Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Pernikahan Part1


__ADS_3

Stella terus memandang ke arah wajah Jeslyn yang sedang dirias. Setengah jam lagi acara pesta pernikahan Dave dan Jeslyn akan dimulai. Ibu Dave sengaja memisahkan Dave dan Jeslyn saat menantunya akan dirias karena tidak ingin anaknya mengganggu Jeslyn.


Ibu Dave juga meminta Stella untuk menemani Jeslyn di kamarnya selama dirias sampai ke pelaminan nantinya. Sementara Alea sedang bersama dengan Dion. Semakin hari Alea semakin akrab dengan Dion.


"Sudah selesai," ucap Wanita yang merias Jeslyn.


Jeslyn melihat bayangannya di cermin lalu menatap sang perias pengantin dari cermin seraya berkata, "Terima kasih, Lian."


Lian mengangguk. "Kau tunggu di sini. Aku akan mempersiapkan gaunmu."


"Iyaa." Lian berjalan bersama asistennya untuk mengambil gaun pengantinnya.


"Jes, kau cantik sekali," puji Stella ketika melihat hasil akhir dari riasan wajahnya.


Dengan wajah malu Jeslyn menoleh ke kiri menatap Stella. "Ini karena kemampuan merias Lian yang bagus sehingga membuatku terlihat cantik."


Stella memanyunkan bibirnya. "Kau memang dasarnya sudah cantik Jes. Setiap hari kau tidak memakai make up saja terlihat cantik, bagaimana kalau kau memakai makeup setiap hari. Pasti Dave akan bertambah cinta padamu."


Jeslyn mengulum senyumnya. "Dave melarangku memakai make-up Stella bahkan saat aku memakai riasan tipis pun, dia langsung memintaku menghapusnya," ungkap Jeslyn.


Semenjak Dave melarang Jeslyn memakai riasan, setiap harinya Jeslyn hanya rutin memakai skincare dan tabir surya.


"Kenapa?" tanya Stella heran.


Jeslyn terlihat ragu untuk memberitahukan pada Stella. Lebih tepatnya dia malu untuk memberitahukannya karena menurut Jeslyn itu adalah alasan konyol Dave.


"Karena dia tidak ingin aku tampil lebih cantik di tempat umum, apalagi saat tidak bersamanya. Dia tidak ingin ada pria yang tergoda dengan kecantikanku."


Stella tersenyum kecil. "Sepertinya dia sangat mencintaimu. Dia bahkan tidak pernah seposesif itu terhadapku dulu. Aku rasa kau memang sudah mengambil seluruh hatinya."


"Aku harap juga begitu."


Lian dan asistennya kembali dengan membawa gaun berwarna putih. "Jes, ayo kita ganti dengan gaun pengantinmu," ujar Lian.


"Iyaa." Jeslyn berdiri dan mendekati Lian setelah meminta Stella untuk menunggu.


Setelah selesai memakai gaun pengantinnya. Jeslyn berjalan menuju meja rias tempat Stella sedang menunggu. Stella langsung ternganga melihat penampilan Jeslyn.


"Apakah ini bidadari yang turun dari langit?"


Stella tampak tercengang melihat penampilan Jeslyn yang sangat cantik.


Jeslyn terlihat menunduk sejenak lalu dengan wajah malu, dia duduk di depan meja rias. "Jangan berkata seperti itu. Aku malu kalau sampai di dengar orang lain." Jeslyn sempat melirik ke arah Lian dan asistennya sebentar.


Stella tersenyum manis. "Kenapa? Kau memang sangat cantik, Jeslyn. Auramu sangat bercahaya hari ini," puji Stella.


Lian berjalan mendekati Jeslyn. "Sebentar lagi kita akan keluar karena acara akan dimulai," terang Lian.


"Iyaaa."


Lian membenahi riasa Jeslyn, tatanan rambut serta gaunnya. Setelah semuanya terlihat sempurna. Dia meminta asistennya untuk mengambil beberapa foto dan vidio dari angle yang berbeda.


"Kau pasti akan membuat semua orang iri, Jes," ucap Stella di sela-sela Jeslyn sedang di potret.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Kau tahu sendiri. Diluaran sana, banyak sekali yang ingin berada di posisimu saat ini. Menaklukkan Dave sangat sulit, Jes. Pasti banyak yang penasaran dengan wanita yang berhasil meluluhkan hati Dave Christian Tjendra. Kau akan menjadi sorotan hari ini. "


Jeslyn juga tahu hal itu. Bahkan dia butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa membuat Dave jatuh cinta padanya. Dia menyukai Dave dari remaja, tentu saja Dave tahu hal itu, tapi Dave tetap saja acuh dengannya.


