Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Kepergian Celine (Bonus chap)


__ADS_3

"Apa kalian sungguh keluarga dari Celine?" Dave menatap curiga pada Felix dan Sandra. Dave hanya merasa janggal kenapa mereka baru datang setelah bertahun-tahun lamanya.


Jeslyn langsung menguhubungi Dave ketika ada orang yang mengaku keluarga Celine dan ingin membawanya pergi.


"Tentu saja. Untuk apa kami berbohong." Sandra berusaha untuk tersenyum ramah.


"Berikan aku bukti yang kuat, maka aku akan melepaskan Celine," ucap Dave dengan wajah serius.


"Daveee."


Jeslyn tampak tidak setuju dengan keputusan suaminya. Dia sudah terlanjur sayang dengan Celine seperti anaknya sendiri. Dia tidak mau melepaskan Celine meskipun pada keluarganya. Menurut Jeslyn, mereka sudah menelantarkan Celine cukup lama.


Dave menoleh pada Jeslyn, menggenggam tangan istrinya dengan wajah tenang. "Ini kami bawa dokumen yang bisa membuktikan kalau Celine memang keponakan kami yang sudah lama menghilang."


Dave menerima dokumen tersebut dan memeriksa dengan seksama. Dave meletakkan dokumen tersebut di atas meja lalu menatap pada istrinya. "Kau harus melepasnya sayang. Bagaimana pun mereka adalah keluarganya."


Seketika air mata Jeslyn langsung mengalir deras. Dia sudah tidak sanggup menahan air matanya yang sedari tadi dia tahan.


"Berikan kami waktu untuk mengadakan perpisahan dengan Celine. Istriku sangat menyayangi Celine dan sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri. Aku mohon pengertiannya."


Sandra dan Felix saling pandang. "Baiklah. Kami akan memberikan waktu dua hari. Kami akan kembali lagi untuk membawa Celine," ucap Sandra dengan ramah.


Jeslyn langsung pergi ke kamarnya setelah kepergian Sandra dan Felix. Dave hanya membiarkan Jeslyn menenangkan diri dulu di kamar sementara Dave mencari Celine untuk memberitahukan mengenai keluarga dan kepindahannya keluar negeri.


Dave memberitahukannya dengan sangat hati-hati. Celine hanya diam setelah Dave selesai menceritakan semuanya. Dave bisa merasakan kalau Celine tidak ingin kembali lagi dengan keluarganya.


Celine memang sudah nyaman hidup dengan keluarga Dave dan Jeslyn. Dave hanya bisa memberikan pengertian pada Celine agar dia tidak salah paham. Dave juga sebenarnya tidak mau melepasnya hanya saja dia juga tidak bisa menahan Celine untuk kembali dengan keluarganya.


Setelah berbicara dengan Celine, Dave kembali ke kamar untuk menenangkan istrinya.


"Sayang, kita tidak boleh egois. Mereka adalah keluarga Celine. Kita tidak bisa menahannya," ucap Dave ketika dia sudah duduk di depan Jeslyn yang sedang menangis.


"Tapi, dia sudah menjadi anak kita, Dave. Dia sudah lama tinggal bersama kita. Aku sangat menyayanginya, Dave." Jeslyn masih diliputi kesedihan mendalam mengingat akan berpisah dengan Celine.


Dave menghapus air mata istrinya. "Iyaa sayang, aku tahu, tapi pikirkan juga perasaan keluarganya," ucap Dave lembut.


"Bagaimana kalau Celine tetap ingin tinggal bersama kita? Apa kau akan tetap membiarkannya pergi?"


Dave mengehela napas. "Celine masih kecil sayang. Dia belum tahu mana yang terbaik untuknya." Melihat istrinya terus menangis membuatnya juga merasa sedih. "Kita masih bisa berkomunikasi dengannya. Aku akan meminta paman dan bibinya untuk tidak memutuskan komunikasi dengan kita."


"Tapi aku tidak bisa melepasnya, Dave. Dia itu putriku juga." Jeslyn kembali terisak.


"Bagaimana kalau kita punya satu anak lagi?" Hanya itu cara yang ada dipikiran Dave untuk mengalihkan kesedihan istrinya.


Jeslyn menggeleng. "Sayang, dengarkan aku. Celine hanya pindah ke belahan bumi yang lainnya. Kita bisa mengunjunginya sesering mungkin jika kau merindukannya."


