
“Bukankah seharusnya kau menemani istrimu di rumah sakit? Kenapa kau malah ke sini?” Jelsyn berjalan masuk lalu duduk sambil menyalakan televisi.
Dave mengikuti langkah Jeslyn lalu duduk di sampingnya. “Kau adalah istriku, maka dari itu aku ke sini untuk menemanimu.” Dave tahu kalau yang dimaksud Jeslyn adalah Felicia.
Jeslyn tidak memperdulikan Dave, dia berpura-pura tidak mendengar perkataannya. Dia menatap lurus ke layar televisi seolah sedang fokus menonton. “Apa kau sudah makan?”
Dave menatap Jeslyn yang tampak masih acuh padanya. “Bagaimana kalau kita makan malam di luar. Aku belum makan dari siang.”
Dave bahkan tidak sempat makan siang karena terlalu banyak yang dia pikirkan. Dia hanya sarapan pagi hari bersama Jeslyn. Dia sengaja ke apartemen Jeslyn untuk makan malam bersama.
Jelsyn langsung menoleh pada Dave. “Bukankah dari dulu kau biasa makan sendiri?”
“Aku ingin makan dengan istriku tercinta.” Dave tahu kalau Jeslyn pasti belum makan, maka dari itu dia ingin makan bersama. “Kau ingin makan apa?” tanya Dave lagi sambil merapikan helaian rambut Jeslyn.
“Aku sedang malas keluar,” ucap Jeslyn acuh.
“Kau mau makan apa? Aku akan menyuruh Zayn untuk membelikanmu.” Dave berusaha untuk tetap sabar menghadapi sikap ketus Jeslyn.
“Aku sedang malas makan.”
“Nanti kau sakit, kau harus makan! Sebutkan saja apa ada yang ingin kau makan. Aku akan membelikannya asalkan kau mau makan.”
Dave berusaha untu membujuk Jeslyn untuk makan. Dave merasa heran dengan sikap Jeslyn yang sekarang. Dia seperti anak kecil yang harus dibujuk agar mau makan.
Jelsyn merubah posisi duduknya. “Benarkah apapun yang aku minta, kau akan membelikannya?”
Dave mengangguk. “Iyaa.. Aku akan menuruti apapun yang kau mau.”
“Baiklah, belikan aku bakso, nasi goreng, seblak, mie Aceh, dan ceker pedas.”
Dave tampk terkejut saat mendengar permintaan Jeslyn. “Apa kau yakin akan makan itu semua?”
Jelsyn melirik Dave. “Kenapa? Apa kau kau keberatan dengan permintaanku?”
Dave langsung menggeleng. “Tidak sayang, hanya saja aku heran. Kenapa kau memesan begitu banyak makanan.”
“Kalau kau keberatan. Kau tidak perlu membelikannya.” Jeslyn berdiri ingin meninggalkan Dave.
“Tunggu dulu sayang. Aku akan menyuruh Zayn membelikan semuanya,” ucap Dave sambil menahan tangan Jeslyn.
Jeslyn menoleh pada Dave. “Aku tidak mau Zayn yang pergi mencarinya. Harus kau yang pergi membelinya sendiri.” Jelsyn sengaja mengerjai Dave untuk memberikan Dave pelajaran.
__ADS_1
“Bukankah sama saja kalau Zayn yang membelikannya?”
Jeslyn menghempaskan tangan Dave. “Lupakan saja kalau kau tidak mau.”
Dave langsung berdiri. “Baiklah, aku yang akan pergi membelikannya untukmu.”
Jeslyn langsung tersenyum lalu kembali duduk. “Semua pesananku harus super pedas.”
Dave merasa permintaan Jeslyn aneh. Biasanya dia tidak suka makanan jika terlalu pedas. “Apa kau yakin bisa makan kalau terlalu pedas?”
Jeslyn menampilkan wajah cemberutnya. “Kau mau membelikannya tidak?”
“Baiklah. Aku akan membelikannya sekarang.” Dave mencium pucuk kepala Jeslyn. “Tunggu aku.” Dave langsung berjalan keluar.
Jelsyn tersenyum lebar setelah kepergian Dave. Dia sengaja menyuruh Dave yang pergi agar tidak mengganggunya lagi. Jeslyn merebahkan tubuhnya di sofa panjang sambil menonton televisi.
Setelah menunggu selama 2 jam, Dave kembali dengan membawa semua pesanan Jeslyn. Dia membutuhkan waktu yang lama karena lokasinya yang jauh.
“Kau tunggu di sini. Aku akan menyiapkan untukmu.” Dave meletakkan semua makanan di atas meja lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil peralatan makan.
“Makanlah.” Dave meletakkan piring dan sendok di depan Jeslyn.
Jeslyn menoleh pada Dave. “Kau tidak makan?” tanya Jeslyn saat melihat Dave diam saja sambil memandangnya.
Dave memang tidak bisa memakanan yang ada cabainya. Dia memiliki riwayat maag akut. Jelsyn memang tidak mengetahui hal itu.
