut bibirnya sebelah setelah mendengar itu. Tentu saja dia bisa dengan mudah menangkap maksud dari ucapan Dave.


"Aku rasa kau juga harus berhati-hati, meskipun Jeslyn sedang hamil anakmu, beberapa orang tidak peduli dengan hal seperti itu. Apa kau tidak merasa kalau semenjak hamil istrimu semakin menarik dan auranya semakin terpancar?"


Dion juga menatap santai pada Dave. Dia tahu kalau saat ini Dave sedang cemburu padanya ketika melihat ekspresi mengeras pada wajah Dave.


Siaaal, ternyata dia juga menyadari perubahan pada istriku. Aku jadi ragu dengannya, jangan-jangan dia masih mencintai Jeslyn dan belum bisa melupakannya.


Sebenarnya Dion hanya membandingkan kehamilan pertama Jeslyn dengan saat ini. Dia merasa Jeslyn terlihat lebih cerah dan bahagia dari kehamilan sebelumnya. Dion bisa melihat raut wajah dan senyum yang terpancar dari wajah Jeslyn.


Berbeda sekali dengan kehamilan pertama yang banyak sekali masalah yang datang padanya. Mungkin karena sekarang semua masalah berat sudah telewati dan ada Dave di sisinya sehingga membuat Jeslyn lebih ceria dan bahagia.


"Asal kau tahu juga, di rumah sakitmu, diq menjadi salah satu dokter yang paling banyak disukai oleh pasiennya, terkhusus dari bangsal VIP, VVIP dan kelas Presidential Suite. Kau pasti tahu dari kalangan apa mereka berasal, bukan?" tanya Dion dengan alis yang terangkat sebelah.


"Banyak dari mereka yang mendekati Istrimu ketika mereka menjadi pasiennya, bahkan beberapa orang tua pasien berniat untuk menjodohkan putra mereka dengan istrimu. Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku sudah menjaganya dengan baik selama ini."


Dion memajukan tubuhnya sambil menatap Dave dengan senyuman miring. "Seharusnya orang yang kau cemburui itu bukan aku, tetapi pengusaha yang berasal dari negeri sebrang. Dia sudah sempat membawa keluarganya ke sini untuk melamar Jeslyn ketika kau masih mengabaikannya dulu. Untung saja Jeslyn menolaknya, jika tidak, mungkin dia sudah menyandang status nyonya Ricky dan bukan Nyonya Dave." Dion terlihat sangat puas saat melihat ekspresi Dave.


"Sepertinya kita harus menjaga wanita kita dengan baik. Jangan sampai direbut oleh orang lain, bukan begitu Dave?" ujar Dion sambil menaikkan alisnya sebelah seraya menatap Dave dengan senyuman penuh arti.


Dave terdiam selama beberapa detik. Disaat yang bersamaan, dia merasa bangga sekaligus khawatir dalam setelahmendengar cerita dari Dion. "Aku setuju denganmu."


Dave terlihat tenang dan berusaha untuk menyembunyikan keterkejutannya. Selama ini dia memang tidak tahu mengenai lamaran Ricky. Tentu saja Dave tahu latar belakang keluarga Ricky. Mereka pernah beberapa kali bertemu di acara besar dan perkumpulan pengusaha sukses.

__ADS_1


Melihat keduanya saling terdiam, Jeslyn dan Stella saling melempar pandangan. Mereka berdua menampilkan wajah bingung dengan alis yang bertautan.


"Kalian berdua ini bicara apa, sih?" Jeslyn menatap Dave dan Dion secara bergantian sambil menggelengkan kepala.


"Iyaaa. Kenapa kalian jadi membawa-bawa kami berdua?" timpal Stella dengan ekpresi kesal dan bingung.


Dave merubah mimik wajahnya lalu beralih menatap istrinya seraya mengusap lembut pipi Jeslyn. "Kami sedang membicarakan penggemar kalian, Sayang. Aku baru tahu kalau ternyata istriku ini memiliki daya tarik luar biasa yang bisa menarik pria single, padahal, sudah menikah," ucap Dave.


"Sepertinya keputusanku untuk mengadakan pesta pernikahan kemarin adalah keputusan yang sangat tepat. Seharusnya mereka tidak akan berani lagi mendekatimu setelah tahu kalau kau sudah menikah denganku," ucap Dave dengan senyum anehnya.


"Aku juga berencana untuk mengumumkan kehamilanmu jika sudah memasuki trimester kedua," sambung Dave lagi.


Jeslyn melemparkan tatapan tajam pada Dion setelah mendengar ucapan suaminya. "Dion, jangan meracuni pikiran suamiku. Jangan sampai dia mengurungku di rumah setelah mendengar omong kosongmu."


Dion terkekeh pelan melihat wajah kesal Jeslyn. "Aku mengatakan yang sebenarnya, Jes. Aku hanya ingin dia lebih berhati-hati."


"Ucapanmu itu bisa menyusahkanku. Bukankah aku sudah pernah mengatakan untuk merahasiakan dari Dave. Aku tahu, kau pasti sengaja memprovokasi suamiku, bukan?" tuduh Jeslyn.


