Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Keluarga Dion


__ADS_3

Dion baru saja memasuki sebuah butik yang tidak jauh dari lokasi rumah sakitnya. Butik itu adalah milik Stella. "Apa kau sedang sibuk?" Dion menghampiri Stella yang sedang berada di dalam ruangannya.


Stella tampak terkejut ketika melihat Dion sudah berada di depannya. "Tidak, ada apa?" tanya Stella dengan wajah heran.


"Kalau begitu bersiaplah. Aku tunggu di luar."


"Mau ke mana?" tanya Stella dengan kening yang berkerut.


"Ikut aku pulang. Kita akan menemui orang tuaku," jawab Dion dengan cepat.


Hari ini, dia sengaja mengambil cuti untuk membawa Stella menemui orang tuanya. Dia memang berniat untuk mengenalkan Stella pada orang tuanya. Sebelum membawa Stella bertemu dengan orang tuanya, Dion terlebih dahulu menghubungi ibunya untuk mengabarkan, kalau dirinya akan berkunjung ke rumah orang tuanya, saat jam makan siang.


Dion dan orang tuanya tidak tinggal bersama. Semenjak kuliah, Dion sudah tinggal sendiri di apartemennya. Dia jarang sekali pulang ke rumahnya dikarenakan kesibukannya sebagai dokter.


Mata Stella langsung membulat. Ucapan Dion sukses membuatnya terkejut. "Kenapa aku harus ikut denganmu?" Stella masih belum tau, maksud dari Dion mengajaknya ke rumah orang tuanya.


"Bukankah aku sudah pernah bilang. Aku akan mengajakmu untuk bertemu dengan orang tuaku untuk meminta restu pada mereka."


"Restu?"


"Yaa. Kita akan langsung bertunangan setelah mendapatkan restu dari orang tuaku," jelas Dion dengan wajah tenang. Dia memang belum mendiskusikan lagi dengan Stella mengenai kelanjutan hubungan mereka, sehingga membuat Stella terkejut.


Stella tampak ragu dengan rencana Dion. "Menurutku ini tidak terlalu cepat. Kita baru saja memulai hubungan kita, Dion."       


"Aku memulai hubungan ini bukan untuk main-main Stella," ucap Dion dengan wajah serius dan sorot mata tajam. "Bukankah kau sudah setuju untuk menjalani hubungan serius denganku?"


"Iyaa aku tahu. Aku hanya belum siap untuk bertemu dengan dengan tuamu, Dion. Aku takut akan kecewa nantinya. Aku tidak yakin kalau mereka bisa menerimaku." Seketika wajah Stella berubah menjadi sedih. Dia memang tidak terlalu berharap, kalau hubungannya dengan Dion akan berjalan mulus. 


"Jangan terlalu banyak berpikir Stella. Ikuti saja perkataanku." Dion sebenarnya mengerti apa yang sedang Stella khawatirkan. Hanya saja, mereka setidaknya harus mencoba terlebih dahulu. Dion yakin kalau orang tuanya akan mengerti dan menerima wanita pilihannya.


"Bagaimana kalau mereka tidak suka denganku dan menentang hubungan kita?" tanya Stella dengan wajah khawatir.


Dion akhirnya mendekati Stella. "Kita lihat dulu bagaimana reaksi orang tuaku. Aku yakin mereka akan menerima siapa pun yang akan menjadi pendampingku nanti, tidak peduli bagaimana latar belakangnya."


"Aku hanyaa..."


"Bersiaplah. Aku tunggu di mobil." Dion sudah tidak ingin mengulur waktu lagi. Dia langsung berjalan keluar sebelum Stella kembali membuka mulutnya.


Stella menghela napas setelah kepergian Dion. Dia akhirnya keluar dari ruangannya setelah menyelesaikan pekerjaannya.


Sebelum ke rumah orang tua Dion. Mereka berdua menjemput Alea terlebih dahulu. Tentu saja, Dion akn memperkenalkan Alea juga pada orang tuanya. Dia tidak mau menyembunyikan apapun dari orang tuanya.

__ADS_1


Stella sedikit terkejut ketika mereka baru saja tiba di rumah orang tua Dion. Besarnya rumah keluarga Dion membuat Stella sedikit tertegun. Dia tidak menyangka kalau Dion berasal dari keluarga terpandang dan dari kalangan atas. Awalanya dia hanya mengira kalau Dion adalah seorang dokter berbakat dengan karir yang bagus.


"Ada apa? Kenapa kau melamun?" tanya Dion ketika melihat Stella tampak hanya diam dengan pandangan lurus ke depan.


Seketikan Stella langsung tersadar setelah mendengar suara Dion. Dia kemudian menoleh pada Dion yang berada di kursi kemudi.


"Maaf Dion. aku hanya gugup."


"Kau tenang saja, ada aku di sini. Kau tidak perlu takut," ucap Dion menenangkan. Dia menggengam tangan Stella untuk menenangkannya.


"Iyaa," ucap Stella seraya mengangguk.


"Kalau begitu kita turun," ajak Dion seraya membuka pintu kemudi.


Dion turu dari mobul, kemudian berjalan ke belakang, membuka pintu untuk Alea. Hubungannya dengan Alea sudah mulai dekat, walaupun tidak sedekat dengan Dave, karena Alea masih menganggap Dave sebagai ayahnya.


Dion juga tidak keberatan hal itu, hanya saja dia meminta pada Stella untuk memberikan lebih banyak padanya menghabiskan waktu dengan Alea, agar Alea terbiasa dengan kehadirannya.


