Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Akhirnya Bertemu


__ADS_3

Jeslyn menghembuskan napas kasar lalu menoleh. "Hai Lyn, lama tidak berjumpa." Glen menatap Jeslyn dengan senyuman lebar ketika arah pandangannya Jeslyn jatuh pada dirinya.


"Glen?" ucap Jeslyn dengan wajah terkejut.


Glen terenyum lebar. "Aku kira kau sudah melupankanku Lyn," ucap Glen dengan nada lembut.


"Tentu saja tidak." Jeslyn beralih menatap suaminya. "Jadi, tamu yang dimaksud Diana adalah Glen?" tanya Jeslyn.


"Hhhmmm," gumam Dave sembari mengangguk, "duduk sayang." Jeslyn mengangguk lalu duduk di samping suaminya.


Jeslyn seketika merasa malu karena sudah salah sangka pada suaminya. Dia sudah berpikiran aneh-aneh saat Diana mengatakan kalau Dave tidak bisa diganggu karena sedang ada tamu penting di dalam ruangannya.


"Bagaimana kabarmu Lyn?"


Melihat wanita yang dia cintai duduk di samping dengan pria lain, membuat dada Glen berdenyut nyeri, tapi dia berusaha menguasai perasaannya yang tersakiti karena melihat pemandangan di depannya saat Dave tampak sengaja memegang tangan istrinya di depannya.


"Baik, Glen," jawab Jeslyn ramah, "bagaimana kabarmu?"


"Seperti yang kau lihat, aku baik. Hanya hatiku saja yang sakit," ucap Glen dibarengi dengan senyuman manis yang dipaksakan, "aku dengar kau seorang Dokter?" tanya Glen basa-basi.


Jeslyn tersenyum seraya mengangguk. "Iyaa. Dokter Bedah," jawab Jeslyn membenarkan.


"Kenapa kau tidak memberitahuku waktu itu?"


Seandainya dia tahu kalau Jeslyn adalah seorang dokter, akan lebih mudah baginya untuk menemukan keberadaannya dulu.


"Karena kau tidak bertanya."


Dave hanya diam mendengar percakapan Glen dan istrinya. Dalam hatinya dia merasa cemburu melihat interaksi mereka berdua yang terlihat akrab.


"Benar juga, pantas saja aku lebih cepat pulih waktu itu. Ternyata aku dirawat seorang Dokter cantik berhati malaikat," gurau Glen dan tentu saja langsung mendapatkan lirikan tajam dari Dave.


"Terima kasih karena sudah menolong dan merawatku Lyn. Maaf karena baru bisa mengucapkannya sekarang," ucap Glen tulus.


"Tidak masalah Glen. Itu adalah tugasku."


"Kenapa kau pergi begitu saja waktu itu?" tanya Glen penasaran.


Saat Jeslyn tiba-tiba menghilang di hari kedua setelah dia sadar, Glen merasa kecewa karena belum sempat berterima kasih dan belum tahu apapun mengenai wanita yang sudah menolongnya.


"Tugasku sudah selesai. Kau sudah sadar jadi tidak ada alasan lagi bagiku untuk datang menemuimu," jawab Jeslyn.


"Aku tidak menyangka kalau kau adalah istri Dave. Aku sangat terkejut saat mengetahui kalau kau sudah menikah dengannya," tutur Glen dengan sorot mata yang memancarkan kesedihan dan kekecewaan.


"Aku juga terkejut saat tahu kalau kau adalah teman Dave. Ternyata dunia ini sempit," tutur Jeslyn dengan senyum tipisnya. 


"Aku akan keluar sebentar, kalian bisa melanjutkan obrolan kalian," sela Dave seraya berdiri.


Dia berjalan menuju pintu tanpa menunggu respon dari kedua orang yang sedari tadi mengobrol. Melihat istrinya tampak akrab dengan pria lain membuatnya terbakar api cemburu. Dia takut semakin lama berada di sana, dadanya akan semakin terbakar dan akan membuatnya semakin cemburu.

__ADS_1


Selain karena rasa cemburu, sebenarnya salah satu alasan Dave meninggalkan mereka berdua karena ingin memberikan waktu pada Glen untuk menyampaikan semua yang ingin dia katakan pada istrinya. Setidaknya Glen tidak akan penasaran lagi dengan istrinya.


