
Dengan perasaan bahagia, Dave melangkah menuju kamarnya. Senyuman lebar tidak pernah luncur dari wajahnya. Jantungnya berdebar kencang ketika mendengar Stella mengatakan kalau Jeslyn sedang hamil. Perasaannya campur aduk, tapi didominasi dengan perasaan bahagia.
Dave membuka pintu dengan pelan. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar saat tidak mendapati istrinya. Perasaan takut mulai menghinggapi Dave. Dia berpikir kalau Jeslyn pergi tanpa sepengetahuannya.
Dave terlihat terdiam sesaat. Tidak lama setelah dia masuk, terdengar pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah sosok yang dia cari sedari tadi. Hati Dave langsung lega. Dia kemudian menghampiri Jeslyn dan langsung memeluknya erat.
Mata Jeslyn membesar dan alisnya terangkat. "Aku kira kau pergi," ucap Dave dengan suara berat.
"Aku habis membersihkan tubuhku." Jeslyn berniat melepaskan pelukan suaminya, tapi ditahan oleh Dave.
"Kenapa kau pergi begitu saja tadi sebelum mendengar penjelasanku?" Dave membelai rambut Jeslyn seraya menghirup aroma sampo dari rambutnya.
"Aku takut mengganggu kalian," jawab Jeslyn jujur.
Dave mengurai pelukannya lalu menarik Jeslyn ke tempat tidur. Mereka duduk berhadapan di tepi tempat tidur.
"Dengar sayang. Orang yang aku cintai saat ini hanya kau. Aku tidak memiliki perasaan apapun pada Stella. Jika memang aku ingin kembali padanya, sudah kelakukan saat kau meminta cerai ada padaku waktu itu." Dave berusaha untuk meyankinkan Jeslyn yang terlihat masih ragu dengannya.
Jeslyn menunduk dengan perasaan bersalah. "Maaf Dave." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya. Jeslyn tidak bisa berkata-kata lagi karena perkataan Dave ada benarnya.
"Aku tidak marah denganmu sayang." Dave kembali meraih tubuh istrinya. "Aku hanya tidak mau kau salah paham lagi padaku dan Stella," tutur Dave pelan.
Jeslyn mendongakkan kepalanya menatap Dave. "Apakah Stella marah padaku?"
"Tidak. Dia justru memintaku untuk segera menyusulmu," ungkap Dave.
"Aku akan meminta maaf padanya nanti." Dia juga tidak mengerti kenapa hal seperti itu saja bisa membuatnya salah paham.
"Tidak perlu." Dave menatap serius pada Jeslyn. "Sayang, ada yang ingin aku katakan padamu."
"Apa?" tanya Jeslyn cepat.
Dave sedang memilih kata-kata pas yang akan dia ucapkan pada istrinya. "Bagaimana kalau bulan madu kita undur?"
Jeslyn langsung mengerutkan keningnya dan menatap bingung pada suaminya. "Kenapa diundur?" Terlihat sekali kalau Jeslyn sangat penasaran. Pasalnya, dari awal Dave lah yang bersikukuh untuk pergi berbulan madu.
"Bagaimana kalau lusa kita langsung menemui dokter Sarah," usul Dave.
"Nanti saja setelah kita berbulan madu," tolak Jeslyn. "Lebih baik kita berusaha dulu."
"Bagaimana kalau saat ini kau sedang hamil? Bukankah akan berbahaya, jika kita melakukan perjalanan udara dalam waktu yang lama?"
Jeslyn tertawa kecil. "Dave, aku tidak hamil. Bukankah sudah aku bilang, aku akan datang bulan beberapa hari lagi. Bahkan aku terkadang merasakan keram pada perutku layaknya orang yang akan datang bulan."
"Tapi sayang, tidak ada salahnya jika kita mengecek pada dokter Sarah atau kalau tidak, kita bisa mengecek dengan alat penguji kehamilan saja bagaimana?" usul Dave antusias.
Wajah Jeslyn terlihat berubah menjadi muram. "Aku takut akan kecewa, Dave."
