Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Hamil


__ADS_3

Jeslyn membenamkan wajahnya di dada Dave lalu memeluk erat suaminya. Dia merasa malu karena sudah berpikir yang tidak-tidak pada suaminya. “Maafkan aku Dave karena sudah mencurigaimu,” sesal Jeslyn.


“Aku yang salah. Seharusnya aku menjelaskan dari dulu kepadamu. Maafkan aku sayang,” ucap Dave lembut sambil mengecup kening istrinya. “Tidurlah sayang. Setelah itu kita baru pulang.”


“Tapi aku sudah tidak mengantuk Dave.” Jeslyn merasa tubuhnya sudah tidak lelah lagi, setelah tidur siang tadi.


“Kalau begitu lebih baik kita temui papa sekarang, setelah itu kita pulang,” saran Dave.


“Baiklah, tapi aku harus mengganti bajuku dulu,” ucap Jeslyn seraya bangun dari tidurnya.


Dave mengikuti langkah istrinya turun dari tempat tidur. “Aku akan mengambilkan bajumu di mobil.” Dave kemudian berjalan keluar dari kamarnya.


Setelah kepergian Dave, Jeslyn masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh wajahnya, kemudian dia duduk di depan meja rias. “Ini sayang bajumu.” Dave meletakkan paperbag berwarna hitam di atas meja rias.


“Terima kasih, Dave.”


Jeslyn mengambil paperbagnya lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Setelah berganti pakaian, mereka berdua turun ke bawah untuk menemui ayahnya Dave.


Setelah berbincang sebentar dengan ayah Dave, mereka langsung pamit pulang. Dave sengaja meninggalkan Felicia di rumah orang tuanya, sebagai hukuman atas sikap kasarnya pada Jeslyn. Dave memintanya untuk pulang ke esokan harinya.


******


Sebulan sudah berlalu, semenjak kepulangannya Dave dan Jeslyn dari mansion orang tua Dave. Hubungan Jeslyn dan Dave terus membaik. Hari-hari dilewati dengan bahagia.


Dave selalu memperlakukan Jeslyn penuh kasih sayang. Dia juga membatasi pekerjaan Jeslyn selama di rumah sakit, agar Jeslyn bisa pulang ke rumah lebih cepat.


Beberapa hari yang lalu, diam-diam Dave meminta pengacaranya untuk mengurus perceraiannya dengan Felicia. Dia berniat untuk memberikan kejutan pada Jeslyn, setelah selesai mengurus perceraiannya dengan Felicia.


Dia sudah tidak mau lagi menunggu sampai Jeslyn hamil. Dia tidak ingin kalau Felicia mengganggu Jeslyn lagi. Selama sebulan ini, Dave selalu mengacuhkan Felicia.

__ADS_1


Beberapa kali mereka terlihat bertengkar. Felicia marah karena Dave selalu mengacuhkannya. Felicia yang sudah tidak tahan lagi dengan sikap Dave, melupakan emosinya kepada Jeslyn saat Dave sedang keluar kota untuk urusan bisnis.


Felicia menghampiri Jeslyn yang sedang berada di dapur. Dia langsung mendorong Jeslyn hingga terjatuh membentur kulkas.


“Felicia, apa kau sudah gila?” pekik Jeslyn dengan tatapan marah.


“Itu balasan karena kau sudah merebut Dave dariku,” ucap Felicia angkuh.


Jeslyn mencoba berdiri. “Apa kau tidak salah? Di sini aku yang istri pertama, yang berarti kau yang merebutnya dariku.”


Jeslyn berpikir kalau Felicia belum juga bisa menerima kenyataannya kalau Dave tidak mencintainya


“Sebelum Dave menikah denganmu, Dave lebih dulu mencintaiku, jika saja papa tidak menjodohkanmu dengan Dave, tentu saja saat ini hanya aku istri satu-satunya, Dave.”


Ibu Dave sudah memberitahu pada Felicia bahwa Dave menikah dengan Jeslyn karena perjodohan.


“Berani sekali kau menuduhku sebagai orang ketiga! Pasti kau yang sudah menghasutnya sehingga dia tidak memperdulikan aku lagi,” ucap Felicia sambil mendorong Jeslyn lagi karena tidak terima dengan perkataan yang dilontarkan oleh Jeslyn.