Beruntung Dion adalah sosok yang menyukai anak kecil. Tidak sulit baginya untuk mengambil hati Alea. Walaupun dia bukan akan kandungnya, dia berusaha untuk menerima kehadiran Alea sebagai pelengkap keluarganya nanti, jika dia menikah dengan Stella.


Dion masuk dengan menggandeng Alea, sementara Stella berjalan di samping kiri Dion. Mereka langsung menuju ruang makan setelah memasuki pintu kediaman orang tua Dion.


"Selamat malam Ma, Pa," sapa Dion ketika merekan baru saja tiba di ruang makan.


"Siapa wanita yang ada di sampingmu, Dion?" tanya Ibu Dion dengan wajah penasaran. Stella tampak gugup, saat orang tua Dion terus menatap dirinya


"Kenalkan, Ini calon istri Dion. Namanya Stella," ucap Dion seraya menarik pinggang Stella, agar lebih dekat dengannya. "Selamat malam Om, Tante," sapa Stella sopan seraya tesenyum dan sedikit membungkuk.


"Calon istri?" Ibu Dion tampak sangat terkejut mendengar ucapan anaknya.


"Iyaa Ma. Dion berencana untuk menikah dengan Stella setelah mendapatkan restu dari Mama dan Papa," ungkap Dion. Dia kemudian menggedong Alea. "Dan, ini adalah cucu Mama dan Papa. Namanya Alea."


"Ap..Apa maksudmu? Cucu kau bilang?" tanya Ibu Dion tergagap. Dia berusaha menelan infomasi yang baru saja anaknya sampaikan.


Ibu Dion berdiri dan langsung menghampiri anaknya. "Dasaaar anak kurang ajar. Beraninya kau pulang kemari dengan membawa anakmu," ucap ibu Dion seraya memukul Dion berkali-kali.


Dion langsung berjalan dengan cepat menghindari ibunya. Dia memutari tubuh Stella. "Sakiiit Ma." Alea tampak terseyum emlihat tingkah Dion yang seperti anak kecil yang sedang dimarahi oleh ibunya.


"Jadi ini, alasanmu tidak pernah pulang karena kau sudah menghamili anak orang." Ibu Dion terlihat masih berusaha untuk mengejar Dion, yang terus saja berusaha untuk menghindari amukan ibunya.


Stella lansung terkejut ketika melihat Ibu Dion tampak salah paham pada mereka berdua. "Ma, dengarkan aku dulu. Ini tidak seperti yang Mama pikirkan." Dion berlindung di belakang Stella, untuk menghindari pukulan ibunya. Runtuh sudah kewibawaan Dion yang selama ini dia tunjukkan pada Stella.

__ADS_1


"Kemari kau anak kurang ajar. Beraninya kau mencoreng nama baik keluarga kita," ucap Ibu Dion dengan wajah marah.


Stella terlihat hanya diam saja. Dia tidak berani mengeluarkan suara sama sekali. "Maa..Aku tidak pernah merusak anak orang. Mama salah paham," terang Dion. Dia masih bersembunyi di belakang Stella.


"Kalau kau tidak merusak anak orang. Bagaimana bisa kau sudah memiliki anak sebesar ini? atau jangan-jangan kau sudah menikah diam-diam?"


"Bukan Ma. Aku belum menikah," elak Dion.


"Maa..tenanglah. Dengarkan dulu penjelasan anak kita," ucap ayah Dion menengahi.


"Baiklah. Aku akan mengusirnya kalau sampai dia terbukti merusak anak orang dan mencoreng nama baik keluarga kita." Ibu Dion akhirnya kembali duduk di tempatnya semula.


"Kalian juga duduklah," titah ayah Dion.


"Ayo sayang duduk," ajak Dion pada Stella dan Alea.


"Sekarang jelaskan pada mama. Apa maksud dari perkataanmu," perintah ibu Dion.


"Alea, bukan anakku Ma. Alea adalah anak Stella dari pernikahan pertamanya. Suaminya sudah lama meninggal," terang Dion.


Stella terus meremas kedua telapak tangan Stella yang mulai basah karena keringat. Dia merasa sangat gugup, apalagi setelah melihat respon Ibu Dion tadi.


"Jangan berani-berani kau membohongi ibu, Dion," hardik Ibunya dengan tatapan tajam.


Dia masih belum percaya dengan ucapan anaknya. "Aku berkata yang sejujurnya Ma," ucap Dion dengan wajah frustasi.     


   


Ibu Dion kemudian bearlih menatap Stella. "Apakah benar yang dikatakan oleh Dion?"


Stella menelan ludahnya dengan susah payah. Dia merasa gugup ketika ditanya oleh ibu Dion. "Benar tante. Alea adalah anak dari pernikahan pertama saya tante," jawan Stella dengan kaku.


Ibu Dion tampak sedang berpikir seraya mengamati wajah Stella. "Sepertinya wajahmu tidak asing. Apa kita pernah bertemu?"


"Tidak pernah tante."


"Sudah berapa lama hubungan kalian?" pertanyaaan tersebut sebenarnya ditujukan kepada anaknya.


"Kami belum lama menjalin hubungan, tapi aku sudah lama mengenalnya Ma. Aku harap mama merestui kami karena aku sangat mencintai Stella," ucap dengan yakin.


"Bagaimana kalau kami tidak merestui hubungan kalian?" tanya Ibu Dion dengan wajah serius.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2