Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Penjelasan Diana


__ADS_3

Diana melirik sekilas pada Jeslyn lalu beralih menatap Dave. "Kau memintaku untuk menjelaskan padanya sebagai sekertarismu atau sebagai temanmu?" tanya Diana dengan wajah tenang.


Pembawaan Diana memang selalu tenang, meskipun dalam keadaan terdesak pun. Hanya Felicia yang mampu memancing emosinya. Pengendalian emosinya memang cukup baik. Itulah membuat Dave bisa berteman lama dengan Diana.


"Tentu saja sebagai sekertarisku," jawab Dave dengan mantap.


"Kalau begitu, maaf pak Dave, saya tidak bisa menjelaskan pada istri Anda karena itu berhubungan dengan masalah pribadi. Saya tidak mau membahas masalah pribadi pada saat jam kantor," ucap Diana dengan tegas.


"Di, kau jangan macam-macam. Istriku bisa mengusirku dari rumah kalau kau tidak menjelaskannya."


Dave tahu kalau saat ini Diana sedang mengerjainya, walaupun memang Diana tidak pernah mau membahas masalah pribadi pada saat jam kantor, tetapi kalau Dave yang memintanya, dia pasti menurutinya.


Diana tersenyum mengejek. "Bukankah itu bagus. Kau bisa menginap di rumahku kalau begitu," ucap Diana enteng.


"Astagaa Dii... Apa kau sungguh ingin aku diusir dari rumah?" tanya Dave dengan wajah terkejut sekaligus pasrah.


Dave yang melihat tatapan tajam istrinya langsung memegang tangan Jeslyn. "Kau salah paham sayang. Diana hanya mengerjaimu," jelas Dave buru-buru dengan wajah cemas.


Dave kemudian menatap Diana lagi. "Di, tolong jelaskan yang benar pada istriku," mohonnya.


Diana menatap Jeslyn sebentar lalu beralih pada Dave. "Apa dia akan percaya padaku, jika aku yang menjelaskannya? Sepertinya sia-sia saja aku menjelaskannya. Dia tidak akan percaya padaku, Dave. Wajah istrimu menunjukkan kalau dia curiga dengannku," ucap Diana santai. Dia sudah melupakan bahasa formalnya karena pembahasan masalah pribadi Dave.


"Aku akan lebih percaya padamu dari pada dengan orang lain yang tidak aku kenal," sela Jeslyn.


Belajar dari kejadian sebelumnya, Jeslyn harus membicarakan sesuatu dengan kepala dingin. Dia tidak boleh menerima informasi bulat-bulat tanpa menelaah dan mendengar penjelasan terlebih dahulu.


"Baiklah kalau begitu. Aku hanya akan menjelaskannya sekali ini saja," ucap Diana dengan wajah serius. "Dengarkan baik-baik. Aku sebenarnya malas membahas mengenai hubunganku dengan Dave, tetapi aku akan menjelaskan padamu agar kau tidak salah paham padaku," ucap Diana lagi.


"Diii, tersenyumlah, wajahmu dingin sekali. Kau membuat istriku tidak nyaman," sela Dave saat melihat wajah datar Diana.


Diana kemudian menoleh pada Dave. "Apa kau ingin aku mengganti wajahku agar istrimu merasa nyaman?" sindir Diana dengan wajah sinis.


Diana memang selalu saja bisa membalas setiap ucapanya Dave, hanya dia yang berani berbicara pada Dave dengan nada ketus dan acuh. Mungkin karena mereka sudah berteman sejak SMA membuat mereka sudah mengerti sifat satu sama lain.


"Itu lebih baik. Istriku sangat cemburu denganmu. Kalau bisa ubah wajahmu menjadi jelek agar istriku tidak cemburu lagi padamu," jawab Dave enteng.


Jeslyn langsung menatap tajam pada Dave. "Awww,, sakit sayaaang," rintih Dave sambil mengusap-usap perutnya yang dicubit oleh Jeslyn. Dia hanya berpura-pura merasa sakit agar istrinya tidak marah lagi padanya.


Diana tampak menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah dua orang di depannya. "Cepat jelaskan pada istriku Di! Aku ingin bermesraan dengan istriku. Kau mengganggu kami," perintah Dave dengan tidak sabar.


Jeslyn kembali menatap tajam suaminya. Dia tidak mengerti kenapa suaminya bersikap konyol saat ini.


