
Stella terlihat bingung. "Dion tidak akan mendengarkan perkataanku Reina," jawab Stella dengan wajah pasrah.
Dion beralih menatap Stella. "Aku akan menuruti perkataanmu," sela Dion dengan wajah tenang.
Reina berdiri lagi dan duduk di samping Stella. "Tuh kan kak. Kak Dion pasti mendengarkanmu. Dia tidak mungkin mengabaikan permintaan calon istinya," ucap Reina dengan wajah senang. "Tolong bujuk kak Dion kak," pinta Reina sambil menyatukan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.
Stella menatap Dion dengan wajah ragu. "Lebih baik kau istrirahat. Aku akan mengantarmu ke kamar," ucap Dion sambil berdiri.
Ibu Dion seketika tersadar. "Benar juga. Ini sudah larut malam. Maaf ya Stella. Mama sampai lupa," ucap Ibu Dion dengan wajah bersalah.
"Tapi kak, kau harus mencabut ucapanmu dulu. Kau tidak mungkin tega denganku, kan?" Reina terlihat masih belum menyerah juga. Dia takut kalau kakaknya akan benar-benar melakukan apa yang dia katakan.
"Reina, jangan ganggu kakakmu."
"Tapi Ma...."
"Kak Stella, nati tolong bujuk kak Dion ya?" pinta Reina dengan wajah memelas.
"Sudah jangan dengarkan dia." Dion langsung menarik tangan Stella menuju lantai dua.
"Tapi Dion...." Stella terlihat tidak tega melihat wajah adik iparnya yang sedang mengiba padanya.
Dion terlihat acuh. Dia terus saja menarik Stella sampai di depan kamarnya. "Masuklah." Dion sengaja membawa Stella ke kamarnya karena takut Stella tidak merasa nyaman jika harus tidur di kamar tamu.
Stella terlihat ragu. Dia berjalan masuk ke dalam kamar dengan langkah pelan. Stella berhenti tepat di depan tempat tidur. "Dion," panggil Stella dengan suara pelan.
Dion mendekati Stella setelah menutup pintu kamarnya. "Kenapa? Apa kau masih memikirkan permintaan Reina?" Dion terlihat berdiri tepat di depan Stella.
Stella mengangkat wajahnya menatap wajah Dion. "Kasihan Reina, Dion."
Dion menyunggingkan senyumnya. Dia menunduk dan menatap wajah Stella dari jarak dekat. "Kalau begitu katakan padaku, bagaimana caranya kau membujukku agar aku mau merubah keputusanku?"
Bola mata Stella terus bergerak. Dia berusaha untuk mengalihkan pandangannya. "Aku tidak tahu," jawab Stella dengan suara pelan.
"Apa aku harus mengajarimu bagaimana caranya membujukku?" tanya Dion.
"Apa yang kau inginkan agar kau mau merubah keputusanmu?"
Sebenarnya Stella merasa tidak enak hati karena Reina sudah meminta tolong padanya. Dia tidak mau kalau sampai Reina kecewa jika dia tidak berhasil membujuk Dion. Dia juga tidak ingin kalau Reina sampai membencinya.
Tentu saja Stella tahu bagaimana rasanya dibenci oleh pihak keluarga suami dan dia tidak mau itu terjadi. Cukup keluarga Daniel yang memperlakukannya dengan buruk. Dia tidak mau kejadian dulu terulang lagi.
Dion menatap Stella sejenak dan tersenyum penuh arti. "Apa kau sungguh tidak tahu apa yang kuinginkan darimu?" tanya Dion dengan alis terangkat.
Stella menatap ke bawah seraya berkata, "Aku tidak tahu," jawab Stella dengan suara sangat pelan. "Katakan saja padaku apa yang kau inginkan dariku. Aku akan berusaha mengabulkan keinginanmu," sambung Stella lagi. "
Dion menyeringai. "Benarkah kau akan mengabulkan apapun yang aku inginkan?" tanya Dion memastikan.
Stella mengangguk. "Selama permintaanmu masih masuk akal dan aku bisa melakukannya," terang Stella.
"Aku tidak yakin kalau kau bisa memberikan dengan mudah apa yang aku inginkan." Dion terlihat masih ragu pada ucapan Stella.
__ADS_1
"Katakan saja," ucap Stella dengan suara rendah.
