Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Anak Angkat (Bonus chap)


__ADS_3

Jeslyn langsung meraih anak tersebut dan membawanya ke IGD untuk memeriksa sekaligus mengobatinya. Sepanjang perjalanan menuju IGD anak itu masih terus menangis sambil memanggil ayah dan anaknya. Setibanya di ruang IGD, Jeslyn langsung membaringkan anak tersebut lalu memeriksa.


Tidak ditemukan luka yang serius pada tubuh anak itu. Hanya luka goresan kecil yang ada di wajah dan sekujur tubuhnya. Jeslyn kira anak tersebut terluka parah saat melihat bajunya berlumuran darah, ternyata setelah diperiksa dengan seksama hanya terdapat luka kecil. Jeslyn menduga kalau darah itu berasal dari ayahnya. Anak itu terlihat lebih tenang dan tidak menangis lagi setelah dibujuk berkali-kali oleh Jeslyn.


"Siapa namamu, sayang?" tanya Jeslyn dengan lembut setelah dia selesai mengobati anak perempuan itu.


Anak perempuan itu terlihat takut. Dia menunduk menyembunyikan wajahnya di balik selimut yang menutupi tubuhnya.


Jeslyn lalu mengusap lembut kepala anak tersebut. "Tante bukan orang jahat Sayang. Tante adalah Dokter. Kau tidak perlu takut."


Setelah dibujuk dan diberi pengertian berkali-kali, anak itu akhirnya mau berbicara dengan beberapa kata.


"Celine," jawab anak perempuan itu dengan suara pelan ketika Jeslyn kembali menanyakan namanya.


"Celine, nama tante adalah Jeslyn. Dokter Jeslyn." Sebisa mungkin Jeslyn berbicara dengan nama lembut agat tidak menakuti anak perempuan tersebut.


Celine hanya melirik Jeslyn tanpa membuka suaranya. "Sekarang ikut tante ya?" Jeslyn menggendong anak tersebut lalu membawannya ke ruangan perawatan setelah dia meminta salah satu perawat untuk mengurus kepindahan Celine.


Setelah Celine dipindahkan ke ruang perawatan, Jelsyn menghubungi seseorang. Beberapa saat kemudian seseorang masuk ke ruangan Celine. "Ada apa Jes?" Dokter Keyla berjalan mendekati Jeslyn yang terlihat sedang duduk di samping anak perempuan yang sedang tertidur pulas.


"Key, aku minta tolong padamu untuk menangani Celine sampai dia sembuh. Dia korban kecelakaan. Saat ini, ayahnya sedang di bawa ke ruangan operasi."


Dokter Keyla melirik sekilas pada Celine. "Baiklah. Berikan saja rekam medisnya padaku."


"Iyaa, nanti akan kuberikan setelah aku melakukan pemeriksaan CT Scan."


Jeslyn memang ingin melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap Celine karena takut ada luka dalam di dalam tubuhnya apalagi dia adalah korban kecelakaan yang mobilnya jatuh ke dalam jurang.


Jeslyn sedikit terkejut saat mengetahui kalau Celine bisa selamat dari kecelakaan naas itu tanpa luka yang serius pada tubuh bagian luarnya, sementara ayahnya saja kritis. Orang lain akan berpikir mustahil ada yang bisa selamat dari kecelakaan tersebut jika melihat langsung kondisi mobil yang rusak parah.


"Sepertinya dia mengalami trauma yang dalam. Aku juga akan meminta Dokter Arifin untuk mengobati traumanya," sambung Jeslyn lagi.


Dokter Keyla mengangguk. "Siapa yang sedang menangani ayahnya?" tanya Dokter Keyla penasaran.


"Dokter Dion. Kondisi ayahnya terluka parah dan akan dilakukan operasi darurat." Jeslyn berdiri, "aku akan melihat keadaan ayahnya dulu."


"Baiklah."


Jeslyn dan Dokter Keyla berjalan keluar dari ruangan Celine. Sebelum ke ruangan operasi, Jeslyn terlebih dahulu meminta perawat untuk menjaga Celine di ruangannya. Dia takut kalau Celine akan menangis ketika tidak melihat siapapun di ruangannya saat dia terbangun.


******


Jeslyn berlari kecil ketika melihat Dion baru saja keluar dari ruang operasi. "Dion, bagaimana kondisi pasien korban kecelakaan tadi?" tanya Jeslyn dengan wajah tidak sabar.


