
Dave tersenyum tipis ketika melihat istrinya masih memejamkan matanya sambil memeluk tubuhnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Dave baru saja terbangun dari tidurnya. Entah kenapa, pagi ini perasaannya sangat senang. Dave lalu mengecup kening istrinya.
"Bangun sayang," ucap Dave seraya membelai wajah istrinya.
Jeslyn bergeming. "Jes, bangun dulu. Kita harus sarapan sayang," ucap Dave lembut.
Jeslyn masih tidak bergerak. Matanya pun masih tertutup. Dave tersenyum lalu perlahan melepaskan tangan Jeslyn yang ada di tubuhnya. Dia akhirnya membiarkan istrinya untuk tidur sebentar lagi dan memilih untuk mandi seraya menunggu Jeslyn terbangun.
Setelah selesai mandi, Dave berjalan menuju tempat tidur lalu menelpon bagian restoran untuk memesan layanan kamar. Dia lebih memilih untuk sarapan di kamar karena melihat Jeslyn masih tertidur.
Setelah selesai menelpon, Dave meraih ponselnya lalu duduk bersandar di samping istrinya. Banyak sekali isi pesan dari rekan bisnis, teman, dan kenalannya yang memberikan ucapan selamat atas pernikahannya. Dari kemarin Dave memang belum sempat membalas semua pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
Dave masih berkutat dengan ponselnya dan terlihat sangat fokus menatap layar ponselnya sampai tidak menyadari kalau Jeslyn sudah membuka matanya. Jeslyn sengaja hanya diam karena masih ingin memandangi wajah suaminya yang terlihat sangat tampan jika sedang fokus.
Seketika Jeslyn teringat soal kado yang akan diberikan pada suaminya. "Dave," panggil Jeslyn dengan suara serak.
Dave mengalihkan pandangannya dari layar ponsel lalu menoleh ke sampingnya. "Selamat pagi, sayang." Dave meletakkan ponselnya di atas nakas lalu mengecup kening istrinya. "Apa kau sakit?" tanya Dave ketika melihat raut wajah istrinya terlihat pucat.
"Tidak. Aku hanya merasa pusing dan lelah Dave," jawab Jeslyn dengan suara pelan. Jeslyn memang mulai merasakan gejala hamil muda.
"Bagaimana kalau kita ke dokter, sayang?" usul Dave. Dia mulai cemas ketika melihat istrinya nampak tidak sehat.
"Iyaa, nanti saja. Badanku masih lemas." Sebenarnya Jeslyn tidak ingin keluar dari kamar hari ini karena merasa tubuhnya sangat pegal dan lemah.
"Baiklah. Kita sarapan dulu. Setelah kau merasa baikan kita baru ke rumah sakit," ujar Dave lembut.
"Iyaaa. Kau sudah bangun dari tadi?" Jeslyn terlihat belum juga mau bangun dari tidurnya.
Dave mengangguk. "Maafkan aku, Dave. Aku bangun kesiangan," ucap Jeslyn dengan wajah bersalah. Dia merasa tidak enak karena Dave bangun lebih dahulu dari pada dirinya.
Dave mengusap lembut pipi istrinya. "Tidak apa-apa sayang. Aku tahu kau pasti lelah. Justru seharusnya aku yang meminta maaf karena sudah membuatmu kelelahan. Aku masih belum bisa menahan diriku."
"Kau tidak perlu minta maaf, Dave. Itu adalah kewajibanku." Jeslyn mendekatkan tubuhnya pada Dave lalu memeluknya. "Aku sangat bahagia, Dave. Akhirnya, keinginanku mulai terwujud satu persatu."
Dave sedikit terkejut dengan sikap istrinya. Tidak biasanya Jeslyn mengambil inisiatif terlebih dahulu untuk memeluknya. "Maafkan aku sayang karena baru bisa mewujudkan pesta pernikahan yang layak untukmu."
Dave salah mengartikan ucapan Jeslyn dan mengira kalau Jeslyn sedang membahas mengenai pesta pernikahan mereka.
__ADS_1
Jeslyn tersenyum. "Dave, walaupun kau tidak mengadakan pesta pernikahan kita, aku tetap merasa bahagia Dave karena bisa menjadi istrimu."
"Terima kasih sayang karena kau sudah mencintaiku sampai sekarang," ucap Dave tulus.
"Iyaa."
Seketika Dave teringat akan sesuatu. Dave kemudian melepaskan pelukan istrinya. "Sayang, mana kado untukku?" Dave menengadahkan tangannya ke arah Jeslyn.
Jeslyn sedikit terkejut mendengar ucapan Dave. Dia pikir Dave sudah melupakan perihal kado tersebut. "Aku lupa meletakkan di mana kadomu," bohong Jeslyn.
Dave memicingkan matanya. "Jangan mempermainkan aku, sayang." Dave menatap curiga pada istrinya.
Jeslyn tersenyum senang saat melihat ekspresi suaminya. Dia sebenarnya hanya ingin mengerjai suaminya saja. Kado yang akan dia berikan pada Dave sudah di simpan di lemari, di tempat tersembunyi yang tidak akan bisa ditemukan oleh Dave.
"Aku akan mencarinya nanti." Jeslyn pura-pura berpikir. "Sepertinya kadonya hilang, Dave," sambung Jeslyn lagi.
Dave melepaskan pelukan Jeslyn lalu menangkup wajahnya. "Jangan coba-coba membohongiku, sayang. Aku akan menghukummu kalau kau berani membohongiku," ancam Dave dengan wajah serius.
Jeslyn meletakkan jari telunjuknya di bibirnya dengan bola mata yang menatap ke arah atas sebelah kanan. "Aku akan mengingat-ingat dulu, dimana aku letakkan kado tersebut."