Diana tampak merasa kesal pada Dave. "Kau yang sudah memanggilku ke sini, kau juga yang menganggu pekerjaanku dengan hal tidak penting, Dave," ucap Diana.


"Tentu saja ini hal penting, ini mengenai hidup dan matiku."


"Aku tidak peduli dengan hidup dan matimu," ucap Diana dengan wajah acuh, dia kemudian beralih menatap Jeslyn, "Jes, aku akan langsung pada intinya karena aku sedang banyak kerjaan," ucap Diana sambil menatap pada Jeslyn.

__ADS_1


Jeslyn mengangguk. "Aku dan Dave tidak memiliki hubungan apapun. Dari dulu kami hanya berteman dan tidak pernah menjalin hubungan sama sekali." Diana menjeda ucapannya sejenak.


"Aku tidak tahu kau mendengar gosip dari mulut siapa sehingga kau berpikir kalau aku memiliki hubungan suamimu, tetapi kami sungguh hanya berteman. Aku tidak suka mengambil milik orang lain, Jes," terang Diana dengan tegas.


"Jika aku berniat mengambil Dave darimu, pasti sudah lama aku lakukan. Aku bisa saja melakukannya sebelum dia menikah denganmu atau diawal pernikahan kalian. Aku tahu pernikahan kalian dilakukan atas pejodohan, apalagi saat itu Dave tidak mencintaimu tidak sulit bagiku jika ingin merusak rumah tangga kalian," ucap Diana dengan wajah serius.


"Lalu mengenai di ruang meeting. Kami tidak melakukan apapun di sana. Kami melanjutkan meeting dadakan di sana."


Diana mulai menceritakan semua kejadian yang sebenarn pada Jeslyn. Jeslyn tampak mendengarkan dengan wajah serius cerita dari Diana.


"Itulah kebenarannya, Jes. Kau percaya atau tidak, itu hakmu, yang terpenting aku sudah menjelaskan yang sebenarnya," ucap Diana ketika dia sudah selesai menjelaskan pada Jeslyn.


"Dia mendengar gosip dari karyawan lain, Di. Aku harap kau memakluminya," sela Dave. Dia sebenarnya juga tidak enak dengan Diana, tetapi dia harus tetap meluruskan semuanya agar istrinya tidak salah paham lagi.


"Aku mengerti, Dave," ucap Diana.


"Diana, apa kau membenciku?" tanya Jeslyn sambil menatap santai Diana.


Dia sempat tertegun sesaat mendengar pertanyaan Jeslyn. "Tentu saja tidak. Kita tidak pernah terlibat masalah apapun. Kau juga istri dari temanku, tidak ada alasan untukku membencimu."


"Bukankah kau menyukai suamiku?" tanya Jeslyn dengan wajah tenang.


Diana mengenyit sebentar kemudian beralih menatap pada Dave. "Apa kau yang memberitahu istrimu tentang hal itu?"


Dave tersenyum kaku sambil menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Maaf Di, aku terpaksa memberitahu istriku agar dia tidak salah paham. Dalam hubungan suami istri harus ada keterbukaan satu sama lain agar tidak menimbulkan masalah nantinya," jelas Dave.


"Maaf Diana, aku kira kau tidak menyukaiku karena Dave menikah denganku," ucap Jeslyn dengan wajah bersalah.


Berbeda dengan Jeslyn yang merasa bersalah. Dave justru sedang duduk santai sambil memainkan rambut Jeslyn. Dia tampak acuh tak acuh dan tidak menghiraukan pembicaran dua wanita cantik itu, seolah bukan dia yang sedang dibahas.


"Aku bisa mengerti perasaanmu. Mungkin jika aku ada di posisimu, aku akan berpikir sama denganmu. Jika kau tidak suka dengan kedekatanku dengan Dave, aku akan menjaga jarang dengannya, tetapi untuk urusan pekerjaan kami akan bersikap profesional karena aku tidak suka mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan."


Jeslyn langsung menggeleng. "Tidak perlu. Aku hanya ingin tau kebenarannya saja. Terima kasih Diana karena sudah menjelaskan padaku," ucap Jeslyn sambil tersenyum.


Diana mengangguk. "Baiklah, aku anggap masalah ini selesai." Jeslyn langsung mengangguk.


Diana kemudian beralih menatap Dave yang tampak masih memainkan rambut istrinya sambil sesekali mencium rambut Jeslyn. "Pak Dave, apakah masih ada yang bisa saya bantu?" tanya Diana sambil menatap bosnya.


