
Ibu Dave membuka pintu kamar dengan perlahan. “Fel, kamu sedang apa?” tanya ibu Dave ketika melihat menantunya duduk sambil termenung.
Seketika Felicia langsung menoleh. “Mama baru pulang?” Ibu Dave menghampiri Felicia dan berdiri di sampingnya.
“Iyaa. Kenapa wajahmu pucat? Apa kau sakit?”
“Tidak Ma. Aku tidak apa-apa.” Felicia langsung berdiri di depan ibu mertuanya. “Maa.. Bagaimana kondisi Dave?” Felicia tampak memegang tangan ibu mertuanya dengan perasaan khawatir.
“Dia sudah lebih baik. Hanya tinggal pemulihan.”
“Apa dia menanyakanku? Apa dia tidak mengatakan sesuatu pada mama?”
“Tidak.. Lagi pula kami hanya mengobrol sebentar.”
“Apa Dave tidak marah padaku Ma?” Felicia masih kurang puas dengan jawaban ibu mertuanya.
“Tentu saja tidak. Dia justru akan membawamu pulang bersamanya ketika dia sudah pulih. Lagi pula kenapa dia harus marah padamu?” Ibu Dave tampak merasa heran dengan sikap Felicia.
“Aku pikir dia akan marah karena aku tidak menjenguknya.” Felicia menampilkan wajah sedihnya.
“Kau tenang saja. Mama sudah memberitahunya kalau kau tidak bisa ikut karena kau sedang tidak enak badan.”
Ibu Dave membimbing Felicia untuk duduk di tempat tidur. “Kau harus banyak istrirahat. Jangan sampai kau kelelahan. Mama tidak mau kalau sampai nanti berpengaruh pada kehamilanmu,” ucap Ibu Dave dengan nada lembut.
“Ma, apakah benar Jeslyn sedang hamil anak Dave?” Felicia masih mempertanyakan tentang kehamilan Jeslyn dia rasa hanya karangan Jeslyn saja karena takut diceraikan oleh Dave.
“Iyaa.. Sebelum mama pulang ke sini, Mama menemui dokter Sarah dan menanyakannya langsung.”
“Bagaimana kalau Dave menceraikan aku Ma karena Jeslyn sudah hamil?” tanya Felicia dengan wajah penuh kekhawatiran.
Ibu Dave mengusap lembut bahu menantunya. “Kau tenang saja. Aku tidak akan membiarkan Dave menceraikanmu. Di perutmu ada calon penerusnya. Bagaimanapun kau yang hamil duluan.” Ibu Dave mencoba untuk menenangkan Felicia yang tampak merasa gelisah.
“Aku hanya takut Dave mencari-cari kesalahanku agar dia bisa menceraikan aku Ma.”
“Kau tidak perlu khawatir. Mama akan melindungimu.”
Felicia langsung memeluk ibu mertuanya. “Terima kasih Ma.”
*****
“Dion, bagaimana hasil pemeriksaan menyeluruh Dave?” Jeslyn melangkah mendekati meja kerja Dion.
“Tidak ada masalah Jes. Kau bisa memeriksanya sendiri.” Dion langsung mengambil map putih dan map besar berwarna coklat lalu menyodorkan pada Jeslyn yang sudah duduk di depannya.
__ADS_1
Jelsyn meraih map tersebut kemudian melihat laporan medis Dave. Dion terus saja menatap wajah Jeslyn yang tampak sedang fokus. “Hubungi aku jika dia merasakan nyeri pada luka bekas operasinya,” lanjut Dion lagi ketika melihat Jeslyn menutup map yang tadi diberikan olehnya.
Wajah Jeslyn langsung terlihat cerah ketika selesai memeriksa laporan medis Dave. “Terima kasih Dion. Aku permisi dulu.” Jeslyn berdiri lalu berbalikbmenuju pintu keluar.
“Jes..” Dion mendekati Jeslyn.
Jeslyn menoleh pada Dion. “Ada apa?”
“Apa kau bahagia hidup dengan Dave?” Pertanyaan Dion menimbulkan tanda tanya di benak Jeslyn.
Jeslyn tersenyum lebar ke arah Dion. “Tentu saja Dion.. Aku sangat mencintainya.”
“Kalau Dave menyakitimu, datanglah padaku. Aku akan selalu ada untukmu. Jangan pernah menyembunyikan sesuatu lagi dariku yang bisa membuatmu menderita.”
Jelsyn mengangguk. “Kau tidak perlu khawatir. Dave tidak akan melakukan itu.”
“Aku harap juga begitu. Aku hanya tidak ingin dia menyakitimu lagi.”
“Terima kasih Dion atas perhatianmu. Aku pergi dulu.” Jeslyn keluar dari ruangan Dion menuju kamar Dave.
Jeslyn membuka pintu perlahan. Matanya membulat ketika melihat sudah ada ranjang pasien di sebelah ranjang milik Dave. “Kenapa kau masih terkejut sayang? Bukankah aku sudah bilang kalau kau harus pindah ke sini juga. Aku tidak mau berjauhan denganmu,” ucap Dave ketika melihat Jeslyn berdiri di pintu dengan wajah terkejut.