"Iyaa, aku tahu Stella."


******


Dave yang berada di kamar sebelah Jeslyn terus saja menggerutu. Dia masih kesal dengan ibunya karena dipisahkan dengan istrinya. Awalnya tidak setuju dengan ide ibunya. Dia langsung melayangkan protes pada ibunya selaku pencetus ide tersebut, tapi akhirnya Dave tidak berdaya saat ibunya mengancam akan membatalkan pernikahannya jika dia tidak menuruti perkataan ibunya.


Akhirnya dengan terpaksa Dave mengikuti aturan ibunya. Sepanjang di kamar, dia terus saja merasa gelisah. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya di pelaminan. Padahal belum lama mereka dipisahkan tetapi Dave sudah uring-uringan. Dia berkali-kali menghubungi Stella untuk menanyakan apakah istrinya sudah selesai dirias.


Dia bahkan meminta Stella untuk mengirimkan foto Jeslyn yang sedang dirias. Dave menjadi lebih tidak sabar lagi ketika melihat foto istrinya yang terlihat sangat cantik saat dirias.


Walaupun dia senang, tapi ada perasaan gelisah juga ketika membayangkan bahwa akan ada banyak pasang mata yang akan memandang kecantikan istrinya, belum lagi jika nanti Jeslyn sudah berganti dengan gaun pengantin, Dave sangat yakin kalau akan banyak menyukai istrinya.


Dave berjalan ke arah pintu ketika mendengar suara bel berbunyi. "Kenapa wajahmu kusut sekali?" tanya Glen ketika melihat wajah Dave.


"Masuklah." Glen melangkah menuju sofa diikuti oleh Dave di belakangnya. Dia tersenyum tipis ketika melihat wajah frustasi Dave saat dia sudah duduk di depannya seraya bersandar di sofa.


Semenjak dia tahu kalau Jeslyn adaah istri Dave, dia sempat menenangkan dirinya beberapa hari. Dia sengaja tidak menemui Dave sampai pesta pernikahannya digelar. Glen hanya takut dia berbuat nekat dan membawa kabur Jeslyn. Yaa, dia sudah terlanjur jatuh cinta pada Jeslyn.


Cukup sulit baginya untuk melepaskannya. Mungkin kalau suami Jeslyn bukan Dave, bisa saja dia sudah merebut Jeslyn dan membawanya pergi.


"Bukankah seharusnya hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untukmu?"


Glen hanya tidak menyangka akan melihat wajah Dave yang tampak lesu. Padahal dalam pikirannya, dia akan melihat wajah bahagia dari Dave dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.


"Ibuku melarang untuk bertemu dengan istriku sampai Jeslyn dibawa ke pelaminan nanti," terang Dave dengan wajah yang masih terlihat kesal.


"Kau jangan macam-macam, Glen. Dia adalah istriku. Jangan berani-beraninya kau berniat untuk membawanya." Dave terlihat langsung menampakkan wajah tegasnya, "aku tidak akan melunak padamu, walaupun kita bersahabat dari kecil," sambung Dave lagi dengan sorot mata lebih tajam dari sebelumnya.


Glen terkekeh. "Santai Dave, aku hanya bercanda. Aku tidak mungkin mengambil milik sahabatku sendiri walaupun aku sangat menginginkannya," jelas Glen dengan mimik wajah santai.


"Baguslah kalau kau masih menganggap persahabatan kita lebih penting. Aku bisa memberikan apapun yang kau mau, selain dirinya," ungkap Dave dengan wajah serius.


Glen membenahi duduknya. "Aku tahu, Dave," ucap Glen dengan suara pelan. "Tapi aku ada satu permintaan."


Dave memicingkan matanya. Ada gelagat tidak enak ketika melihat ekpresi Glen yang berubah menjadi serius.


"Apa?"


Glen menyilangkan kedua kakinya, bersandar di sofa lalu menatap Dave. "Sebelum aku pulang, ijinkan aku untuk  bertemu dengannya untuk yang terakhir kalinya."


Suasana seketika hening. Dave tidak langsung menjawab permintaan dari sahabatnya itu. Dia terlihat sedang menimang sesuatu.


"Baiklah, tapi dengan syarat aku harus ikut."


Dave tidak mau mengambil resiko sekecil apapun. Dia sebenarnya masih cemas dengan Glen, mengingat bagaimana pengorbanan dan usaha kerasnya untuk mencari keberadaan istrinya selama ini. Pasti sangat sulit baginya untuk melepaskan istrinya begitu saja.