"Lyn," panggil Glen ketika melihat Jeslyn masih memandang ke arah suaminya pergi.


Jeslyn langsung menoleh pada Glen. "Maaf Glen."


"Aku ingin bertanya padamu, tapi ini agak bersifat pribadi," ucap Glen dengan hati-hati.


"Apa yang ingin kau tanyakan padaku?"


Sebenarnya Jeslyn bisa menebak apa yang akan Glen tanyakan padanya, tapi dia hanya berpura-pura tidak tahu.


"Apa kau bahagia menikah dengan Dave?"


"Tentu saja, Glen. Aku sangat mencintainya. Dia adalah satu-satunya pria yang aku cintai dari dulu hingga sekarang."


Jeslyn sengaja mengatakan hal itu agar Glen tidak berharap lagi padanya.


"Aku tahu mengenai perasaanmu padaku. Dave sudah memberitahuku semalam," ucap Jeslyn, "maaf kalau harus mengecewakanmu Glen, tapi aku tidak bisa membalas perasaanmu. Aku sudah menikah dan aku sangat mencintai suamiku," sambung Jeslyn dengan wajah bersalah.


Glen menghela napas berat. Dia merasa seolah dadanya terhantam batu besar setelah mendengar pengakuan Jeslyn. Sakiitt, itulah yang dirasakan Glen saat ini.


"Aku mengerti. Aku tidak bisa memaksamu untuk membalas perasaanku. Aku hanya ingin kau tahu mengenai perasaanku yang sesungguhnya padamu agar tidak ada penyesalan dalam hidupku karena memendam perasaanku."


Setelah mengatakan itu, Glen berusaha mengukir senyuman manis di wajahnya, meskipun hatinya terasa sakit. Jeslyn tentu saja bisa menangkap kesedihan dan kekecewaan pada sorot mata Glen yang berusaha dia tutupi senyumannya.


"Aku harap kau bisa bertemu dengan wanita yang baik dan bisa mencintaimu sepenuh hati, Glen," ucap Jeslyn dengan tulus.


"Kau adalah pria yang baik. Tentu saja kau akan bertemu dengan wanita yang lebih baik dariku. Aku yakin akan ada masanya, kau akan mendapatkan kebahagiaan dengan cara yang tidak pernah kau duga nanti."


"Dave sangat beruntung bisa memiliki istrimu sepertimu," ucap Glen dengan suara pelan.


"Aku tidak sebaik yang kau kira, Glen. Aku memiliki banyak kekurangan yang kau tidak tahu. Aku masih terus berlajar untuk memperbaiki diri," jelas Jeslyn.


"Semua manusia memiliki kekurangan masing-masing, Lyn. Aku hanya iri dengan Dave karena memiliki kehidupan yang nyaris sempurna," tutur Glen. 


******


"Dave tunggu."


Jeslyn mengejar langkah suaminya yang terlihat sudah berada jauh di depannya. Mereka baru saja tiba di rumah pukul 7 malam. Setelah berbicara dengan Glen hingga tiba di rumah, suaminya lebih banyak diam. Dia tidak bicara jika tidak ditanya oleh Jeslyn.


Dave menoleh ke belakang. "Kenapa kau berlari? Kau bisa lelah nanti," ujar Dave ketika melihat istrinya berlari kecil ke arahnya.


Jeslyn mengatur napasnya sejenak ketika dia sudah berada di sebelah suaminya. "Itu karena kau meninggalkan aku," ucap Jeslyn dengan napas tersengal-sengal, "apa kau marah denganku?" tanya Jeslyn dengan wajah sedih.


Dave langsung merengkuh istrinya. "Tidak sayang, maafkan aku," ucap Dave seraya mencium pucuk kepala istrinya.


Jeslyn mengangguk dalam pelukannya Dave. "Kita makan dulu, setelah itu baru mandi," usul Dave.

__ADS_1


"Iyaaa."


Dave mengurai pelukannya lalu merangkul pinggang istrinya untuk berjalan berdampingan dengannya. Mereka langsung menuju ruang makan, meminta bi Sarti untuk menyiapkan makan malam untuk mereka.


