Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Kritis


__ADS_3

Dengan langkah cepat diikuti oleh Maya di belakangnya, Jeslyn menuju pintu masuk rumah sakit. “Pa, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Jeslyn ketika ayah mertuanya sedang menunggu dengan cemas di depan pintu rumah sakit. “Papa juga tidak tahu Jeslyn. Papa ditelpon oleh Zayn kalau Dave mengalami kecelakaan.”


Tubuh Jeslyn langsung lemas. Lututnya bergetar tak mampu menahan bobot tubuhnya. “Nyonya!” Maya menahan tubuh Jeslyn yang akan jatuh ke lantai. Air matanya kembali mengalir deras di pipinya.


Ayah Dave langsung meraih tangan Jeslyn satu lagi untuk membantunya untuk berdiri. “Jes, apa kau baik-kau baik saja?” tanya ayah Dave ketika melihat wajah pucat Jeslyn. Seperti tidak ada alirah darah di tubuhnya.


“Jeslyn tidak apa-apa Pa. Jeslyn hanya syok.” Jeslyn masih berusaha untuk tetap tegar, walaupun air matanya tak bendung lagi.


“Pa, Jeslyn mau bertemu dengan Dave, Pa?” ucap Jeslyn dibarengi suara tangisan yang terdengar lirih.


“Dia masih dalam perjalanan ke sini. Mungkin sebentar lagi sampai. Lebih baik kita tunggu di ruang IGD.”


Setelah Dave mengalami kecelakaan, Zayn langsung menelpon ayah Dave, dan memberitahukan kalau Dave mengalami kecelakaan. Zayn bermaksud membawa Dave ke rumah sakit terdekat, tetapi ditolak oleh ayah Dave. Dia menyuruhnya Zayn untuk membawanya langsung ke rumah sakit milik keluarganya.


Jelsyn berjalan pelan dibantu oleh Maya di sampingnya. Tim dokter sudah di bentuk untuk menangani Dave nantinya. Mereka tampak sudah berjaga di dekat pintu masuk IGD. Mereka langsung dihubungi sesaat setelah mendengar berita tentang kecelakaan Dave.


Diantara dokter yang ada di ruangan ada Dion yang sedang menatap iba pada Jeslyn yang sedari tadi hanya duduk dengan mata yang masih basah sambil menatap kosong di depannya. Ingin sekali Dion menghampirinya dan memeluk erat tubuh ringkihnya Jeslyn apalagi sudah lama dia tidak bertemu dengan Jeslyn.


Dia tidak berani mendekati Jeslyn karena saat ini Jeslyn sedang bersama dengan mertuanya. Dion tidak ingin ada kesalah pahaman yang nantinya akan berakhir menyusahkan Jeslyn. Dion hanya berdiri sambil terus memandang wajah Jeslyn.


Jeslyn sendiri tampak tidak menyadari kehadiran Dion di dalam ruangan tersebut. Saat ini yang ada di pikirannnya hanyalah Dave. Dia sangat takut terjadi apa-apa dengan Dave.


Setelah menunggu beberapa saat terdengar suara ambulance berhenti tepat di depan ruangan IGD. Jeslyn dan ayah Dave seketika berdiri saat melihat beberapa pria berpakain putih masuk dengan mendorong ranjang pasien.


Jeslyn langsung mendekati rajang pasien ketika sudah dipindahkan ke tempat tidur pasien yang ada di dalam ruang IGD. “Daveee...!!” Jeslyn langsung hiteris ketika melihat kondisi Dave yang tidak sadarkan diri dengan tubuh bersimbah darah. “Dave Banguunn Daveee...!!” terdengar rintihan menyayat hati keluar dari mulut Jeslyn.

__ADS_1


Dia terus memanggil nama Dave bercampur suara isak tangis sambil memegang lengan Dave. Terlihat 2 dokter sedang menangani Dave, sementara dokter lain mempersiapkan alat untuk memeriksa untuk memeriksa organ vital Dave.


Dion langsung menghampiri Jeslyn. “Jeslyn tenanglah! Kami akan berusaha menyelamatkannya. Lebih baik kau tunggu di luar.“ Beberapa dokter tampak tidak fokus karena terganggu oleh tangisan Jeslyn yang terdengar sangat memilukan.


Ayah mertuanya mendekati Jeslyn. “Jes, lebih baik kita tunggu diluar.”


“Tidak Pa, aku ingi tetap di sini. Dave pasti membutuhkan aku saat ini. Aku tidak akan pergi ke mana-mana.” Jeslyn menggeleng kuat. Dia sudah tidak bisa berpikiran jernih. Jeslyn terus menatap Dave yang terbaring di tempat tidur dengan wajah sangat cemas.


