
"Dave, bagaimana kalau setelah kita melakukan program kehamilan, ternyata aku tak kunjung hamil juga atau yang lebih parahnya lagi aku tidak bisa hamil lagi? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Jeslyn dengan wajah pias.
"Apa kau menceraikan aku dan akan menikah lagi dengan wanita lain?"
Dave langsung menghampiri istrinya yang terlihat menunjukkan wajah muram dan sedihnya. Dave duduk di samping istrinya, lalu melingkarkan tangannya ke perut istrinya dari samping.
"Aku tidak akan pernah menceraikanmu, walaupun kau tidak bisa hamil lagi sayang."
Jeslyn langsung merasa lega mendengar ucapan suaminya. Hanya saja masih ada yang mengganjal di hatinya. "Walaupun kau menerimanya, tapi aku tidak yakin orang tuamu akan terima, terlebih lagi ibumu."
Dari dulu, ibu Dave memang sangat menginginkan cucu. Itu adalah salah satu alasan mengapa ibu Dave meminta anaknya untuk menikah lagi.
"Bukankah sudah ada Alea. Mama sangat menyayanginya seperti cucunya sendiri. Kau tidak perlu mengkhawatirkan mama sayang."
Dave berusaha untuk meyakinkan Jeslyn bahwa semua akan baik-baik saja, walaupun dirinya tidak bisa hamil lagi.
"Tapi, kau butuh anak sebagai penerusmu Dave." Jeslyn menunduk dengan wajah yang terlihat sangat sedih.
Dave melepaskan tangannya dari tubuh Jeslyn, setelah itu memutar sedikit tubuh istrinya, agar bisa berhadapan dengannya.
"Dengar sayang. Kau tidak boleh pesimis. Teknologi kedokteran sudah maju. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan agar kau bisa hamil, jika di sini tidak bisa, kita bisa keluar negri. Meskipun nanti hasil akhirnya kau tetap tidak bisa hamil, aku tidak akan pernah meninggalkanmu," ucap Dave dengan yakin.
"Tapi, aku takut kau akan bosan dan kesepian, jika kita tidak memiliki anak." Guratan kecemasan dan ketakutan tergambar jelas di wajah putih istrinya.
Dave tersenyum lalu membelai wajah istrinya. "Kita bisa mengadopsi anak yang baru lahir sayang. Aku tidak keberatan dengan hal itu, tapi jika kau tidak ingin mengadopsi anak, kita bisa hidup berdua saja."
Membayangkan hanya hidup berdua saja membuat Jeslyn kembali murung. "Kita akan seperti pengantin baru, jika tidak memiliki anak. Itu juga tidak buruk sayang. Kau tidak perlu repot-repot mengurus anak jika begitu," hibur Dave.
Jeslyn meneliti dengan seksama wajah suaminya. "Aku ingin memiliki anak Dave. Aku sangat berharap bisa melahirkan anak untukmu."
Dave bisa mengerti apa yang sedang ditakutkan oleh istrinya, namun dia masih optimis kalau mereka masih mempunyai peluang besar untuk memiliki anak.
"Kalau begitu, ayo kita membuatnya sekarang. Kita harus menggunakan waktu sebaik mungkin untuk membuat bayi yang lucu." Dave mulai menyentuh bibir istrinya.
Mata Jeslyn membesar karena terkejut. "Tapi Dave...." Jeslyn tampak ragu.
"Kita harus lebih sering melakukannya sayang agar kau bisa cepat hamil." Tanpa menunggu respon dari Jeslyn. Dave langsung membaringkan tubuh istrinya dengan hati-hati.
"Hari ini kita di kamar saja sayang. Kita habiskan waktu untuk membuat cucu untuk mama."
Setelah mengucapkan hal itu. Dave langsung menyerang tubuh istrinya. Melihat istrinya sangat menginginkan anak darinya, membuat Dave ingin berusaha lebih keras lagi agar keinginan istrinya cepat terwujud.
Sebenarnya itu bukan hanya keingina istrinya, tetapi juga keinginan terbesarnya, meskipun dia juga sangat menginginkan anak, tetapi dia juga tidak ingin membebani istrinya dengan hal itu.
******
Jeslyn dan Dave sedang duduk di ruang keluarga menunggu Zayn untuk menjemput mereka. Tujuan mereka hari ini adalahh hotel tempat pesta pernikahan mereka yang akan digelar besok. Orang tua Dave akan bahkan sudah berada di hotel tersebut sejak semalam. Itu adalah permintaan ibu Dave.
