
Jeslyn langsung bangun dari tidurnya ketika melihat Dave sedang merapikan lengan kemejanya. "Dave, kau sudah mau berangkat?" tanya Jeslyn sambil menyampirkan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Iyaa, kau tidak perlu mengantarku. Tidurlah kembali jika masih mengantuk," ucap Dave ketika melihat Jeslyn akan turun dari tempat tidur.
Jeslyn berjalan menghampiri Dave. "Aku akan mengantarmu sampai depan," ucap Jeslyn ketika melihat suaminya sudah berjalan ke arah pintu. Dave hanya mengangguk dan membiarkan Jeslyn untuk mengikuti dari belakang.
"Dave, jam berapa nanti kau pulang?" tanya Jeslyn setelah sampai di depan pintu rumah mereka.
Dave menoleh sebentar pada istrinya. "Jam 5 sore," jawab Dave.
Jeslyn berusaha untuk tersenyum. "Baiklah, berangkatlah."
Dave mengangguk. "Mama akan datang sebentar lagi," ucap Dave sebelum dia memasuki mobil. "Hati-hati di rumah."
"Iyaa." Jeslyn mengangguk sambil tersenyum.
Sudah 2 hari berlalu semenjak mereka berdebat. Hubungan mereka terlihat sedikit merenggang. Meskipun Dave sudah tidak mengacuhkannya, tapi Dave lebih banyak diam. Dia hanya berbicara seperlunya. Dave memutuskan untuk bekerja seperti biasa. Sepulang bekerja Dave akan mandi, makan malam dan menyiapkan susu hamil untuk Jeslyn dan setelah itu tidur.
Pagi harinya, Dave akan berangkat pagi-pagi sekali setelah menyiapakan susu hamil untuk istrinya dan mengantarkan sarapan ke kamarnya jika Jeslyn belum bangun saat dia akan berangkat kerja. Seperti pagi ini, Dave sudah meletakkan sarapan dan susu di atas meja nakas.
Setiap hari, Dave selalu meminta ibunya untuk menemani Jeslyn di rumahnya saat dirinya bekerja. Dave akan menanyakan pada ibunya apakah Jeslyn makan dengan benar dan menghabiskan makanannya karena Jeslyn mulai mengalami mual.
Semenjak pertengkaran mereka, Dave memang sudah tidak pernah bertanya apapun pada istrinya. Dave lebih memilih untuk bertanya pada ibunya mengenai keadaan istrinya. Dave juga tidak pernah menelpon Jeslyn lagi saat dia sedang senggang.
Dave tidak lagi sehangat dulu. Meskipun begitu, dia selalu memantau istrinya lewat CCTV yang terhubung di ponselnya. Jeslyn tentu saja merasakan perubahan pada Dave belakangan ini. Tidak ada lagi canda tawa yang terdengar di rumah itu. Jeslyn merasa kalau kali ini, Dave benar-benar marah padanya.
Selama 2 hari ini, Jeslyn selalu menangis di kamar jika Dave sudah berangkat bekerja. Tentu saja, Dave tidak tahu hal itu karena tidak ada CCTV di kamar mereka. Jeslyn sangat menyesal karena sudah membuat Dave marah padanya.
Jeslyn mencoba segala cara agar Dave kembali seperti dulu. Mulai dari mengajaknya ngobrol, menonton televisi bersama, meminta Dave untuk memasak untuknya, mengantarnya ke suatu tempat, tapi tidak berhasil.
Dave memang melakukan semua yang diminta Jeslyn, tapi Dave tidak pernah mengajaknya bicara seperti yang dia biasa ia lakukan dulu. Dia layaknya robot yang hanya menuruti jika diperintah dan akan bicara saat Jeslyn mengajaknya mengobrol. Bahkan Dave sudah tidak pernah memanggilnya sayang lagi. Dave langsung memanggil Jeslyn dengan namanya.
Dua hari lalu, Jeslyn pergi tanpa berpamitan pada Dave dan pulang malam hari ketika Dave sudah berada di rumah. Jeslyn sengaja melakukan itu untuk mengetahui bagaimana reaksi Dave. Dia berpikir kalau Dave pasti akan menegurnya dan bertanya berbagai hal padanya.
Nyatanya, Jeslyn harus menelan kekecawaan karena Dave sama sekali tidak bertanya padanya dengan siapa dan ke mana dia pergi hingga pulang malam. Dave hanya meminta Jeslyn untuk mandi, minum susu hamil dan menyuruhnya untuk segera tidur.
Dave sungguh melakukan seperti yang pernah dia katakan pada Jeslyn bahwa dia tidak akan pernah bertanya apapun lagi padanya dan tidak akan pernah ikut campur lagi urusannya. Dave sudah tidak pernah lagi mengekang dan melarang Jeslyn untuk melakukan apapun yang dia inginkan. Dia benar-benar membebaskan Jeslyn.