Dave belum juga menyerah. Dia bertekad tidak akan menyerah sebelum istrinya menyetujui sarannya. "Kalaupun hasilnya negatif, tidak masalah sayang. Kita berusaha lebih kerasa lagi." Dave lalu memegang kedua tangan istrinya. "Ayolah sayang. Demi aku. Kita uji sendiri dulu ya?" bujuk Dave lembut. "Aku akan meminta pada Zayn untuk membelikannya nanti."
Jeslyn sedang menimang permintaan suaminya. Sebenarnya dia merasa heran, kenapa suaminya tiba-tiba menyuruhnya untuk mengecek dia hamil atau tidak, padahal sebelumnya tidak ada pembahasan apapun mengenai hal itu.
"Baiklah, tapi aku mau mengecek sendiri lusa. Aku tidak mau mengeceknya besok pagi karena takut akan mempengaruhi pesta pernikahan kita nanti."
"Iya sayang." Dave langsung memeluk Jeslyn dengan wajah gembira. "Terima kasih sayang."
__ADS_1
"Tapi aku harap kau tidak kecewa jika ternyata nanti aku tidak hamil."
Jeslyn sebenarnya juga penasaran apakah dia hamil atau tidak. Belakangan ini dia tidak pernah memperhatikan tamu bulanannya karena terkadang tamu bulanannya datang tidak menentu. Bahkan terkadang dia tidak dapat dalam sebulan lalu bulan depanya akan dapat 2 kali.
Dia sudah pernah melakukan pengecekan, tidak ada masalah serius padanya. Hanya masalah hormonal saja. Biasanya dia memberikan tanda merah pada kalendar di rumahnya agar dia bisa tahu siklus haidnya.
Dave melepaskan pelukannya. "Iyaa sayang. Aku akan mengambil sisi positifnya. Itu tandanya aku harus berusaha lebih keras untuk membuatmu hamil dan kita akan lebih sering melakukannya saat bulan madu nanti," ucap Dave dengan senyum nakalnya.
"Dasar mesum!" Jeslyn memukul dada suaminya dengan raut wajah cemberut.
"Kita adalah pasangan suami istri sayang. Itu adalah hal yang wajar bagi kita yang belum dikaruniai anak," kilah Dave.
Jeslyn hanya mengerucutkn bibirinya. Melihat bibir istrinya yang tampak menggoda, tanpa menunggu lama Dave langsung menyambar bibir ranum istinya. Mereka terus memagut dalam waktu yang lama. Dan, bisa ditebak selanjutnya bagaimana.
Tentu saja Dave tidak bisa menahan dirinya. tapi kali ini Dave melakukannya dengan sangat hati-hati dan lembut. Dia merasa takut kalau ternyata benar jika istrinya sedang hamil. Dia tidak ingin membahayakan janin dalam kandungan istrinya.
*******
Hari yang dinanti Dave dan Jeslyn akhirnya tiba. Resepsi pernikahan mereka akan digelar pukul 1 siang nanti. Jeslyn baru saja terbangun pukul 7 pagi, sementara Dave masih terbaring di ranjang hotel yang empuk dengan nyamannya.
Saat ini, Jeslyn sedang berada di dalam kamar mandi berjalan mondar-mandir dengan perasaan cemas dan gelisah seraya memegang benda pipih berwarna putih. Benda itu adalah alat tes kehamilan.
Jeslyn sengaja membeli alat tersebut pagi-pagi setelah dia bangun menggunakan sistem layanan antar. Sebenarnya Dave sudah meminta Zayn untuk membelikan untuknya, supaya bisa digunakan untuk besok, hanya saja Jeslyn tidak sabar menunggu sampai esok hari.
Dia berniat untuk mengujinya diam-diam karena ingin mempersiapkan lebih dulu sebelum Dave memintanya menguji besok. Setidaknya, jika hasilnya negatif. Dia tidak akan menampakkan wajah kecewa karena sudah tahu terlebih dahulu.
