
"Hoeeeek... Hoeeek..." Terdengar suara bunyi dari dalam kamar mandi. Dion langsung bergegas menuju kamar mandi untuk menghampiri istrinya yang sedang berdiri sambil menunduk di depan wastafel.
"Hooeek.. Huurrk... Hoek..." Stella terus mengeluarkan isi perutnya.
Dion memijat bagian tengkuk istrinya selagi Stella berusaha untuk memuntahan isi dalam perutnya. "Apa kau sakit, Sayang?" tanya Dion dengan wajah khawatir.
Stella menyalakan keran lalu membasuh mulutnya setelah memuntahkan semua isi perutnya. "Sepertinya aku kelelahan Dion," ucap Stella sambil menoleh ke arah suaminya.
"Kalau begitu kau istirahat saja hari ini. Jangan bekerja." Dion membimbing istrinya menuju tempat tidur.
"Apa yang kau rasakan saat ini?" tanya Dion setelah Stella sudah berbaring di tempat tidur.
"Aku merasa mual dan pusing," jawab Stella dengan suara pelan.
"Tunggu di sini. Aku akan memeriksamu. Aku akan mengambil peralatanku dulu." Dion berjalan menuju lemari yang berada di sudut kamarnya.
Sudah hampir 4 bulan lamanya mereka menjadi pasangan suami istrinya. Kehidupan mereka terlihat sangat bahagia. Semakin hari, hubungan mereka semakin baik dan intim. Dion akhirnya bisa membuat Stella mencintainya dengan tulus, begitu pun sebaliknya.
"Kau tidak demam. Semenjak kapan kau merasakan gejala ini?" tanya Dion ketika dia baru saja selesai memeriksa istrinya. "Tiga hari yang lalu, tapi baru kali aku sampai muntah," ungkap Stella.
Dion merasa cemas saat melihat wajah pucat istrinya. Pagi ini, dia dikagetkan oleh suara istrinya yang sedang muntah-muntah dalam kamar mandi saat dia akan berangkat kerja.
Dion termenung sejenak. "Sayang, bagaimana kalau kita ke rumah sakit," bujuk Dion. Dia baru saja teringat kalau belakangan ini istrinya tidak napsu makan dan terlihat lesu tidak sepertinya biasanya.
Stella menggeleng pelan. "Tidak perlu. Aku hanya perlu minum obat dan beristirahat yang cukup," tolak Stella dengan suara pelan.
"Sayang, menurutlah. Aku perhatikan beberapa hari ini kau kurang sehat. Wajahmu juga pucat. Aku tidak bisa meninggalkanmu, jika keadaanmu begini."
Dion berusaha untuk membujuk istrinya ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lanjutan. Dion memiliki firasat kalau saat ini istrinya sedang hamil.
"Aku tidak apa-apa, Dion." Stella menepuk tempat tidur kosong di sebelahnya. "Temani aku sampai aku tertidur," pinta Stella sedikit manja.
"Sayang, Kita harus ke rumah sakit. Aku tidak akan bekerja, jika kau tidak mau ke rumah sakit." Dion mengelus kepala istrinya dengan lembut.
"Iyaa nanti, tapi aku ingin tidur sebentar." Stella merasa tubuhnya lemas setelah dia memuntahkan semua isi perutnya.
"Baiklah, tapi aku akan mengambilkan sarapan dan teh hangat untukmu dulu."
"Iyaa."
Beberapa saat kemudian Dion kembali dengan membawa nampan yang berisi roti bakar dan teh hangat untuk istrinya. "Makan dulu sayang." Dion membantu Stella untuk bangun dari tidurnya.
"Kau yang membuatnya sendiri?" tanya Stella saat melihat ada roti bakar di piring tersebut.
Semenjak mereka menikah, Dion dan Stella memutuskan untuk mempekerjakan asisten rumah tangga dan seorang babysitter untuk menjaga dan mengurus Alea.
"Iyaa, makanlah." Stella mulai memakan roti dan menghabiskan teh hangat yang dibawa suaminya.
"Aku sudah kenyang." Stella tidak bisa menghabiskan roti bakar yang ada di piring dan menyisakan beberapa potong roti lagi.
__ADS_1
"Kalau begitu berbaringlah." Dion membantu istrinya untuk berbaring lagi di tempat tidur.
"Temani aku," pinta Stella dengan manja.
Dion mengglung lengan bajunya lalu naik ke tempat tidur. "Tidurlah sayang," ucap Dion sambil memeluk istrinya.
"Dion," panggil Stella dengan suara pelan.
"Ada apa sayang?" tanya Dion dengan lembut.
"Ak-aku..." Stella tampak ragu untuk mengatakan pada suaminya.
Dion mengurai pelukannya. "Aku apa sayang? Katakan saja... Jangan ragu."
"Aku tidak ingin ke rumah sakit. Aku cuma ingin kau temani di sini," ungkap Stella.
Sudah beberapa hari ini, Dion selalu pulang larut malam. Stella sudah tertidur ketika suaminya pulang, itulah yang membuat Stella belakangan ini merasa kesepian.
"Aku haru bekerja sayang. Aku janji akan pulang tepat waktu hari ini."
Dion memang berencana untuk pulang lebih awal hari ini setelah jadwal prakteknya selesai. Dia memang merasa belakangan ini tidak memiliki waktu untuk memperhatikan istrinya karena kesibukannya di rumah sakit.
