Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Menggugatmu


__ADS_3

Dion membawa Jeslyn untuk duduk di sofa. “Apa kAu sudah memberitahu Dave kalau Felicia masuk rumah sakit?”


Jeslyn sudah pernah menjelaskan pada Dion tentang pernikahannya dengan Dave dan Dion hanya berpura-pura terkejut saat Jeslyn menceritakannya saat itu.


“Sudah. Dia sedang dalam perjalanan menuju ke sini.” Jeslyn masih merasa terkejut dengan berita kehamilan Felicia.


“Apa kau sudah makan?” Dion melihat wajah Jeslyn tampak pucat dan pandangannya kosong.


“Belum,” jawan Jeslyn lemah. Saat di rumah tadi Jeslyn berencana untuk memasak makanan karena dia merasa lapar.


Dion berdiri. "Kau tunggu di sini.” Kemudian berjalan keluar untuk membelikan Jeslyn makanan.


Tidak lama setelah kepergian Dion. Felicia mulai membuka matanya. “Kau sudah sadar?” Jeslyn mendekati Felicia.


Felicia langsung menatap tajam pada Jeslyn. “Untuk apa kau di sini? Bukankah kau senang kalau aku terbaring di sini?” tanya Felicia dengan nada tinggi.


“Fel, sebaikanya kau jangan marah-marah. Tidak baik untuk kesehatan janinmu,” ucap Jeslyn dengan suara rendah.


“Ja-janiiinn?? Apa maksudmu?” tanya Felicia dengan wajah terkejut.


“Kau sedang hamil.” Jeslyn berusaha untuk tetap tegar di depan Felicia.


“Hamiiil??” Felicia tampak sangat terkejut.


Jeslyn memicingkan matanya. “Kenapa kau sangat terkejut? Apa kau tidak menyadari kalau kau sedang hamil?”


Felicia langsung menatap Jeslyn. “Tentu saja aku terkejut. Akhirnya aku hamil. Aku hamil anak Dave. Itu berarti kau yang harus keluar dari rumah.” Felicia merasa sangat bahagia. Dia tidak menyangka kalau dirinya hamil.


“Apa yang terjadi?” Terdengar suara lantang dari belakang mereka. Felicia dan Jeslyn langsung menoleh.


“Mama ... Aku hamil, Ma,” ucap Felicia dengan wajah senang.


Ibu Dave langsung menghampiri Felicia dengan wajah bahagia. “Benarkah?” tanya Westi sambil memegang tangan Felicia.


“Iyaaa, Ma. Aku hamil. Mama akan segera memiliki cucu,” ucap Felicia senang.


“Mama sangat senang mendengarnya. Mulai sekarang kau tidak boleh lelah. Aku akan meminta Dave untuk menjagamu setiap malam.”


Westi merasa sangat bahagia karena akan segera memiliki cucu. Dia tidak menyangka kalau Felicia akan hamil secepatnya ini melihat Dave selalu mengacuhkan Felicia.


“Tapi Ma, Dave pasti tidak akan setuju. Dia pasti lebih memilih tidur dengan Jeslyn dari pada aku.” Felicia tahu kalau Dave pasti akan menolaknya nanti.

__ADS_1


“Kau tenang saja, mama akan memaksanya. Dia tidak bisa lagi mengacuhkanmu saat kau sedang mengandung anaknya,” ucap ibu Dave menenangkan. “Lagi pula, tidak ada gunanya dia selalu tidur dengan wanita mandul ini. Lihat saja ... sampai sekarang dia belum hamil juga.”


Kata-kata Ibu Dave langsung menghujam tepat di jantung Jeslyn. Matanya mulai berkaca-kaca.


“Lalu kenapa kau bisa pingsan?” tanya ibu Dave lembut.


Felicia melirik sekilas pada Jeslyn yang tampak terdiam. “Jeslyn mendorongku hingga pingsan, Ma.”


Felicia sengaja memfitnah Jeslyn agar dia terkena amarah ibu mertuanya. Dia selama ini sudah memendam dendam pada Jeslyn karena Dave selalu mengacuhkannya.


Ibu Dave langsung berdiri menghampiri Jeslyn. “Plaaakk.” Ibu Dave menampar Jeslyn dengan kuat.


“Berani sekali kau menampar menantu kesayanganku,” ucap Westi dengan wajah penuh amarah.


Dia langsung emosi ketika tahu Jeslyn yang mendorong Felicia hingga pingsan. Dia tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa dengan kandungan Felicia.


Jeslyn langsung memegang pipi yang ditampar ibu mertuanya. “Maa, dia duluan yang mendorongku. Aku hanya membela diri saat dia menyerangku terlebih dahulu.”


Jeslyn sebenarnya tahu, tidak ada gunanya dia membela diri. Ibu mertuanya pasti lebih mempercayai ucapan Felicia dari pada dirinya.


“Beraninya menuduh Felicia.”


“Cukup Nyonya, jangan menamparnya lagi.” Dion menahan tangan Westi saat akan menampar Jeslyn lagi.


Westi langsung menoleh pada Dion. “Jangan ikut campur urusanku. Apa kau tidak tahu siapa aku?” Ibu Dave berkata dengan nada tinggi.


