Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Menyusul Dave


__ADS_3

Jeslyn baru saja keluar dari kamar mandi dibantu oleh Maya. Ketika dia baru saja naik ke tempat tidur. Tidak lama berselang, pintu ruangannya terbuka. Dave melangkah masuk sambil tersenyum ketika melihat istrinya sedang duduk bersandar dengan bantal.


"Maya, tinggalkan kami sebentar," ucap Dave ketika dia sudah duduk dikursi samping istrinya.


Maya yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat tidur Jeslyn langsung mengangguk sambil berkata, "Baik, Tuan." Kemudian keluar dari ruangan Jeslyn.


"Besok kau ingin pulang jam berapa?" tanya Dave sambil menatap istrinya.


"Dokter Roby akan memeriksaku sekali lagi, jadi kemungkinan siang baru bisa pulang," jawab Jeslyn.


Dave mengangguk. "Ini kunci mobilmu dan kunci rumah. Aku sudah menyuruh Zayn untuk mengantar mobilmu ke apartemenmu." Dave meletakkan 2 kunci di tangan Jeslyn.


"Sudah aku bilang, aku tidak mau kembali ke rumah itu lagi, Dave," tolak Jeslyn seraya mengembalikan kunci rumah kepada Dave.


Setiap mengingat rumah itu, kenangan buruk terlintas dibenaknya. Terlalu banyak kenangan pahit yang dia alami di rumah itu.


Dave menaruh kembali kunci rumah ke tangan Jeslyn. "Ini bukan kunci rumah lama. Ini rumah yang aku bangun khusus untuk kita tempati bersama anak-anak kita nanti. Dulu aku brencana mengajakmu untuk pindah ke rumah itu ketika aku resmi bercerai dengan Felicia, tetapi tidak jadi karena kau bersikukuh ingin tetap tinggal di apartemenmu."


Dahi Jeslyn berkerut. "Lalu kenapa kau memberikannya padaku?"


"Jika kau berkenan, kau bisa tinggal di sana. Lokasinya juga tidak terlalu jauh dari rumah sakit, tapi jika kau tidak mau tinggal di sana. Aku tidak akan memaksamu. Kau bisa menyimpan kunci ini, siapa tahu nanti kau berubah pikiran."


Dahi Jeslyn semakin berkerut karena masih tidak mengerti dengan maksud dari perkataan suaminya. "Aku akan tinggal di apartemenku untuk sementara, Dave."


"Iyaa. Itu terserah padamu. Apapun yang membuatmu nyaman dan bahagia, aku akan mendukung semua keputusanmu. "


"Apakah kau sibuk besok?" tanya Jeslyn.


"Iyaa. Banyak yang harus aku urus. Mungkin aku tidak bisa menjemputmu. Aku akan meminta Zayn untuk mengantarmu pulang."


"Baiklah. Jam berapa kau pulang kerja?"


"Aku tidak tahu, kenapa?"


"Tidak apa-apa."


Sebenarnya Jeslyn ingin membicarakan mengenai kejelasan hubungan mereka besok, tetapi melihat Dave tampak sibuk, Jeslyn mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan Dave. Dia memutuskan untuk berbicara dengan Dave saat dia sudah memiliki waktu luang.


Banyak yang ingin dia bicarakan dengan Dave, termasuk mengenai sikapnya yang belakang ingin terkesan dingin pada Dave. Jeslyn menyadari kalau dia mungkin sudah bersikap ketus pada Dave setelah dia mengalami keguguran. Sebab itu, dia ingin meminta maaf sekaligus memperbaiki hubungan mereka lagi.


"Jeslyn. Aku minta maaf kalau selama ini, aku sudah menyakitimu. Aku sadar selama menikah denganku hanya luka yang aku berikan padamu. Aku berharap kehidupanmu lebih baik setelah ini," ucap Dave dengan tulus.


Mendengar kata-kata Dave, Jeslyn memicingkan matanya. "Apa maksudmu berkata seperti itu?" tanya Jeslyn dengan tatapan curiga.

__ADS_1


Dave berusaha tersenyum. "Tidak ada. Aku hanya ingin kau hidup bahagia, Jes," jawab Dave lirih.


"Kenapa kau bersikap seolah-olah akan pergi?"


Dave berdiri lalu merengkuh tubuh istrinya. "Aku sangat mencintaimu, Jes. Kau harus tahu itu. Aku memang pernah mengabaikanmu dulu dan aku sangat menyesal akan hal itu," ucap Dave sambil mempererat pelukannya. Dia berusaha untuk menahan rasa sesak dalam dadanya.


Jeslyn terlihat kebingungan. "Dave aku tidak bisa bernapas."


Dave segera melepaskan pelukannya. "Maafkan aku," ucap Dave dengan wajah bersalah. "Aku harus pulang, maaf tidak bisa menemanimu malam ini. Masih banyak yang harus aku kerjakan."


"Pekerjaan kantormu belum selesai?" tanya Jeslyn dengan wajah heran.


"Iyaa. Tidurlah. Ini sudah malam."


"Baiklah. Besok jika kau sudah tidak sibuk temui aku," pinta Jeslyn.


"Hhmmm," gumam Dave sambil mengangguk. "Aku pergi dulu."


*****


Dion mengampiri Jeslyn yang sudah siap untuk pulang. Jeslyn terlihat sedang duduk bersandar. Maya sudah membantunya berkemas tadi jadi mereka akan pulang sebentar lagi. "Dave ke mana?" tanya Dion ketika dia sudah berdiri di dekat Jeslyn.


"Dia masih di kantor. Dia bilang tidak bisa mengantarku pulang. Kerjaannya masih banyak."


Kedua alis Dion langsung menyantu. "Kau jangan bercanda. Tadi dia menemuiku, aku juga melihatnya berjalan menuju ruanganmu."


