Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Menemani Jeslyn


__ADS_3

Dave berjalan menghampiri Jeslyn yang masih tertidur. Dia berencana untuk pergi ke kantor lebih pagi dari biasanya karena ada meeting dengan rekan bisnisnya dari luar negeri. Dave yang awalnya ingin membangunkan Jeslyn sebelum dirinya berangkat, seketika mengurungkan niatnya saat melihat istrinya tampak tidur dengan lelap.


Setelah Dave selesai mengancingkan lengan bajunya, dia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Dia kemudian mengecup kening Jeslyn sebelum keluar dari kamarnya. "Sayang, aku berangkat dulu," ucap Dave dengan suara pelan.


Belum sampai pintu kamar, Jeslyn membuka matanya. "Dave, kau sudah mau berangkat ke kantor?" Jeslyn bangun dari tidurnya sembari memegang kepalanya saat melihat Dave sudah meraih gagang pintu.


Dave langsung menoleh ke belakang.ketika mendengar suara istrinya. "Iyaa, Sayang."


Dave berjalan menghampiri Jeslyn kembali. "Kau kenapa sayang?" tanya Dave ketika melihat wajah Jeslyn tampak pucat.


Jeslyn terlihat bersandar di sandaran tempat tidur. "Kepalaku sakit," jawab Jesyn lemah dengan mata sendu.


Dave menempelkan tangannya di dahi istrinya. "Badanmu hangat."


Dave menjauhkan tangannya dari kening Jeslyn lalu menempelkan telapak tangan di leher serta memegang lengan. "Apa yang kau rasakan selain sakit kepala, sayang?" Dave membelai wajah istrinya penuh kasih sayang.


"Aku merasa lelah Dave. Perutku juga keram," ungkap Jeslyn.


"Kalau begitu aku akan mengantarmu ke rumah sakit nanti siang, bagaimana?"


Jeslyn menggeleng lemah. "Tidak perlu, Dave. Sepertinya aku hanya kelelahan. Aku juga sepertinya akan datang bulan karena sudah 2 hari muncul flek," terang Jeslyn.


Ada raut kecewa saat Jeslyn mengatakan kalau dirinya akan datang bulan. Padahal dia sangat berharap agar istrinya segera hamil. "Apa kita panggil dokter saja ke rumah?" usul Dave.


Jeslyn tersenyum tipis. "Tidak perlu Dave. Aku adalah dokter. Aku bisa mengobati diriku sendiri. Aku akan meminum vitamin dan obat saja nanti," ucap Jeslyn pelan.


Jeslyn merasa kalau dirinya hanya butuh istirahat yang cukup agar tubuhnya lemas lagi. Saat ini yang dia butuhkan adalah kembali tidur karena dia merasa masih kurang tidur.


"Baiklah, Sayang. Aku akan meminta bi Sarti untuk mengantarkan sarapan untukmu ke kamar."


"Aku tidak lapar, Dave."


Jeslyn sedang tidak memilki nap-su makan saat ini, yang dia inginkan adalah tidur karena kepalanya sakit dan dia sangat mengantuk saat ini.


"Tapi, kau harus tetap sarapan sayang," bujuk Dave lembut, "sarapan roti dan teh hangat ya? Kau harus mengisi perutmu, Sayang," bujuk Dave lagi.


"Baiklah, tapi aku mau tidur dulu sebentar. Aku mengantuk sekali," pinta Jeslyn.


"Iyaaa, Sayang. Aku akan meminta bi Sarti mengantarkan makanan ke kamarmu nanti."


Jeslyn mengangguk. "Kalau begitu aku berangkat kantor dulu," pamit Dave seraya mencium kening istrinya.


"Temani aku tidur, jangan pergi dulu," pinta Jeslyn dengan wajah memohon.


Dave tersenyum melihat sikap manja istrinya. "Aku ada meeting penting pagi ini, sayang. Aku akan terlambat nanti," jelas Dave. Dia sebenarnya juga tidak tega meninggalkan Jeslyn, saat melihat wajah pucat istrinya.


"Kalau begitu pergilah. Jangan pedulikan aku lagi." Jeslyn langsung merajuk saat mendengar penolakan dari suaminya. Dia berbaring seraya memunggungi suaminya lalu menarik selimutnya sampai bagian wajah.


Dave mengerutkan kening saat melihat Jeslyn tampak marah padanya. "Maafkan aku, Sayang. Aku sungguh harus pergi. Ini meeting yang sangat penting," terang Dave dengan suara lembut, "aku akan langsung pulang setelah aku selesai meeting," sambung Dave lagi ketika melihat istrinya hanya diam.


"Sayang, jangan menutupi wajahmu dengan selimut seperti itu. Kau akan sulit bernapas nanti."


Dave berusaha untuk membuka selimut yang menutup wajah istrinya, tetapi langsung ditahan oleh tangan Jeslyn.