Alasan Jeslyn merahasiakan hal itu adalah karena dia tahu sifat suaminya. Terhadap Dion saja, Dave sudah sangat cemburu apalagi kalau dia mengetahui kalau banyak pria yang mendekatinya bahkan sampai sudah ada yang melamarnya. Dia tidak mau kalau Dave bersikap over protektif terhadapnya sehingga Jeslyn meminta Dion untuk tidak pernah mengatakan apapun pada Dave.


Dion menggesekkan jari telunjuk ke hidungnya sambil tersenyum pada Jeslyn. "Aku hanya ingin berterima kasih padanya karena dia sudah memberi tahu yang sama mengenai calon istriku."


"Sepertinya, aku harus membuat pesta yang mewah dan meriah untuk pernikahan kita," ucap Dion sambil menatap Stella.


Stella langsung menoleh pada Dion setelah dia berusaha menghindari tatapan Dion sedari tadi. "Tapi Dion... bukankah kau sudah setuju untuk membuat pesta yang sederhana?"


"Iyaa, tapi aku berubah pikiran. Aku ingin memberitahumu kepada semua orang bahwa kau adalah calon pengantinku. Wanita yang akan menjadi istriku."


Awalnya Stella meminta Dion untuk tidak membuat pesta pernikahan yang besar dan mewah seperti yang diminta oleh keluarga Dion. Stella merasa malu karena ini adalah pernikahan keduanya. Dia juga tidak ingin keluarga Dion menjadi bahan ejekan karena putra mereka mendapatkan istri yang sudah memiliki anak.


Dion pun menyetujui hal itu, meskipun sempat ditentang keras oleh ibunya. Ibu Dion ingin mengadakan pesta yang mewah untuk anak pertama mereka. Setelah mendengar ucapan dari Dave, Dion seketika setuju dengan keinginan ibunya. Dia juga ingin semua orang tau siapa wanita yang menjadi istrinya.


Melihat ekspresi Stella yang nampak murung, Dion berkata, "Apa kau malu menikah denganku?"


"Bukan itu maksudku. Aku hanya tidak mau mempermalukan keluargamu kalau sampai semua tamu tahu mengenai statusku," jawab Stella cepat.


Dion menghela napas pelan. "Aku tidak peduli dengan ucapan orang lain. Selama keluargaku tidak keberatan, aku tidak peduli dengan lainnya. Yang terpenting adalah kau mau menerimaku dan aku merasa bahagia bersamamu."

__ADS_1


Jeslyn menatap kagum pada Dion setelah mendengar ucapannya. "Kau manis sekali, Dion. Aku tidak menyangka kau sangat pengertian dan penuh kasih sayang."


"Apa kau baru sadar? Bukankah aku termasuk calon suami idaman?" canda Dion sambil terenyum pada Jeslyn.


"Jangan menggoda istriku. Kau sudah mau menikah," ucap Dave dengan ketus.


Jeslyn mengapit lengan suaminya sambil menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Suamiku menggemaskan sekali."


"Jangan bermesraaan di depan kami," ujar Dion dengan wajah tidak senang


"Kenapa? Kau iri?" tanya Dave dengan senyum mengejek, "oyaa, aku lupa. Kalian belum menikah ya, jadi tidak bisa bermesraan seperti kami?" tambh Dave dengan senyum mengejek.


Stella dan Dion mendengus bersamaan. "Sayang, bagaimana kalau kita percepat pernikahan kita?" tanya Dion sambil memalingkan wajahnya pada Stella.


"Kau jangan bercanda, Dion. Mama sudah mengatur semuanya. Mama akan memarahimu jika kau merusak semua rencananya." 


"Kasihan sekali," ejek Dave.


"Dave, jangan seperti itu." Jeslyn menegur suaminya karena mengolok-olok Dion.


"Sayang, bagaimana kalau kita pulang sekarang," ajak Dave.


"Kenapa cepat sakali? Kita bahkan belum membicarakan mengenai lamaran mereka."


Dave tersenyum penuh arti lalu membisikkan sesuatu pada istrinya.


"Dave," pekik Jeslyn sambil menatap suaminya dengan tatapan tajam setelah Dave selesai berbisik di telinganya.


Dave terkekeh pelan melihat wajah merah istrinya. "Aku hanya bercanda, Sayang."


"Lebih baik kalian pulang kalau hanya ingin mempertontonkan kemesaraan kalian pada kami," ucap Dion dengan wajah kesal.


"Ada apa Dokter, Dion? Apa jangan-jangan kau sudah tidak ta...."


"Dave, jangan bicara macam-macam," potong Jeslyn cepat sebelum suaminya menyelesaikan ucapannya.


"Kau menggemaskan sekali Eayang kalau sedang cemberut seperti itu."

__ADS_1


Dion dan Stella menatap jengah pada Dave. Mereka merasa kalau Dave sengaja membuat mereka iri melihat kemesraan mereka berdua.


Bersambung..


__ADS_2