
Jeslyn tampak merasa malu. Dia lebih memilih menghindari tatapan Dave sambil melangkah turun dari tempat tidur. “Sayang kau mau ke mana?”
Jeslyn menoleh. “Aku ingin mandi Dave. Badanku lengket.”
“Apa perlu aku bantu?” goda Dave.
“Tidak perlu.” Jelsyn melangkah cepat untuk menyembunyikan kegugupannya. Dia masih merasa malu setiap Dave menggodanya.
Dave tersenyum melihat Jelsyn yang tampak salah tingkah. Dia kemudian berjalan ke lemari untuk memakai bajunya, setelah itu Dave berjalan ke tempat tidur, meraih ponselnya yang tampak berbunyi. Dia melangkah keluar kamar sambil mengangkat telpon.
*****
Jeslyn mengedarkan padangannya saat tidak melihat Dave di dalam kamar. Dia berjalan ke lemari dan segera memakai pakaiannya. Jeslyn memegang perutnya yang terasa lapar. Dia hanya makan sedikit tadi saat di rumah sakit. Dia memutuskan untuk turun ke dapur untuk mencari makanan.
Semejak di rawat di rumah sakit, dia merasa sedikit bertenaga. Jeslyn membuka kulkas untuk mencari makanan yang bisa dia makan. “Kau sedang apa sayang?” Dave menghampiri Jeslyn yang tampak sedang melihat isi kulkas.
Jelsyn menoleh sambil mentup kulkas. “Aku lapar Dave.”
Dave berdiri di depan Jeslyn. “Kau mau makan apa sayang? Aku akan meminta Zayn untuk membelikanmu.”
Jeslyn menggeleng. “Jangan Dave! Lebih baik kita delivery order saja. Aku tidak mau merepotkan Zayn. Kasihan juga kalau harus ke sini hanya untuk mengantarkan makanan saja.”
Dave membelai wajah istrinya. “Tidak merepotkan sayang. Itu memang sudah menjadi tugasnya. Aku membayar mahal dia, jadi kau tidak perlu merasa terbebani akan hal itu.” Dave mengerti kalau Jeslyn merasa sungkan pada Zayn. Dia tidak mengetahui kalau Zayn dibayar tinggi oleh Dave untuk melakukan semua yang dia perintahkan.
“Aku ingin makan soto ceker Dave, tapi aku ingin makan di tempat.”
“Kau masih lemah sayang. Kau tidak boleh pergi keluar dulu. Aku akan membelikanmu. Kau tunggu di sini.” Dave langsung berdiri meraih kunci mobil.
“Baiklah.” Jeslyn akhirnya mengalah. Dia tidak mau berdebat dengan Dave hanya karena perkara makanan.
Setenga jam kemudian, Dave kembali dengan membawa pesanan Jeslyn. “Makanlah sayang.” Dave menyodorkan makanan ke depan Jeslyn.
“Kau membeli di mana? Kenapa cepat sekali?” Jeslyn mulai memasukkan makanan ke dalam mulutnya sambil menatap ke arah Dave.
“Aku membeli di restroran dekat sini, kebetulan aku tahu tempat itu karena sering makan di sana bersama Zayn.”
“Kau tidak makan?” tanya Jeslyn lagi ketika melihat Dave hanya memandang wajahnya saja sambil menopang dagunya dengan satu tangan.
“Nanti saja. Aku belum lapar.”
“Jeslyn, sepertinya aku tidak akan pulang malam ini.” Dave menatap serius pada Jeslyn.
Jeslyn menghentikan tangannya. “Kenapa?” tergambar jelas raut sedih di wajah Jeslyn.
“Ada yang harus aku urus sayang. Aku akan menghubungimu lagi nanti.”
“Jam berapa kau akan pergi?” Jeslyn merasa tidak rela jika Dave pergi. Entah kenapa dia tidak ingin berpisah dengan Dave walaupun hanya semalam saja.
“Jam 7 malam nanti. Aku akan menyuruh Maya untuk menemanimu di sini.”
__ADS_1
“Kau akan ke mana?” Jeslyn merasa ada yang disembunyikan oleh Dave.
