
“Kenyataannya aku memang sedang hamil anak, Dave. Di rahimku ada calon penerus keluarga Tjendra.”
“Tidak ... tidaak ... Kau pasti ingin menipu mama, kan?”
“Maa, Dave yang memintaku untuk merahasiakan kehamilanku. Aku terpaksa memberitahu Mama, karena Mama memaksaku untuk bercerai dengan Dave.”
Ibu Dave tampak masih terkejut. “Ini adalah darah daging Dave, ini cucu Mama," lanjut Jeslyn lagi. Dia berusaha meyakinkan ibu mertuanya.
"Tidak mungkin. Aku tidak percaya denganmu." Ibu Dave terus saja mengelak.
Jeslyn tampak menghembuskan napas pelan. "Terserah Mama jika tidak percaya denganku, tetapi memang itulah kenyataannya."
Ibu Dave tidak menghiraukan perkataan Jesslyn. Dengan langkah cepat, dia berjalan keluar dari ruangan Jesslyn dengan wajah yang masih terkejut
Beberapa saat kemudian, Jeslyn menoleh ke arah pintu ketika mendengar suara pintu dibuka dari luar. "Permisi Nyonya. Maaf sudah mengganggu istirahat anda." Zayn melangkah mendekati ranjang pasien Jeslyn lalu berdiri tidak jauh darinya.
"Zayn, sebenarnya apa yang terjadi dengan Dave malam itu? Kenapa dia bisa mengalami kecelakaan parah seperti itu?" tanya Jeslyn dengan wajah penasaran.
Sudah lama dia ingin menemui Zayn untuk menanyakan perihal kecelakaan yang menimpa Dave, tetapi karena kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan dan kondisi Dave yang masih koma, membuatnya mengurungkan niatnya untuk menemui Zayn.
Zayn sedikit membungkuk, lalu berkata, "Maafkan saya Nyonya. Saya belum bisa memberitahukan apapun kepada Nyonya untuk saat ini."
"Sebenarnya apa yang disembunyikan oleh suamiku Zayn? Kau lihat sendiri kondisi suamiku saat ini seperti apa. Aku harus mengetahui apa yang terjadi dengan suamiku malam itu."
Sekali lagi Zayn membungkuk. " Maafkan saya Nyonya. Saya tidak bisa memberitahu anda walaupun Anda memaksa saya. Ini ada perintah langsung dari Tuan Dave, sebelum kecelakaan itu terjadi."
Jeslyn semakin yakin kalau ada yang disembunyikan Dave darinya. "Selama tuan Dave belum sadar, saya akan menyuruh anak buah saya untuk menjaga Nyonya di sini, sampai Tuan Dave sadar. Masih ada yang harus saya kerjakan sehingga saya tidak bisa menjaga Nyonya setiap waktu. Nyonya bisa menghubungi saya jika membutuhkan bantuan saya," ucap Zayn sopan.
__ADS_1
" Baiklah, terima kasih Zayn. Kembalilah ke kantor. Aku tahu kau pasti sibuk mengurus perusahaan." Jeslyn tidak ingin membebani Zayn dengan urusan pribadinya, sudah cukup dia terbebani oleh urusan kantor.
"Baik Nyonya. Mohon bersabar, jika selama di rumah sakit ini, Nyonya akan selalu diikuti oleh pengawal saya. Ini demi keselamatan nyawanya dan bayi yang ada di kandungannya Nyonya," sambil sedikit membungkuk.
Jeslyn mengangguk seseorang. "Baiklah aku mengerti.. Pergilah."
Mau tidak mau, dia harus mengikuti perkataan Zayn, sesungguhnya dia tidak suka kalau ada pengawal yang selalu mengikutinya kemanapun dia pergi. Dia bisa bergerak bebas jika terus diawasi oleh seseorang.
"Saya permisi Nyonya," pamit Zayn undur diri.