"Aku tidak bertemu dengannya. Tadi dia hanya menelponku. Dia bilang tidak bisa mengantarku." Mendadak perasaannya menjadi tidak enak.


Dave memang sempat menelopon Jelsyn dan mengatakan kalau Zayn akan mengantarnya pulang karen dia masih ada urusan. Dave juga mengatakan beberapa kata yang aneh pada Jeslyn seperti kalimat perpisahan.


"Tapi kenapa dia berbohong padamu?"


"Untuk apa Dave menemuimu?"


"Dia menitipkanmu padaku dan mintaku untuk menjaga dan melindungimu. Dia menyuruhku untuk selalu berada di sisimu apapun yang terjadi. Aku sempat menanyakan alasan dia mengatakan hal itu, dia mengatakan kalau hanya aku yang bisa membuatmu bahagia. Awalnya aku merasa aneh kenapa dia mengatakan hal itu. Aku bermaksud menanyakan padamu, apakah kalian akan berpisah?" tanya Dion dengan wajah heran.


"Kata-kata Dave mengisyaratkan kalau kalian tidak akan kembali bersama. Dia bahkan melarangku untuk mengatakan padaku jika dia menemuiku," ungkap Dion.


Jeslyn mulai gelisah. Dia baru teringat sikap Dave yang terbilang aneh belakangan ini, seketika pikiran buruk muncul di kepalanya.


Tiba-tiba pintu diketuk dari luar, setelah itu muncullah Zayn dari balik pintu. "Permisi Nyonya," ucap Zayn sopan.


"Zayn, di mana Dave berada?" tanya Jeslyn dengan wajah serius.

__ADS_1


Zayn tampak sedikit ragu ketika ingin menjawab pertanyaan Jeslyn. "Saya tidak tahu, Nyonya. Tuan bilang tadi ada urusan," bohong Zayn.


"Zayn, jangan berbohong padaku," kata Jelsyn tegas dengan sorot mata tajam, "Zayn, jawab aku dengan jujur, di mana Dave sekarang?" tanya Jeslyn ketika melihat Zayn diam saja, "aku tidak akan pulang denganmu sebelum kau mengatakan yang sebenarnya," lanjut Jeslyn lagi.


Zayn tampak hanya diam dan tidak berniat mengatakan apapun pada Jeslyn.


"Cepat katakan padaku. Di mana Dave berada!" Dion mencengkram kuat kerah baju Zayn yang masih diam. Dion tahu kalau Xayn pasti memyembunyikan sesuatu dari mereka berdua.


"Dalam perjalanan menuju bandara," jawab Zayn dengan suara pelan.


"Bandara? Memangnya dia mau ke mana Zayn??" tanya Jeslyn dengan alis menyatu.


"Ke Prancis. Tuan Dave akan pindah dan tinggal di sana."


Seketika tubuh Jeslyn menjadi lemas setelah mendengar itu. Matanya langsung sudah berkaca-kaca. "Dion, tolong antarkan aku ke bandara."


"Percuma, Nyonya. Anda tidak akan bisa menyusulnya." Zayn lalu mendekati Jeslyn. "Tuan Dave menitipkan ini pada saya." Zayn menyerahkan map pada Jeslyn.


Dengan gerakan cepat, Jeslyn membuka map itu. Ada 2 lembar kertas, Jeslyn langsung membaca 2 surat tersebut. Air mata Jeslyn langsung luruh setelah melihat isi dari surat itu. Tatapananya nampak kosong dan air matanya terus terjatuh di pipinya.


Melihat Jeslyn nampak syok, Dion langsung merebut surat yang ada di tangan Jeslyn dan membacanya. Seperti halnya Jeslyn. Dion juga dibuat terkejut dengan surat yang ada di tangannya.


Surat ini adalah surat cerai yang sudah ditanda tangani oleh Dave dan surat yang satu lagi adalah surat yang menyatakan kalau Dave sudah menyerahkan kepemilikan rumah sakit pada Jeslyn dan memberikan setengah dari hartanya pada Jeslyn sebagai kompensasi atas peceraian mereka. 


Tadinya Dave berpesan pada Zayn untuk memberikan map tersebut setelah mengantar Jeslyn ke apartemennya, tetapi karena situasi diluar dugaan Zayn, dia terpaksa langsung memberikan surat itu pada Jeslyn.


"Jadi, dia sudah merencakan dari awal untuk pergi meninggalkanku?" tanya Jeslyn dengan wajah pias.


"Dia bahkan tidak memberikan aku kesempatan untuk berbicara mengenai permasalahan kami. Padahal, aku berencana untuk memperbaiki hubungan kami," ucap Jeslyn sambil menangis. "Kenapa dia meninggalkan aku tanpa berbicara denganku dulu?"


"Jam berapa pesawatnya lepas landas?" tanya Dion sambil menoleh pada Zayn.


"Satu jam lagi," jawab Zayn cepat.


Dion melirik jam yang ada di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 13.20 Wib.


Dion lalu mendekati Jeslyn. "Apa kau mau pergi menyusulnya?" tanya Dion.


"Iyaa, tolong antarkan aku, Dion," pinta Jeslyn dengan wajah memohon.


"Baiklah." Dion kemudian menarik kursi roda lalu mengangkat tubuh Jeslyn.


"Antarkan kami ke bandara," ucap Dion pada Zayn, "kalau kau tidak ingin melihat mereka berpisah," lanjut Dion lagi.

__ADS_1


Zayn yang sedari awal memang tidak ingin Jeslyn dan Dave berpisah. Langsung mengangguk, kemudian dengan langkah cepat keluar dari ruangan Jeslyn menuju parkiran bersama dengan Dion dan Jeslyn.


Bersambung...


__ADS_2