
Jeslyn memegang kepala yang terasa pusing. Dengan langkah pelan dia keluar dari lift. Semalam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Bayangan Dave bersama dengan Stella terus saja berlarian di kepalanya.
Saat ini, Jeslyn sedang berdiri di depan loby apartemennya. Dia belum mau mengendari mobil sendiri, sehingga dia memilih untuk berangkat bersama dengan Dion. Ketika sedang menunggu Dion di dalam ruang tunggu. Jeslyn tidak sengaja melihat Dave berjalan ke arah pintu masuk loby apatemennya.
Jeslyn tampak berpikir, untuk apa Dave ke apartemennya. “Dave,” panggil Jeslyn ketika Dave tampak hanya melewatinya tanpa mau menegurnya.
Dave langsung menghentikan langkahnya saat mendengar Jeslyn memanggil namanya. Jeslyn kemudian berjalan mendekati Dave.
“Ada apa?” tanya Dave tanpa menoleh sedikitpun pada Jeslyn.
Melihat sikap dingin Dave, hatinya Jeslyn langsung terasa perih. “Tidak jadi, pergilah.”
Tadinya dia ingin bertanya untuk apa Dave ke apartemennya, tidak jadi karena melihat Dave tampak tidak ingin berbicara dengannya.
“Daaaaddyyy.” Jeslyn menoleh ketika mendengar suara nyaring anak kecil. Jeslyn melihat kalau Alea sedang berlari ke arah suaminya.
Dave langsung berjalan mendekati Alea. "Anak Daddy cantik sekali hari ini.” Dave menggendong Alea di tangan kanannya.
Seketika wajah Jeslyn menjadi pias. “Tentu saja. Alea senang sekali karena Daddy mau mengantarku sekolah.”
Stella kemudian menghampiri Dave. “Dave kenapa kau di sini? Kenapa tidak langsung ke atas?” tanya Stella dengan wajah heran.
Dave membalikkan tubuhnya lalu melirik pada Jeslyn. Stella pun mengikuti arah pandangan Dave. “Jeslyn... Kau Jeslyn, kan?” tanya Stella ketika dia melihat Jeslyn berdiri tidak jauh dari mereka.
Jeslyn hanya tersenyum. “Dia siapa Mommy?” tanya Alea sambil menatap Jeslyn.
Stella tampah bingung harus menjawab apa. “Dia adalah Tante Jeslyn. Temannya Daddy.”
Dalam hati Jeslyn tertawa getir mendengae ucapan Stella. Bahkan Dave tidak menyanggah sama sekali ucapan Stella. Itu berarti Dave sudah tidak menganggap dia sebagai istrinya.
Jeslyn menunduk sebentar lalu berjalan mendekati mereka bertiga. “Siapa namamu?” tanya Jeslyn dengan nada lembut sambil menatap Alea yang berada di gendongan suaminya.
“Alea Zaenaya Tjendra,” jawab Alea sambil tersenyum. Dave tampak terus menatap wajah Jeslyn tanpa mengatakan apapun.
“Deeg.” Seketika dada Jeslyn berdetak sangat kencang.
“Maaf Jeslyn, kami harus pergi.” Stella menggapit tangan Dave untuk membawanya pergi dan Dave hanya diam dan mengikuti Stella yang sudah menariknya pergi.
“Tunggu!” Jeslyn mencoba menghentikan langkah Dave dan Stella.
Jeslyn mendekati Dave lalu menatapnya dengan tajam. “Jadi benar dia adalah anakmu?”
“Iya Tante. Aku memang anak Daddy,” jawab Alea sebelum Dave membuka suaranya.
__ADS_1
Dave mengalihkan pandanganya ke arah lain karena tidak berani menatap bola mata Jeslyn. “Dave, kenapa kau diam saja? Apa benar dia anakmu?” Jeslyn bertanya lagi pada Dave karena dia tidak kunjung mendapat jawaba dari suaminya.
Stella langsung berdiri di depan Jeslyn membelakangi Dave. “Maaf Jeslyn. Kami sudah terlambat. Kami harus pergi.”
Jeslyn merentang tangan sebelah kanannya untuk menghalangi Dave pergi. “Kau tidak bisa pergi sebelum menjawab pertanyaanku Dave.” Jeslyn tidak menghiraukan perkataan Stella.
“Bukankah kau sudah tidak peduli lagi denganku?” tanya Dave dengan wajah dinginnya.
“Jeslyn, apa aku harus menunjukkan akta lahir Alea padamu untuk menunjukkan siapa ayah kandung Alea sebenarnya?” ujar Stella dengan wajah datar.
“Jesslyn,” Terdengar suara teriakan dari belakangnya.
Seketika mereka semua menoleh pada laki-laki yang sedang memanggil Jeslyn. Dan ternyata Dion sedang berialan ke arah mereka.
Dion menatap Dave sejenak lalu beralih pada Jeslyn. “Kau sedang apa? Aku menelponmu berkali-kali, tetapi kau tidak mengangkatnya,” ujar Dion sambil berdiri di dekat Jeslyn.
Dave dan Dion saling beradu pandang untuk sesaat. “Maaf Dion, aku tidak mendengarnya. Ayoo kita pergi.” Jeslyn membalikkan badannya lalu berjalan meninggalkan mereka bertiga.
Sebelum menyusul Jeslyn, Dion beralih menatap Dave. "Sepertinya kau mengabaikan peringatakanku waktu itu. Baiklah. Aku tidak akan sungkan lagi pada padamu mulai sekarang. Karena kau sudah mencampakkannya. Maka, aku akan mengambilnya darimu,” ucap Dion dengan senyum sinisnya.