Dion menghela napas lalu menggelengkan kepalanya. "Tengkorak kepalanya retak, dan dia mengalami pendarahan hebat di kepalanya. Seharusnya dia bisa tertolong jika dibawa ke sini lebih cepat. Dia sudah meninggal, Jes."


Jeslyn memejamkan matanya lalu menghirup napas dalam dan menghembuskan napas panjang.


"Dia kehabisan banyak darah dan mengalami patah tulang pada kaki dan tangannya," lanjut Dion lagi.

__ADS_1


"Baiklah. Aku mengerti."


"Aku akan meminta perawat untuk menghubungi keluarganya," ucap Dion


"Iyaa. Terima kasih, Dion."


Dion tersenyum lalu memegang bahu Jeslyn. "Kau tidak perlu berterima kasih padaku."


Jelsyn ikut tersenyum. "Aku pergi dulu," pamit Dion.


"Iyaa."


Jeslyn memutuskan untuk kembali ke ruangan Celine lagi. Dia merasa kasihan padanya karena di usianya yang masih kecil, dia harus kehilangan ayahnya.


*****


Seminggu sudah berlalu semenjak Celine masuk rumah sakit. Belum ada juga keluarga yang mencari keberadaanya, sementara jasad ayahnya masih berada di ruangan penyimpanan jenasah. Polisi yang menangani kasus kecelakaan tersebut menduga kalau mereka adalah waga negara asing yang sedang berlibur di Indonesia.


Tidak ditemukan informasi apapun dari hasil penyelidikan mereka. Selama seminggu Celine berada di ruangan perawatan dan setiap hari Jeslyn selalu datang menjenguk dan menemani Celine ketika dia senggang.


"Dave," Jeslyn menghampiri Dave yang baru pulang bekerja dan sedang berdiri melepaskan kancing di lengan bajunya.


"Ada apa sayang?" tanya Dave dengan wajah heran ketika Jeslyn memeluknya dari belakang. "Katakan apa yang kau inginkan?" Dave menduga kalau istrinya pasti menginginkan sesuatu karena tidak biasanya dia bersikap manja padanya.


Jeslyn langsung tersenyum. "Dari mana kau tahu kalau aku menginginkan sesuatu?"


Jeslyn tersenyum lebar. "Bolehkah kalau kita mengadopsi satu anak perempuan?" tanya Jeslyn hati-hati. Sebenarnya Jeslyn takut kalau suaminya akan marah setelah mendengar permintaannya.


Dahi Dave langsung mengerut. "Kenapa harus mengadopsi sayang? Aku bisa memberikan satu anak lagi kalau kau mau."


"Bukan itu maksudku Dave," sanggah Jeslyn cepat. "Begini, di rumah sakit ada anak perempuan korban kecelakaan yang selamat. Dia tidak memiliki keluarga lagi karena ayahnya sudah meninggal. Dia warga negara asing, Dave. Tidak ada yang tahu mengenai keberadaan keluarganya yang lain," ungkap Jeslyn. "Polisi sudah menyerah. Mereka juga sudah berusaha mencari keberadaan kekuarga tapi tidak ditemukan juga."


"Lalu?" tanya Dave dengan alis terangkat.


Jeslyn mengalungkan tangannya ke leher suaminya. "Aku bermasud untuk menjadikannya anak angkat kita. Kasihan dia Dave. Dia tidak memiliki siapapun lagi."


Sifat tidak tega Jeslyn terkadang membuat Dave geleng-geleng kepala. "Sayang, kau bilang dia warga negara asing, kau seharusnya tahu kalau akan sulit bagi kita untuk menjadikannya anak adopsi," jelas Dave dengan lembut.


Sebisa mungkin Dave berbicara dengan lembut dan hati-hati agar istrinya tidak salah paham padanya dan menganggap dia tidak setuju. "Iyaa aku tahu, tapi aku yakin tidak sulit bagi Dave Christian Tjendra untuk mewujudkanya, bukan?


Kali ini, Jeslyn ingin mengandalkan pengaruh suaminya untuk menjadikan Celine sebagai anak angkatnya. Entah mengapa setiap melihat Celine hatinya tergerak untuk mengngakatnya sebagai anak. Mata teduh dan bening membuat siapa saja yang melihatnya akan terhipnotis dan terpana.


Dave menatap istrinya sejenak lalu berkata, "Apa yang akan kau berikan padaku kalau aku setuju dengan permintaanmu?" tanya Dave dengan alis terangkat.


"Apapun yang kau inginkan, akan kuberikan jika aku mampu."


