
Jeslyn meraih baju Dave yang ada di tempat tidur, lalu mendekati Dave yang baru saja memakai celana kerjanya. Jeslyn lalu membantu suaminya memakai baju. "Jam berapa kita akan ke butik?" tanya Jeslyn seraya mengancingkan baju Dave satu persatu.
Pagi ini, Jeslyn sengaja bangun lebih dulu dari pada Dave. Pukul 04.10 pagi dia terbangun lalu mandi, setelah itu dia membangunkan suaminya.
Dave menunduk menatap wajah istrinya. "Kita ke kantorku dulu, setelah itu baru ke butik," jawabnya.
"Setelah dari butik, aku ingin ke rumah sakit untuk memberikan undangan. Aku juga ingin bertemu dengan Dion. Dia bilang ada yang ingin dibicarakan denganku," tutur Jeslyn.
Ekspresi Dave langsung berubah. "Bagaimana kalau aku tidak mengijinkanmu untuk bertemu dengan Dion?"
Jeslyn langsung menghentikan tangannya, lalu mengangkat kepalanya menatap Dave yang sedang menunduk menatapnya. "Aku hanya ingin bertemu dengannya sebentar. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan Dion," ucap Jeslyn pelan.
"Kau pasti tahu, kalau aku tidak suka kau bertemu dengannya secara sengaja," ujar Dave. Mendengar istri akan bertemu dengan Dion langsung membuat hatinya panas.
Jeslyn langsung melingkarkan tangannya di pinggang suaminya sambil menatap suaminya. "Iyaa, aku tahu Dave," ucap Jeslyn, "tapi sebelum aku menikah denganmu, dia adalah orang yang paling berjasa menjagaku setelah orang tuaku meninggal. Bagiku, dia adalah orang terpenting dalam hidupku. Dia bukan orang lain, melainkan sudah seperti keluargaku. Di saat masa sulit dia selalu ada untukku, bagaimana mungkin di saat aku bahagia, aku justru melupakannya. Aku tidak bisa mengabaikannya bagitu saja. Aku harap kau mengerti Dave. Aku bisa menjaga jarak dengannya, tetapi aku tidak bisa menjauhinya," papar Jeslyn.
Dave menatap lekat mata istrinya. Dia tampak berpikir dan sedang mencerna ucapannya Jeslyn. "Aku tahu batasanku Dave. Dion juga tahu bagaimana harus bersikap," ucap Jeslyn lembut.
"Anggap saja yang kau katakan benar, kalau dia memang memang menyukaiku," lanjut Jeslyn lagi
"Tapi asal kau tahu, dia tidak pernah sekalipun menyuruhku untuk bercerai denganmu, walaupun melihatku menderita. Dia selalu mengutamakan keinginanku untuk tetap bersamamu. Disaat aku ingin bercerai denganmu, dia justru menenangkanku. Dia berkali-kali menasehatiku untuk memikirikan kembali keputusanku," ungkap Jeslyn, "jadi aku mohon padamu, ijinkan aku menemuinya ya?" bujuk Jeslyn lembut.
Dave masih terdiam, dia belum memberikan respon apapun atas permintaan istrinya. Jeslyn kemudian memeluk tubuh Dave, lalu menyandarkan kepalanya di dada Dave sambil mengusap dada suaminya dengan pelan. "Boleh yaa?" bujuk Jeslyn lagi.
"Baiklah, tapi tidak boleh lama-lama," putus Dave. Hati Dave akhirnya luluh dengan sikap lembut istrinya.
Jeslyn langsung melepaskan pelukannya, lalu menatap Dave. "Benarkah aku boleh bertemu dengan Dion??" tanya Jeslyn dengan mata berbinar seraya mengalungkan tangan ke leher suaminya.
Dave menunduk menatap istrinya. "Hhhmmm," gumam Dave sambil mengangguk.
"Terima kasih Dave," ucap Jeslyn dengan wajah bahagia. Dia kemudian menarik tengkuk Dave, lalu mencium singkat bibir suaminya sebagai ucapan terima kasihnya.
"Tapi, kau harus mendinginkan hatiku dulu yang sudah mulai panas," ucap Dave dengan suara berat, "atau aku tidak akan mengijinkanmu bertemu dengannya."
Dave masih belum bisa juga mengedalikan rasa cemburunya terhadap Dion. Entah kenapa setiap mendengar Jeslyn mengucapkan nama Dion membuat api kecemburuannya langsung berkobar.
"Baiklah, aku akan membuatkanmu sarapan dengan penuh cinta," Jeslyn berucap dengan wajah gembira.