__ADS_1


"Pergilah. Aku tidak mau diganggu. Aku ingin tidur," ucap Jeslyn dengan ketus. Dia marah karena Dave tidak mau menemaninya tidur sebentar, padahal, dia sangat ingin ditemani Dave saat ini.


Dave menghela napas panjang ketika melihat kemarahan istrinya. Dia kemudian meraih lengan Jeslyn. "Lihat aku dulu, Sayang."


Dave berusaha untuk membalikkan tubuh Jeslyn, tetapi Jeslyn justru mengeraskan tubuhnya agar Dave tidak bisa membalikkan tubuhnya.


"Kau bilang akan terlambat. Pergilah," ucap Jeslyn dengan suara bergetar.


Baru kali ini, dia melihat Jeslyn begitu marah hanya karena tidak ditemani tidur. Dave berpikir mungkin karena Jeslyn akan datang bulan sehingga membuatnya jadi lebih sensitif.


"Jeslyn," panggil Dave dengan lembut seraya memegang lengan istrinya yang terbungkus selimut.


Melihat istrinya hanya diam. Dia meraih ponsel yang ada di tangannya, setelah itu berjalan keluar kamar untuk menghubungi seseorang.


Beberapa saat kemudian Dave kembali lagi. Sayup-sayup Dave bisa mendengar suara isakan dari arah istrinya. Dave langsung mendekati istrinya dan menyibakkan selimut yang sedari tadi menutup tubuh istrinya hingga bagian kepala.


"Kenapa kau menangis, Sayang?"


Dave sangat terkejut ketika melihat air mata yang sudah membahasi pipi istrinya. Dave sedikit bingung, pertanyaan seketika muncul dibenaknya, apa yang membuat istrinya sampai menangis. "Apa aku sudah membuat kesalahan?"


Jeslyn hanya diam. Dia tidak merespon pertanyaan suaminya. Dia kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya kembali, tetapi ditahan oleh Dave. "Jeslyn, katakan padaku. Apa yang membuatmu menangis?"


"Aku lelah, mau tidur. Pergilah. Bukankah kau memiliki meeting penting pagi ini? Kau bisa terlambat nanti."


Jeslyn menjawab dengan wajah acuh tak acuh. Sebenarnya alasan dia menangis adalah karena melihat Dave keluar dari kamarnya tanpa berpamitan padanya. Dia mengira kalau Dave akan pergi ke kantor tadi.


Tanpa Jeslyn tahu kalau Dave keluar untuk menghubungi Wakil Direktunya agar menggantikan dirinya untuk meeting dengan client penting, tapi Jeslyn justru salah mengartikan ketika Dave keluar begitu saja.


Dave menggulung lengan bajunya lalu membuka 2 kancing atas kemejanya, kemudian naik ke tempat tidur berbaring di depan istrinya. "Aku tidak jadi ke kantor. Aku sudah meminta Mark untuk menggatikan aku."


"Benarkah??" Wajah Jeslyn yang tadinya muram dan sedih seketika berubah menjadi cerah.


Dia merasa senang karena Dave akan menemaninya hari ini. Sebenarnya ibu Dave sudah meminta anaknya untuk cuti karena pernikahan mereka akan digelar 2 hari lagi. Dave juga memang berencana untuk cuti hari ini, tapi saat Diana bilang ada meeting penting dengan rekan bisnisnya yang berasal dari luar negeri, membuat Dave terpaksa mengundur cutinya sehari lagi.


"Hhhmmm," gumam Dave seraya mengangguk kemudian meraih tubuh Jeslyn ke dalam pelukannya. "Tidurlah, Sayang sebentar. Setelah itu kau harus sarapan."


Jeslyn mengangguk dan beringsut ke dada suaminya. "Nyaman sekali," ucap Jeslyn serapa memeluk erat suaminya. "Dave, kau memakai parfum apa?"


Dave langsung mengeryit. "Kenapa sayang?"


"Aku suka sekali wangi tubuhmu." Dave tersenyum. Jeslyn sudah sering kali mengatakan hal itu sampai Dave merasa aneh dengan sikap istrinya. "Aku ingin memakai parfummu agar aku selalu merasa kau ada di dekatku."


Dave terkekeh mendengar itu. "Aku tidak mau memberitahumu," jawab Dave cepat.


Jeslyn buru-buru mendogakkan kepalanya. "Kenapa?" tanya Jeslyn dengan wajah heran.


Dave menunduk, menatap iris hitam istrinya dengan lekat. "Kau tidak akan merindukan aku jika kau sudah memakai parfumku."


Jeslyn memukul pelan lengan suaminya seraya mengerucutkan bibirnya. Dengan gerakan cepat, Dave mengecup bibir istrinya. Dia merasa gemas melihat wajah istrinya. "Dave." Jeslyn memukul dada suaminya.