Setelah makan mereka masuk ke dalam kamar untuk membersihkan tubuh mereka. Untuk menghemat waktu, Dave memutuskan untuk mandi bersama dengan istrinya. Setelah berganti pakaian, Dave berjalan menuju tempat tidur lalu duduk setengah berbaring, sementara Jeslyn sedang mengeringkan rambutnya.


"Apa saja yang dikatakan Glen padamu?"


Keluar juga pertanyaan yang sedari tadi ada dalam benaknya. Awalnya dia ingin menunggu Jeslyn untuk memberitahunya, namun sampai mereka tiba di rumah, Jeslyn tidak juga bercerita apa-apa.


Jeslyn yang sedang duduk di depan meja rias seketika memutar tubuhnya menghadap suaminya. "Dia ingin menjalin pertemanan denganku, tetapi aku menolaknya. Aku tahu kalau kau pasti tidak suka aku behubungan dengannya, apalagi dia memiliki perasaan padaku," jawab Jeslyn jujur.


Dave seketika terdiam. Dia menatap istrinya cukup lama tanpa mengatakan apapun.


"Aku sudah mengatakan padanya kalau aku tidak mencintainya, Dave dan aku juga sudah mengatakan kalau aku hanya mencintaimu."


Jeslyn berjalan menghampiri suaminya saat melihat Dave masih belum memberikan respon apapun. Dia naik ke tempat tidur lalu berbaring miring, meletakkan kepalanya di dada suaminya seraya memeluknya.


"Dave, kenapa kau diam saja?" Jeslyn mendongakkan kepalanya menatap Dave yang tampak masih berpikir.


"Tidak apa-apa, Sayang," ucap Dave seraya melingkarkan tangan kirinya memeluk tubuh istrinya yang sedang berbaring dengan memeluknya juga.


"Tadi sore aku sempat marah padamu," ucap Jeslyn sambil memainkan jemarinya di dada suaminya.


Dave menunduk menatap heran pada istrinya. "Kenapa?"


"Aku kira kau sedang bermesraan dengan wanita lain di ruanganmu," aku Jeslyn dengan wajah sedikit malu.


"Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu sayang. Kau pikir aku pria brengsek yang bisa bermesraan dengan wanita yang bukan istriku," ujar Dave, "bahkan Felicia yang pernah menjadi istriku saja, tidak pernah aku sentuh, apalagi orang lain," papar Dave.


Sebenarnya, Dave tidak mengerti kenapa bisa istrinya berpikiran seperti itu? Kalau dia ingin berbuat nakal, dia bisa dengan mudah melakukannya di tempat lain.


"Itu karena Diana dan Zayn melarang keras untuk aku masuk ke ruanganmu. Tentu saja aku langsung berpikiran buruk terhadapmu."


"Dengarkan aku, Sayang. Aku tidak akan pernah menyentuh wanita manapun selain dirimu, meskipun mereka berusaha untuk menggodaku," ujar Dave seraya memeluk erat istrinya.


"Apa di antara mereka masih ada yang suka menggodamu?"   


"HHhmmm," guman Dave seraya mengangguk.


"Kau harus menjaga jarak dengan mereka, Dave. Aku tidak suka suamiku terlalu dekat dengan wanita lain. Kau juga tidak boleh lagi makan berdua dengan wanita manapun, walaupun untuk urusan pekerjaan. Setidaknya kau ajak Zayn bersamamu atau ajak Diana," ucap Jeslyn dengan wajah serius.


"Iyaa, Sayang," ucap Dave lembut, "benarkan posisi tidurmu sayang, badanmu bisa pegal nanti," ucap Dave seraya melepaskan pelukannya.


"Tidak mau. Aku ingin tidur sambil memelukmu seperti ini," tolak Jeslyn dengan wajah cemberut.


"Kalau begitu aku benarkan posisiku dulu."


Jeslyn mengangkat kepalanya, setelah itu, Dave membenarkan posisi tidurnya agar berbaring sempurna. Dia menyingkirkan bantal yang tadi dia gunakan untuk bersandar.

__ADS_1


"Tidurlah, Sayang." Dave berbaring sambil memeluk istrinya. Jeslyn mengangguk setelah itu memejamkan matanya.


Bersambung...


__ADS_2