Dia juga sudah tidak pernah marah lagi dengan Jeslyn. Meskipun Dave tahu kalau Jesyn sempat menjenguk ayak Ricky di rumah sakit atas permintaan ibunya dan sempat bertemu Ricky di sana.
Sebenarnya Dave melakukan hal itu karena tidak ingin membuat Jeslyn merasa tertekan dan merasa tidak nyaman dengannya. Kata-kata Jeslyn waktu itu membuatnya berpikir kalau selama ini tanpa sadar, dia sudah membuat Jeslyn tidak bahagia dengannya karena dia selalu mengekang, melarang dan mengatur hidup Jeslyn.
Itulah yang membuat Dave memilih untuk membebaskan Jeslyn. Dave sudah tidak pernah lagi membatasi Jeslyn dan terlihat sangat berhati-hati dalam mengucapkan sesuatu agar tidak menyakiti hati istrinya.
__ADS_1
Dave akhirnya lebih memilih untuk memendam perasaannya dari pada mengungkap rasa cemburunya karena takut Jeslyn akan terluka nanti dengan kata-katanya. Dia berusaha untuk menuruti semua kemauan dan keinginan Jeslyn agar istrinya senang.
*******
Hari yang dinanti-nanti oleh Stella dan Dion akhirnya tiba. Hari ini akan menjadi hari yang paling membahagiakan untuk mereka berdua berserta dengan keluarganya. Pernikahan mereka akan digelar pagi ini pukul 10 pagi. Keluarga Dion sudah sibuk dari pagi hari mengecek semua persiapan sebelum acara dimulai.
Stella sedari pagi sudah bangun dan memperiapkan diri untuk dirias. Sudah 2 hari dia Stella tidak bertemu dengan Dion. Keluarga Dion sengaja memissahkan mereka sampai hari pernikahan mereka berdua tiba.
Stella, Reina, ibunya, Alea dan beberapa kerabat Dion yang berasal dari luar kota dan luar negeri tinggal di hotel milik keluarga Dion untuk sementara waktu sampai pesta pernikahan Dion selesai digelar.
"Kak Stella, barusan kak Dion bertanya padaku, apa kau sudah makan?" Reina sedang menemani Stella di kamarnya bersama dengan Jeslyn, sementara sedang bersama dengan ibu Stella di kamar ibunya.
Jeslyn tersenyum sambil menatap Stella mendengar ucapan adik Dion. "Bilang saja sudah," jawab Stella dengan wajah malu.
Stella sedang dirias dalam kamarnya. Dion ingin memastikan calon istrinya sudah makan sebelum acara pernikahan mereka dimulai.
Reina mengangguk lalu mengetik sesuatu pada layar ponselnya. "Setelah menikah kalian akan berbulan madu ke mana?" tanya Jeslyn sambil terus menatap ke arah Stella yang masih dirias.
Stella terlihat tersipu malu. "Dion bilang akan ke lombok dulu, setelah itu baru ke Paris dan Belanda," jawab Stella dengan wajah memerah. Sama seperti Jeslyn, Stella juga tidak melakukan bulan madu pada awal pernikahan mereka.
"Romantis sekali, padahal aku mau ikut, tapi kak Dion melarangku," ucap Reina dengan bibir yang mengerucut ke depan.
Ketika Reina tahu tempat bulan madu kakaknya, dia langsung menyampaikan keinginannya untuk ikut bersama mereka, tapi langsung ditolak oleh kakaknya karena tidak ingin diganggu oleh Reina.
"Mama dan papa tidak akan mengijinkan aku pergi sendiri keluar negeri jika tidak ada yang menemaniku, Kak," ungkap Reina.
Dia sudah pernah berkali-kali meminta ijin untuk berlibur keluar negeri bersama dengan teman-temannya tapi tidak pernah diijinkan orang tuanya jika tidak ada yang mengawasi. Itulah yang membuat Reina kesal karena dia belum pernah sama sekali berlibur keluar negeri selain bersama dengan keluarganya.
Stella merasa tidak enak hati pada calon adik iparnya. "Aku akan membujuk kakakmu agar kau bisa ikut dengan kami, tapi kau harus janji selama di luar negeri kau tidak boleh pergi ke mana-mana sendirian. Kau harus selalu bersama kami jika ingin berjalan-jalan," tutur Stella sambil memandang wajah adiknya dari cermin.
Mulut Reina tebuka dan matanya membesar. "Yang benar kak?" tanya Reina dengan wajah terkejut sekaligus senang. Dia tidak menyangka kalau calon kakak iparnya akan berbaik hati membujuk kakaknya agar dia bisa ikut dengan mereka.
