Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Kecemburuan Stella


__ADS_3

"Dion, aku dengar kau tidak praktek hari ini?"


Wanita bertubuh kurus dengan rambut sebahu dan berlesung pipit yang mengenakan jas putih menghampiri dokter Dion yang baru saja keluar dari ruangan dokter Sarah.


Dion tersenyum ketika melihat rekan sesama dokternya sudah berdiri di depannya. "Iyaa, aku ijin hari ini, Key," jawab Dion sambil menatap wanita yang bertanya padanya. "Kau mau pulang?" tanya Dion lagi.


Keyla adalah wanita yang menegur Dion. Dia adalah Dokter Spesialis Anak yang bekerja di rumah sakit itu juga. Dokter Keyla adalah salah satu dokter wanita yang menaruh hati pada Dion.


"Iyaa, aku sudah selesai. Kau sedang apa di sini?" tanya dokter Keyla sambil melirik sekilas pada Stella yang terlihat sedang menatap penasaran padanya


Dion menoleh ke samping merangkul pinggang istrinya. "Aku sedang menemani istriku untuk periksa kandungannya."


"Oohh begitu."


Dokter Keyla terlihat tersenyum kaku. Meskipun tidak terlihat jelas, Stella bisa menangkap raut wajah kekecewaan pada wajah dokter Keyla.


Dokter Keyla bukannya tidak tahu kalau dokter Dion sudah menikah tapi dia hanya masih belum menerima kalau dokter Dion menikah dengan janda beranak satu.


Padahal dia sudah lama sekali menaruh hati pada Dion. Bahkan, Jeslyn pernah membantu dokter Keyla untuk mendekati Dion, tapi nyatanya Dion tidak tertarik sama sekali padanya. Meskipun dokter Keyla masih belum bisa berpindah hati, tapi dia tidak bernah berniat untuk merusak rumah tangga Dion.


"Jadi, kau habis menemui dokter Sarah?" tanya Keyla.


"Iyaa benar," jawab Dion cepat. "Maaf Key, kami harus pergi. Istriku sedang tidak enak badan." Sebenarnya itu hanya alasan Dion untuk segera mengakhiri pembicaraan mereka dan segera pergi dari sana.


"Baiklah," ucap Keyla sambil mengangguk.


Stella mengapit lengan Dion dan pergi dari sana. "Dia siapa?" tanya Stella saat mobil mereka sudah dalam perjalanan pulang.


Stella tampak penasaran dengan wanita itu cantik yang menegur suaminya. "Dia Keyla, salah satu Dokter Spesialis Anak," jelas Dion tanpa menoleh pada Stella. Dia terlihat sedang fokus mengendarai mobilnya.


"Apa kalian pernah dekat?" tanya Stella dengan wajah penasaran sambil menoleh pada suaminya.


Dion menoleh sekilas pada istrinya. "Tidak." Dion kembali menatap lurus ke depan.


Stella memicingkan matanya seolah tidak percaya dengan ucapan Dion. "Benarkah? Tapi aku merasa kalian sangat dekat?"


Dion menoleh ke istrinya sambil tersenyum. "Aku berkata yang sebenarnya sayang," ucap Dion sambil mencubit pipi istrinya. Dion merasa gemas melihat wajah cemburu istrinya.


"Dia memang pernah mendekatiku, tapi aku hanya menganggapnya sebatas rekan kerja saja. Tidak lebih." Dion terlihat tidak begitu berminat untuk membahas mengenai Keyla.


Stella sudah menduga sebelumnya kalau wanita tadi menaruh hati pada suaminya. "Setelah kita menikah, apa dia masih mendekatimu?"


"Tidak sayang. Jauh sebelum kita menikah, aku sudah mulai menjaga jarak dengannya," ungkap Dion.


"Tapi, aku bisa melihat kalau dia masih menyukaimu," ucap Stella dengan yakin.


Dion tersenyum sambil menoleh pada suaminya. "Itu adalah haknya," jawab Dion sekenanya.


"Jangan membahas dia lagi sayang."