*****
Sudah 4 hari Dave mengalami koma. belum ada tanda-tanda kalau dia akan bangun dari komanya. Jeslyn berjalan pelan menuju ruangan ICU. perlahan dia menarik kursi yang ada di samping ranjang Dave.
"Dave, Kenapa kok belum bangun juga?" Jeslyn memegang lengan Dave.
Setiap hari Jeslyn selalu mengajak bicara suaminya, berharap Dave akan menanggapi semua curahan hatinya.
Seperti sebelumnya, tidak ada respon apapun dari Dave. "Bangunlah, Dave. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Aku takut mama akan melakukan sesuatu agar kita berpisah Dave."
Jeslyn masih terus berusaha untuk mengajak Dave berbicara. "Aku sangat merindukan Dave. ;angunlah sayang." Jeslyn mulai menitikkan kembali air matanya yang sedari tadi sudah ditahan olehnya.
"Apa kau tidak merindukan aku?" Jeslyn terus berbicara sampai tiba saatnya Dave mulai menggerakkan tangannya. "Dave ... Kau sudah bangun? Apa kau ingat siapa aku?" tanya Jeslyn cepat dengan wajah terkejut, sekaligus senang ketika melihat suaminya mulai membuka matanya.
Dave tampak masih linglung. Dia hanya menatap Jesslyn sambil berusaha untuk mengingat suatu. dengan cepat Jeslyn menekan tombol yang menghubungkan pada perawat yang sedamg berjaga.
"Ada apa, Nyonya?" tanya perawat itu ketika tersebut memasuki ruangan ICU.
__ADS_1
Jeslyn menoleh dengan cepat kepada perawat itu. "Cepat hubungi Dokter Dion Bilang padanya kalau Dave sudah sadar," pinta Jesslyn dengan terburu-buru.
Perawat tersebut langsung mengangguk. "Baik, Nyonya." Dengan langkah cepat perawat itu keluar dari ruangan ICU.
Jesslyn kembali menoleh kepada Dave. "Dave apa yang kurasakan saat ini? Beritahu aku." Jeslyn mulai terlihat panik ketika melihat Dave tampak diam sambil memegang kepalanya.
"Kenapa aku disini?" Dave tampak mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Dave, apa kau lupa denganku?" Ada kekhawatiran di dalam hati Jesslyn ketika melihat Dave tanpa kebingungan.
Tidak lama kemudian Dion masuk diikuti oleh perawat di belakangnya. Jeslyn langsung menoleh ke belakang ketika mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya.
"Dion, Dave tampak bingung. Ada apa dengannya? Kenapa dia seperti itu?" cecar Jeslyn.
Dia menatap ke arah Jeslyn. "Jes, ini adalah hal yang wajar seharusnya kau tahu itu. Lebih baik kau tunggu di luar. Aku akan memeriksanya dulu. Aku akan memanggilmu kembali setelah selesai melakukan pemeriksaan terhadapnya."
Karena panik, Jeslyn tidak bisa berpikir jernih. Padahal dia tahu kalau hal itu bisa saja terjadi pada pasien yang baru bangun dari koma.
"Tapi Dion, aku tidak bisa meninggalkannya." Bagaimana kalau dia membutuhkan aku? Atau dia mencariku?"
Jeslyn terlihat sangat cemas. Dia masih enggan meninggalkan suaminya.
Dion bisa mengerti kekhawatiran Jeslyn, tapi keberadaannya justru membuatnya tidak bisa fokus. "Aku akan memanggilmu jika dia pemeriksaannya sudah selesai. Jes, percaya padaku. Aku akan melakukan yang terbaik. Jangan khawatir"
"Baiklah aku akan menunggu di luar."
Jeslyn memutuskan untuk menuruti perkataan Dion. Perlahan Jesslyn keluar dari ruangan ICU dan duduk di depan ruangan tersebut menunggu Dion selesai memeriksanya.
__ADS_1
Setelah kepergian Jeslyn, Dion mulai memeriksa Dave dan menanyakan beberapa hal kepadanya.
Bersambung...