"Apa kau tidak suka aku menciummu?"


Jeslyn langsung membenamkan wajahnya ke dada suaminya. "Aku ingin tidur. Aku mengantuk." Jeslyn sengaja mengalihkan pembicaraan agar Dave berhenti menggodanya.

__ADS_1


Dave membelai rambut istrinya. "Baiklah. Tidurlah, Sayang."


*****


Jeslyn terbangun setelah tertidur selama 2 jam. Di sebelahnya, masih ada Dave yang sedang fokus pada ponselnya seraya duduk bersandar di tempat tidur.


Dave menoleh ke kiri ketika melihat istrinya tampak bergerak. Dave meletakkan ponselnya lalu menatap istrinya. "Apa kau masih pusing, Sayang?"


"Iyaaa, sedikit. Aku akan meminum obat setelah ini." Jeslyn bangun dari tidurnya lalu ikut bersandar.


"Aku akan meminta bi Sarti untuk menyiapkan sarapan untukmu."


Dave turun dari tempat tidur lalu keluar dari kamarnya. Jeslyn menatap jam dinding yang menujukkan pukul 10 pagi. Dengan langkah pelan, Jeslyn berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok giginya. Dia belum ada tenaga untuk langsung mandi. Dia merasa tubuhnya masih lemas.


Dave berjalan masuk seraya membawa segelas teh hangat dan sepiring roti bakar. "Sarapan dulu, Sayang." Dave meletakkannya di meja.


Jeslyn yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung berjalan menuju sofa tempat Dave sedang duduk.


"Sayang, besok aku akan meminta Zayn untuk menjemput kita pagi hari."


Dave berencana untuk tinggal sehari sebelum acara resepsinya di hotel tempat diadakan resepsi pernikahannya.


"Iyaaa, aku juga sudah meminta Stella untuk menginap bersama kita besok."


Walaupun mereka sudah lama menikah, tapi mengingat 2 hari lagi akan diadakan pesta pernikahannya, membuat Jeslyn merasa gugup. Dia sengaja meminta Stella untuk menginap di hotel yang sama dengannya karena banyak yang ingin dia tanyakan pada Stella.


Jeslyn sudah mendengar kabar mengenai pernikahan Dion dan Stella yang akan digelar dalam waktu dekat. Dion sudah menelpon Jeslyn untuk memberitahuka rencana pernikahannya. Jeslyn tentu saja merasa sangat bahagia saat mendengar berita bahagia tersebut.


Jeslyn sebenarnya sangat terkejut dengan rencana pernikahan Dion dan Stella. Walaupun sebelumnya Dion sudah mengatakan padanya kalau dirinya sedang menjalin hubungan dengan Stella, tetapi tetap saja Jeslyn dibuat tercengang dengan rencana pernikahan mereka yang terkesan mendadak dan terburu-buru.


"Aku tidak menyangka kalau mereka berdua akan segera menikah."


Stella juga sudah memberitahukan rencana pernikahannya dengan Dion pada Dave. Walaupun terkejut, tapi Dave merasa senang atas pernikahan mereka berdua.


"Apa kau tidak rela kalau Stella akhirnya akan menikah? Jangan-jangan kau masih menyukainya?" tanya Jeslyn dengan raut wajah curiga.


Dave tersenyum melihat wajah cemburu istrinya. "Tidak, Sayang. Aku justru sangat senang kalau dia mau menikah lagi. Dia juga pantas bahagia." Dave mencubit pipi istrinya dengan gemas ketika melihat istrinya masih saja menatapnya dengan tatapan curiga.


Dave meraih roti bakar lalu memberikan pada istrinya. "Makanlah, Sayang."


Jeslyn membuka mulutnya ketika melihat Dave ingin menyuapinya. Setelah menghabiskan beberapa potongn roti, Jeslyn lalu menyesap teh hangatnya secara perlahan.


"Aku sudah kenyang, Dave." Jeslyn meletakkan gelas yang berisi teh hangat yang isinya masih banyak.


"Kalau begitu, minumlah obatmu." Jeslyn mengangguk lalu berjalan menuju tempat tidur. Jeslyn membuka laci nakas paling bawah dan memilah obat yang akan dia minum.


"Sayang, bagaimana kalau setelah pesta pernikahan kita selesai. Kita menemui dokter Sarah untuk mengikuti program kehamilan?"


Tubuh Jeslyn langsung membeku. Jeslyn yang sedang menunduk untuk mengambil obat seketika menoleh pada suaminya.


"Dave, bagaimana kalau setelah kita melakukan program kehamilan, ternyata aku tak kunjung hamil juga atau yang lebih parahnya lagi aku tidak bisa hamil lagi? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Jeslyn dengan wajah pias.


"Apa kau akan menceraikan aku dan akan menikah lagi dengan wanita lain?"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2