Dengan tangan gemetar dia memasukkan benda pipih tersebut ke dalam wadah yang sudah terisi air seninya. Tidak hanya satu, Jeslyn mencoba memasukkan 2 jenis alat tes kehamilan dengan merk berbeda. Jantungnya berdebar kencang ketika menunggu hasilnya.
Jeslyn tampak sangat gugup. Bayangan akan kalau hasilnya akan mengecewakan terus berputar dibenaknya. Setelah menunggu beberapa menit, tiba waktunya Jeslyn untuk melihat hasilnya. Jeslyn sedang memegang 2 alat tes kehamilan dalam keadaan terbalik.
Matanya langsung membelalak dan tangannya bergetar hebat saat matanya terbuka sempurna dan melihat hasil tes kehamilan yang ada di tangannya. Dia kemudian beralih pada alat tes kehamilan yang ada di tangan kirinya. Jeslyn kembali tercengang melihat hasilnya.
Seketika tubuhnya langsung lemas. Alat yang ada ditangannya terjatuh tanpa sadar. Matanya mulai berkaca-kaca. Tiidak lama kemudian air matanya tidak terbendung lagi. Jeslyn menagis bahagia karena hasil dari kedua alat tes kehamilan tersebut menunjukkan 2 garis merah yang berarti saat ini dia sedang hamil.
Perasaan bahagia dan terharu bercampur jadi satu. Jeslyn kemudian membereskan bungkus alat teh kehamilan tersebut lalu membuangnya ke tempat sampah. Setelah itu, Jeslyn mengambil alat tes kehamilan tersebut dan membersihkannya. Dia berniat memberikan kejutan pada Dave setelah pesta pernikahannya usai.
Hati Jeslyn pagi ini diliputi kebahagiaan yang begitu besar. Ada dua peristiwa penting yang terjadi pada hari ini, yaitu berita tentang kehamilannya dan pesta pernikahannya. Berita kehamilannya menjadi kado terindah yang dia dapatkan saat pesta pernikahan mereka digelar.
Jeslyn kemudian membungkus alat tes kehamilannya dan membawanya keluar. Dia ingin menyembunyikan sementara alat tersebut sampai tiba saatnya dia memberikannya pada Dave.
Jeslyn membuka pinta kamar mandi lalu melangkah mendekati suaminya yang masih tertidur. Senyum tipis tidak hentinya terukir di wajah Jeslyn. Dia kemudian duduk di tepi tempat tidur, mengambil ponselnya lalu mengecek ponselnya sebentar.
Terlihat dia membalas beberapa pesan yang masuk ke ponselnya. Setelah selesai, ia meletakkan kembali ponselnya lalu menoleh ke arah kiri untuk melihat wajah suaminya.
"Dave, bangun." Jeslyn memberikan kecupan singkat di pipi suaminya. "Dave, mama menunggu kita untuk sarapan di bawah," ucap Jeslyn lagi ketika melihat Dave tampak belum juga membuka matanya.
"Dave." Jeslyn mengguncang tubuh suaminya agar dia cepat bangun.
Dave yang merasakan guncangan pada tubuhnya seketika membuka matanya lalu menarik tangan Jeslyn hingga berbaring di sebelanya. "Daveee," pekik Jeslyn ketika Dave memeluk tubuhnya.
"Temani aku tidur sebentar lagi sayang," pinta Dave dengan suara serak. Dave kembali menutup matanya karena dia masih sangat mengantuk.
"Dave, kita sarapan dulu. Mama menunggu kita di bawah." Ibu mertuanya tadi mengirimkan pesan padan Jeslyn, memintanya untuk sarapan bersama di restoran lantai satu.
"Kita pesan layanan kamar saja sayang. Aku malas turun ke bawah."
__ADS_1
Membayangkan kalau nanti pesta pernikahannya akan menguras tenaganya, membuat Dave ingin bermalas-malasan terlebih dahulu di kamar untuk mengumpulkan tenaganya agar dia tidak merasa lelah setelah acara pesta pernikahannya selesai.