Dave menoleh pada Diana. "Iyaa, kau handle dulu pekerjaanku," perintah Dave dengan wajah santai, "dan, jangan menganggangguku 2 jam kedepan. Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam ruanganku," lanjut Dave lagi.


"Baik Pak, kalau begitu saya permisi dulu." Diana berjalan keluar dari ruangan Dave setelah melihat anggukan dari Dave.


Setelah Diana tidak terlihat lagi. Dave kemudian meraih remot dan mengarahkan pada jendela ruangannya. Seketika tirainya langsung tertutup sempurna.


"Kenapa ditutup?" tanya Jeslyn sambil menoleh pada suaminya.


Dave menyunggingkan sudut bibirnya. "Apa kau sudah percaya kalau aku dan Diana tidak memiliki hubungan apapun?" Dave tidak menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan istrinya dan justru mengajukan pertanyaan lain pada Jeslyn.

__ADS_1


"Iyaa, maaf Dave," ucap Jeslyn dengan suara rendah.


Dave mulai mendekatkan tubuhnya pada istrinya. "Dave apa yang mau kau lakukan?" tanya Jeslyn gugup ketika Dave sudah meraih pinggangnya dan menatapnya dari jarak sangat dekat.


"Menurutmu?" bisik Dave di telinga Jeslyn.


"Jangan macam-macam Dave, ini di kantor." Jeslyn mendorong pelan tubuh suaminya.


"Memangnya kenapa? Ini adalah kantorku. Tidak ada yang berani melarangku di sini."


Jeslyn menelan salivanya. "Dave, apa kau sudah makan?" tanya Jeslyn berusaha untuk mengalihkan perhatian suaminya.


"Belum, aku tidak sempat makan setelah meeting. Aku akan memakanmu terlebih dahulu," ucap Dave sambil menyeringai.


"Dave, jangan gila, ini adalah kantor. Bagaimana kalau ada yang tiba-tiba masuk?" ucap Jeslyn dengan wajah cemas.


Dave tidak memperdulikan ucapan istrinya dan kembali mendekati Jeslyn. "Apa kau tidak dengar perkataanku pada Diana tadi? Tidak akan ada yang berani masuk, jika aku sudah memberikan perintah," ucap Dave sambil mendekatkan wajahnya pada istrinya.


"Tapi Dave, jangan di sini."


"Kalau begitu bagaimana kalau kita lakukan di ruangan pribadiku. Ada tempat tidur di sana."


Jeslyn langsung menggeleng. "Tidak, Dave jangan bercanda. Aku masih lelah karena tadi pagi," tolak Jeslyn cepat.


Dave tampak acuh tak acuh. "Dave, turunkan aku," pekik Jeslyn ketika Dave sudah meraih tubuhnya dan menggendongnya menuju sebuah ruangan kecil yang terdapat tempat tidur.


Jeslyn mulai panik saat menurunkannya dengan hati-hati lalu mengunci pintu. "Dave, bukankah kau sedang sibuk? Lebih baik kau bekerja."


Dave tidak menjawab dan justru melepaskan dasi dan jasnya setelah itu mengggulung lengan kemejanya.


Jeslyn bertambah panik saat melihat Dave membuka dua kancing bagian atasnya. "Dave, kita bisa melakukannya di rumah, jangan di sini."


Dave tidak menghiraukan ucapan istrinya. Dia berjalan ke arah istrinya kemudian berbaring di tempat tidurblalu menarik tanngan istrinya agar berbaring bersamanya.


"Aku hanya ingin istirahat sayang. Aku lelah sekali," ucap Dave sambil memeluk tubuh Jeslyn yang sedang menghadap dirinya.


Jeslyn langsung mendongakkan kepala menatap suaminya. "Bukankah kau bilang...."


"Aku hanya bercanda sayang. Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu di kantorku, meskipun dengan istriku sendiri," ucap Dave sambil mengeratkan pelukan dan memejamkan matanya. "Aku hanya ingin istirahat sayang. Temani aku tidur sebentar."


Akibat aktifitas melelahkan tadi pagi dan meeting berturut-turut yang menguras pikiran tenaganya membuat Dave ingin mengistirahakan tubuhnya sejenak.


Jeslyn tersenyum. "Baiklah, tidurlah suamiku." Jeslyn ikut memejamkan matanya sambil memeluk suaminya. 


Bersambung...


Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..

__ADS_1


__ADS_2