
"Kalau begitu menikahlah denganku."
Mata Stella langsung membelalak. "Haaaaah...??" Stella tampak sangat terkejut. Beberapa saat kemudian dia merubah ekspresinya. "Pernikahan bukan mainan, Dokter Dion," ucap Stella dengan wajah serius.
Dion terdiam sesaat. "Aku tahu. Aku juga tidak berniat untuk mempermainkan pernikahan."
"Aku tidak ingin mengorbankan masa depanmu hanya untuk kepentinganku. Terima kasih atas tawaranmu."
Walaupun sedang terdesak, Stella tidak mau memanfaatkan kebaikan Dion. Dia tidak ingin bergantung pada orang lain lagi.
"Aku serius ingin menikah denganmu," ucap Dion yakin.
"Bagaimana kita bisa menikah, kalau kita tidak saling mencintai? Kita bakan tidak saling mengenal sebelumnya."
"Kita bisa saling mengenal setelah menikah. Anggap saja berpacaran setelah menikah," ucap Dion cepat.
Stella menghembuskan napas halusnya. "Dokter Dion, kau belum mengenalku lebih jauh. Kau juga tidak tahu sifat asliku. Bagaimana kalau setelah kita menikah ternyata kau kecewa denganku karena tidak sesuai dengan harapanmu? Kau sendiri yang akan rugi Dokter Dion," ucap Stella dengan wajah serius.
Dion tersenyum tipis. "Stella, aku sudah sering bertemu dengan banyak orang dengan macam-macam karakter dan kepribadian yang berbeda. Setidaknya aku bisa sedikit menilai mana wanita yang memiliki kepribadian baik dan tidak walaupun hanya sekilas," ucap Dion dengan wajah yakin
"Dave tidak mungkin mencintai wanita sembarangan Stella, pasti ada alasan khusus kenapa dia bisa sangat mencintaimu dulu, yang pasti bukan hanya karena wajahmu cantik, karena di luar sana masih ada yang lebih cantik darimu."
"Tetapi tetap saja. Aku bukan wanita yang yang baik untukmu. Di luar sana masih banyak wanita yang pantas untukmu. Aku wanita beranak satu, Dokter Dion. Tidak mudah menjalani rumah tangga dengan kondisi sepertiku. Pernikahan tidak akan bertahan lama tanpa adanya rasa cinta."
Dion menyungging sudut bibirnya. "Apa kau tahu, di luar sana banyak yang menikah atas dasar cinta lalu bercerai dengan alasan klise, yaitu sudah tidak saling cinta. Cinta bisa hadir seiring berjalannya waktu Stella. Kau lihat Dave, dulu dia sama sekali tidak mencintai Jeslyn, tetapi lihat sekarang, Dave bahkan sangat mencintai Jeslyn," jelas Dion.
"Mereka bisa melewati berbagai terjangan badai dalam rumah tangga mereka. Dave bahkan tidak goyah sedikit pun dengan kedatanganmu, wanita yang sangat dia cintai dulu. Itu artinya, tergantung dengan tujuan hidup dan kepribadian masing-masing. Saling mencintai diawal pernikahan tidak bisa menjadi tolak ukur sebuah pernikahan akan bertahan lama dan berakhir bahagia. Rumah tangga tidak mungkin selamanya mulus Stella, pasti ada riak-riak kecil yang mewarnai perjalan rumah tangga seseorang. Semua tergantung dari pribadi masing-masing bagaimana menyikapinya."
Stella tampak tertegun mendengarkan ucap Dion. Dia sedikit merasa takjub dengan pria yang ada di depannya. "Baiklah. Anggap saja begitu, tapi kau jangan lupa, restu orang tua juga penting dalam pernikahan Dion. Mungkin saja kau bisa menerimaku, tetapi bagaimana dengan orang tuamu? Kau adalah laki-laki lajang yang belum pernah menikah, semetara aku sudah pernah menikah dan memiliki seorang anak. Orang tuamu tidak mungkin setuju dengan denganku."