Dave menyeringai. "Apa kau yakin akan memberikan apapun yang aku inginkan? tanya Dave lagi.


Jeslyn mengangguk. "Baiklah, jangan menyesal dengan perkataanmu, Sayang."

__ADS_1


Dave langsung menggendong istrinya menuju tempat tidur dan Jeslyn terlihat hanya pasrah.


"Aku tidak akan berhenti sampai besok pagi sayang," ucap Dave ketika sudah berada di atas istrinya.


"Tapi kau harus berjanji untuk menepati perkataanmu untuk menjadikannya anak angkat kita."


"Iyaaa Sayang, aku janji." Tanpa menunggu lama Dave langsung melakukan keinginannya.


******


Sepulang dari bekerja, Jeslyn langsung membawa pulang Celine. Sesuai kesepakatannya dengan Dave, sore ini Jeslyn membawa pulang Celine ke rumahnya.


"Ayo Sayang turun." Jeslyn memgangkat tubuh Celine dengan hati-hati lalu menurunkannya.


"Jangan takut, ini adalah rumah mama." Jeslyn berjongkok di depan Celine. "Ini akan menjadi rumahmu juga dan panggil aku mama mulai sekarang," ucap Jeslyn lembut.


Celine mengangguk. "Kalau begitu, ayo kita masuk." Jeslyn menggandeng tangan Celine masuk ke dalam rumahnya.


Celine sudah dinyatakn sembuh, hanya luka-luka kecil yang terlihat sudah mulai mengering dan masih membekas. Kondisi mentalnya juga sudah lebih baik. Dia tidak lagi setakut dulu. Hanya saja dia terlihat lebih diam jika berhadapan dengan orang yang belum dikenalnya.


Setibanya di dalam, Jeslyn langsung menuju ruang keluarga di mana tempat anak dan ibu mertuanya sedang berada. Jeslyn sudah memberitahu pada ibu mertuanya tentang Celine. Untung saja ibu mertuanya tidak keberatan. Dia justru meminta Celine untuk sering-sering menginap di mansionnya untuk menemaninya.


"Ma," panggil Jeslyn ketika melihat ibu mertuanya sedang memangku Jennifer dan Levin sedang duduk di sebelahnya sambil membaca buku.


Ibu Dave langsung menoleh. "Kau sudah pulang?" Dia melirik ke pada anak perempuan dengan rambut panjang yang tergerai sedang bersembunyi di balik kaki Jeslyn.


"Iyaaa Ma." Jeslyn kemudian menoleh ke belakang, "jangan takut Sayang. Itu adalah Oma," tunjuk Jeslyn pada ibu mertuanya.


Levin yang sedang membaca seketika langsung mengalihkan pandangannya pada gadis kecil yang terlihat malu-malu. Melihat anak laki-lakinya nampal acuh tak acuh, Jeslyn kemudian berjalan mendekati anak laki-lakinya. .


"Levin, ini Celine. Mulai sekarang dia akan menjadi adikmu," ucap Jeslyn sambil menatap anaknya.


Levin melemparkan tatapan datar pada Celine tanpa berkata apapun kemudian kembali membaca bukunya. Jeslyn terlihat menoleh pada Celine yang terlihat kembali bersembunyi di belakang kakinya.


"Jangan takut sayang. Itu adalah kakak Levin," tunjuk Jelsyn pada Levin.


Levin terlihat bersidekap dengan wajah datarnya. "Aku tidak mau, dia menjadi adikku," ucap Levin dengan dingin. Ekspresi wajahnya sama perisi dengan suaminya ketika dia tidak suka dengan sesuatu.


"Kenapa? Bukankah Celine terlihat cantik dan imut? Apa kau tidak suka mempunyai adik manis seperti Celine?" tanya Jeslyn dengan hati-hati.


Levin melirik sekilas pada Celine kemudian berkata, "Aku tidak mau mempunyai adik perempuan lagi. Merepotkan." Levin langsung berjalan menuju kamarnya dengan wajah datarnya.


Jeslyn hanya bisa menghela napas saat melihat sikap anaknya. "Jangan memaksanya Jes, biarkan saja dulu. Dia mungkin butuh waktu untuk bisa menerima keberadaan Celine," ucap Ibu Dave ketika melihat wajah kecewa dari Jeslyn.


"Iyaa Ma. Aku mengerti." Jeslyn pun berdiri lalu memegang tangan Celine, "Ma, aku tinggal dulu. Aku akan mengantarkan Celine ke kamarnya."


"Iyaaa."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2