Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Wanita Itu adalah.


__ADS_3

"Dave..." Dengan senyum sumringah Glen berjalan masuk menuju meja kerja Dave.


Dave mendongakkan kepalanya menatap heran pada Glen. "Ada apa?"


"Apa kau sudah mendapatkan kabar mengenai Elin?" tanya Glen sambil mendekati meja kerja Dave.


Dave sebenarnya tahu, kalau kedatangan Glen kali ini pasti berkaitan dengan wanita yang sedang dia cari. Kemarin malam, Glen sudah memberikan indormasi mengenai wanita itu, termasuk nama panggilannya. Elin adalah nama wanita yang dicari oleh Glen.


Dave yang tadi sedang menadatangani dokumen, seketika meletakkan pulpennya diatas meja. "Sudah..Zayn sudah mendapatkan informasi mengenai wanita itu. Aku tadi sudah memintanya untuk memberikan informasinya, tetapi dia bilang ingin mengatakan langsung padaku," terang Dave.


"Benarkah?" tanya Glen dengan wajah bahagia.


"Hhhhmm," gumam Dave seraya mengangguk.


"Lalu, kemana Zayn sekarang? Aku sudah tidak sabar untuk mengetahui apa saja yang sudah di dapatkan."


Dave berdiri lalu berjalan menuju dinding kaca, kemudian memandang keluar. "Aku sedang memberikan tugas lain padanya."


Glen mengernyit. "Tugas? Tugas kantor?" tanya Glen sambil menghampiri Dave dan berdiri di sisi sebelah kiri Dave.


Dave menoleh pada Glen sejenak. "Bukan. Urusan pribadi."


Sebenarnya, Dave meminta Zayn untuk mengawasi istrinya dari kejauhan. Dia tidak bisa tenang memikirkan Jeslyn akan bertemu berdua saja dengan Dion.


Awalnya dia berniat membiarkan Jeslyn bertemu Dion tanpa pengawasan darinya, tapi dia tidak bisa fokus sama sekali dengan pekerjaannya karena memikirkan pertemuan Jeslyn dan Dion. Akhirnya dia meminta Zayn untuk mengawasi Jeslyn tanpa sepengetahuan istrinya.


Glen mengangguk tanda mengerti. "Kau tahu Dave? Aku baru saja melihat wanita itu di sebuah cafe," ungkap Glen dengan wajah yang terlihat sangat senang.


"Sepertinya kami memang ditakdirkan untuk bertemu kembali. Mungkin saja ini pertanda kalau dia memang jodohku." Senyum lebar dan wajah gembira tercetak jelas di wajah tampan Glen.


Dave menyungging sudut bibir kirinya. "Jadi kau sudah bertemu dengannya?" Dave tampak penasaran dengan kelanjutan cerita sahabatnya.


Glen menggeleng cepat. "Tidak. Dia bahkan tidak melihatku. Dia baru saja masuk ke dalam sebuah mobil bersama seorang pria di cafe dekat rumah sakitmu. Mobilnya sudah melaju, ketika aku berniat untuk menghampirinya," terang Glen dengan wajah kecewa.


Sebenarnya Glen sempat memanggil wanita tersebut, namun karena jarak yg terlalu jauh sehingga membuat wanita tersebut tidak mendengar suaranya.

__ADS_1


Dave memiringkan kepalanya sambil menoleh pada Glen. "Bersama seorang pria?" tanya Dave sambil mengeryit.


"Ya."


"Apakah pria itu kekasihnya? Atau jangan-jangn suaminya?" terka Dave.


"Sepertinya bukan kekasihnya, apalagi suaminya," jawab Glen sambil menatap keluar.


"Dari mana kau tahu?"


"Aku melihat dari gesture tubuh mereka. Tidak tampak seperti seorang kekasih ataupun pasangan suami istrinya," tutur Glen, "mungkin saja mereka hanya dekat," terka Glen.


Sebenarnya aaat Glen melihat wanita itu bersama dengan seorang pria, dia langsung merasa gelisah. Sama seperti yang dipikirkan oleh Dave, dia juga sempat berpikir seperti itu sebelumnya, tetapi setelah memperhatikan lagi. Dia yakin kalau mereka hanya sekedar dekat.


"Jangan terlalu yakin, jika nanti kenyataanya tidak seperti dugaanmu. Kau sendiri yang akan kecewa," ucap Dave memperingakan Glen.


Bukan tanpa alasan Dave mengatakan hal itu, Masalahnya diluar sana banyak pasangan yang sudah sah, tapi justru tidak pernah mengumbar kemesraaan di tempat umum, berbanding terbalik dengan pasangan yang belum terikat pernikahan terlihat lebih berani menujukkan kemesaraan mereka.


Glen menoleh pada Dave dengan senyum tipisnya. "Yaa, tapi aku sangat yakin dengan dugaanku kalau mereka tidak memiliki hubungan," ucap Glen dengan percaya diri. "Tapi, sialnya, pria yang bersamanya cukup tampan."


Dave bisa melihat kalau kepercayaan diri Glen langsung hilang ketika membicarakan wajah pria itu. "Apakah dia lebih tampan darimu? Kenapa kau terlihat cemas?" tanya Dave, " Sepertinya sainganmu cukup berat kali ini," lanjut Dave dengan senyum mengejek.


Baru kali ini, dia melihat Glen tampak hilang kepercayaan dirinya. Dave jadi penasaran dengan pria yang membuat sahabatnya jadi pesimis. "Tapi masalahnya, aku tidak sedang berada di posisimu, Glen," ucap Dave enteng.