Jeslyn terdorong beberapa langkah ke belakang. “Felicia, jangan lagi kau berani menyentuhku,” ucap Jeslyn marah.


Felicia melangkah mendekati Jeslyn. “Memangnya apa yang akan kau lakukan kalau aku menyentuhmu lagi?” tanya Felicia angkuh sambil mendorongnya lagi.


Tidak terima dengan perlakuan Felicia, Jeslyn langsung mendorong Felicia. Dia sudah kesal karena Felicia tidak mengindahkan peringatannya.


Felicia yang tidak terima karena didorong oleh Jeslyn langsung menyerang Jeslyn. Mereka saling serang hingga akhirnya Felicia tiba-tiba jatuh pingsan. Jeslyn yang panik langsung menelpon ambulan dan membawanya ke rumah sakit.


Felicia langsung ditangani di ruang ICU selama 30 menit. Berbagai pemeriksaan telah dilakukan. Jeslyn tidak ikut masuk ke dalam ruang ICU. Dia hanya menunggu diluar. Dion melarangnya masuk karena melihat kepanikan pada Jeslyn.


Setelah selesai melakukan pemeriksaan, Felicia langsung dipindahkan ke kamar perawatan. Dokter Sarah sedang berbicara dengan dokter Dion di dekat tempat tidur Felicia. Jeslyn berjalan mendekat.

__ADS_1


“Dion, bagaimana keadaannya?” tanya Jeslyn pada Dion setelah mereka selesai bicara.


Dion menatap Jeslyn sebentar. “Biar Sarah yang menjelaskan padamu.” Ada firasat buruk saat mendengar perkataan Dion.


Jeslyn menoleh pada Sarah. Dia adalah teman Jeslyn juga. “Apa yang terjadi, Sarah?” tanya Jeslyn dengan suara bergetar. Dia berharap apa yang yang ada dipikirannya saat ini tidak menjadi kenyataan.


Sarah menatap Jeslyn. “Dia tidak apa-apa Jes, dia hanya butuh istirahat. Dai tidak boleh kelelahan. Karena saat ini dia sedang hamil.”


Bagai tersambar petir di siang hari. Jeslyn langsung mematung. Seluruh tubuhnya terasa kaku. Lidahnya menjadi kelu, kata-kata yang ingin dia ucapkan tertahan di tenggorokannya. Apa yang dia pikirkan tadi, akhirnya terjadi juga. Dia sudah menduga kalau Felicia hamil, saat Dion menyuruh Sarah yang menjelaskannya, karena Sarah adalah Dokter Kandungan.


Dion langsung mendekati Jeslyn. “Jes, apa kau tidak apa-apa?” tanya Dion sambil merangkul bahu Jeslyn saat melihat wajah pucatnya.


Jeslyn tidak menghiraukan pertanyaan Dion, dia kembali menatap Sarah. “Apa kau yakin dia sedang hamil?”


Jeslyn hanya ingin memastikannya kembali. Pasalnya selama ini Dave bilang tidak pernah menyentuh Felicia. Dia berpikir bagaimana bisa Felicia hamil jika Dave saja tidak pernah menyentuhnya.


“Jes, apa kau meragukanku?”


Sarah merasa aneh dengan sikap Jeslyn saat ini. Selama ini dia tidak pernah salah mendiagnosa pasiennya. Jeslyn juga tahu hal itu.


“Bukan itu maksud Jeslyn, Sarah,” bela Dion. Dion tahu kalau saat ini Jeslyn sangat terguncang saat mendengar berita kehamilan Felicia.


“Aku sudah melakukan pemeriksaan USG dan cek darah juga untuk memastikannya Jes,” lanjut Sarah lagi saat melihat Jeslyn tampak masih belum percaya dengan berita itu. “Kau bisa melihat sendiri hasil pemeriksaannya.”


“Tidak perlu Sarah, aku percaya padamu. Terima kasih,” ucap Jeslyn pelan.


Sarah mengangguk. “Kalau begitu aku pergi dulu.” Sarah keluar dari ruangan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2