Sebenarnya Stella masih tidak yakin dengan niat Dion yang ingin mengajaknya menikah. Dia hanya tidak ingin mengambil keputusan yang akan dia sesali nanti.
"Kita bisa menemui orang tuaku terlebih dahulu, maka kau akan tahu, bagaimana orang tuaku yang sebenarnya. Orang tuaku bukan orang tua yang kolot yang akan memaksakan kehendaknya pada anaknya."
Stella menghela napas kembali. Dia merasa agak heran kenapa Dion sepertinya ingin sekali menikah dengannya. Padahal, di luar sana pasti banyak gadis yang menyukainya. Wajah tampan, baik, dan pekerjaan yang bagus adalah idaman semua wanita. Pasti banyak wanita yang mengejarnya. Itulah yang ada dipikiran Stella.
__ADS_1
"Jujur saja Dokter Dion. Aku bukan wanita yang mudah jatuh cinta," ucap Stella tegas.
"Aku pun begitu Stella. Aku rasa kau sudah tahu kalau aku menyukai Jeslyn. Sebelum kau menyelidiku, aku sudah menyelidikiimu terlebih dahulu."
Bola mata Stella langsung membesar. "Jadi, kau sudah tahu kalau aku pernah menyelidikimu?"
"Tentu saja. Aku juga tahu kau menyelidiki kehidupan Dave dan Jeslyn," ucap Dion santai.
Waktu itu, Stella hanya memang menyelidiki kehidupan Dave awalnya, setelah itu Jeslyn. Saat tahu, Jeslyn dekat dengan seseorang, Stella kemudian menyelidiki Dion juga. Stella sempat berpikir kalau Jeslyn menghianati Dave dan memiliki hubungan khusus dengan Dion. Itulah yang membuatnya menyelidiki Dion juga. Sayangnya, Stella tidak menyelidiki Felicia, karena Stella pikir dia sudah mengenal Felicia dan tahu sifatnya karena mereka berasal dari sekolah yang sama.
"Jadi, akhirnya kau menyerah dengan perasaanmu? Apa kau berniat mundur?" Stella tampak penasaran dengan jawaban yang akan Dion lontarkan.
"Tentu saja. Tidak ada alasan bagiku untuk mengharapkannya lagi. Dia sudah bahagia dengan Dave. Sudah waktunya aku melepasnya. Aku yakin Dave akan menjaganya dengan baik."
Stella menganguk-angguk. "Ternyata kau adalah yang pria baik."
"Tentu saja. Apa kini, kau ingin mempertimbangkan untuk menikah dengan laki-laki baik sepertiku?" goda Dion dengan senyum jahilnya.
Stella tesenyum juga. "Satu hal yang harus kau tahu Dion. Aku lebih tua darimu," ucap Stella dengan yakin.
"Aku tahu," ucap Dion sambil menganggukkan kepalanya. "Lalu di mana masalahnya? Kau hanya lebih tua 2 tahun dariku," ucap Dion santai.
"Apa kau ragu denganku karena umurku lebih muda darimu? Umur lebih tua tidak menjamin kedewasaan seseorang Stella. Banyak orang yang lebih tua, tapi bersikap kekanak-kanakkan. Kau tidak bisa mematok kedewasaan seseorang hanya berdasarkan umurnya. Begitu juga diriku, bisa jadi aku lebih dewasa darimu."
"Aku beri contoh yang nyata. Felicia. Dia lebih tua 5 tahun di atas Jeslyn. Tapi lihat sikap Felicia, tidak mencerminkan sama sekali kalau dia lebih tua dari Jeslyn. Jeslyn bisa menyikapi dengan bijak saat Dave memutuskan untuk menikahi Felicia, tetapi Felicia justru bersikap sebaliknya. Dia melakukan hal-hal bodoh untuk menyingkirkan Jeslyn. Seharusnya dia bersikap baik pada Jeslyn agar Dave juga bisa menyukainya. Dia sendiri yang merusak hidupnya, tetapi dia justru menyalahkan Jeslyn karena ketikberdayaannya meluluhkan hati Dave," ucap Dion.