"Iyaaa, nanti kakak akan bicara dengan kakakmu," jawab Stella sambil tersenyum.
Reina langsung bangun dari duduknya dan memeluk Stella dari samping dengan senyum lebarnya. "Terima kasih Kak Stella, Kakak memang terbaik." Reina melepaskan pelukannya lalu duduk kembali di tempat duduknya.
"Aku akan menjaga Alea selama di sana," sambung Reina lagi dengan wajah sumringah.
"Tidak peru Reina, ada Mama yang akan menjaga Alea selama kami pergi," tolak Stella dengan lembut.
Awalnya Dion meminta Stella untuk mengajak serta Alea dan Ibu Stella untuk ikut dengan mereka tapi langsung ditolak oleh Stella. Dia takut kalau Alea akan capek dan kelelahan jika ikut mereka. Stella sudah meminta tolong pada ibunya untuk menjaga Alea selama mereka berbulan madu.
Tentu saja ibu Stella tidak keberatan sama sekali. Dia justru senang karena bisa menghabiskan waktu dengan cucunya. Semenjak menikah dan memiliki anak ibu Stella sangat jarang sekali bertemu dengan anaknya karena papanya Stella sering melarang istrinya untuk menemui Stella.
__ADS_1
Selain ibu Stella, ibu Dion juga berjanji untuk menjaga Alea selama anak dan menantunya berbulan madu. Jeslyn bahkan ikut serta menawarkan diri untuk menjaga Alea tapi langsung ditolak oleh Stella karena tidak mau membebani Jeslyn, apalagi dia sedang hamil. Dia tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa dengan Jeslyn nantinya. Akhirnya Stella memutuskan untuk mempercayakan Alea pada ibu dan ibu mertuanya.
"Aku tidak keberatan menjaga Alea, Kak," ucap Reina lagi.
"Alea di sini saja, kasihan kalau ikut dengan kita," jelas Stella.
"Baiklah. Aku janji tidak akan mengganggu kalian selama berbulan madu." Senyum lebar terus mengembang di wajah Reina.
"Dave, ada di mana, Jes?" tanya Stella sambil melirik Jeslyn yang sedang duduk di sampingnya.
"Dia sedang bersama dengan Glen mengobrol di kamarnya," terang Jeslyn.
Stella meminta Glen untuk menginap di hotel Dion agar dia tidak perlu jauh-jauh untuk menghadiri pesta pernikahannya. Obrolan mereka terus berlanjut hingga Stella selesai dirias dan sudah memakai gaun pengantin.
"Cekrek." Reina langsung mengambil gambar calon kakak iparnya dan mengirimkannya pada Dion.
"Kau cantik sekali, Stella. Aku rasa Dion pasti akan terpana melihatmu nanti," puji Jeslyn ketika melihat penampilan Stella setelah memakai gaun pengantin.
"Iyaa benar, Kakak cantik sekali," timpal Reina sambil mengangguk.
"Sudah waktu kita keluar, Acara akan segera dimulai." Ibu Dion baru saja datang ke kamar Stella untuk menjemput pengantin wanitanya.
****
Senyuman Dion terus mengembang di wajahnya ketika mereka sudah sah menjadi suami istrinya. Dion terlihat tidak malu-malu lagi untuk menggenggam tangan Stella saat berada di pelaminan.
Berbeda dengan Dion, Stella terlihat masih malu-malu. Meskipun begitu dalam hatinya dia merasa sangat bahagia karena kini statusnya sudah berubah menjadi istri dari laki-laki yang sudah mulai mengisi hatinya.
Waktu terus berjalan, tamu masih terlihat masih banyak yang datang. Wajah Stella terlihat mulai kelelahan setelah berada di pelaminan selama lebih dari 3 jam. Tinggal satu jam lagi sampai acara akan selesai. Dion terlihat membantu Stella untuk duduk kembali setelah bersalaman dengan para tamu yang datang.
"Apa kau sudah lelah?" tanya Dion ketika melihat wajah istrinya nampak letih.
"Iyaa," jawab Stella dengan suara pelan.
"Bagaimana kalau kita istirahat sebentar?" usul Dion. Dia tidak tega melihat istrinya yang nampak sudah kelelahan.
Stella menggeleng pelan. "Tidak usah. Acara sebentar lagi akan selesai. Tidak enak dengan tamu lain kalau kita pergi." Stella berusaha untuk menahan rasa lelahnya.
"Baiklah, lalau kau sudah tidak sanggup lagi, katakan padaku," ujar Dion sambil menggengam tangan istrinya.
"Iyaaa."
Bersambung...
__ADS_1