Jeslyn melanjutkan memasukkan makanannya ke dalam mulut dan tidak memperdulikan Dave yang hanya diam saja.
“Pelan-pelan sayang. Kau bisa sakit perut nanti apalagi itu pedas sekali.” Dave mengelap sudut bibir Jeslyn.
Jeslyn melirik Dave. “Jangan menggangguku.”
Dave berdiri. “Aku mandi dulu.” Dia sudah tidak tahan lagi dengan tubuhnya yang terasa lengket. Semenjak pulang dari kantor dia belum membersihkan tubuhnya sama sekali.
“Lebih baik kau pulang saja.”
“Aku masih lelah. Nanti aku akan pulang setelah berisitrahat sebentar.”
Dave sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk pulang, walapun dia pulang diantar Zayn,tapi dia merasa tubuhnya sangat letih.
Dave berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamar Jeslyn. Jelsyn tidak memperdulikan Dave yang sudah memasuki kamarnya untuk membersihkan tubuhnya dan terus memakanan makanan yang Dave belikan untuknya.
__ADS_1
Dave berjalan keluar setelah dia selesai mandi dan Jeslyn langsung menoleh pada Dave. “Kau sudah selesai makan?” Dave berjalan menghampiri Jeslyn yang sedang duduk bersandar di sofa.
“Aku sudah kenyang.”
Dave melihat ke arah meja. “Kenapa kau hanya makan sedikit?” tanya Dave ketika melihat makanan yang di atas meja hanya berkurang sedikit.
Dave duduk di samping Jeslyn. “Kau saja yang makan. Aku tidak mau.”
“Aku tidak bisa makan pedas Jelsyn. Aku akan makan yang lain saja.” Dave tidak pernah makan pedas sama sekali.
“Bukankah kau yang bilang, apapun yang aku inginkan akan kau turuti. Sekarang aku memintamu untuk makan semua makanan ini.”
Dave tampak berpikir sejenak, jika dia memaksa untuk makan pedas, dia pasti akan masuk rumah sakit, karena dia belum makan apapun dari siang, asam lambungnya sudah naik sejak tadi. Dia bahkan belum meminum obat. Dia sengaja tidak mengatakan pada Jeslyn.
“Kalau kau tidak mau makan, lebih baik kau pulang sekarang Dave.”
“Baiklah, aku akan makan, tapi aku tidak bisa menghabiskan semuanya.”
Dave mulai menyendokkan makanan ke mulutnya. Dia langsung merasa mulutnya terbakar saat mencoba nasi goreng pedas milik Jeslyn. Matanya memrah karena menahan pedas. Bibirnya juga sudah memerah. Dave terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Dia sudah mulai berkeringat.
Tiba-tiba Jeslyn merasa iba melihat Dave yang tampak sudah kepedasan. “Sudah cukup! Tidak usah diteruskan lagi. Kau bisa sakit perut nanti.”
Jeslyn mengambil piring Dave yang ada di depannya supaya dia berhenti. Jeslyn berjalan menuju dapur mengambilkan air dingin untuk Dave.
“Minumlah.”
Dave lalu menerimanya. “Terim kasih.” Dave tampak memegang perutnya yang mulai sakit. Dia merasa dadanya serasa terbakar dan panas.
Melihat ada hal yang aneh pada Dave Jeslyn langsung bertanya. “Kau kenapa Dave?”
Dave menggelengkan kepala. “Aku tidak apa-apa.” Dave berdiri dengan cepat. “Jeslyn, aku harus pulang. Kau istirahatlah. Jangan tidur malam-malam.” Dave merasa sekujur tubuhnya mulai memanas.
“Apa kau yakin tidak apa-apa? Kenapa wajahmu pucat,” Jeslyn maju untuk mendekati Dave.
“Mungkin karena aku belum makan dari siang, jadi aku merasa lemas. Kalau begitu aku pulang dulu.” Dave mencium pucuk kepala Jeslyn lalu berjalan menuju pintu.
Jeslyn menatap ragu pada Dave. “Dave, biarkan aku memeriksamu sebentar.” Jelsyn merasa Dave menyembunyiam sesuatu darinya.
“Tidak perlu, aku lelah. Aku akan langsung pulang. Ini juga sudah malam.” Dave membuka pintu. “Jaga dirimu, kalau ada apa-apa kau bisa hubungi aku atau Zayn. Aku pulang dulu.” Dave menutup pintu tanpa menunggu jawaban dari Jeslyn.
Dave berjalan cepat ke parkiran. Keringat dingin sudah membasahi tubuhnya. “Zayn, antar aku ke rumah sakit,” ucap Dave ketika dia sudah berada di dalam mobil.
__ADS_1
Dia menyandarkan tubuhnya sambil menahan sakit. “Baik Tuan.” Mobil melaju menuju rumah sakit. Zayn melihat ada yang tidak beres dengan tuannya, kemudian melajukan mobilnya dengan cepat.
Bersambung...