"Kau dan Felicia seumuran, tetapi kau lebih dewasa darinya. Kau tidak melakukan hal-hal yang tidak berguna seperti yang Felicia lakukan dulu untuk merebut Dave. Walaupun kenyataannya kau masih mencintai Dave, tetapi kau memilih untuk merelakannya walaupun hatimu akan sakit karenanya."
"Baiklah. Kita bisa mencobanya, tapi jangan pernah menyesal jika nanti aku tidak sesuai dengan harapanmu," ucap Stella dengan tegas.
Dion langsung tersenyum. "Apa kau yakin ingin mencobanya? Kau tidak bisa mundur, jika kau sudah memutuskan untuk memulai denganku Stella. Karena aku tidak pernah main-main dengan keputusanku," ucap Dion dengan wajah serius.
"Heeeemm." Stella berdeham untuk menghilangkan kegugupannya. Seketika dia merasa terintimidasi dengan tatapan Dion. Stella mengalihkan pandangannya sejenak ke samping lalu beralih lagi pada Dion.
"Baiklah. Aku setuju. Kita bisa mulai dengan mengenal satu sama lain," ucap Stella mantap.
__ADS_1
"Baiklah. Mulai saat ini kita bisa menjadi sepasang kekasih dulu," ucap Dion sambil mengangguk. "Setelah kau bertemu dengan orang tuaku, kita akan lanjutkan dengan acara pertunangan kita."
"Hhaaaah? Bukankah itu terlalu cepat?" tanya Stella dengan wajah terkejut.
"Sudah aku bilang. Kita bisa mengenal lebih dalam setelah menikah. Tidak perlu menunda terlalu lama. Aku sudah siap untuk menikah. Aku memang tidak sekaya Dave, tapi aku bisa menjamin kau tidak akan hidup kekurangan dengan menikah denganku."
"Aku tidak menilai seseorang dari kekayaannya Dokter Dion, karena aku bisa menghasilkan uang sendiri. Aku tidak terbiasa mengandalkan pemberian laki-laki."
"Tetapi aku tidak bisa membiarkan wanita bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhannya. Jika nanti kau menikah denganku, aku yang akan memenuhi segala kebutuhanmu dan anakmu. Aku tidak akan melarangmu bekerja jika kau ingin tetap bekerja, tetapi memberimu nafkah adalah kewajibanku."
"Kau akan menyesal mengatakan hal itu, Dion."
"Kita buktikan saja nanti. Aku akan menyesal atau tidak," ucap Dion santai, "lebih baik kau gantimu bajumu setelah itu tidur. Ini sudah larut malam. Kau bisa tidur tempat tidur dan aku akan tidur di sofa."
"Tidak perlu. Biar aku yang tidur di sofa," tolak Stella cepat.
"Aku adalah pria, bagaimana bisa aku membiarkan wanita tidur di sofa sementara aku tidur nyaman di ranjang."
"Tapi, kau sudah.."
"Atau kau lebih memiliih untuk tidur denganku di tempat tidur?"
"Aku..."
"Kau kau tidak mau, maka turuti saja perkataanku Stella."
Stella tampak berpikir sejenak. "Baiklah, terima kasih, Dokter Dion."
"Panggil aku Dion mulai sekarang. Jangan pernah memanggilku dengan embel-embel Dokter. Jika orang lain mendengarnya, mereka akan mengira kau adalah pasienku. Aku adalah kekasihmu Stella, bukan Doktermu."
"Hheeemm." Stella kembali berdeham. Stella tampak salah tingkah ketika ditatap terus menerus oleh Dion. "Maaf, Dion," ucap Stella pelan.
"Baiklah. Cepat ganti bajumu, setelah istirahat."
Stella mengangguk. Setelah itu, dia mengambil pakaian yang Dion berikan lalu pergi masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Bersambung...
Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..