Sama seperti Dave, Glen terdiam sesaat. "Baiklah, tidak masalah, tapi berikan aku waktu untuk berbicara berdua saja dengannya. Kau bisa mengawasi kami dari kejauhan."


Tentu saja Glen bisa membawa pikiran Dave. Glen sebenarnya tahu, apa yang ada di kepala Dave saat ini.


"Baiklah." Dave langsung menyanggupi kemauan Glen.

__ADS_1


"Aku harap kau menjaga dan memperlakukannya dengan baik, Dave. Tidak mudah bagiku untu melepasnya," ucap Glen.


"Tentu saja. Aku tidak akan pernah menyakitinya lagi."


"Lalu bagaimana dengan sainganmu yang satu lagi? Apakah dia juga sudah menyerah terhadap istrimu?"


Dave tentu saja sudah menceritakan perihal Dion pada Glen. Hanya saja dia belum memberitahukan pada Glen kalau Dion akan menikahi Stella.


"Tentu saja dia sudah menyerah. Dia tahu persis siapa yang dicintai oleh istriku. Justru dia akan menikahi Stella dalam waktu dekat," ujar Dave.


"Stella?? Mantan kekasihmu?"


"Iyaa," jawab Dave membenarkan.


"Bagaimana bisa?"


Glen terlihat sangat terkejut dengan apa yang Dave baru saja sampaikan padanya. Masalahnya Stella adalah salah satu wanita yang sulit untuk ditaklukkan.


"Cerintanya panjang."


Dave terlihat sedang tidak ingin membahas masalah Dion dan Stella karena saat ini yang ada di pikirannya hanya istrinya. Dia tidak bisa fokus sebelum melihat istrinya secara langsung.


"Baiklah. Kau bisa menceritakannya nanti. Terlalu banyak kejutan selama aku di sini. Aku jadi ingin pindah ke sini juga."


Dave dan Glen menoleh ke arah pintu saat mendengar bel kamar berbunyi. Dave berjalan pelan untuk membuka pintunya. "Permisi, Tuan. Sudah waktunya anda berganti pakaian karena sebentar lagi acara akan dimulai," ucap asisten Lian. Lian meminta 2 asitennya untuk ke kamar untuk membawakannya baju serta membantu bersiap.


"Masuklah."


Mereka berdua mengangguk seraya berjalan masuk. Mereka berdua pun langsung memberikan setelan yang akan dipakai Dave saat acara pernikahannya.


Beberapa saat kemudian. "Tidak salah kalau Jeslyn jatuh hati padamu. Kau terlihat sangat tampan hari ini," puji Glen setelah melihat Dave yang tampak sudah rapi setelah dibantu oleh kedua asisten Lian.


"Apa menurutmu penampilanku setiap harinya jelek?" tanya Dave serasa melihat dirinya dari pantulan cermin.


"Kau ini, kenapa sinis sekali? Apa kau masih cemburu padaku?" gurau Glen.


"Sudahlah, lebih baik kau fokus saja untuk mencari gadis lain yang bisa menggantikan Jeslyn dihatimu. Jangan melajang terlalu lama, takutnya minatmu terhadap wanita jadi menurun," ejek Dave.


"Sialan kau, Dave."


"Mari Tuan, kita harus ke pelaminan sekarang," sela asisten Lian saat dia baru saja mendapatkan pesan dari liat untuk memintannya membawa Dave ke pelaminan.


Glen langsung berdiri. "Baiklah. Aku akan menjadi pendamping prianya."


"Jangan sentuh aku. Aku sudah memiliki istri," ucap Dave pada Glean saat Glen dengan santainya mengaitkan tangannya di lengan Dave.


"Ciih... Aku juga tidak suka denganmu, yang aku suka itu istrimu."


Seketika alis kedua asisten Lian mengerut dan saling melirik dengan wajah terkejut. "Hentikan omong kosongmu, Glen. Jika tidak aku akan menguncimu di kamar ini," ancam Dave.


"Baiklah," ucap Glen pasrah. "Cepatlah. Jangan buat Jeslyn menunggu terlalu lama. Jika tidak, aku yang akan menggantikanmu nanti berdiri di sampingnya."


Sesudah berkata hal itu, Glen langsung berlalu dengan langkah cepat meninggalkan Dave yang masih berdiri. Dia tahu, kalau Dave pasti akan memberikannya tatapan mematikan jika dia tidak  buru-buru pergi.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2