Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Masih Sangat mencintainya


__ADS_3

Langkah Dave terhenti ketika dia baru saja membuka sedikit pintu kamar istrinya. Dia melihat Jeslyn tampak tertawa bahagia dengan Dion. Hatinya berdenyut nyeri melihat pemandangan itu.


Mungkin kebahagiannmu memang bukan bersamaku, Jes. Maafkan aku karena hanya bisa memberikan luka dihatimu selama menikah denganku, batin Dave.


Setelah menguatkan hatinya, Dave melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan istrinya. Ketika Dion dan Jeslyn menyadari kedatangan Dave, seketika mereka terdiam.


"Sayang, apa kau sudah makan?" Dave tampak tidak memperdulikan keberadaan Dion di sana. Dave mendekati istrinya lalu duduk di tepi tempat tidur Jeslyn sambil merangkul pinggangnya.


Jeslyn seketika merasa risih dengan perlakuan Dave. Dia tampak ingin melepaskan tangan Dave dari pinggangnya. "Aku sudah makan. Maya yang membantuku tadi," jawab Jeslyn pelan.


Dion lalu berdiri dari duduknya. "Aku pergi dulu, besok aku datang lagi untuk memeriksa keadaanmu."


Jeslyn langsung mengangguk, setelah itu Dion berjalan keluar. Setelah Dion menghilang dari balik pintu, Jeslyn langsung menatap tajam pada Dave.


"Dave, kau sengaja melakukan itu, kan?"


Dave seketika naik ke tempt tidur Jeslyn sambil merebahkan tubuhnya di samping istrinya. "Melakukan apa, Sayang?" Jeslyn tahu kalau Dave hanya berpura-pura tidak tahu maksud dari perkataannya.


"Kau sengaja merangkulku di depan Dion agar dia pergi, kan?" tanya Jeslyn lagi sambil menunduk menatap suaminya yang tampak memejamkan matanya.


"Tidaak," jawab Dave singkat, "Jes, apa kau bisa hidup bahagia tanpa aku?" Seketika Dave melontarkan pertanyaan yang dianggap aneh oleh Jeslyn.


Dahinya mengerut, dia masih tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Dave. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya hal itu?"


Dave membuka matanya lalu menatap istrinya. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin tahu saja. Aku harap kau bisa hidup bahagia nanti," ucap Dave sungguh-sungguh.


"Tentu saja, aku akan menjalani hidupku dengan bahagia setelah ini. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitiku lagi," ucap Jeslyn percaya diri.


Dave tersenyum getir. "Iyaa, lakukanlah apapun yang membuatmu bahagia. Jangan pernah menoleh ke belakang dan jangan pernah menyesali apapun yang terjadi nanti."


Jeslyn menatap heran pada Dave. Dia merasa sikap Dave agak aneh. "Berbaringlah Sayang, kau harus banyak istrirahat,"


"Tapi aku tidak lelah, Dave," kata Jeslyn.


"Aku ingin tidur disampingmu. Ijinkan aku tidur sambil memelukmu kali ini saja," pinta Dave dengan wajah penuh harap.


Jeslyn bertanya-tanya dalam hatinya, ada apa dengan Dave. Tidak mau terlalu banyak berpikir. Jeslyn kemudian berbaring membelakangi Dave seperti permintaan suaminya.


"Nyaman sekali tidur sambil memelukmu. Aku pasti akan merindukannya nanti," ucap Dave dengan suara bergetar.

__ADS_1


Jeslyn merasa semakin aneh ketika mendengar suara Dave. Dia berusaha menoleh kebelakang dan berniat untuk bertanya, tetapi Dave lebih dulu bicara.


"Tidurlah, Sayang." Dave berusaha menyembunyikan wajahnya agar tidak terlihat Jeslyn. Dia merasa malu jika sampai Jeslyn tahu kalau dia menitikkan air mata.


"Dave," panggil Jeslyn dengan suara pelan.


"Iya, Sayang."


"Apa kau masih menyembunyikan sesuatu dariku?"


"Tidak ada, Sayang." Dave makin mempererat pelukannya. "Mungkin untuk kedepannya aku tidak bisa menemanimu. Aku akan sibuk. Pekerjaanku sangat banyak. Aku akan meminta Maya untuk terus menjagamu. Walaupun aku tidak bisa selalu menemanimu, kau harus tahu kalau aku sangat mencintaimu."


*****


Dengan langkah lesu Dave memasuki apartemen Stella ketika pintu sudah terbuka. "Kau sudah bertemu dengan Jeslyn?" tanya Stella seraya mengikuti langkah Dave menuju sofa.


"Alea mana?" tanya Dave sambil mengedarkan pandangan kebsekelilingnya.


Stella duduk sambil memangku bantal segi empat yang ada di sudut sofa lalu menjawab. "Sudah tidur, tadi dia mencarimu. Aku sudah bilang kau sedang sibuk," ungkap Stella sambil menatap pada Dave, "kau belum menjawab pertanyaanku, Dave?"


"Aku sudah bertemu dengannya. Aku tidak sanggup lama-lama berada di dekatnya karena aku akut kalau keputusanku akan berubah," jawab Dave dengan wajah sedih seraya menyandarkan kepalanya di sofa.


"Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu? Lebih baik kau pikirkan ulang, Dave. Aku takut kau akan menyesal nanti," saran Stella.


Stella menghembuskan napas halusnya karena merasa tidak bisa berbuat apapun untuk membantu Dave memperbaiki rumah tangganya. "Baiklah kalau begitu. Jam berapa besok kita berangkat?"


Bola mata Dave menatap ke sebelah kanan atas sejenak. "Kemungkinan jam 11 siang aku menjemputmu. Ada yang harus aku urus terlebih dahulu sebelum kita pergi. Kau persiapkan saja dirimu dan Alea." Dave tampak mulai merenungkan sesuatu.


"Davee," panggil Stella lembut.


Dave mengalihkan pandangannya pada Stella ketika dia memanggilnya. "Ada apa?"


"Bagaimana jika kepergianmu justru menambahkan luka pada Jeslyn?" Stella masih berpikir kalau Jeslyn sebenarnya masih mencintai Dave. Hanya saja Stella tidak menyangka kalau akhirnya mereka akan berpisah.


"Tidak mungkin, dia saja tidak mau memaafkan aku," jawab Dave dengan yakin, "sudahlah. Tidak perlu membahasnya lagi. Kau bisa membuatku ragu nanti."


"Baiklah," kata Stella pasrah. Dia tidak ingin memaksa Dave lagi, "apakah orang tuamu sudah tahu mengenai kepergianmu?"


Stella belum sempat menanyakan hal itu karena terlalu fokus dengan urusan bisnisnya. Stella memutuskn untuk menjual semua butiknya pada teman Dave atas saran dari Dave. Dia juga tidak mungkin bisa mengontrol dari jauh karena dia tidak memiliki orang yang bisa dia percaya untuk mengurus butiknya.

__ADS_1


Dave mengangguk. "Sudah. Ayahku menyerahkan semua keputusan padaku, sementara Ibuku menolak keras awalnya, tetapi dia tidak punya pilihan lain selain menyetujui keputusanku," ungkap Dave.


Saat Dave menyampaikan keinginannya untuk pindah keluar negri. Ibunya langsung terkejut sekaligus tidak menyetujui keinginan anaknya yang terkesan mendadak, tapi Dave bersikukuh untuk tetap pergi keluar negri tanpa persetujuan ibunya.


Ibunya bahkan sampai menangis memohon agar Dave merubah keputusannya. Pada akhirnya ibunya tidak punya pilihan lain selain menyetujui keputusan anaknya. Ibu Dave menyadari kalau dia turut andil membuat rumah tangga anaknya hancur, sehingga dengan berat hati dia merelakan kepergian anaknya.


"Aku tahu, pasti sangat berat bagi ibumu untuk melepasmu karena kau adalah anak satu-satunya."


"Iyaa," balas Dave singkat, "besok aku akan menjemputmu. Aku pulang dulu," ucap Dave sambil berdiri.


"Baiklah." Stella kemudian mengikuti langkah Dave menuju pintu.


*******


Dion menarik kursi di dekat ranjang pasien Jeslyn setelah berada di samping tempat tidurnya. "Kau sudah boleh pulang besok," ucapnya ketika dia sudah duduk di kursi.


Wajah Jeslyn langsung bahagia. "Benarkah?"


Dion mengangguk. "Tapi kau masih tidak boleh banyak bergerak. Kau masih harus dibantu dengan kursi roda dan tongkat."


"Aku tahu. Kau tenang saja. Aku ini Dokter, aku tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan," sahut Jeslyn dengn wajah senang. Dia sangat bersemangat ketika sudah diperbolehkan untuk pulang.


Sudah seminggu ini, Dave jarang sekali menemuinya. Kalaupun menemuinya, hanya sebentar, setelah itu dia akan pergi lagi dengan alasan banyak pekerjaan.


Jeslyn tampak tidak ambil pusing karena dia berpikir kalau Dave memang sedang banyak kerjaan, mengingat Dave beberapa hari tidak masuk kantor ketika dia mengalami keguguran dan ketika dia mengalami kecelakaan.


"Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Dave setelah kau tahu kebenarannya?" tanya Dion di sela-sela obrolan mereka. Jeslyn juga sudah menceritakan pada Dion semua yang diceritakan oleh Dave.


"Tidak ada yang berubah. Masih seperti dulu."


"Bukan itu makudku, Jes. Apa kau tetap akan mempertahankan rumah tanggamu dengannya?"


"Aku masih kesal padanya. Aku akan memperjelas hubungan kami besok setelah keluar dari rumah sakit."


"Maksudmu?"


"Aku akan memberikan dia kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kau tahu sendiri, aku sangat mencintainya Dion. Walaupun aku masih marah padanya, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku kalau hanya dia yang aku cintai. Hidupku tidak ada artinya tanpa dia, Dion," ungkap Jeslyn.


"Aku dukung apapun yang menjadi keputusanmu. Aku harap kali ini, dia bisa benar-benar membahagianmu. Jika dia menyakitimu lagi, datanglah padaku. Aku akan membawamu pergi jika dia menyia-nyiakanmu."

__ADS_1


"Terima kasih, Dion."


Bersambung...


__ADS_2