“Aku ingin pulang ke mansion mama dan papa.”
“Apakah terjadi sesuatu?” Jeslyn memandang Dave dengan wajah penasaran. Biasanya Dave selalu mengajak Jeslyn untuk pergi bersamanya. Dia merasa sikap Dave sedikit aneh malam ini.
“Tidak ada sayang. Aku hanya ingin berbicara dengan papa.”
“Kalau begitu aku ikut denganmu.” Jeslyn tidak ingin ditinggal sendirian di apartemen Dave.
“Jangan sayang..Kau belum pulih sepenuhnya. Aku akan kembali besok pagi-pagi sekali ke sini.”
Perasaan Jeslyn semakin tidak menentu saat Dave tidak mengijinkannya untuk ikut. Biasanya Dave tidak mau datang ke sana sendirian, apalagi dia tidak pernah mau menginap di mansion orang tuanya, walaupun dipaksa oleh orang tuanya.
Jeslyn hanya diam, dia sudah tidak mengeluarkan kata-kata lagi. “Aku janji akan pulang besok.” Dave berusaha membujuk Jelsyn. Dia merasa kalau Jeslyn tidak ingin dia pergi.
Setelah memasukkan suapin terakhirnya, Jeslyn berjalan meninggalkan meja makan tanpa berkata apa-apa pada Dave. Jeslyn tidak menghabiskan makanannya. Napsu makannya tiba-tiba hilang ketika mendengar Dave tidak akan pulang malam ini.
Dave menyusul Jeslyn ke kamar. Dia duduk di tepi tempat tidur. “Kau kenapa diam saja? Apa kau marah?” Dave mengelus pelan rambut Jeslyn, ketika melihat Jeslyn berbaring membelakanginya.
“Tidak.. Aku hanya mual. Aku ingin istirahat.”
“Apa kau ingin muntah?” Dave merasa khawatir kalau Jeslyn akan muntah-muntah lagi seperti yang waktu itu dia lihat.
“Tidak Dave. Aku sudah minum obat mual tadi.” Jeslyn tidak juga mau membalikkan badannya.
“Ya..Pergilah.”
“Aku akan menunggu sampai Maya datang.” Melihat Jeslyn hanya diam saja, membuat Dave merasa bersalah. “Apa kau tidak ingin aku pergi?” Dave mengusap lembut bahu Jeslyn.
Jeslyn membalikkan tubuhnya. “Kalau aku memintamu untuk tetap di sini apa kau tidak akan pergi?” Jeslyn hanya ingin tahu apakah Dave akan merubah keuputusannya.
“Aku harus pergi Jes. Aku janji mulai besok aku akan terus menemanimu. Aku harus mengurus sesuatu.”
“Tidak bisakah kau pergi besok saja.” Jeslyn masih merasa berat membiarkan Dave pergi.
“Aku harus pergi malam ini sayang.”
Setelah mendengar jawaban dari Dave, Jeslyn merasa sedikit kecewa, padahal dia berharap kalau Dave tidak pergi meninggalkannya malam ini. “Kalau begitu pergilah.”
Terdengar bel dari luar. “Aku akan membukanya.” Dave berjalan keluar kamarnya. Saat membuka pintu dia melihat Maya sudah datang. “Masuklah.” Dave mendahului Maya masuk ke dalam. “Malam ini temani istriku. Kau bisa memakai kamar yang bersebelahan dengan kamar kami.”
Maya membungkuk. “Baik Tuan.”
Dave menunjukkan kamarnya. Setelah itu dia menyuruh Maya untuk menunggu di ruangan keluarga.
Dave berjalan masuk kamarnya lagi. Dia melihat Jeslyn sedang memegang ponselnya. “Sayang, Maya sudah datang.” Jeslyn menoleh. “Iyaa.”
Dave menghampiri Jeslyn. “Aku akan pergi sekarang.”Dave mengecup kening Jeslyn. “Nanti aku akan menghubungimu lagi. Kalau kau memerlukan sesuatu hubungi saja Zayn,” ucap Dave sambil mengelus pipi Jeslyn.
