
Felicia tertawa keras. “Maka dari itu seharusnya kau tidak mencari gara-gara denganku.” Felicia langsung mendorong Jeslyn dengan kuat ke arah tangga bawah, sayangnya Jeslyn menarik baju Felicia sehingga mereka berguling bersama sampai lantai bawah.
“Debuuugggg.” Terdengar suara benda jatuh di lantai bawah.
“Awww sakiitt,” teriak Felicia sambil memegang perutnya. Sementara Jeslyn sudah tidak sadarkan diri. Kondisi tubuh Jelsyn yang lemah membuatnya jatuh pingsan. "Bi... Dave..Toloongg.. Sakit..." rintih Felicia dengan suara keras.
Bi Asri yang mendengar kegaduhan langsung berlari menuju asal suara. “Nyonyaaa, apa yang terjadi?” bi Asri langsung menghampiri Jelsyn yang terbaring tidak sadarkan diri di dekat tangga.
“Sakiit Bi, cepat panggil Dave.” Felicia masih berbaring sambil memegang perutnya, darah segar terus keluar dari tubuh bagian bawahnya.
“Tuaaaaaan.” Bi Asti berteriak memanggil Dave dengan suara lantang. "Tuan Dave, toloooong," teriak bi Asri dengan suara keras.
Dave yang mendengar teriakan bi Asri langsung keluar dengan langkah cepat. Dia mengikuti suara bi Asri yang terus memanggil namanya.
Dave langsung berlari menuruni tangga saat melihat Jeslyn dan Felicia sudah tergeletak dengan darah yang terus mengalir dari pangkal paha kedua istrinya. Dave menoleh pada bi Asri. “Apa yang sebenarnya terjadi Bi?” tanya Dave tidak sabar.
“Saya juga tidak tahu, Tuan. Ketika saya mendengar suara benda jatuh, saya langsung berlari ke sini dan melihat Nyonya Jeslyn dan Nyonya Felicia sudah tergeletak di sini," ucap bi Asro dengan wajah takut dan panik.
Dave beralih pada Jeslyn dengan cepat. “ Jelsyn bangun sayang. Jeslyn jangan menakutiku. Jeslyn aku mohon bangun,” ucap Dave dengan wajah panik. Dave terus menepuk pipi dengan wajah panik. “Jeslyn bangun sayang. Jeslyn..!”
“Dave sakiittt,” teriak Felicia sambil menahan sakit. Dave tidak merespon Felicia. Pikirannya dipenuhi oleh Jeslyn. Dia sangat takut terjadi sesuatu pada Jeslyn ketika melihat istri yang dicintainya tidak sadarkan diri.
Dave langsung menoleh pada bi Asri. “Bi, segera hubungi rumah sakit. Minta mereka mengirimkan 2 ambulance ke sini. Cepat Bi..!” perintah Dave dengan wajah panik.
“Baik Tuan.” bi Asri langsung menghubungi rumah sakit.
“Dave, tolong aku, perutku sakit sekali," rintih Felicia sambil terus memegang perutnya.
Dave tidak menoleh sedikit pun pada Felicia. Dia tampak tidak memperdulikan perkataan Felicia. Dia hanya fokus pada Jeslyn. Dia terus menepuk wajah Jeslyn sembari memanggil namanya istrinya.
__ADS_1
“Sayang, bangun sayang..” Dave masih terus brusaha membangunkan istrinya. Dia berharap Jeslyn akan bangun.
Setelah menunggu selama 20 menit, bunyi sirene Ambulance terdengar berhenti di depan rumahnya. Terlihat beberapa pria berpakaian seragam putih dan dokter Sarah masuk ke dalam rumahnya.
“Permisi tuan Dave, saya akan memerikasanya dulu.” Dave menggeser tubuhnya, memberikan ruang kepada dokter Sarah untuk memeriksa istrinya, sementara Felicia diperiksa oleh dokter Seno.
Setelah melakukan pemeriksaan singkat, Jeslyn dan Felicia akhirnya dibawa menuju rumah sakit Dave. Dalam perjalan Dave tidak hentinya memanggil nama Jeslyn. Dia memegang erat tangan istrinya dengan wajah panik dan frustasi. Sementara Felicia ditemani oleh bi Asri di mobil ambulan satu lagi.
Sesampainya di rumah sakit, Jeslyn langsung di bawa ke ruang ICU atas perintah Dave. Dia tidak ingin membawa Jeslyn ke ruang IGD karena terlalu banyak orang di sana. Jeslyn langsung di tangani oleh dokter. Berbeda dengan Felicia yang ditangani di ruang IGD. Dave seolah lupa dengan Felicia, yang ada dipikirannya hanya Jeslyn dan janin yang ada di dalam kandungannya
Selama Jeslyn ditangani di dalam ruang ICU, Dave tampak berdiri di depan ICU dengan perasaan gelisah dan takut. Beberapa kali dia berjalan mondar-mandir menunggu dokter selesai menangani Jeslyn.
