Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Mengulang Lagi


__ADS_3

"Besok pagi suruh orang untuk memasang CCTV di seluruh rumah kecuali kamar. Pasang juga untuk di luar rumah," perintah Dave. Dia ingin memantau setiap aktiftas istrinya.


"Baik Tuan."


Dave kemudian turun dari mobil setelah selesai berbicara dengan asistennya. Dengan langkah pelan dia membuka pintu. Rumah tampak sepi, Dave mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah ketika dia tiba di rumah pukul 7 malam.


"Bi Sarti," teriak Dave sambil terus berjalan masuk ke dalam.


Terlihat wanita paruh baya berlari kecil menghampiri Dave. "Iya, Tuan," jawab Bi Sarti.


"Di mana istriku?"


"Ada di kamar, Tuan," tutur Bi Sarti. "Hari ini Nyonya hanya makan sedikit Tuan," adu Bi Sarti.


"Kenapa?" tanya Dave dengan wajah heran.


"Tidak tahu, Tuan. Hari ini, Nyonya lebih banyak diam," ungkap Bi Sarti.


"Baiklah. Tolong siapkan makan malam lalu antarkan ke kamar," pinta Dave.


"Baik, Tuan," ucap Bi Sarti sambil mengangguk.


Dave kemudian menyusul Jeslyn ke kamarnya karena penasaran apa yang dikerjaan istrinya sehingga mengabaikan pesan yang di kirim dari tadi. Ketika Dave membuka pintu, dia langsung tersenyum melihat istrinya tampak tertidur di atas sofa panjang dengan tangan yang masih memegang sebuah buku.


Dengan langkah pelan, Dave mendekati istrinya, memandangnya sejenak, setelah itu, berlalu menuju kamar mandi. Selsai mandi, Dave menghampiri istrinya lalu mengecup kening istrinya cukup lama. "Sayang, banguun," ucap Dave sambil duduk di depan istrinya.


Jeslyn membuka matanya perlahan lalu melirik jam dinding kemudian beralih menatap suaminya. "Kenapa kau tidur di sini sayang?" tanya Dave sambil membelai wajah istrinya.


Bukannya menjawab, Jeslyn justru bertanya hal lain pada suaminya. "Kenapa kau baru pulang?" Jeslyb bertanya sembari bangun dan membenarkan posisinya menjadi duduk tegak.


"Tok... Tok."


"Masuk," ucap Dave. Bi Sarti berjalan masuk dengan membawa nampan setelah membuka pintu.


"Letakkan saja di meja, Bi," pinta Dave sambil menunjuk di tempat yang dia maksud. Setelah selesai, bi Sarti langsung keluar dari kamar Dave.


"Kita makan dulu, Sayang," ajak Dave sambil menyendokkan beberapa lauk dan nasi putih ke dalam piring lalu meletakkan di tangan istrinya. "Makanlah, Sayang," ucap Dave lembut.


"Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau baru pulang?" tanya Jeslyn dengan tatapan memicing

__ADS_1


"Makan dulu, baru nanti baru aku jawab semua pertanyaanmu," bujuk Dave, "Bi Sarti bilang hari ini kau cuma makan sedikit," papar Dave. "Apa ka tidak enak badan?" Dave menatap istrinya dengan wajah khawatir.


"Aku hanya lelah, Dave. Seharian aku hanya tidur, makanya aku hanya makan sedikit," jelas Jeslyn.


"Baiklah. Kalau begitu kau harus makan banyak sekarang."


Jeslyn tidak menjawab dan hanya mengangguk. Acara makan pun berlangsung sunyi. Hanya terdengar suara televisi karena Jeslyn menyalakan televisi sebelum dia tertidur tadi.


"Sekarang jelaskan padaku, kenapa kau baru pulang?" tanya Jeslyn ketika mereka sudah selesai makan.


Saat ini mereka sedang duduk bersandar di tempat tidur sambil menghadap ke arah televisi.


Sebelum menjawab pertanyaan Jeslyn, Dave merubah posisi tubuhnya menghadap istrinya. "Ada temanku yang berkunjung ke kantorku. Aku juga mampir ke mansion mama dulu," jelas Dave sambil membenarkan rambut istrinya yang berantakan.


Jeslyn melirik tajam pada suaminya. "Temanmu, wanita atau pria?" tanya Jeslyn dengan tatapan curiga.


"Pria, Sayang. Dia sahabatku. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya jadi kami berbicang sebentar di kantorku," jelas Dave sambil tersenyum. Dia merasa gemas melihat tingkah istrinya yang terus aja mencurigainya.