Dia sengaja menginap lebih awal, agar bisa mempersiapakan acara pesta yang megah dan meriah untuk anaknya. Pagi hari, ibu Dave bahkan sudah sibuk meninjau langsung ballroom yang akan dipakai oleh anaknya esok harinya.
"Permisi, Tuan." Zayn baru saja datang dan langsung menghampiri Dave yang sedang berada di ruang keluarga.
__ADS_1
Dave dan Jeslyn menoleh sejenak ke belakang. "Kau sudah datang." Dave kemudian berdiri. "Bawakan barangku ke mobil," perintah Dave.
"Baik, Tuan." Tanpa menunggu lama Zayn meraih koper berukuran sedang dan membawanya langsung ke mobil.
Dave mengulurkan tangannya pada Jeslyn. "Ayo sayang."
Jeslyn mengangguk dan meraih tangan Dave. Mereka berdua berjalan menuju pintu.
"Bi, tolong jaga rumah ya?" pesan Jeslyn saat melihat bi Sarti sudah berdiri di depan pintu untuk mengantar kepergian majikannya.
"Baik, Nyonya," jawab Bi Sarti seraya membungkuk. "Hati-hati dijalan, Tuan, Nyonya."
Dave hanya mengangguk. "Iya Bi. Kami pergi dulu ya Bi," pamit Jeslyn dengan lembut.
"Iya, Nyonya."
Setelah berpamitan mereka langsung menuju mobil. "Dave, bisakah kita mampir ke supermarket dulu," pinta Jeslyn ketika mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang.
Dave melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya. "Iyaa, kau ingin membeli apa sayang?" Dave mulai memainkan rambut panjang Jeslyn yang sedang digerai.
Jeslyn bersandar di dada suaminya. "Aku ingin membeli buah plum dan strawbery." Dahi Dave mengerut dengan sempurna.
"Semenjak kapan kau makan buah plum sayang? Bukankah kau tidak suka makan buah itu?" Seingat Dave, Jeslyn tidak menyukai buah yang asam itu. Jeslyn cendrung menyukai buah yang manis dan berair.
Jeslyn mendongakkan wajahnya, menatap suaminya yang sedang mengeryit. "Iya, tapi aku ingin mencobanya Dave. Sepertinya enak."
Seketika Jeslyn menelan salivanya ketika membayangkan makan buah tersebut. Membayangkannya saja sudah membuat produksi air liurnya meninggkat.
Sesampainya di sana, mereka berdua langsung masuk. Jeslyn langsung menuju rak tempat buah plum berada. Sebelumnya dia sudah bertanya pada petugas untuk mempercepat pencariannya.
Mata Jeslyn langsung berbinar saat melihat buah yang sangat dia inginkan. Dengan cepat Jeslyn langsung memasukkannya ke dalam plastik.
"Kau mencari siapa sayang?" Dave merasa heran ketika melihat istrinya nampak sedang menoleh ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari seseorang.
"Petugasnya."
Baru saja Jeslyn menjawab. Dia sudah melihat keberadaan salah satu pegawai supermarket yang sedang berdiri. Jeslyn langsung melambaikan tangan seraya memanggil pria yang memakai seragam yang bertuliskan nama supermarket tersebut.
Jeslyn langsung meraih kotal buah strawbery yang berkuran jumbo lalu menunjukkan pada pegawai tersebut. "Apakah strawabery ini manis?"
"Iyaa, Nyonya," jawab petugas itu sopan.
Jeslyn langsung menampilkan wajah kecewanya. "Apakah tidak ada strawbery yang rasanya tidak manis?"
Dahi Dave dan pegawai supermarket itu mengeryit berbarengan mendengar pertanyaan Jeslyn. Menyadari kalau dirinya sedang ditatap dengan tatapan heran, Jeslyn langsung berkata, "Maksudku yang rasanya asam."
Dahi mereka berdua bertambah mengerut. Biasanya mereka yang datang pasti mencari buah yang manis, tetapi Jeslyn justru mencari buah yang asam. Tentu saja hal itu membuat Dave dan pegawai tersebut keheranan.
"Untuk ukuran jumbo semuanya manis Nyonya, jika ingin yang asam, nyonya bisa mengambil strawbery yang kecil itu." Pegawai supermarket itu menujukkan buah strawbery yang dia maksud.
Jeslyn segera menggeser tubuhnya mendekati buah strawbery yang berukuran lebih kecil dari yang dia pegang tadi.
