Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Kehamilan Jeslyn


__ADS_3

Wanita itu tampak menghindari tatapan menyelidik Jeslyn. “Namaku Stella. Aku adalah teman lama Dave, ketika aku masih tinggal di indonesia” ucap Stella tenang.


Jeslyn mendekati tempat tidur Dave. Dia bersebrangan dengan Stella, yang terlihat kikuk ketika ditatap oleh Jeslyn. “Stella..?” Jeslyn mengingat nama itu dengan jelas. Nama itu adalah nama yang selalu membuatnya gelisah. “Stella Winarta apakah itu nama lengkapmu?” Jeslyn kemudian duduk di kursinya. Tubuhnya langsung lemas ketika mendengar nama itu.


Stella tampak terkejut ketika wanita di depannya ternyata tahu namanya. Pupil matanya membesar. “Iyaa benar.. Dari mana kau tahu namaku?” Tadinya, Stella ingin menyembunyikan identitasnya, tetapi ternyata Jeslyn sudah tahu namanya.


Jemari tangan Jeslyn tampak gemetar. Perasaannya campur aduk ketika mengetahui siapa wanita yang ada di depannya. “Dave yang pernah memberitahuku.”


Jeslyn masih tetap berusaha tegar. Permasalahan Felicia saja belum beres, Dave juga belum sadar dan kini, masalalu Dave kembali muncul di hadapannya.


“Sejauh mana Dave memberitahumu mengenai aku?” selidik Stella. Dia sedikit terkejut, mendengar pengakuan Jeslyn. Dave adalah orang tertutup, dia jarang sekali memberitahu ke pada siapa-siapa tentang masalah pribadinya.


Jeslyn merasa ada yang aneh dengan sikap wanita yang ada di depannya. “Tidak ada rahasia di antara kami. Dave sudah memberitahuku kalau kau adalah mantan kekasihnya.”


Stella tersenyum tipis. “Hanya itu saja yang dia beritahukan padamu?” Jeslyn merasa kalau Stella saat ini sedang menggali informasi dari dirinya.


“Aku tidak perlu tahu hal lainnya karena menurutku kau hanya masalalu Dave.”


Stella tampak mengangguk-angguk. “Kau benar.. Aku hanya masalalunya, tetapi tida mentup kemungkinan kalau aku bisa menjadi masa depannya.” Jeslyn memicingkan matanya. “Aku hanya bercanda. Kau jangan menganggap serius ucapanku,” ucap Stella sambil tersenyum tipis.


“Jeslyn, itu namamu bukan?” Stella melangkah mendekati Jeslyn.


“Iyaa benar.” Stella mengulurkan tangannya. “Senang bertemu denganmu, Jeslyn.”


Jelsyn tampak ragu sejenak menerima uluran tangan Stella. “Yaa,” ucap Jeslyn singkat sambil mengulurkan tangannya, lalu buru-buru melepaskan setelah berjabat tangan.


“Kalau begitu aku permisi dulu.” Stella melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Dave.


Jeslyn hanya menoleh ketika pintu sudah tertuutp kembali. Kedatangan Stella membuatnya merasa was-was. Bagaiamanapun dia adalah wanita yang pernah Dave cintai. Bahkan mungkin saja sampai saat ini Dave masih mencintainya. Stella adalah satu-satunya wanita yang ingin Dave nikahi dari dulu.


“Dave, kenapa rumah tangga kita begitu berlilku. Apakah sebenarnya kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama?” Jeslyn menatap wajah Dave dengan tatapan sedih.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang Dave? Wanita yang sangat kau cintai kini sudah kembali. Apakah kau akan menceraikan aku sesuai dengan perjanjian awal kita? Sejujurnya, aku tidak siap untuk melepasmu Dave.” Jeslyn merasa tubuhnya mulai lemah lagi.


*****

__ADS_1


Jeslyn membuka matanya. “Bukankah sudah aku bilang untuk menjaga kondisi tubuhmu?” ucap Dokter Sarah dengan wajah marah.


Dokter Sarah merasa marah karena Jeslyn selalu mengabaikan perkataannya. Padahal, dia sendiri tahu bagaimana kondisi tubuhnya yang sebenarnya.


Jeslyn berusaha untuk bangun. “Aku kenapa?” Jeslyn belum tahu maksud dari perkataan dokter Sarah.


“Dokter Sarah duduk di samping Jeslyn. “Tadi kau pingsan di ruangan ICU. Apa kau ingin membunuh janin yang ada di dalam perutmu?”


Saat Jeslyn pingsan, Dion yang menemukannya ketika dia akan memeriksa keadaan Dave. Dion kemudian membawa Jeslyn ke ruangan perawatan yang di tempati Jeslyn.


“Maafkan aku Sarah. Pikiranku sedang kalut,” ucap Jeslyn dengan suara pelan.