Wajah Stella langsung berubah sedih. "Begini saja, ikutlah denganku ke rumah sakit. Kau bisa menunggu sampai aku selesai bekerja," bujuk Dion.
Sebenarnya alasan Dion berkata seperti itu, supaya istrinya mau ke rumah sakit. Dia berencana untuk membujuk istrinya untuk diperiksa oleh dokter Sarah sesampainya di sana. Dion sengaja tidak mengatakan pada Stella mengenai dugaannya karena takut kalau dugaannya salah dan membuat istrinya kecewa.
"Baiklah, tapi temani aku tidur sebentar. Aku masih pusing." Stella menarik tangan suaminya agar berbaring di tempat tidur.
"Bagaimana kalau aku berikan obat, sayang?" bujuk Dion sambil berbaring di samping istrinya.
"Aku tidak mau. Aku hanya ingin tidur sebentar." Stella memeluk tubuh Dion lalu memejamkan matanya.
Dion menghembuskan napas pelan. "Baiklah. Tidurah, Sayang." Dion terpaksa harus berangkat telat pagi ini karena harus menemani istrinya.
Stella akhirnya terbangun setelah tertidur selama satu jam lebih. "Apa kau masih merasa pusing, Sayang?" tanya Dion ketika melihat istrinya sudah membuka matanya.
"Sedikit, aku merasa sudah baikan setelah tidur," ucap Stella dengan suara serak.
Stella masih berada dipelukan suaminya ketika dia terbangun. "Aku tidak bekerja hari ini. Aku sudah meminta ijin," ucap Dion pada istrinya.
"Benarkah?" tanya Stella dengan mata berbinar dan wajah senang.
"Iya sayang, tapi kita tetap harus ke rumah sakit hari ini untuk memeriksamu."
Sewaktu Stella sudah tertidur, Dion menghubungi pihak rumah sakit untuk memberitahukan kalau dirinya tidak bisa bekerja hari ini.
"Aku sudah baikan, Dion."
"Sayang menurutlah," ucap Dion sambil menatap wajah istrinya. "Kita akan ke rumah sakit siang nanti."
__ADS_1
"Baiklah." Stella tidak bisa lagi menolak permintaan suaminya. Dia tidak mau berdebat dengan suaminya hanya karena hal itu.
"Sayang, kau terlihat lebih manja hari ini, ada apa? Apa kau merindukan aku karena aku selalu pulang malam?" tanya Dion ketika merasa pelukan Stella semakin erat.
"Iyaa, kita hanya bertemu sebentar di pagi hari dan malam harinya aku tidak bisa melihatmu karena aku sudah tidur," ungkap Stella.
"Kalau begitu hari ini kita habiskan waktu di kamar saja, bagaimana?" tanya Dion sambil tersenyum nakal.
Sudah dua hari Alea menginap di rumah orang tua Dion. Reina meminta pada kakaknya agar Alea menginap selama 3 hari di sana karena dia merasa kesepian.
Itu juga sebenarnya permintaan ibu Dion karena sudah seminggu mereka tidak bertemu dengan Alea. Orang tua Dion memang sudah menganggap Alea seperti cucunya sendiri.
Stella tersenyum malu. "Iyaaa," jawab Stella dengan suara pelan.
Dion langsung tersenyum lalu menyerang bibir istrinya. Pagi itu mereka habiskan untuk melepaskan kerinduan masing-masing.
*****
Sore harinya Dion dan Stella ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan Stella. Awalnya Stella merasa heran kenapa Dion membawanya ke dokter kandungan. Meskipun dia merasa heran, tetapi Stella tetap menuruti keinginan suaminya.
"Selamat Dion. Istrimu sedang hamil saat ini." Ucapan dokter Sarah sukses langsung membuat Stella terkejut. Sementara Dion terlihat sangat gembira.
"Aku hamil Dok?" tanya Stella dengan wajah tidak percaya.
"Iya benar," jawab dokter Sarah sambil mengangguk.
Stella langsung menoleh ke samping, menatap suaminya. "Aku hamil, Dion. Akhirnya keinginan kita terwujud," ucap Stella dengan wajah senang sekaligus terharu.
"Iyaa sayang. Reina, Alea, mama dan papa pasti akan sangat senang mendengar berita ini."
"Iyaa benar, sepulang dari sini, bagaimana kalau kita mampir ke rumah mama dan papa?"
"Iyaa, aku setuju." Dion kemudian beralih menatap dokter Sarah yang tampak turut bahagia melihat kebahagiaan rekan kerjanya.
"Bagaimana kondisi janin dalam kandungan istriku?" tanya Dion antusias.
"Kondisinya baik. Usia kehamilannya sudah memasuki 7 minggu," terang dokter Sarah.
"Aku akan memberikan obat mual, pusing dan vitamin untuk istrimu."
Dokter Sarah mulai menuliskan resep untuk Stella. Meskipun sebenarnya Dion juga mengetahui obat yang baik untuk ibu hamil tapi dia tetap ingin dapat resep dari dokter Sarah.
"Ini resepnya." Dokter Sarah memberikan secarik kertas pada dokter Dion.
"Terima kasih, Sar," ucap Dion dengan wajah gembira.
"Kalau begitu kami permisi." Dion dan Stella meninggalkan ruangan dokter Sarah.
Bersambung...
__ADS_1