__ADS_1
"Kenapa kau mencari yang rasanya asam kalau ada yang manis sayang?" Dave tampak masih keheranan dengan keinginan istrinya.
"Mulutku sedang tidak enak, Dave. Aku ingin makan buah-buahan yang segar."
"Bukankah semua buah di sini segar semua?" Dave masih tidak mengerti maksud Jeslyn. Dave salah mengartikan maksud segar yang dilontarkan istrinya. Segar yang Jeslyn maksud adalah buah yang asam.
"Maksudku yang rasanya sedikit asam, Dave." Jeslyn terpaksa menjelaskan pada Dave karena dia melihat Dave tidak mengerti maksud dari perkataannya.
"Bukankah kau sudah membeli buah plum sayang? Kau bisa sakit perut kalau memakan buah asam terlalu banyak," nasehat Dave.
Jelsyn langsung menampilakn wajah cemberutnya. "Jadi, kau tidak ingin membelikannya? Kalau begitu kita pulang saja." Jeslyn langsung merajuk dan berjalan meningglakan Dave begitu saja dengan wajah kesal.
Dave tercengang untuk sesaat. dia kemudian langsung menyusul istrinya. "Tunggu sayang." Dave berhasil meraih tangn Jeslyn untuk menghentikan langkah istrinya. "Bukan itu maksudku. Aku hanya tidak ingin kau sakit," terang Dave dengan suara lembut.
Jeslyn masih diam, seraya mengalihkan padangannya ke arah lain. Dia tidak mau mentapa Dave sama sekali. Dave tahu kalau istrinya masih kesal.
"Baiklah. Aku akan membelikannya. Kau tunggu di sini. Aku akan meminta pegawai tadi untuk mengambilkannya untukmu."
Kedua sudut bibir Jeslyn melengkung membentuk senyuman di wajah cantiknya. "Belikan aku yang banyak," pinta Jeslyn sebelum Dave berlalu dari hadapannya.
"Iyaa sayang." Dave langsung menghampiri pegawai yang tadi. Dia memintanya untuk mengambilkan buah plum dan strawbery sesuai yang keinginkan istrinya.
Sembari menunggu Dave, Jeslyn duduk di salah satu tempat duduk yang tidak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Beberapa saat kemudian Dave kembali dengan membawa keranjang yang sudah berisikan 2 plastik putih penuh dengan ukuran besar.
Mereka segera membayar setelah itu mereka menuju hotel tujuan mereka. Sepanjang perjalanan Jeslyn terlihat terus memandangi buah yang ada di kursi depan. Dia sudah tidak sabar untuk memakannya.
Setibanya di hotel. Dave langsung membawa Jeslyn menuju lantai paling tinggi tempat kamar Presidential Suite berada. Kamar itu bahkan sudah dihiasi dengan dekorasi khas pengantin baru.
Jeslyn merasa senang saat melihat kamar pengantin mereka. Akhirnya dia bisa merasakan kamar yang di dekorasi untuk pengantin yang baru menikah.
Dave melingkarkan tangannya di perut istrinya saat melihat wajah bahagia istrinya. "Apa kau suka kamar pengantin kita sayang?" tanya Dave seraya mengecup bahu Jeslyn.
Dengan wajah bahagia, Jeslyn langsung mengangguk. "Iyaa, aku suka sekali Dave."
Dave menjauhkan tubuhnya dari Jeslyn, kemudian mengajak istrinya untuk melihat kamar pengantin mereka. Senyuman lebar tidak pernah pudar dari wajah Jeslyn.
Setelah mengitari seluruh kamar pengantin mereka. Dave mengajak Jeslyn untuk duduk di sofa. Barang Dave sudah terlebih dahulu diletakkan oleh Zayn, sebelum dia pamit undur diri.
"Dave, terima kasih untuk semuanya." Jeslyn bersandar di dada suaminya ketika mereka sudah duduk di sofa panjang.
"Kau tidak perlu berterima kasih sayang. Justru seharusnya aku yang meminta maaf padaku karena baru bisa melaksanakan pesta pernikahan kita, padahal kita sudah menikah hampir 2 tahun," ucap Dave dengan wajah penuh penyesalan.
Meskipun Jeslyn tidak menjelaskan maksud dari perkataanya tadi, tapi dia tahu kalau Jeslyn sedang membahas masalah pesta pernikahan mereka.
"Tidak apa-apa Dave, yang terpenting saat ini, kau sudah mewujudkannya."
Bersambung...
Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..
__ADS_1