Dion kembali fokus mengendari mobilnya. Setelah Dion mengatakan hal itu, sudah tidak ada lagi percakapan diantara mereka berdua sampai mereka tiba di rumah.

__ADS_1


Dion dan Stella langsung masuk ke kamar mereka untuk membersihkan diri setelah itu mereka makam malam dan masuk ke kamar setelah selesai makan.


"Sayang, kenapa kau diam saja dari tadi?"


Dion memeluk tubuh istrinya dari belakang saat melihat istrinya langsung duduk di meja rias ketika mereka sudah memasuki kamar.


"Tidak apa-apa," jawab Stella sekenanya.


Dion tersenyum, mengurai pelukannya lalu mengangkat tubuh istrinya.


"Dion, turunkan aku," ucap Stella dengan wajah panik.


"Jangan bergerak-gerak sayang, kau bisa jatuh nanti." Dion menurunkan tubuh istrinya di tepi tempat tidur dengan posisi duduk.


"Apa kau masih merasa mual?" Dion berjongkok di depan istrinya seraya menatap wajahnya.


Stella menggeleng. "Tidak."


Dion meraih bungkus obat yang dia tebus di apotik rumah sakit sebelum pulang ke rumah mereka. "Kalau begitu minum vitaminmu." Dion memberikan vitamin dan segelas air putih pada istrinya.


Stella tanpa banyak bicara langsung meraih vitamin dan air minum yang diberikan oleh suaminya dengan wajah acuh. Selesai meminumnya Stella tampak hanya diam.


"Apa kau masih memikirkan mengenai Keyla?"


Dion seolah tahu apa yang sedang istrinya pikirkan saat ini. Setelah dia bilang tidak ingin membahas mengenai Keyla. Wajah istrinya langsung berubah dan terlihat lebih diam. Dion mendunga kalau hal itulah yang membuat istrinya mendiamkannnya.


"Kau bilang tidak ingin membahasnya, Kenapa sekarang kau malah mengungkit masalah dia?" tanya Stella dengan wajah ketus.


"Tidak," jawab Stella acuh. Dia mengalihkan pandangannya ke samping tidak mau menatap ke arah suaminya


Dion berdiri setelah itu, membungkuk, meraih dagu istrinya lalu mengecup bibir Stella. "Aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengannya. Aku juga tidak pernah memiliki perasaan padanya sayang," jelas Dion setelah menjauhkan wajah mereka berdua.


Dion akhirnya duduk di samping istrinya. "Aku hanya mencintaimu, sayang." Dion membelai mengusap lembut pipi istrinya. Mencoba untuk membujuk istrinya agar tidak marah lagi padanya.


"Aku minta jaga jarak dengannya," ucap Stella sambil menatap suaminya.


"Aku bisa merasakan kalau dia masih menyukaimu," ungkap Stella.


Melihat tatapn Keyla pada suaminya membuat Stella merasa resah dan cemas, apalagi ketika memikirkan kalau suaminya sering bertemu dengan suaminya setiap hari. Hatinya tidak tenang.


Dion mengangguk. "Iyaa sayang. Aku memang selalu menjaga jarak dengannya agar dia tidak salah paham padaku. Kami hanya bertegur sapa layaknya teman, jika kami tidak sengaja bertemu."


Stella menatap suaminya dengan wajah serius. "Katakan padaku, ada berapa orang lagi yang menyukaimu di rumah sakit?" tanya Stella.


"Tidak tahu sayang. Aku tidak pernah memikirkan hal itu. menurutku itu tidak penting," tutur Dion.


"Tapi menurutku itu penting. Kita sudah menikah. Aku tidak suka kalau ada yang menyukai suamiku," aku Stella.


Dia sebenarnya hanya takut kalau suaminya akan tergoda dengan wanita lain, padahal sudah jelas kalau selama ini Dion tidak pernah menanggapi wanita yang menyukainya.


Dion meraih wajah istrinya lalu menatapnya dari dekat. "Dengarkan aku sayang. Aku tidak akan tergoda dengan mereka, apalagi kau sedang hamil sekarang. Semua keinginanku sudah terpenuhi. Untuk apalagi aku melirik wanita lain kalau aku sudah memiliki istri secantik dan sebaik dirimu."