__ADS_1
“Hhhmmm,” gumam Jeslyn.
"Sayang, jangan marah ya? Aku hanya pergi sebentar. Kamu harus tahu, kalau aku mencintaimu. Jaga dirimu baik-baik," ujar Dave sambil mengecup punggung tangan Jeslyn.
"Yaa."
Dave hanya menghela napas halus saat melihat sikap acuh Jeslyn. Dia kemudian berjalan keluar dari kamarnya. “Jaga istriku baik-baik, jika terjadi apa-apa, langsung hubungi aku.” Dave memberikan nomor ponselnya pada Maya.
“Baik Tuan.”
****
Jeslyn terbangun tengah malam saat mendengar bunyi telpon masuk dari ponselnya. Dia perlahan membuka matanya lalu melirik pada jam dinding. Waktu menunjukkan pukul 2 pagi. Jeslyn meraih ponselnya dan melihat siapa yang menelponya.
Maya juga ikut terbangun ketika mendengar bunyi ponsel Jeslyn. Maya memang tidur di kamar Jelsyn karena Jeslyn meminta Maya untuk menemaninya di kamarnya. “Haloo.. Iyaa kenapa, Pa?” Jeslyn merasa heran kenapa ayah Dave tiba-tiba menelponnya, apalagi pada pukul 2 pagi.
“Jeslyn lagi di apartemen Dave. Ada apa, Pa?”
“Untuk apa, Pa?”
“Ap..Apa.. Apa maksud Papa?”
Wajah Jeslyn langsung pucat. Tangannya bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Tidak lama kemudian tubuh Jelsyn ambruk di lantai tidak sadarkan diri.
Maya langsung berlari mendekati Jeslyn. “Nyonya kenapa?” Maya mulai panik saat melihat Jeslyn tiba-tiba pingsan.
“Nyonya.” Melihat Jeslyn tidak meresponnya. Maya kemudian memeriksa denyut nadinya, lalu membaringkan tubuh Jeslyn di lantai dengan posisi terlentang. Diam menaikkan kaki Jeslyn agar posisinya lebih tinggi dari pada dadanya.
Maya berjalan keluar kamar lalu kembali setelah beberapa saat. Dia menncoba mendekatkan mendekatkan jarinya yang sudah diolesi oleh minyak kayu putih ke arah hidung Jeslyn. “Nyonya, bangun Nyonya.” Maya mencoba menepuk-nepuk wajah Jeslyn. Maya terus memanggil Jeslyn sambil mencoba menghubungi seseorang.
Jeslyn mulai membuka matanya setelah 10 menit dia pingsan. Tatapan Jeslyn kosong. “Maya, antarkan aku ke rumah sakit.” Jelsyn mulai terisak. Maya membantu Jeslyn bangun dari tidurnya.
“Aku pesankan taksi dulu Nyonya.” Maya memilih untuk tidak bertanya banyak hal pada Jeslyn saat melihat Jeslyn hanya diam sambil meneteskan air matanya.
Jelsyn berusaha berdiri. “Sebaiknya Nyonya memakai pakaian yang hangat. Di luar sangat dingin Nyonya.”
“Tolong ambilkan jaketku saja di lemari Maya.” Jeslyn tidak sanggup untuk berjalan. Dia merasa tidak punya tenaga lagi untuk mengambil pakaiannya di lemari.
“Ini Nyonya.” Maya menyodorkan jaket tebal pada Jeslyn. “Terima kasih Maya.” Air mata tampak a
masih mengalir di pipi Jeslyn.
“Nyonya, taksinya sudah di bawah.”
Mereka berjalan keluar dari apartemen Dave dengan langkah cepat. Maya memegang lengan Jeslyn karena takut Jelsyn akan pingsan lagi.
Jelsyn dan Maya langsung masuk ke dalam taksi yang mereka pesan. Selama di perjalanan Jeslyn hanya diam. Tidak ada suara isakan yang terdengar. Hanya airmata yang terus mengalir. Maya hanya memadang penuh tanya pada Jeslyn.
Bersambung..
__ADS_1