Dave menatap Jeslyn dengan tatapan menyelidik, detik kemudian Dave bangun dari tidurnya lalu mengungkung istrinya. "Sayang, jangan coba-coba menguji kesabaranku, atau aku akan melahap habis dirimu pagi ini. Aku pastikan kau tidak akan bisa bangun dari tempat tidur kalau kau masih mempermainkan aku."
Jeslyn terperanjat sesaat dan menatap Dave yang sudah berada di atasnya. Yang lebih membuatnya terkejut adalah ancaman dari suaminya. Seketika Jeslyn langsung menelan salivannya. Dia tahu kalau Dave tidak pernah main-main dengan ucapanyannya.
"Dave, maafkan aku. Ak-aku... Sepertinya... Sepertinya aku sudah ingat di mana aku letakkan hadiah untukmu," ucap Jeslyn terbata-bata.
Dave menyunggingkan sudut bibir kirinya dengan alis terangkat satu. "Benarkah? Apa kau yakin sudah mengingatnya?" Dave menyeringai lalu mendekatkan mulutnya ke teliga istrinya. "Apa perlu aku bantu agar kau mengingatnya? Aku akan dengan senang hati membantumu, sayang," bisik Dave dengan suara pelan.
Jeslyn bergidik mendengar bisikan Dave. Dia langsung mendorong tubuh suaminya dengan wajah memerah. "Tidak perlu Dave. Aku sudah mengingatnya. Aku akan mengambilkan untukmu nanti," ucap Jeslyn dengan gugup.
Dave mendekatkan wajahnya pada Jeslyn sehingga hidung mereka menempel. "Aku tidak mau nanti, aku mau hadiahku sekarang, sayang."
Dave ingin tertawa ketika melihat Jeslyn yang tidak berani bergerak sama sekali bahkan dia tidak berani menatap dirinya.
Bulu mata Jeslyn terkulai ke bawah. "Baiklah. Aku akan mengambilkan untukmu," ucap Jeslyn dengan suara pelan. "Bisakah kau menyingkir dulu, Dave?" pinta Jeslyn dengan suara pelan.
Dave menjauhkan wajahnya dari Jeslyn lalu tersenyum. "Cium aku dulu."
__ADS_1
Jeslyn langsung menatap suaminya, seolah tidak terima dengan permintaan suaminya. "Kenapa aku harus menciummu? Bukankah kau yang meminta untuk aku mengambil hadiahmu sekarang? Aku tidak akan bisa bangun kalau kau masih di atasku, Dave," ucap Jeslyn dengan wajah tidak berdaya.
Dia sudah tahu kalau dirinya sudah jatuh dalam jebakan suaminya. Awalnya dia yang ingin mengerjai suaminya, tetapi pada akhirnya jusrtu berbalik padanya. Dave justru menggunakan kesempatan tersebut untuk mengambil keuntungan dari dirinya.
"Itu hukum untukmu karena sudah berani menjahiliku, sayang." Dave memang sengaja mengerjai balik istrinya untuk melihat wajah panik istrinya yang terlihat menggemaskan baginya.
"Maaf Dave." Jeslyn terlihat menyesal karena sudah mengerjai suaminya.
"Kalau begitu cepat cium aku atau kau ingin aku yang melakukannya? Kau tahu bukan kalau aku yang...."
Ucapan Dave langsung terhenti ketika Jeslyn sudah mencium bibirnya dengan cepat. Jeslyn sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh suaminya, oleh karena itu dia memilih untuk segera mencium Dave.
"Kenapa cepat sekali sayang?" tanya Dave ketika Jeslyn selesai mengecup bibirnya. "Sepertinya aku harus mengajarimu, bagaimana caranya mencium dengan benar." Dave langsung mendekatkan wajahnya pada istrinya lalu melu*mat dan menye*sap bibir istrinya dengan lembut.
Jeslyn terlihat hanya pasrah. Mereka memagut dan saling mencecap satu sama lain dalam waktu yang lama hinhga akhirnya Dave menyingkap selimut yang menutupi tubuh polos istrinya. Hasratnya kembali membuncah apalagi setelah melihat tubuh istrinya.
"Sayang, aku ingin lagi," ucap Dave saat dia sudah melepaskan pagutannya dan sedang menatap Jeslyn dengan tatapan penuh gairah.
"Dave, apa kau tidak lelah? Kita bahkan sudah melakukannya sampai pagi."
Sebenarnya alasannya menolak keinginan Dave adalah karena takut terjadi apa-apa dengan janin yang ada di dalam perutnya. Dia masih belum bisa tenang sebelum dia mengecek langsung ke dokter Sarah. Oleh karena itu, dia harus menghentikan Dave kali ini, meskipun dia juga menginginkan yang lebih.
Ada raut kecewa di wajah Dave saat melihat Jeslyn tampak keberatan dengan keinginannya. "Anggap saja ini bulan madu kita yang sempat tertunda, sayang."
"Tapi, aku lelah Dave," ucap Jeslyn dengan suara pelan. Jeslyn sebenarnya tidak tega menolak keinginan suaminya.
"Baiklah. Kalau begitu istirahatlah."
Dave langsung bangun dan turun dari tempat tidur. Jeslyn bisa melihat wajah kecewa dari Dave, meskipun Dave sempat tersenyum padanya.
Jeslyn meraih selimut untuk menutupi tubuhnya. "Kau mau ke mana, Dave?" tanya Jeslyn ketika melihat Dave melangkahkan kakinya menjauh dari tempat tidur.
"Aku ingin ke kamar mandi," jawab Dave seraya menoleh pada Jeslyn.
"Apa kau marah denganku?" tanya Jeslyn dengan hati-hati.
Bersambung
__ADS_1