“Jeslyn. Kau sendiri tahu. Kalau keberadaan keluarga pasien menghambat para dokter untuk menangani pasien. Kamu bisa membuat konstrasi kami buyar.” Dion mengerti kalau Jeslyn sangat khawatir dengan kondisi Dave, tetapi melihat Jelsyn tampak tidak bisa mengendalikan dirinya, membuat Dion harus memintanya untuk keluar.


Setelah kepergian Jelsyn dan ayah mertuanya. Para dokter mulai menagani Dave. “Dion, apa yang terjadi?” Jelsyn langsung menhampiri Dion ketika melihat pintu terbuka.


“Dave harus segera dipindahkan ke ruang operasi.” Ranjang Dave mulai didorong menuju ruang operasi. Jeslyn dan ayah mertuanya mengikuti mereka dari belakang.


Saat tiba di depan ruang operasi. Jeslyn berencana ikut masuk. “Jes, kau tidak bisa ikut masuk ke dalam.” Dion mencegah Jeslyn untuk masuk ke ruang operasi.


“Jeslyn.. Dengan keadaanmu yang seperti ini, kau tidak bisa memegang pasien Jeslyn! Kau justru akan membahayakan keselamatan Dave.”


Jeslyn kembali menangis. “Baiklah. Aku hanya ini berada di sisi Dave. Aku mohon Dion biarkan aku masuk.” Dion merasa tidak tega melihat saat Jeslyn memohon.


“Maafkan aku Jes. Aku tetap tidak bisa membiarkanmu masuk.”


Ayah Dave mendekati Jeslyn. Dia berusaha untuk membujuk menantunya. “Jes, lebih baik kita tunggu di luar.”


“Pasein mengalami henti jantung!” teriak salah satu dokter dari dalam ruang operasi. “Apaaaa?” teriak Jelsyn dengan suara yang melemah. Dia langsung pingsan setelah itu.

__ADS_1


“Jelsyn!” Dion langsung meminta beberapa orang untuk mengangkat tubuh Jeslyn dan memindahkannya ke ruang perawatan.


Ayah Dave langsung panik. “Ada apa dengan anakku? Apa yang terjadi?” tanya Ayah Dave panik. Dia berusaha masuk ke dalam ruang operasi.


“Tuan, silahkan menunggu di luar!” ucap salah satu dokter yang terlihat sudah berumur lima puluhan. Dokter itu menghalangi jalan ayah Dave.


“Lakukan yang terbaikku untuk menyalamatkan anakku!” Dokter mengangguk. “Baik Tuan Besar.” Ayah Dave akhirnya menunggu di depan ruang operasi dengan perasaan khawatir.


Dia sengaja tidak memberitahu istrinya tentang keadaan Dave karena takut dia akan membuat keributan di rumah sakit. Dia tahu betul watak istrinya. Dia pasti akan berteriak histeris jika tahu anak satu-satunya mengalami kecelakaan. Dia tidak mau membuat keadaan makin kacau.


Tim dokter segera melakukan pertolongan pada Dave. Mereka semua berusaha untuk menyelamatkan nyawa pemilik rumah sakit mereka. Dave harus menerima transfusi darah yang keluar dari tubuhnya.


Ayah Dave tampak mulai gelisah saat melihat perawat tampak keluar masuk dari ruang operasi.


Jeslyn mulai membuka matanya. “Maya,” ucap Jeslyn pelan. Dia berusaha untuk duduk. “Ya Nyonya.” Maya menghampiri tempat tidur Jeslyn. “Bagaimana keadaan suamiku?” Jeslyn mulai terisak lagi.


“Maaf Nyonya, saya juga tidak tahu, saya hanya ditugaskan untuk menjaga Nyonya.”


Jeslyn turun dari ranjangnya. “Bantu aku untuk ke sana Maya!”


“Baik Nyonya.” Maya meraih tangan Jeslyn dan memapahnya. Tubuh Jelsyn seperti mayat hidup yang tidak memiliki tenaga. Kehamilan muda dan berita tentang kecelakaan Dave membuat tubuhnya semakin lemah.


Mereka berjalan keluar menuju ruanga operadi. Dia melihat ayahnya sedang duduk. Jeslyn mengampiri ayah mertuanya yang sedang duduk terdiam sambil memijat pelipisnya. “Pa, bagaimana keadaan Dave?” Jeslyn kembali menangis ketika menyebutkan nama Dave. Bayangan wajah Dave yang berlumuran darah selalu terbayang.


Ayah Dave merasa iba melihat menantunya yang tampak sangat terpukul dengan keadaan yang menimpa suaminya. “Dave masih berada di ruang operasi.”

__ADS_1


Jeslyn langsung panik. “Apa yang terjadi Pa? Apa Dave masih...” Jeslyn tidak sanggup untuk melanjutkan ucapanya. Pikiran negatif terus menghantui pikirannya.


Berlangsung...


__ADS_2