"Aku hanya takut kalau Celine tiba-tiba menghilang tanpa kabar dan melupakan kita semua."


Dave merengkuh tubuh istrinya dalam pelukannya. "Tidak akan sayang. Meskipun itu terjadi, Celine pasti akan mencari kita ketika dia dewasa nanti, percaya padaku."


Jeslyn tidak menjawab hanya bisa menangis dalam pelukan suaminya.


*****


Celine menatap Levin sejenak, sebelum menghampirinya. "Kak," panggil Celine dengan suara rendah.


Levin melirik sekilas pada Celine. "Kenapa?" Levin kembali fokus pada buku yang sedang dia baca.


Celine duduk di depan Levin. "Kakak mau tidak menemani aku pergi jalan-kalan ke mall bersama dengan yang lainnya?" tanya Celine dengan wajah penuh harap.


"Tidak bisa, aku sedang sibuk," ucap Levin datar.


Celine terlihat sedikit kecewa. Sebenarnya sebelum pergi, dia ingin menghabiskan waktu dengan Levin dan meninggalkan kenangan indah bersama Levin dan yang lain.


"Ya sudah." Celine tidak berani memaksa Levin karena takut Levin akan marah padanya.


"Kak, kalau aku pergi, apa kakak akan sedih?" Celine terlihat bertanya sambil tersenyum. Senyum yang dipaksa.


Mendengar itu, Levin seketika mengalihkan pandangannya kepada Celine. "Kenapa? Apa kamu akan pergi? Apa kamu bisa hidup di luar sana sendirian?"


Celine menggeleng. "Aku hanya ingin tahu saja."


Levin menatap Celine cukup lama. "Jangan bicara yang tidak-tidak." Levin kembali menatap buku yang ada di pangkuannya.


"Kalau begitu Celine pergi dulu." Levin hanya mengangguk.


Hari ini adalah hari minggu. Maka dari itu Celine ingin menghabiskan waktu bersama dengan keluarga barunya sebelum dia pergi, tapi karena Levin menolak untuk ikut akhirnya mereka semua pergi tanpa Levin.

__ADS_1


Celine sengaja tidak memberitahukan pada Levin mengenai rencana kepindahannya karena menurutnya Levin tidak akan peduli padanya.


Sepanjang di mall Jeslyn terlihat terus menempel pada Celine. Dia bahkan tidak bisa menahan air matanya setiap membayangkan Celine akan pergi esok hari.


Hanya Jennifer dan Levin yang tidak tahu mengenai kepindahan Celine. Maka dari itu, Jennifer terlihat heran melihat ibunya yang terus saja menangis setiap kali berada di dekat Celine. Puas berjalan-jalan mereka semua pulang ke rumah.


*******


"Kenapa kamu belum bersiap-siap? Apa kamu tidak mau berangkat sekolah?"


Levin terlihat heran melihat Celine yang tidak memakai seragam sekolahnya sementara waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi.


Mereka semua sedang berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama-sama. "Tidak Kak," jawab Celine lembut.


"Kenapa?"


"Levin, cepat habiskan sarapanmu, kau bisa terlambat nanti," sela Jeslyn cepat.


"Mama terlalu memanjakannya." Perkataan Levin tertuju untuk Celine.


"Aku tidak bisa sekolah hari ini, Kak," jelas Celine.


"Terserah padamu," ucap Levin acuh.


Selesai sarapan, Jeslyn dan Dave mengantarkan Jennifer dan Levin ke sekolah. Setelah itu, mereka kembali lagi ke rumah untuk menunggu keluarga Celine datang.


"Aku harap kalian tidak memutuskan komunikasi dengan kami," pinta Dave ketika keluarga Celine setelah berada di rumahnya.


"Tentu saja. Kalian bisa mengunjungi Celine jika kalian kangen dengannya."


"Terima kasih." Sepanjang obrolan mereka Jeslyn hanya diam sambil mendekap Celine dengan air mata yang terus mengalir.


"Kalau begitu kami pergi dulu," pamit Felix.


"Kami akan mengantarkan kalian sampai bandara," tawar Dave.


"Baiklah."


Setibanya di bandara. Jeslyn terlihat tidak mau melepaskan Celine. Dia terus saja memeluk Celine. "Sayang, biarkan Celine pergi." Dave merasa tidak tega melihat istrinya yang terus saja menangis sepanjang perjalanan menuju bandara.