Jeslyn yang hendak melepaskan diri dari Dave, seketika langsung ditahan oleh Dave. "Aku tidak mau sarapan buatanmu," tolak Dave dengan cepat, "yang aku ingikan adalah dirimu sayang."
Jeslyn belum sempat bereaksi, Dave sudah mengangkat tubuhnya ke tempat tidur dan kembali membuka pakaiannya yang sudah di pakainya tadi.
****
Matahari terlihat sudah bersinar terang dan menyengat. Jeslyn dan Dave baru saja sampai di butik. Dave merubah rencananya. Awalnya, pagi tadi dia berencana akan ke kantor, tetapi akhirnya dia memilih untuk ke butik terlebih dahulu. Dia berpikir percuma dia langsung ke kantor karena dia sudah terlambat. Mereka baru keluar dari rumah pukul 10 pagi, padahal tadi pagi mereka berencana untuk berangkat pukul 6 pagi, tetapi gagal karena Dave.
__ADS_1
"Ayo sayang," ajak Dave sambil menggandeng tangan Jeslyn masuk ke dalam butik.
Mereka berdua masuk ke dalam butik diikuti oleh asisten Dave di belakangnya.
"Selamat datang Tuan, Nyonya," sapa pegawai butik ramah, ketika Dave baru saja masuk ke dalam butik.
"Kami sudah ada janji untuk mencoba baju pengantin atas nama Jeslyn," ucap Dave langsung.
"Baik Tuan, Mari ikut saya." Dave dan Jelsyn mengikuti langkah pegawai tersebut. Mereka memasuki sebuah ruangan yang berdekorasi mewah.
"Mohon ditunggu sebentar Tuan," ucap pegawai itu sopan. Dia kemudian berjalan meninggalkan Jeslyn dan Dave yang sedang duduk di ruangan khusus tamu VIP. Tidak lama kemudian pegawai itu kembali bersama dengan wanita cantik.
"Tuan Dave, kenalkan nama saya Alisa, saya pemilik dari butik ini," ucap Alisa sopan.
"Saya ke sini untuk mencoba baju pengantin." Seperti biasa, Dave tidak suka berbasa-basi dengan orang lain.
"Iya Tuan. Saya sudah mempersiapkan bajunya," ucap Alisa sambil tersenyum. "Siapa dulu yang akan mencoba pakaiannya?" tanya Alisa sopan.
"Biarkan istriku dulu yang mencobanya," jawab Dave cepat.
Alisa tampak tertegun sesaat. "Baik Tuan." Alisa kemudian menatap Jeslyn. "Mari Nyonya saya antar." Jeslyn mengangguk setelah itu mengikuti langkah Alisa ke masuk ke sebuah ruangan.
"Ganti, aku tidak suka," ucap Dave setelah melihat gaun pengantin yang digunakan istrinya.
"Jangan yang itu, terlalu mencolok." Jeslyn masuk kembali.
"Jangan ini, bagian belakangnya terlalu terbuka." Jeslyn kembali mencoba gaun lain.
"Aku tidak suka yang ini. Lekuk tubuhmu terlihat dengan jelas." Jeslyn menghela napas.
"Aku tidak mau gaun itu, bagian depannya terlalu terbuka." Jeslyn terlihat mulai kesal.
Jeslyn kembali mencoba yang lain. "Jangan yang ini, belahan dadanya terlalu rendah," jelas Dave.
Jeslyn kembali masuk dengan perasaan kesal. Sedari tadi, dia sudah mencoba beberapa gaun, tetapi tidak ada satupun yang disukai oleh Dave, padahal baju itu adalah baju yang dipilih oleh ibunya sendiri. Ibu mertuanya sengaja memilihkan beberapa baju untuk Jeslyn, agar nanti Jeslyn tinggal mencobanya dan memilih 2 saja yang dia sukai.
"Apa tidak ada gaun yang lain? Yang lebih sederhana, yang tidak terlalu menonjolkan kecantikanmu," tanya Dave dengan wajah terlihat santai.
"Apa kau tidak suka dengan gaun ini?" tanya Jeslyn sambil menunduk menatap gaunnya sejenak, lalu beralih pada Dave.
"Suka sayang. Gaun ini terlihat sempurna di tubuhmu, tapi kau terlalu cantik sayang," ucap Dave. "aku tidak mau kau memakai itu karena takut para lelaki akan memuji kecantikanmu dan menatapmu dengan tatapan memuja. Pasti akan bertambah banyak lelaki yang menyukaimu nanti," ungkap Dave.