Beberapa menit kemudian Dion berjalan menghampiri Dave. Dia mencengkram kuat kerah baju Dave. ”Apa yang terjadi dengan Jelsyn? Aku dengar dia tidak sadarkan diri dan mengalami pendarahan.” tanya Dion dengan wajah penuh amarah. Dia berpikir kalau Dave pasti sudah mencelakai Jeslyn.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi. Jangan mengganguku. Aku sedang tidak ingin membuat keributan di sini.” Dave menyingkirkan tangan Dion dari kerah bajunya dengan tatapan emosi. Dia merasa marah karena Dion tampak sangat peduli dengan istrinya.
“Dengar Dave, aku peringatkan padamu..! Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Jeslyn. Aku akan membuat perhitungan dengamu..!” Dion langsung berjalan masuk ke dalam ICU meninggalkan Dave yang tampak menatap marah padanya.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dave sempat menghubungi ayahnya untuk memberitahukan mengenai kejadian yang menimpa Jeslyn dan Felicia. Setelah mendengar berita yang mengejutkan tersebut, ibu dan ayahnya langsung menuju rumah sakit.
“Aku tidak tahu kejadian yang sebenarnya Ma. Jeslyn masih di dalam.”
“Lalu di mana Felicia?” tanya ibu Dave heran ketika Dave hanya menyebutkan nama Jeslyn saja.
“Dia ada di IGD bersama bi Asri Ma.”
“Bagaimana bisa kau biarkan Felicia ditangani di IGD sementara Jeslyn di sini,” protes ibu Dave dengan wajah marah. Dia sungguh dibuat emosi oleh Dave karena tidak membawa Felicia ke ruang ICU juga.
“Ma, sudahlah. Lebih baik Mama ke IGD. Papa akan menunggu di sini menemani Dave,” ucap ayah Dave menenangkan istrinya.
__ADS_1
Ibu dave menatap marah pada Dave dan suaminya. “Kalian berdua sama saja. Dari dulu hanya peduli dengan Jeslyn.” Ibu Dave pergi dengan wajah marah.
******
Ibu Dave langsung menghampiri dokter yang menangani Felicia baru saja keluar dari ruang IGD. ”Bagaimana keadaan Felicia?” tanya Ibu Dave dengan wajah panik sambil meremas kedua tanggannya.
“Mohon hubungi tuan Dave, Nyonya. Saya harus meminta persetujuan untuk melakukan tindakan operasi.” Dokter yang mengenali ibu Dave sebagai ibu dari pemilik rumah sakit itu langsung menjelaskan mengenai keadaan Felicia.
Mata Ibu Dave langsung terbelalak. Fia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. “Apa??” tanya ibu dengan wajah memucat.
“Nyonya Felicia mengalami pendarahan hebat. Bayi dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan Nyonya. Bayinya sudah meninggal. Kami harus segera mengeluarkan janinnya serta melakukan operasi pengangkatan rahim.”
“Pengangkatan rahim? Itu berarti Felicia tidak akan bisa hamil lagi?” tanya ibu Dave dengan suara bergetar.
“Benar Nyonya.” Ibu Dave langsung terduduk di lantai dengan tubuh lemas. Air matanya langsung mengalir di pipinya.
Dokter yang bernama Seno mencoba untuk membantu ibu Dave untuk berdiri. “Tidaaaakkk.. ini tidak mungkin..!” Ibu Dave berteriak histeris sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
Dia tidak bisa menerima kenyataan kalau Felicia tidak bisa hamil lagi, apalagi bayi dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan. “Pasti ada cara lain selain operasi pengangkatan rahim, kan?” tanya ibu Dave penuh harap.
Dokter Seno menggeleng sambil berkata, “Maaf Nyonya tidak ada,” ucap dokter Seno, ”kami harus segera melakukan operasinya Nyonya, jika tidak akan berbahaya bagi ibu sang bayi karena sedang mengalami pendarahan hebat.”
Ibu Dave langsung mengapus air matanya. Berikan suratnya padaku. Biar aku yang tanda tangan.” Ibu Dave tidak punya pilihan lain selain menyetujui tindakan operasi tersebut. Dia tidak ingin membayakan nyawa menantu kesayangannya.
Dokter tersebut kembali masuk, tidak lama kemudian dokter Seno keluar bersama dengan seorang perawat membawa surat persetujuan tindakan operasi. “Lakukan yang terbaik untuk menantuku,” pinta ibu Dave dengan wajah sedih bercampur cemas.
“Baik Nyonya.”
Ibu Dave duduk melamun di depan IGD. Dia sedang menunggu Felicia untuk di bawa ke ruangan operasi. Air matanya kembali keluar ketika melihat menantunya sedang di dorong menuju ruang operasi. Ibu Dave mengikuti dokter dan beberapa perawat yang sedang mendorong ranjang Felicia.
__ADS_1
Bersambung...