
Dave menghampiri tempat tidur istrinya, dia memandang Alea yang berada di dalam dekapan istrinya. Senyuman tipis tersungging di sudut bibirnya. Dia menunduk lalu mengecup singkat pipi Alea kemudian berlaih mengecup kening istrinya. "Bangun sayang." Dave berbisik di telinga Jeslyn agar tidak membangunkan Alea yang tampak tertidur dengan nyenyak.
Suara yang menggelitik telinganya dan hembusan napas lembut yang menerpa pipinya membuat Jeslyn perlahan membuka matanya. "Bangun sayang..Sebentar lagi ada dokter yang akan datang untuk memeriksamu," ucap Dave ketika melihat wajah bingung istrinya.
Jeslyn tampak menoleh sejenak pada Alea yang masih tertidur di sebelahnya, setelah itu dia menoleh pada Dave. Jeslyn berusaha untuk bangun dibantu oleh Dave. "Dave, biarkan Maya yang menjagaku di sini. Kau bisa lelah nanti."
Jeslyn hanya tidak ingin jika sampai nanti disalahkan lagi oleh ibu Dave karena membuat anaknya mengabaikan urusan kantor. Dia juga tidak ingin kalau sampai Dave kelelahan karena menjaganya.
"Tidak.Aku akan tetap di sini. Jika aku lelah, aku bisa beristirahat di tempat tidur itu," tunjuk Dave pada tempat tidur yang tidak jauh dari ranjang Jeslyn.
"Tok..Tok.." Dokter Roby masuk sesudah mengetuk pintu. Dia tampak menghampiri Jeslyn dan Dave. Perlahan Dave menggeser tubuhnya agar dokter Roby dapat memeriksanya. "Apa yang kau rasakan saat ini Jes?" tanya dokter Roby ketika sudah berada di samping Jeslyn. Karena mereka berteman membuat Roby langsung memanggil nama Jeslyn.
"Aku merasakan nyeri dan sakit pada pergelangan kakiku. Aku juga sedikit pusing."
"Baiklah, aku akan memeriksamu sebentar." Dokter Roby mulai memeriksa Jeslyn terutama pada bagian kakinya yang patah. Setelah selesai memeriksanya dokter Roby memberikan obat pada Jeslyn. "Aku akan melakukan pemeriksaan lagi nanti. "Kita lihat dulu, apakah kakimu masih bengkak dan memar, jika sudah tidak aku akan memasangkan gips atau penyangga kaki pada kakimu," terang dokter Roby.
"Baiklah."
"Tadi Dion ke ruangaku. Dia meminta laporan medismu. Dia akan melakukan pemeriksaanya juga terhadapmu. Sepertinya dia sangat mengkhawatirkanmu," ungkap Roby sambil menatap Jeslyn.
Dave hanya diam. Dia tidak memberikan komentar apapun. Wajah Dave tampak langsung berubah. terlihat sekali kalau dia tidak menyukai perkataan yang barusan dia dengar dari doter Roby.
Jeslyn tersenyum canggung. Dia melirik sekilas pada Dave, dia takut kalau Dave akan salah paham lagi padanya. "Baiklah."
Dave menoleh pada dokter Roby. "Apakah tidak ada dokter lain selain dokter Dion yang bisa memeriksa istriku?"
Dokter Roby langsung menoleh pada Dave dengan cepat. "Istri..?" tanya dokter Roby yang sudah beralih menatap pada Jeslyn.
"Iyaa.. Dia adalah istriku. Aku tidak suka kalau dokter Dion yang memeriksa istriku," ungkap Dave.
Dokter Roby menatap Jeslyn dengan menaikkan satu alisnya pertanda ingin memastikan ucapan dari Dave. "Iyaa Rob, dia adalah suamiku."
Bola mata dokter Roby seketika membesar. Dia tidak menyangka kalau Jeslyn adalah istri dari pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Selama ini yang dia tahu adalah Jesyn memiliki hubungan khusus dengan dokter Dion seperti gosip yang banyak beredar di rumah sakit.
"Maaf Tuan Dave, saya tidak tahu kalau dokter Jeslyn adalah istri anda." Seketika merasa tidak enak karena sudah berlaku akrab dengan Jeslyn, apalagi dia sempat menyinggung soal Dion.
"Hhhmm," gumam Dave, "apa ada dokter lain yang bisa menggantikan dokter Dion?" Dave tampak masih tidak rela jika istrinya diperiksa oleh saingan cintanya. Dia tidak mau kalau Dion menyentuh istrinya.
"Ada, tetapi dokter Dion adalah dokter terbaik di rumah sakit ini. Saya rasa lebih baik Dokter Jeslyn diperiksa oleh dokter Dion."
Jeslyn hanya diam saja. Dia sengaja tidak membuka suara karena takut akan berdebat lagi dengan Dave karen masalah Dion. "Baiklah..Aku mengerti." Dari dulu Dave merasa tidak suka hal yang berhubungan dengan Dion.
__ADS_1
"Setelah ini, akan dilakukan pemeriksaan lanjutan dan pemasangan gips pada kaki dokter Jeslyn, Tuan. Saya akan meminta perawat nanti ke sini untuk menjemput dokter Jeslyn."