"Tatap aku Stella, kenapa kau terus menghindari tatapanku saat aku sedang berbicara padamu?" tanya Dion seraya menangkup wajah Stella.
"Maaf." Stella berusaha untuk memberanikan diri menatap Dion. "Sekarang katakan padaku apa yang kau inginkan?" Stella terlihat mulai tidak sabar. Dia ingin segera mengakhiri pembicaraan mereka.
"Aku akan meminta sesuatu yang paling sulit aku dapatkan darimu. Keinginan yang mungkin akan sulit kau berikan padaku," jawab Dion dengan wajah serius.
"Me-memangnya apa yang kau inginkan dariku?" tanya Stella dengan gugup.
Ada firasat tidak enak yang dia rasakan ketika melihat ekspresi Dion apalagi setelah mendengar ucapannya. Ada beberapa pikiran buruk yang terlintas di benaknya.
"Hatimu. Berikan seluruh hatimu untukku," jawab Dion dengan wajah serius.
"Haaaahhh?" Jawaban dari Dion sukses membuat Stella tercengang.
"Kenapa kau terkejut sekali? Apa permintaanku sangat sulit dipenuhi?" tanya Dion dengan wajah penasaran.
Stella terlihat masih terdiam. Tidak pernah terpikirkan olehnya kalau Dion akan meminta itu darinya. "Aku sudah mendunga kalau kau pasti tidak bisa memberikannya padaku." Dion terlihat sedikit kecewa.
"Bukan itu maksudku. Aku hanya terkejut Dion. Akuu....." Stella akui kalau dirinya sebenarnya sudah mulai jatuh cinta pada Dion. Kebaikan, ketulusan dan sikap sabar Dion terhadapnya mampu meluluhkan hatinya.
Dion langsung memotong ucapan Stella. "Kau tidak perlu merasa terbebani. Aku tidak akan memaksamu. Aku tahu kalau permintaanku sulit untuk dipenuhi. Aku akan sabar menunggu sampai kau bisa menerimaku." Dia terlihat memaksakan diri untuk tersenyum.
"Tidurlah. Ini sudah malam. Kalau kalau kau butuh sesuatu kau bisa menghubungiku atau datang ke kamar paling ujung sebelah kiri. Aku tidur di sana," terang Dion. Tanpa menunggu jawaban Stella, Dion sudah melangkah ke arah pintu.
Stella menyusul Dion dan menahan tangannya. "Tunggu Dion."
"Aku akan memberikan seluruh hatiku padamu," jawab Stella dengan wajah malu-malu. Dia kemudian maju, berjinjit dan mencium pipi Dion secepat kilat. "Selamat malam." Stella langsung melangkah meninggalkan Dion yang masih mematung di dekat pintu.
Dia memegang pipinya lalu menyusul langkah Stella. "Kenapa kau meningglakan calon suamimu begitu saja setelah kau menciumnya?" Dion menghadang Stella tepat di depannya.
"Bukankah kau bilang akan kembali ke kamarmu?" tanya Stella dengan wajah heran.
Alis Dion terangkat satu. "Kamarku?? Ini adalah kamarku Stella. Jadi, kau berharap untuk tidur denganku malam ini di kamar ini?" Dion mulai menjahili Stella lagi.
"Bukan itu maksudku. Maksudku adalah...."
"Baiklah kalau itu maumu. Aku akan tidur di sini." Dion langsung merebahkan dirinya di tempat tidur dengan wajah acuh.
Stella terkesiap menatap Dion yang terlihat berbaring miring dengan tangan kanan ditekuk dan bertumpu di tempat tidur dengan wajah santai. "Kenapa kau berdiri di sana. Kemarilah." Dion menepuk tempat yang ada di depannya.
"Dion, jangan bercanda," ucap Stella. "Mama bisa memarahi kita kalau sampai dia tahu kalau tidur di sini."
"Biarkan saja mama tahu. Kemungkinan terburuknya adalah kita akan langsung dinikahkan besok," tutur Dion dengan santai. "Aku justru senang kalau pernikahan kita dipercepat."
Stella mendekati Dion lalu menarik tangannya. "Tidak. Kau tidak boleh tidur di sini, Dion. Cepat bangun."