"Iyaa, Ma. Celine sayang sama Mama," ucap Celine sambil memeluk erat Jeslyn.


"Mama juga sayang sekali dengan Celine."


Jeslyn melepaskan kalung peninggalan ibunya dan mengalungkannya pada Celine. "Jangan pernah melepaskan kalung ini ya sayang," pinta Jeslyn setelah selesai memasangkan kalung di leher Celine.


Celine mengangguk. "Iyaa, Ma. Terima kasih."


Setelah berpamitan. Celine dan keluarga masuk ke dalam bandara. Dave dan Jeslyn melambaikan tangan sampai Celine menghilang. Tanpa mereka tahu, kalau itu akan menjadi pertemuan terakhir mereka.


*****


Levin mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah saat baru saja pulang sekolah. Dia seperti sedang mencari seseorang. Tidak menemukan orang yang dia cari, dia memutuskan untuk ke kamarnya setelah makan.


Sore harinya dia kembali mencari seseorang. "Oma, mama di mana?" tanya Levin penasaran.


Sedari siang dia tidak melihat keberadaan ibunya. Dia bahkan merasa heran ketika melihat mobil ayahnya sudah bertengger di garasi rumah mereka padahal masih jam kerja.


"Di kamar." Ibu Dave sedang menemani Jennifer menonton televisi.


Levin memutuskan untuk pergi ke kamar orang tuanya. Sebelum masuk dia mengetuk pintu kamar orang tuanya terlebih dahulu. "Masuk." Terdengar suara serak di dalam kamar.


Levin membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar orang tuanya. Dahinya langsung berkerut ketika melihat wajah sembab ibunya.


"Mama kenapa?" Levin menghampiri ibunya yang sedang berbaring di tempat tidur bersama dengan ayahnya.


"Mama tidak apa-apa." Jeslyn berusaha bangun dari tidur.


"Papa yang buat mama menangis?" Levin memicingkan matanya pada Dave.


"Bukan papa, tapi Celine," ucap Dave acuh.


Mendengar nama Celine disebut seketika Levin berkata, "Merepotkan saja. Kenapa lagi dia?" Levin terlihat sedikit kesal sekaligus penasaran.


"Mama sedih karena Celine pergi," jawab Dave cepat.


Levin mengernyit. "Pergi? Pergi kemana?" tanya Levin dengan wajah penasaran.

__ADS_1


"Swiss," jawab Dave singkat.


"Swiss? Kenapa dia ke sana?" Levin masih tidak bisa menangkap maksud dari perkataan ayahnya.


"Keluarganya membawa Celine kembali ke negaranya. Dia akan menetap selamanya di sana bersama dengan keluarganya," jelas Jeslyn. Air matanya kembali mengalir ketika membahas Celine.


Levin membeku. Dia seperti habis terlempar dari puncak tertinggi dan jatuh ke dasar jurang. Tidak bisa bergerak dan tidak bisa merespon sama sekali dalam waktu beberapa saat.


"Mama membiarkannya pergi? Mama tidak berusaha mencegahnya?" Levin terlihat mulai emosi.


"Mereka keluarganya Levin. Mama dan papa tidak bisa mencegahnya," ucap Jeslyn dengan wajah tidak berdaya. Jeslyn membuka laci nakas di samping tempat tidurnya.


"Dia meninggalkan ini untukmu." Jeslyn memberikan amplop berwarna biru dengan motif bunga.


Levin terlihat tidak mau menerimanya tetapi dipaksa oleh Jeslyn. "Inilah kenapa Levin tidak pernah setuju mama mengangkatnya sebagai anak karena dia pasti akan meninggalkan kita suatu saat nanti. Dan itu terbukti sekarang," ucap Levin dingin.


"Apa Mama tidak takut dia hidup sengsara dengan keluarganya? Bagaimana kalau ada yang mengganggunya dan menyiksanya? Bagaimana bisa Mama melepaskan dia begitu saja? Dia bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri, Ma!" cecar Levin dengan wajah emosi dan nada tinggi.


"Kenapa kau jadi menyalahkan Mamamu? Bukankah kau membenci Celine? Seharusnya kau senang dia sudah pergi." Dave terlihat tidak suka mendengar perkataan anaknya.


Levin menatap tajam pada ayahnya. "Apa aku pernah mengatakan kalau aku membencinya?" tanya Levin dengan wajah marah. "Aku hanya tidak ingin dia menjadi adikku. Itu saja," terang Levin.