Jeslyn berusaha untuk melepaskan diri dari suaminya. "Tapi mama meminta kita sarapan bersama." Tentu saja Jesyn merasa tidak enak untuk menolak ajakan ibu mertuanya untuk sarapan bersama.
"Aku akan menelpon mama." Dave melepaskan pelukannya lalu meraih ponselnya untuk menghubungi ibunya. Dave duduk bersandar, sementara Jeslyn hanya diam menatap suaminya yang sedang berbicara dengan ibunya.
"Mama sudah memesankan layanan kamar untuk kita. Mama bilang kita bisa beristirahat saja di kamar agar kita tidak lelah saat resepsi nanti," ucap Dave ketika dia baru saja meletakkan kembali ponselnya di samping bantalnya.
"Baiklah, kalau begitu."
Dave kembali berbaring di tempat tidur. "Kemari sayang." Dave meminta Jeslyn untuk berbaring di sampingnya.
"Kau tidak mau mandi dulu?" tanya Jeslyn dengan wajah heran. Biasanya Dave akan langsung mandi, jika dia sudah bangun.
"Nanti saja sayang. Aku akan mandi setelah sarapan." Dave menepuk kembali tempat kosong di sebelahnya.
Jeslyn tersenyum manis. "Baiklah."
"Kenapa kau tersenyum terus? Apakah kau sangat bahagia karena hari ini adalah pesta pernikahan kita?" Dave hanya merasa heran sedari tadi istrinya tampak terlihat berbeda dan lebih cerah dari biasanya.
"Iyaaa, selain itu aku punya hadiah untukmu." Selama menikah Jeslyn memang belum pernah memberikan sesuatu untuk suaminya.
Mata Dave langsung berbinar. "Hadiah apa sayang?" tanya Dave antusias.
Jeslyn tersenyum misterius. "Aku akan memberikannya besok pagi," janji Jeslyn.
"Aku tidak mau. Aku mau hadiahku hari ini," tolak Dave dengan wajah pura-pura merajuk.
Jeslyn mendekati Dave lalu berbaring di sebelahnya. "Baiklah, akan kuberikan setelah pesta pernikahan kita selesai."
"Beri tahu aku, kira-kira hadiah apa yang akan kau berikan padaku?" Dave tampak sangat penasaran dengan apa yang akan diberikan oleh istrinya.
"Rahasia," ucap Jeslyn dengan senyuman jahilnya.
Dave lalu merubah posisinya menjadi di atas istrinya dengan tangan yang bertumpu di tempat tidur. "Katakan cluenya padaku, sayang. Jika tidak, aku akan memakanmu saat ini juga," ancam Dave.
"Dave, jangan bercanda. Acara pernikahan kita sebentar lagi akan digelar. Aku bisa lelah nanti."
"Baiklah, kita lakukan satu kali saja kalau begitu," usul Dave dengan senyuman menggodanya.
"Tidak," tolak Jeslyn tegas. "Aku tidak akan memberikan hadiah padamu, jika kau melakukannya pagi ini," ancam Jeslyn.
Dave langsung berbaring lemas di samping istrinya. "Maaf Dave, aku bukannya menolak, tapi kita akan kelelahan jika melakukannya lagi pagi ini." Jeslyn membelai kepala bagian belakang Dave dengan lembut.
Terlihat sekali wajah kecewa dari Dave. "Baiklah, tapi aku tidak akan melepaskanmu saat malam nanti. Kita akan menghabiskan malam ini layaknya pengantin baru pada umumnya." Dave tersenyum penuh arti.
"Mulai sekarang kau harus bisa menahan diri Dave," nasehat Jeslyn.
"Aku tidak mau. Aku harus berusaha keras untuk membuatmu hamil. Sebelum itu terjadi, kau tidak boleh menolakku."
Jeslyn menghela napasnya. "Baiklah, tapi kau harus pegang kata-katamu, seandainya nanti aku hamil kau harus bisa menahan diri."
"Iyaa sayang, kau tenang saja. Sekarang temani aku tidur sebentar."
Bersambung...
__ADS_1
Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..