Dave berjalan menuju lemari pendingin yang ada di ruangannya yang berada di tidak jauh dari sofa. Dia mengambil 2 minuman kaleng dingin. Setelah itu dia kembali berdiri di samping sahabatnya.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Dave seraya menyodorkan minuman dingin pada Glen. Dave tampak heran ketika melihat sahabatnya menatap ke atas, dengan gerakan bola mata ke kanan dan kiri.


Glen membuka kaleng minumannya, setelah menerima kaleng minuman tersebut dari Dave.  "Wajah pria itu seperti tidak asing. Aku yakin pernah melihatnya sebelumnya, tapi aku lupa di mana?" Glen masih terus berusaha mengingat di mana dia pernah meliha pria tersebut.


"Benarkah?" tanya Dave sambil membuka minuman kaleng tersebut.


"Iyaaa, aku yakin pernah melihatnya sebelumnya," jawab Glen setelah meneguk minuman kalengnya.


Tiba-tiba ponsel Glen Berbunyi.Dia kemudian meraih ponselnya saat mendengar bunyi panggilan masuk pada ponselnya. "Aku angkat telpon dulu," ucap Glen sebelum mengangkat telponnya. Dave mengangguk sambil meneguk minuman yang ada di tangan kanannya.

__ADS_1


Glen berbicara di telpon sebentar, setelah itu dia mengakhiri pembicaraannnya. Glen langsung menoleh pada Dave setelah meletakkan ponselnya di saku celananya. "Aku harus pergi Dave. Aku ada urusan mendadak."


"Baiklah."


*****


Wajah Dave langsung berubah menjadi tegang dan berubah serius setelah mendengar infomasi dari asistennya. Dave menatap Zayn dengan ekspresi mengeras setelah membaca kertas putih yang ada di tangannya. "Apa kau yakin, wanita yang dimaksud oleh Glen adalah istriku?"


Zayn yang sedang berdiri di depan Dave, langsung mengangguk. "Data Nyonya Jeslyn sangat cocok dengan informasi yang diberikan oleh tuan Glen."


Zayn sudah memeriksa daftar perjalanan Jeslyn untuk memastikan apakah 4 tahun lalu Jeslyn pernah keluar negeri. Saat dia mendapatkan informasi mengenai perjalanan Jeslyn, Zayn sedikit terkejut karena negara yang pernah dikunjungi Jeslyn 4 tahun lalu sama dengan negara dan kota tempat Glen saat itu berada.


Zayn kemudian menyelidiki lagi dengan bantuan seseorang yang memiliki keahlian untuk menembus informasi seseorang secara ilegal.


Zayn bahkan menggunakan koneksi Dave yang berada diluar negeri untuk mencari tahu infomasi mengenai Jeslyn saat berada di laur negeri 4 tahun lalu.


Dia mendapatkan infomasi yang lebih mengejutkan lagi, kalau Jeslyn terlihat beberapa kali mengujungi rumah sakit tempat Glen dirawat. Setelah Zayn telusuri lebih dalam lagi, ternyata benar yang sudah menolong Glen saat dia mengalami kecelakaan adalah Jeslyn.


Bahkan Jeslyn terdaftar sebagai wali dari Glen saat Glen masuk rumah sakit. Elin nama yang ditulis oleh Jeslyn di berkas rumah sakit saat mengisi data keluarga pasien. Itu adalah nama kecil Jeslyn. Hanya orang tuanya dan Dion yang sering memabggilnya dengan nama tersebut.


Dave meremak dengan kuat kertas yang ada di tangannya. "Rahasiakan dulu dari Glen. Biarkan aku yang memberitahunya nanti. Aku harus memastikan lagi apakah benar wanita yang di mksud Glen ada istriku," ucap Dave dengan sorot mata berkilat dan ekspresi wajah yang mengeras.


"Baik Tuan," jawab Zayn sambil mengangguk.


"Kau boleh pergi." Zayn membungkuk sebentar lalu berjalan keluar dari ruangan Dave.


"Sial," pekik Dave sambil mengusap kasar wajahnya. Tidak pernah terpikirkan olehnya kalau wanita yang sedang dicari oleh sahabatnya adalah Jeslyn. Perasaan Dave campur aduk saat ini. Dave kemudian bersandar di kursi kerjanya seraya memijit pelipisnya dengan mata terpejam.


Dave masih tidak percaya kalau dirinya akan menyukai wanita yang sama dengan Glen. Perasaan cemas mulai menghantui Dave. Pikiran yang paling menganggunya adalah apakah Jeslyn pernah menyukai Glen saat itu.


Pertanyaan itu langsung muncul karena pertemuan Jeslyn dan Glen terjadi pada saat mereka belum menikah. Dave berpikir mungkin saja saat itu, Jeslyn menyukai Glen, mengingat Jeslyn pernah merawat Glen selama 2 minggu di rumah sakit. Dia bahkan rela mendonorkan darahnya untuk orang yang tidak dikenalnya.


Kalau tidak mecintai Glen, untuk apa Jeslyn begitu perhatian pada Glen saat itu. Kira-kira seperti itulah yang ada di pikiran Dave saat ini. Perlahan satu persatu pertanyaan mulai muncul di benaknya. Dia mulai ragu untuk memberitahu Glen mengenai Jeslyn.


"Jeslyn..Aku harap kau tidak memiliki perasaan apapun terhadap Glen. Aku tidak akan bisa menahanmu seandainya kau memiliki perasaan yang sama dengannya. Aku mohon jangan hancurkan harapanku untuk bisa hidup bersamamu Jes. Aku hanya takut hilang kendali nantinya," ucap Dave dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..


__ADS_2