Stella terlihat kesulitan untuk menarik tubuh Dion agar dia bangun dari tidurnya. Karena tubuh Dion yang tinggi membuat Stella membutuhkan tenaga ekstra untuk sekedar membangunkan Dion dari tempat tidur.
"Kau tidak akan bisa membangunkan aku, Stella. Tubuhmu kurus sekali seperti tidak memiliki tenaga," ejek Dion.
__ADS_1
Tubuh Stella memang lebih kurus dari Jeslyn. Tinggi mereka juga tidak terlalu jauh bedanya, tetapi jika dibandingkan dengan Dion tentu saja terlihat perbedaan yang sangat jelas. Dion memiliki tinggi 184 CM, Sementara Stella hanya 168 CM.
"Dion, jangan bercanda lagi. Cepat bangun!" Stella terlihat sudah tidak sanggup untuk menarik tubuh Dion.
"Aku akan bangun kalau kau menciumku," ucap Dion dengan santai.
Stella langsung melepaskan tangan Dion. "Aku akan memanggil mama jika kau tidak juga mau keluar dari sini," ancam Stella dengan wajah serius.
"Silahkan saja. Aku tinggal bilang kalau kau takut tidur sendiri dan meminta aku untuk menemanimu," balas Dion dengan wajah acuh. Tidak nampak sama sekali kepanikan di wajah Dion.
Stella menghela napas. "Kau pilih menciumku atau aku tidur di sini?" Dion merasa gemas melihat wajah tidak berdaya Stella.
"Kalau begitu biar aku saja yang tidur di kamar tamu." Stella langsung melangkah menuju pintu.
Dion langsung bangun dari tidurnya dan berlari mengejar Stella. "Kau mau ke mana sayang?" Stella terperanjat saat melihat Dion sudah berdiri di belakang pintu.
"Minggir Dion," pinta Stella.
Dion berjalan mendekati Stella lalu dengan gerakan cepat langsung merapatkan tubuh Stella di tembok dekat pintu. "Kalau aku tidak mau bagaimana?" tanya Dion sambil mengurung tubuh Stella diantara kedua tanggannya yang sedang bertumpu pada tembok.
Alarm berbahaya mulai berbunyi di kepala Stella. "Dion, lebih baik kau keluar. Nanti ada yang melihat," ucap Stella dengan wajah cemas.
"Aku tidak akan keluar sebelum kau menciumku," terang Dion.
"Ak-aku... Bukankah tadi kita sudah," ucap Stella dengan wajah memerah ketika dia baru saja mengingat pagutan mereka saat dirumahnya.
Dion tersenyum tipis. "Itu berbeda. Tadi aku yang menciummu. Yang aku minta sekarang adalah kau yang menciumku."
"Tapiiii..." Stella terlihat ragu-ragu.
Dion meraih dagu Stella. "Kau begitu biar aku yang melakukannya kalau kau tidak mau."
Seperdetik kemudian bibir mereka berdua kembali menyatu. Entah mengapa setelah mencium bibir Stella untuk pertama kalinya. Bayangan saat mereka berciuman selalu terlintas dibenaknya. Dion jadi ingin merasakannya lagi setiap kali melihat bibir Stella apalagi kalau melihat wajahnya memerah karena malu.
Dion melingkarkan tangannya kanannya di pinggang Stella dan tangan satu lagi di tengkuknya. Mereka terus memagut dan sailng mencecap dengan penuh kelembutan, hingga akhirnya Dion mengakhiri pagutan mereka ketika merasa ciuman mereka mulai memanas.
Dion menyentuh bibir Stella dengan jari telunjuknya. "Mulai saat ini, bibir ini hanya akan menjadi milikku."
Stella sudah tidak berani menatap Dion. Dia sedari tadi menolak untuk mencium Dion, nyatanya dia menikmati ketika Dion menciumnya tadi. Dia bahkan ikut membalasnya tanpa rasa ragu.
"Kau masih saja malu padaku," ucap Dion ketika melihat Stella menunduk dengan wajah memerah.
"Kalau begitu tidurlah." Dion mencium pucuk kepala Stella. "Aku keluar dulu."
Stella mengangkat kepalanya. "Iyaa," jawab Stella dengan suara pelan.
Bersambung ..
Jika berkenan, silahkan baca juga karya baru Author dibawah ini.
__ADS_1