"Dave..." pekik Jeslyn sambil menatap suaminya. "Lalu aku harus memakai gaun yang mana?" tanya Jeslyn dengan wajah kesal. "Gaun yang sudah aku coba tadi juga tidak ada yang kau suka. Terbuka lah, terlalu seksi lah, lekuk tubuhku terlihat jelas lah. Apa kau tidak tahu, aku sudah lelah mencoba semuanya Dave," gerutu Jeslyn sambil menatap tajam pada suaminnya.
"Lebih baik kau pilih sendiri yang mana yang kau suka," usul Jeslyn dengan wajah yang terlihat sangat kesal.
__ADS_1
Dave kemudian menoleh pada pegawai butik dan Alisa. "Kalian boleh pergi. Biarkan aku yang membantu istriku untuk memilih gaun dan berganti nanti."
"Baik Tuan," ucap Alisa.
Dave kemudian menghampiri Jeslyn terlihat sudah mulai masuk ke dalam ruangan ganti.
Dave kemudian melingkarkan tangan di perut istrinya, lalu meletakkan dagu di bahu istrinya.
"Maaf sayang, bukankah kau tahu, kalau aku tidak suka, kau memakai pakaian terbuka dan memperlihatkan lekuk tubuhmu pada orang lain? Aku hanya tidak ingin orang lain melihat tubuhmu, sayang. Hanya aku yang boleh melihatnya," ucap Dave sambil mengecup bahu Jeslyn dengan lembut.
Jeslyn menoleh sedikit ke belakang. "Kenapa tidak menyuruhku memakai selimut saja sekalian," sungut Jeslyn.
Dave langsung terkekeh. "Kalau itu di kamar saja sayang, saat bersamaku. Jangan memakai apapun, cukup hanya selimut saja," gurau Dave dengan senyum mengembang di wajahnya.
"Daveeee..!" pekik Jeslyn sambil melirik tajam pada Dave.
Dave kembali terkekeh. "Jangan marah-marah sayang, kau bertambah cantik jika sedang marah," goda Dave.
Jeslyn langsung menghela napas. Dia mencoba mengatur napasnya seraya menekan kekesalannya pada Dave. "Aku mau memakai ini Dave. Aku suka gaun ini," pinta Jeslyn dengan lembut.
"Tapi kau terlihat sangat cantik memakai gaun ini sayang. Pasti akan ada banyak lelaki yang memuji kecantikanmu dan menatapmu tak berkedip nanti. Aku tidak suka itu," lontar Dave.
"Apa kita batalkan saja resepsi pernikahan kita?" tanya Jeslyn sambil menolehkan kepalanya ke belakang.
"Tidaak boleh. Aku sengaja melakukan resepsi ini untuk memperkenalkanmu pada semua orang, agar mereka tahu, kalau kau adalah milikku, supaya tidak ada yang berani lagi mendekatimu," ucap Dave sambil memeluk erat istrinya.
"kalau begitu ijinkan kau memakai gaun ini. Aku sudah lelah Dave. Aku tidak sanggup lagi mencoba gaun yang lain," pinta Jeslyn dengan wajah lesu.
Dave menarik tangannya dari tubuh Jeslyn, lalu membalikkan tubuh istrinya. "Baiklah, tapi kau tidak boleh tersenyum dan melirik pria manapun saat resepsi pernikahan kita." Itu bukan permintaan, itu adalah titah yang mau tidak mau harus Jeslyn turuti.
"Baiklah." Jeslyn sudah lelah, dia tidak mau berdebat lagi dengan Dave. Lebih baik dia menuruti keinginan suaminya.
"Kalau begitu cium aku dulu," pinta Dave sambil mendekatkan wajahnya ke pada Jeslyn.
"Cup." Jeslyn mencium pipi Dave.
"Yang sebelahnya juga sayang, dia bisa iri nanti." Dave tersenyum ketika melihat tatapan tajam istrinya. "Cup." Jeslyn kembali mencium pipi Dave yang sebelahnya.
"Yang ini belum sayang," tunjuk Dave pada bibirnya.
Jeslyn menghela napas panjang. Dia merasa sangat kesal pada suaminya hari ini. Ada saja tingkah Dave yang membuatnya emosi.
Jeslyn langsung menangkup wajah Dave dengan kedua tangannya, lalu mencium bibir suaminya. Saat Jeslyn berniat menyudahinya, Dave langsung menahan kepala istrinya. Tentu saja Dave tidak akan menyia-nyikan kesempatan itu. Dia memlu*mat bibir istrinya sedikit lama.
Bersambung...
__ADS_1
Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..