__ADS_1


Hati Stella sedikit terhibur mendengar perkataan suaminya. "Baiklah, aku percaya padamu."


Dion menaiki tempat tidur lalu menuntun istrinya untuk berbaring. "Lebih kau istirahat sayang. Jangan memikirkan apapun lagi. Tidak baik untuk kehamilanmu." Dion berbaring seraya memeluk istrinya.


"Iyaaa, tapi aku belum mengantuk Dion," ucap Stella sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya.


"Ya sudah, berbaring saja." Dion membelai rambut istrinya dengan penuh sayang.


"Bagaimana kalau besok kita menjemput Alea? Sekalian memberitahukan berita bahagia ini pada mereka semua."


"Iyaa, tapi bagaimana kalau Alea tidak mau pulang?"


Semenjak Alea sering menginap di rumah orang tua Dion, dia jadi betah tinggal di sana. Bagaimana tidak, orang tua Dion dan Reina sangat memanjakan Alea. Padahal Stella sudah meminta pada mertua dan adik iparnya agar tidak memanjakan anaknya.


"Itu artinya kita bisa menghabiskan waktu berdua sayang seperti pengantin baru. Sepertinya Alea sengaja tidak mau pulang supaya kita bisa membuatkan adik untuknya. Dia memang sudah lama sekali ingin memiliki adik."


Dion tersenyum penuh arti pada istrinya. "Bagaimana kalau kita lanjutkan kegiatan kita yang tadi pagi?" tanya Dion sambil tersenyum nakal.


Stella menelan salivanya. "Dion, kau itu dokter, seharusnya tau kalau kehamilan pada trimester pertama sangat rentan terjadinya keguguran," ucap Stella dengan wajah memerah.


"Iyaaa, aku tahu sayang, tapi selama kita melakukannya dengan hati-hati, tidak akan terjadi apa-apa karena menurut Sarah kandunganmu cukup kuat," jelas Dion.


"Apa kau tidak lelah?" tanya Stella cepat.


Dion mengecup bibir istrinya. "Tidak, akhir-akhir ini kau membuatku tidak fokus sayang," ungkap Dion. "Boleh ya? Aku sangat menginginkanmu. Kau membuatku ketagihan sayang."


Dion mulai mengecup lembut leher istrinya sambil kemudian menghisapnya hingga meninggalkan tanda merah.


"Dion." Stella mulai terpancing ketika Dion mulai menelusuri lehernya menggunakan bibirnya.


"Apa sayang?"


"Lakukanlah, tapi jangan sampai terjadi apa-apa dengan anak kita." Stella mulai terbuai dengan sentuhan lembut Dion.


Dion tersenyum lebar. "Iyaa sayang, aku janji tidak akan membahayakan anak kita."


"Baiklah." Stella mulai mengalungkan tangannya ke leher suaminya sambil menautlan bibir mereka.


Melihat lampu hijau istrinya, Dion tidak menyia-nyiakan lagi kesempatan yang ada. Dia langsung mencecap dan memagut bibir istrinya penuh kelembutan. Mereka terus memagut hingga pakaian mereka terlepas dari tubuh mereka.


Setelah memagut dalam waktu lama, Dion melepaskan tautan mereka ketika dirasa istrinya sudah siap untuk menerima dirinya. "Aku mencintaimu Stella," ucap Dion sebelum menyatukan tubuh mereka.


"Aku juga mencintaimu, Dion."


*****


Ibu Dave langsung berjalan ke arah menantunya ketika melihat menantu dan anaknya baru saja memasuki rumahnya. "Masuk sayang." Ibu Dave menuntun menantunya menuju ruang keluarga.


"Duduk sayang." Ibu Dave terlihat duduk di samping menantunya, sementara Dave duduk di sebelah kiri istrinya. "Terima kasih, Ma."


Wajah ibu Dave terlihat sangat gembira melihat kedatangan menantunya. "Bagaimana hasil pemeriksaan cucu mama?" tanya ibu Dave penasaran. Dia mengelus perut Jeslyn terlihat sudah mulai membuncit.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2