"Benarkah? Kau tidak berbohong, kan?" tanya Jeslyn dengan sorot mata menyelidik.


"Tidak, Sayang," jawab Dave lembut, "kau menggemaskan sekali kalau sedang cemburu begini, membuatku ingin...."


"Aku mengantuk, Dave. Aku ingin tidur lagi," ucap Jeslyn sambil merebahkan tubuhnya sambil membelakangi suaminya.


Jeslyn membalik tubuhnya menghadap suaminya. "Dave, kenapa tubuhmu wangi sekali?" tanya Jeslyn sambil mengendus badan Dave.


"Aku tidak memakai parfum, Sayang. Aku baru saja mandi tadi," jelas Dave.


Jeslyn menatap heran pada suaminya. "Benarkah?"


"Iya, Sayang," jawab Dave lembut.


"Tapi kenapa tubuhmu wangi sekali?" Jeslyn mendekatkan wajahnya ke dada suaminya sambil mengendusnya.


Dave tersenyum. "Mungkin wangi sabun, Sayang," jawab Dave sekenanya.


Jeslyn terlihat membenamkan wajahnya di dada suaminya. "Nyaman sekali," ucap Jeslyn pelan sambil memeluk tubuh Dave.


"Sebentar, Sayang." Dave melepaskan kaos yang melekat pada tubuhnya lalu berkata, "begini lebih baik." Dave berbaring lagi lalu memeluk istrinya.

__ADS_1


"Aku suka dengan wangi tubuhmu," ucap Jeslyn sambil mengendus wangi tubuh suaminya.


"Sayang, jangan lakukan itu," cegah Dave saat merasa ada sentuhan lembut di dadanya.


Jeslyn tampak tidak menghiraukan ucapan suaminya dan terus menggerakkan tangannya. "Aku hanya penasaran dengan tubuhmu. Apa aku tidak boleh menyentuhnya?" Jeslyn berpura-pura menampilkan wajah sedihnya.


Dave yang melihat itu langsung menghela napas halus. "Boleh, Sayang, lakukanlah sesukamu. Kau boleh menyentuh bagian manapun," ucap Dave dengan wajah pasrah.


Mata Jeslyn langsung berbinar. "Benarkah?"


"Heeemm," gumam Dave sambil mengangguk.


Jeslyn yang sedari dulu memang penasaran, tidak melewatkan kesempatan itu. Dia mulai menelusuri tubuh Dave dengan tangannya. "Sayang, bagaimana kalau kita tidur sekarang?" ajak Dave ketika merasa tubuh bagian bawahnya, mulai bereasi ketika Jeslyn meraba otot perutnya.


"Aku tidak mengantuk, Dave. Aku sudah tidur seharian," tolak Jeslyn tanpa menghentikan tangannya.


"Tapi aku sudah mengantuk, Sayang," bohong Dave.


"Kau bisa tidur duluan," ucap Jeslyn acuh tak acuh.


"Aku tidak akan bisa tidur jika kau terus menyentuh tubuhku, Sayang," ucap Dave dengan suara berat. Dia sedang berusaha menahan dirinya.


"Bukankah kau bilang, aku boleh menyentuhnya?"


"Iyaaa, tapi kau akan menyesal jika terus melakukan hal itu, Sayang."


"Kenapa menyesal? Aku tidak melakukan kesalahan apapun," jawab Jeslyn santai.


"Apa kau sungguh belum mau tidur?" tanya Dave sambil menunduk menatap istrinya yang tampak menampilkan wajah acuh tak acuh.


"Iyaaa, aku belum mengantuk, Dave."


Dengan gerakan cepat, Dave memegang tangan istrinya. "Karena kau bilang belum mengantuk, bagaimana kalau kita membuatkan cucu untuk mama," bisik Dave dengan suara serak.


Belum sempat Jeslyn menjawab, secepat kilat Dave sudah berada di atas tubuh istrinya. "Bukankah kau bilang sudah mengantuk tadi?" tanya Jeslyn dengan wajah terkejut.


"Sekarang sudah tidak lagi, Sayang," jawab Dave dengan senyuman penuh arti.


Malam itu, Dave kembali mengulang kegiatan yang menguras keringat mereka. Jeslyn merasa heran, Dave seperti tidak mengenal lelah sama sekali. Padahal, dia kurang tidur, tetapi dia terlihat tidak lelah sama sekali.

__ADS_1


"Sayang, kau harus segera hamil anakku agar aku bisa tenang," ucap Dave di sela-sela kegiatan mereka. Dave tampak masih bersemangat setelah melakukannya selama 2 jam. Terlihat kalau Dave belum ada niat untuk berhenti.


Bersambung...


__ADS_2