Dion melepaskan tangan Ibu Dave. “Aku tidak peduli anda siapa. Ini rumah sakit, dilarang membuat keributan di sini, apalagi anda berani menampar salah satu dokter rumah sakit ini. Saya bisa saja melaporkan anda karena sudah bersikap kasar pada Jeslyn.”


“Aku akan menyuruh Adnan untuk segera memecatmu.” Ibu Dave beripikir kalau Dion tidak tahu kalau dia adalah ibu dari pemilik rumah sakit tersebut.


“Silahkan. Aku tidak takut. Aku bukan orang yang bisa kau rendahkan seenaknya. Kalau kau ingin merendahkanku dengan statusmu, aku juga bisa menggunakan status keluargaku untuk melawanmu.” Ibu Dave tidak tahu kalau Dion berasal dari keluarga terpandang juga.


“Kau itu hanya dokter yang bekerja di rumah sakitku. Kau tidak akan bisa melawanku,” ucap Westi meremehkan.


“Kita lihat saja, apa kau masih bisa merendahkan aku saat kau tahu status keluargaku.”


“Lebih baik kalian keluar dari sini. Aku tidak ingin melihat kalian berdua,” usir Ibu Dave.


Dion langsung menatap Jeslyn. “Apa kau tidak apa-apa?” tanya Dion pada Jeslyn dengan wajah khawatir.


“Aku tidak apa-apa Dion,” jawan Jeslyn pelan. Dia masih terguncang dengan berita kehamilan Felicia sekaligus atas perlakuakn buruk ibu Dave.

__ADS_1


“Lebih baik kita keluar.” Jeslyn mengangguk pelan.


Dion melingkarkan satu tangannya ke bahu Jeslyn lalu tangan satunya memegang lengannya. Dion lalu memapah Jeslyn yang masih terlihat pucat dan lemah. Mereka melangkah keluar dari ruangan Felicia.


“Menjauh dari istriku.”


Terdengar suara berat Dave yang menatap Dion dengan tatapan menyala. Dia langsung mendorong tubuh Dion, saat Dion tidak kunjung melepaskan tangannya dari Jeslyn.


“Jangan pernah berani menyentuhnya lagi,” ucap Dave dengan wajah emosi. Dia sangat marah saat melihat Dion merangkul istrinya.


Dion mendekati Dave. “Seharusnya kau bisa menjaga istrimu dengan baik. Jangan sampai ibumu memperlakukan Jeslyn seenaknya.”


“Apa maksudmu?”


“Kau cari tahu sendiri apa yang sudah ibumu lakukan pada Jeslyn.” Dion merasa sudah sangat kesal dengan Dave dan ibunya. “Ayoo Jeslyn.” Dion menarik tangan Jeslyn lagi.


“Tunggu! Aku tidak akan membiarkanmu membawa istriku.” Dave menahan tangan Jeslyn yang satu lagi.


“Dave, lepaskan tanganku,” ucap Jeslyn tanpa menoleh pada Dave. Dia merasa tidak sanggup lagi untuk berdebat dengan Dave.


Dave menatap Jeslyn. Dia merasa heran dengan sikap Jeslyn yang tiba-tiba berubah dingin padanya. Padahal sebelum dia berangkat keluar kota, hubungan mereka baik-baik saja. “Jeslyn, aku tidak akan mengijinkanmu pergi dengan laki-laki ini.”


“Dave aku lelah. Lebih baik kau urusi istrimu yang sedang hamil itu.” Jeslyn langsung menghempaskan tangan Dave.


Dave yang terkejut mendengar ucapan Jeslyn langsung menghadang di depannya. “Apa maksudmu?” tanya Dave dengan alis bertautan


Jeslyn menatap dingin pada Dave. “Felicia sedang hamil. Dia hami anakmu.”


“Tidak mungkin. Aku tidak pernah menyentuhnya,” elak Dave dengan tegas.


Jeslyn tertawa sinis. “Itulah kenyataanya Dave. Dia memang sedang hamil. Kau bisa bertanya langsung pada dokter Sarah jika kau tidak percaya.”


Dave langsung terdiam setelah mendengar penuturan Jeslyn. “Segera urus perceraian kita. Felicia sudah hamil anakmu. Kau sudah tidak memerlukanku lagi."


Dave langsung terkejut. "Aku tidak mau. Bukankah kita sudah sepakat untuk terus bersama apapun yang terjadi? Aku sudah membakar surat perjanjian itu Jeslyn. Aku tidak akan menceraikanmu." Dave tidak menyangka kalau Jeslyn akan membahas masalah perceraian lagi dengannya.


"Terserah padamu. Kalau kau tidak mau menceraikanku. Maka aku yang akan menggugatmu," ucap Jeslyn acuh tak acuh.


Dave langsung mematung saat mendengar perkataan Jeslyn. "Ayo, Dion kita pergi.” Jeslyn berjalan meninggalkan Dave yang tampak masih terdiam.


Dave hanya memandang Jeslyn dan Dion yang terlihat sudah berjalan menjauh darinya. Tangannya mengepal lalu berjalan masuk ke dalam ruangan Felicia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2