"Baiklah."
"Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan," pamit dokter Roby pada Dave.
"Terima kasih Rob," ucap Jeslyn sambil tersenyum pada dokter Roby. "Iyaa." Dokter Roby kemudian berjalan keluar ruangan Jeslyn.
"Apa kau selalu tersenyum seperti itu pada laki-laki lain saat bekerja?" Dave tampak tidak suka melihat istrinya tersenyum manis pada dokter Roby, sekalipun itu adalah teman satu profesinya. "Dave, dia adalah temanku, Jangan berpikiran yang tidak-tidak."
"Aku tidak mau kalau Dion yang memeriksamu," tutur Dave sambil menampilkan wajah tidak sukanya.
"Dave, lalu siapa yang akan memeriksaku kalau bukan dia? Tidak ada dokter syaraf wanita, semuanya laki-laki Dave. Akan lebih baik kalau Dion yang memeriksaku."
"Daddy," panggil Alea ketika dia baru saja membuka matanya. Alea terbangun karena mendengar perdebatan Jeslyn dan Dave. "Iya sayang," jawab Dave cepat.
Dave membantu Alea untuk bangun. "Mommy mana?" Alea tampak mengucek matanya untuk memperjelas penglihatannya.
"Mommy belum datang sayang," ucap Dave lembut sambil mengelus kepalanya.
Jeslyn memiringkan kepalanya menatap Alea. "Apa Alea lapar?" tanya Jeslyn lembut.
Dave menenggakkan tubuhnya. "Baiklah.. Alea tunggu di sini bersama Mama. Daddy akan membelikan makanan untuk Alea."
"Iyaa."
"Sayang, tolong jaga Alea sebentar," pinta Dave sambil menatap istriya. Jelsyn tampak hanya mengangguk.
Setelah kepergian Dave, Jeslyn tampak mengajak Alea berbicara. Awalnya Alea tampak malu-malu. lama kelamaan dia mulai terbiasa dan tidak canggung lagi.
Tidak butuh waktu lama, Dave sudah kembali membawakan makanan untuk Alea. "Sayang, makan dulu," ucap Dave sambil membuka makanan yang dia beli tadi.
Alea mengangguk sambil tersenyum. "Biar aku yang menyuapinya Dave. Lebih baik kau makan juga. Aku tahu kau belum makan, kan?"
Dave memang belum sempat makan dari pagi. Pikirannya selalu saja tertuju pada Jeslyn. "Aku sudah meminta Zayn untuk membelikan untuk kita berdua. Nanti kita makan bersama."
"Baiklah. Berikan padaku." Jeslyn mengulurkan tangan untuk mengambil makanan yang ada di tangan Dave.
Dave tampak ragu. "Tapi tanganmu masih terluka sayang."
"Dave, yang terluka adalah tangan kiriku. Aku bisa menyuapinya pakai tangan kananku."
__ADS_1
"Baiklah." Dave akhirnya memberikan makanannya pada Jeslyn. Dengan telaten Jeslyn menyuapi Alea. Setelah selesai menyuapi Alea. Dave membantu Jeslyn untuk ke kamar mandi.
Tidak lama setelah itu, perawat datang untuk membawa Jeslyn untuk melalukan pemeriksaan sebelum melakukan pemasangan gips pada kakinya. Dokter Dion juga akan melakukan pemeriksan yang berkaitan dengan syaraf.
Sementara Dave menunggu di ruangan Jeslyn bersama dengan Alea. "Dave," panggil Stella ketika dia baru saja masuk ke ruangan Jeslyn.
"Urusanmu sudah selesai?" tanya Dave ketika melihat Stella sudah berjalan ke arahnya.
"Hhmm," gumam Stella sambil mengangguk. "Jeslyn ke mana?"
"Sedang melakukan pemeriksaan."
"Stella duduk di sebelah Alea. "Mommy ke mana saja?" tanya Alea dengan wajah cemberut.
Stella memeluk Alea. "Maaf sayang.. Mommy ada urusan penting. Apakah Alea nakal tadi?"
"Tidak Mommy," jawab Alea sambil menggeleng.
Stella kemudian beralih pada Dave. "Apa kau sudah menjelaskan pada Jeslyn?"
"Belum. Besok saja. Aku tidak ingin dia memilirkan apapun untuk saat ini."
"Apa dia mengungkit masalah surat cerai yang aku berikan padanya?"
"Iyaaa,"
"Lalu?"
"Aku belum menjelaskannya. Aku sudah mengatakan padanya kalau aku akan memberitahukan semuanya besok."
"Apa dia masih marah denganku?" tanya Stella.
"Aku juga tidak tahu, Jeslyn jarang sekali menunjukkan emosinya padaku. Jadi aku tidak tahu apa yang ada dipikirannya saat ini."
Jeslyn lebih sering memendam perasaannya. Dave terkadang tidak mengerti jalan pikiran istrinya.
"Dave, lebih baik kita jujur pada Jeslyn sekarang. Aku tidak mau masalah ini menjadi rumit nantinya."
"Iyaaa."
Bersambung...
__ADS_1