"Tapi, sikapmu selau dingin kepadanya, lalu kenapa kau jadi marah saat dia pergi dan menyalahkan mamamu?"


Levin meraih amlop dan berdiri. "Ini memang salah Mama. Seharusnya mama tidak pernah membawa Celine masuk ke dalam kehidupan kita kalau pada akhirnya akan membuat kita semua terluka." Tergambar jelas raut kekecewaan dan kesedihan di wajah tampan Levin.


"Levin, jangan bicaramu!" ucap Dave dengan suara tinggi.


"Mama sudah membuat aku dan Jen terluka dengan kepergian Celine. Aku tidak akan memaafkan Mama sebelum membawa Celine kembali." Levin langsung keluar dari kamar dengan membanting pintu kamar dengan kuat.


"Levin..!!" teriak Dave dengan wajah emosi.


"Dave, sudahlah. Ini memang salahku," ucap Jeslyn dengan suara lemah.


"Anak itu terlalu dimanja sehingga membuatnya kurang ajar," ucap Dave emosi.


Levin masuk ke dalam kamarnya lalu menguncinya. Dia mengatur emosinya sesat, Setelah itu dia mulai membuka surat yang ditinggalkan oleh Celine.


Dear Kak Levin,


Kak Levin, maaf karena aku pergi tanpa berpamitan denganmu. Aku tahu kak Levin pasti tidak peduli juga jika aku pergi. Kakak pasti senang karena aku tidak tinggal bersama kalian lagi. Semoga dengan kepergianku kakak bisa hidup bahagia dan tidak akan membenciku lagi.


Aku juga tidak tahu apa salahku sehingga membuat kakak membenciku. Aku sering memikirkannya, tapi aku tidak menemukan jawaban yang pas.


Apa mungkin karena asal usulku tidak jelas atau karena aku anak yang tidak memiliki orang tua. Atau mungkin kakak tidak suka padaku karena aku mengambil kasih sayang orang tua kakak. Entahlah... hanya kak Levin yang tahu.


Meskipun kakak membenciku, tapi aku sangat menyayangi kakak. Mungkin memang tidak seharusnya aku masuk dalam keluarga kakak, tapi aku tidak menyesal pernah menjadi bagian dari keluarga kakak walaupun hanya sebentar.


Terima kasih karena sudah mau membagi kasih sayang mama dan papa padaku sehingga aku tidak merasa kesepian setelah kepergian ayahku.


Sekali lagi, terima kasih untuk semua kenangan yang aku dapatkan selama aku tinggal dengan keluarga kakak. Mulai sekarang kak Levin bisa hidup dengan tenang tanpa takut aku mengganggumu.


Aku berharap suatu saat kita bisa bertemu lagi, meskipun aku tahu kalau kakak pasti tidak akan mau bertemu denganku lagi, tapi tidak apa-apa, aku bisa mengerti. Semoga kakak bisa hidup bahagia setelah kepergianku. Aku pergi kak. Selamat tinggal...


Celine.....


Levin langsung menitikkan air mata ketika selesai membaca surat dari Celine. "Maafkan aku Celine. Asal kau tahu, aku tidak pernah membencimu."


Levin seketika menyesal karena sudah menolak untuk pergi dengan Celine kemarin. Andai saja dia ikut setidaknya dia memiliki kenangan terakhir bersamanya.


Levin meremas dengan kuat surat yang ada di tangannya sambil menatap lurus ke depan. "Aku berjanji. Suatu saat, aku pasti membawamu kembali lagi ke sini," ucap Levin dengan sungguh-sungguh.


Semenjak kepergian Celine, Levin berubah menjadi lebih dingin dan pendiam. Dia jarang sekali berbicara pada orang tuanya. Dia bahkan selalu mengurung diri di kamar. Itulah salah satu yang membuat Jeslyn merasa sedih.


Meskipun berat, Dave dan Jeslyn berusaha melanjutkan kehidupan mereka seperti biasanya setelah kepergian Celine. Jeslyn kembali aktif bekerja di rumah sakit dan Dave mengurus perusahaannya.


Lambat laun, kehidupan mereka kembali normal seperti sediakala sampai kedua anak mereka semua dewasa.


Bersambung....


Promosi...


Mohon dukungannya untuk karya Author yang baru...Terima Kasih



__ADS_1


__ADS_2