Rahang Dave mengeras dan tatapannya menyala. “Jangan pernah berani mencari masalah denganku, Dion!”
“Dion, cepat! Kita bisa terlambat nanti,” teriak Jeslyn ketika melihat Dion tampak belum bergerak dari tempatnya.
Dion kemudian menatap Dave. “Semoga kalian bertiga bisa hidup bahagia. Ceraikan Jeslyn jika kau sudah tidak mencintainya. Aku sudah siap untuk menggantikanmu.” Dion langsung pergi setelah selesai berbicara dengan Dave.
Dave terus menatap ke arah Jeslyn dan Dion yang baru saja masuk ke dalam mobil.
“Dave, ayo kita pergi,” ajak Stella sambil memegang lengan Dave.
“Yaa.”
*****
“Jeslyn, aku ingin berbicara denganmu.” Dion baru saja membuka pintu ruangan Jeslyn ketika jam istirahat sudah tiba.
Jeslyn mengalihkan pandangannya pada Dion. “Tunggu sebentar, aku selesaikan pekerjaanku sebentar.” Jeslyn kembali berkutat dengan kertas yang ada di atas mejanya.
Dian masuk ke ruangan Jeslyn lalu duduk di depannya. “Kita sekalian makan siang di luar,” ucap Dion ketika melihat Jeslyn tampak fokus pada kerjaannya.
“Kita akan makan di mana?” tanya Jeslyn tanpa menoleh pada Dion.
“Di restoran langgananmu saja,” jawab Dion sembari melihat ke arah ponselnya yang sedang menyala.
__ADS_1
Jeslyn menutup map yang ada di tangannya. “ Baiklah. Kita pergi sekarang saja.” Jeslyn berdiri lalu melepas jas putihnya.
Mereka berdua lalu keluar dari ruang Jeslyn menuju parkiran.
Setibanya di restoran, mereka langsung memesan makan. Setelah pesanan mereka datang, mereka langsung menyantap makanan dengan cepat.
Ketika selesai makan, Dion menatap Jeslyn yang baru saja mengelap mulutnya dengan tisu. “Jes, apa kau sudah memutuskan langkah apa yang akan kau ambil selanjutnya?”
“Maksudmu?” tanya Jeslyn sambil meneguk air putihnya.
“Masalahmu dengan Dave. Tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian.”
Ketika Dion sampai di depan apartemen Jeslyn. Dia sempat menghubungi Jeslyn untuk menanyakan keberadaannya. Karena Jeslyn tidak menjawab telpon darinya, Dion memutuskan untuk menyusul Jeslyn ke dalam loby apartemennya.
Baru berapa langkah masuk dari pintu. Dia sudah melihat Jeslyn sedang berbicara dengan Dave dan Stella. Perlahan dia mendekat dan bersembunyi dibalik pilar besar yang tidak jauh dari mereka berdiri. Dion memutuskan untuk mendengarkan pembicarakan mereka.
Ketika melihat Jeslyn mulai terdesak. Dion berpura-pura baru saja masuk dari luar lalu memanggil Jeslyn.
Jeslyn meletakkan gelasnya di sebelah piringnya lalu berkata, “Aku belum memutuskan apapun. Aku tidak mau mengambil keputusan terburu-buru.” Jeslyn tampak menjawab dengan wajah tenang. Tidak terlihat emosi apapun dari wajahnya.
“Aku rasa anak itu benar anak Dave.”
Dahi Jeslyn mengerut. “Kenapa kau bisa beranggapan seperti itu? Aku sudah belajar dari masalah Felicia. Aku tidak akan percaya begitu saja pada ucapan Stella, selagi bukan Dave yang memberitaku lewat mulutnya.”
Walaupun Jeslyn meragukan Dave, tetapi dia tidak mau percaya begitu saja sebelum melihat buktinya nyata yang membuktikan bahwa Alea adalah anak Dave.
“Jeslyn coba kau pikir sendiri. Jika memang itu bukan anak Dave, mana mungkin dia sedekat itu dengan anak itu. Dulu saat Felicia mengaku mengandung anak dari Dave, dengan tegas Dave membantahnya, tapi kau lihat sendiri tadi. Dia bahkan tidak membantah sama sekali ucapan wanita itu.”
Awalnya Dion juga ragu dengan kalau Alea adalah anak Dave, tapi melihat bagaimana sikap Dave hari ini. Dia yakin kalau anak itu adalah anak Dave.
“Aku akan bertanya langsung padanya nanti.” Jeslyn tampak tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan Dion yang mulai meragukan Dave.
“Jeslyn, bukankah kau sendiri yang ingin berpisah dengannya waktu itu? Untuk apalagi kau mencari tahu tentang anak itu?” tanya Dion dengan wajah heran. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya ada dipikiran Jeslyn saat ini.
“Aku hanya ingin tahu,” jawab Jeslyn singkat.
“Bagaimana jika nanti terbukti itu adalah anak Dave? Apa kau yang akan kau lakukan?”
Jeslyn terdiam sejenak. Dia tampak sedang berpikir keras. “Apa kau akan menceraikannya?” tanya Dion lagi ketika Jeslyn belom juga menjawab pertanyaannya.
“Aku juga tidak tahu.”
Dion menghembuskan napas kasar sambil menatap Jeslyn dengan wajah pasrah. “Jeslyn, kalau aku masih mencintainya. Pertahankan rumah tanggamu. Jika tidak, bercerailah dengannya. Aku akan membantumu.” Sebenarnya Dion tahu kalau Jeslyn masih mencintai Dave.
__ADS_1
Bersambung..