“Kau tidak boleh ke mana-mana selama 3 hari. Kau harus berbaring di tempat tidur agar kondisimu membaik.”


Dokter Sarah mulai melunak saat melihat wajah sendu Jeslyn. Dia tahu kalau jeslyn masih terpukul dengan keadaan suaminya yang masih koma.


“Tapi aku harus menemui Dave Sarah.”


“Kau bisa menemuinya kalau kondisimu sudah sehat.” Dokter Sarah berdiri, “makanlah. Setelah itu istrirahat. Aku harus bekerja lagi.”


Jeslyn meraih nampan yang ada di atas nakas kemudian mulai mengisi perutnya. “Sayang ... tetaplah kuat. Mama minta maaf kalau selama beberapa hari ini mama mengabaikanmu,” ucap Jeslyn ketika dia selesai makan. Dia mengelus dengan lembut perutnya


“Jeslyn, mama iingin bicara denganmu.” Ibu Dave masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


Jeslyn yang baru saja akan tidur, kembali membuka matanya. “Ada apa, Ma?” Jeslyn bangun dari tidurnya. Dia menatap heran pada ibu mertuanya.


“Apa kau ingin membawa Dave ke Singapura secepatnya?” Ibu Dave langsung ke intinya. Dia tidak mau berlama-lama berbicara dengan menantunya.


“Iyaa Ma ... Aku sudah meminta dokter Dion untuk mencarikan dokter terbaik di di Sungapura untuk menangani Dave nanti.”


Ibu Dave beridiri tepat di samping Jeslyn. “Mama akan membawa Dave ke Singapura besok, tapi dengan satu syarat.” Ada rasa khawatir di dalam hati Jeslyn ketika mendengar ucapan ibu mertuanya.


“Apa, Ma?”


“Bercerailah dengan, Dave.”

__ADS_1


Jeslyn langsung diam mematung. Tiba-tiba saja pikiran menjadi kosong. Dia tidak menyangka kalau ibu mertuanya akan mengambil kesempatan ini untuk memisahkannya dari Dave.


“Aku tidak mau, Ma,” tolak Jeslyn tegas.


“Kalau begitu, mama tidak mengijinkan siapapun untuk membawa Dave ke Singapura,” ancam ibu Dave.


Jeslyn merasa kalau, kali ini mertuanya sudah keterlaluan. “Ma, tidak bisakah mama mengabaikan aku saja. Aku tidak ingin bercerai dengan Dave Ma. Aku akan menuruti apapun selain bercerai dengan Dave. Aku sangat mencintainya Ma.”


“Mama tidak peduli, jika kau tidak bercerai dengannya, maka Dave akan tetap berada di rumah sakit ini. Mama tidak akan memperbolehkan siapapun membawa Dave pergi.”


“Tapi Ma..”


“Tidak ada tapi-tapian.” Ibu Dave melemparkan surat perceraian di pangkuan Jeslyn. “Jika kau ingin Dave mendapatkan perawatan terbaik di Singapura kau harus menandatangani surat itu. Setelah kau tanda tangan, maka kau akan secara resmi bercerai dengan Dave,” jelas ibu Dave dengan wajah tegas.


Jeslyn tidak menyangka kalau Ibu Dave bisa mengancamnya dengan menggunakan nyawa anaknya sendiri. “Ma.. Jika Mama memaksaku bercerai dengan Dave dengan cara seperti ini, Dave pasti akan membenci Mama.” Jeslyn berusaha sekaut tenaagan untuk tidak menangis di depan ubu mertuanya.


“Itu adalah urusanku.”


“Aku tidak mau Ma," tolak Jeslyn dengan cepat. Jeslyn menyodorkan kembali surat itu kepada ibu mertuanya.


“Dion dan aku sendiri yang akan menagani Dave sampai dia bisa bangun.”


“Kau.. berani sekali menolak tawaranku,” ucap Dave dengan wajah emosi.


“Ma, aku tidak bisa bercerai dengan Dave, karena aku sedang mengandung anaknya Dave. Calon cucu mama.”


Mata Ibu Dave terbelalak. "Apa?" Dia belum yakin dengan apa yang baru saja dia dengar. “Aku sedang hamil anak Dave Ma.”


Ibu Dave menggeleng-gelengkan kepalanya.“Tidak mungkin.. Ini tidak mungkin, bukankah kau mandul? Bagaimana bisa kau hamil anak Dave?” ibu Dave tampak masih belum percaya dengan ucapan Jeslyn.


“Jika, mama tidak percaya. Silahkan tanya pada dokter Sarah. Dia adalah dokter Obgynku.” Jelsyn menatap ibu mertuanya dengan raut wajah serius.


“Kau pasti berbohong. Apa kau sedang bersandiwara di depannku?”


“Kenyataannya aku memang sedang hamil anak Dave. Di rahimku ada calon penerus keluarga Tjendra.”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2