Jeslyn berjalan mendekati ranjang Dave. “Kau selalu saja menggunakan kekuasaanmu untuk mengatur segalanya sesuai keinginanmu.”
“Bukan seperti itu Dave maksudku.”
“Kenapa kau lama sekali? Apa saja yang kalian bicarakan?” Sebelum Jeslyn pergi ke ruangan Dion, dia terlebih dahulu meminta ijin pada Dave untuk bertemu dengan Dion. Dia tidak ingin Dave salah paham padanya.
“Aku harus memeriksa dengan teliti laporan medis dan hasil pemeriksaanmu Dave.”
“Kau bisa membawa laporan medisku lalu membawacanya di sini. Bukankah kau tahu kalau aku tidak suka kalau kau terlalu dekat dengannya.”
Jeslyn tersenyum lalu mencium pipi suaminya. “Maafkan aku Dave.”
“Baiklah, aku akan memaafkanmu tapi kau harus mencium pipiku yang sebelah lagi.”
“Baiklah.” Jeslyn langsung melakukan permintaan suaminya. “Dave aku ingin mandi dulu. ”Iya sayang.” Dave tersenyum sambil menatap Jeslyn penuh cinta.
Jelsyn kemudian berjalan menuju kamar mandi, sementara Dave tampak menghubungi seseorang melalui ponselnya.
Setelah selesai mandi Jeslyn menyusul Dave ke tempat tidur. "Dave, aku akan keluar sebentar."
"Kau mau ke mana?" Dave tampak menatap istrinya dengan wajah heran.
__ADS_1
"Aku ingin membeli sesuatu untukmu." Jeslyn hendak berjalan tapi tangannya di tahan oleh Dave.
"Tidak usah sayang. Aku sudah meminta untuk Zayn untuk membawakan makanan untuk kita."
"Kenapa merepotkan dia? Bukankah dia sudah sibuk karena menghandle semua pekerjaanmu?" Jeslyn merasa tidak enak hati pada Zayn karena sudah sering merepotkan asisten Dave tersebut.
"Sayang.. Aku membayarnya dengan gaji tinggi. Kau akan terkejut jika tahu gaji yang di dapatkan setiap bulannya."
"Benarkah?" Jeslyn berbalik menghadap suaminya.
"Bahkan lebih tinggi dari gajimu setiap bulannya." Mata Jeslyn membelalak mendengar perkataan suaminya. Gajinya sebagai dokter Bedah di rumah sakit tersebut termasuk tinggi. Dia tidak menyangka kalau gaji asisten Dave melebihi gaji asisten suaminya.
Dave tentu saja tahu gaji istrinya karena dia sendiri yang memerintahkan kepala rumah sakit untuk untuk memberikan gaji tinggi pada istrinya.
"Baiklah."
Tidak lama kemudian seseorang dari luar mengetuk pintu dari luar dan setelah itu pintu terbuka. "Permisi Tuan." Zayn berjalan mendekati Dave.
"Letakkan saja di situ." Dave menunjuk meja di samping nakas yang dekat dengan Jeslyn.
Zayn mengangguk lalu meletakkan semua makanan dipesan oleh Dave.
Dave menoleh pada Jeslyn. "Sayang.. Bisakah tinggalkan kami sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan dengan Zayn sebentar," pinta Dave.
Jeslyn langsung mengangguk. "Aku akan menemui dokter Sarah. Kalian bicaralah dengan santai." Jelsyn sebenarnya kenapa Dave menyuruhnya pergi. Dia berpikir kalau Dave menyembunyikan sesuatu darinya.
"Sayang, jangan berkeliaran ke mana-mana. Setelah urusanmu selesai dengan dokter Sarah, langsung kembali ke sini. Jangan mampir ke ruangan dokter lain."
Jeslyn terkekeh mendengar pesan suaminya. Dia tahu persis siapa yang dimaksud oleh Dave. "Aku akan menunggu sampai kalian selesai bicara di ruangan Sarah."
"Hhhmmm." Jeslyn berjalan meninggalkan ruangan Dave dengan langkah pelan.
Dalam hati dia mempertanyakan apa yang akan mereka bicarakan sehingga dia tidak boleh mendengar pembicaraan mereka.
Dave langsung menoleh pada Zayn setelah kepergian istrinya. "Apa kau sudah mengumpulkan semua buktinya?" Dave langsung membicarakan ke permasalahan intinya.
Zayn langsung mengangguk dengan yakin. "Sudah Tuan. Kapan kita akan mengungkapkan kebenaranya Tuan?"
"Tunggu sampai kesehatanku pulih. Yang harus kau lakukan saat ini adalah langsung urus perceraikanku dengan Felicia tanpa diketahui siapapun. Aku yakin ibuku akan menghentikannya bila dia mengetahuinya."
"Baik Tuan. Saya akan mengurusnya diam-diam."
Bersambung...
__ADS_1