
"Stella, lebih baik kau menginap di rumahku?" pinta Dion.
Stella dan Dion sedang duduk di balkon dekat ruang keluarga. Mereka sedang menikmati pemadangan luar rumah Stella. Dion dan Stella hanya tinggal berdua saja ketika Dave dan Jeslyn sudah membawa Alea menginap ke rumah mereka.
"Aku di sini saja. Aku tidak enak jika menginap di sana," tolak Stella.
Dion yang sedari tadi menatap ke depan, seketika menoleh pada Stella. "Kenapa harus malu? Beberapa hari lagi kau akan menjadi bagian dari keluarga kami. Mama bahkan sudah meminta kalian untuk tinggal sementara di rumah mereka sampai hari pernikahan kita tiba," terang Dion.
Lebih tepatnya ibu Dion memaksa anaknya untuk membawa calon istrinya ke rumah mereka karena khawatir dengan menantunya yang hanya tinggal berdua dengan anaknya.
"Kita belum menikah. Aku tidak ingin keluargamu menjadi bahan gunjingan jika aku tinggal di sana sebelum kita resmi menikah," ucap Stella sambil menunduk.
Dion menunduk dan memegang keduan bahu Stella. "Tidak akan ada yang berpikir seperti itu. Di sana banyak orang. Tidak hanya kita berdua. Jangan terlalu berpikiran jauh. Kalau kau tidak ingin tinggal di rumah orang tuaku sementara waktu, aku yang akan tinggal di sini untuk menjaga kalian," tutur Dion.
Stella mengangkat kepalanya. "Tinggal di sini?" tanya Stella dengan mata yang membesar.
"Iyaaa. Aku harus menjaga calon istriku agar tidak direbut oleh pria lain," bisik Dion dengan suara yang menggelitik telinganya.
Stella langsung menunduk, berusaha memyembuyikan wajah merahnya. Dion tersenyum tipis melihat Stella yang tampak malu-malu. "Kau jangan dengarkan ucapan Dave. Dia hanya mencoba untuk mengerjaimu saja," ucap Stella dengan suara sangat pelan dan masih dengan menunduk.
"Tapi aku rasa Dave mengatakan hal yang sebenarnya. Dia tidak mungkin berbicara asal padaku. Aku juga setuju dengannya bahwa kau memiliki daya tarik yang luar biasa yang bisa memikat pria tampan di luar sana."
Entah kenapa dia merasa tidak nyaman ketika mendengar ucapan Dave tadi. Ada sedikit rasa cemas di hatinya jika yang dikatakan oleh Dave adalah benar adanya. Dia akan mulai bersikap waspada kepada pria yang dikenal oleh calon istrinya.
"Maka dari itu, aku harus menjagamu terus agar kau tidak diambil orang lain. Aku tidak mau wanitaku direbut oleh orang lain," sambung Dion lagi ketika melihat wajah calon istrinya yang terlihat tersipu malu.
Stella menggigit bibir bawahnya. Dia merasa malu sekaligus gugup. "Dion, aku hanya wanita beranak satu. Tidak mungkin ada mau denganku," ujar Stella dengan suara rendah.
Dion memegang dagu Stella lalu mengangkat wajahnya. "Tatap aku jika kita sedang berbicara," ucap Dion.
Seketika mata Stella langsung bertemu pandang dengan mata Dion. "Apa kau belum memiliki perasaan apapun padaku?" tanya Dion dengan wajah serius.
Stella terus menggerakkan bola matanya ke sembarangan arah. Dia tidak berani menatap mata Dion lama-lama. "Aku... Aku tidak tahu," jawab Stella dengan gugup.
Dion menampilkan senyum tipisnya. "Bagaimana kalau aku membatumu untuk mengetahui bagaimana perasaanmu sesungguhnya padaku?"
"Apa maksudmu?" tanya Stella dengan gugup.
"Maksduku adalah...." Dion mendekatkan wajah mereka hingga tersisa sedikit jarak diantara mereka.
Stella memejamkan matanya. Dia tidak berani untuk bergerak sedikitpun. Sedikit saja dia bergerak, maka bibir mereka akan menempel.
Stella menelan salivanya. Dia berusaha untuk tetap tenang dengan mengatur napasnya. Melihat Stella yang terlihat tegang dan kaku. Dia tersenyum lalu menjauhkan wajah mereka berdua. "Kenapa kau menutup matamu?" tanya Dion ketika dia sudah memberikan jarak aman untuk mereka berdua.
Stella membuka matanya dan melihat Dion sedang terenyum jahil padanya. "Kau mengerjaiku?" tanya Stella dengan wajah cemberut.
Dion terkekeh. "Apa kau kecewa karena aku tidak jadi menciummu?" goda Dion.
Stella langsung beranjak dari duduknya. Dia merasa sangat malu pada Dion karena tebakan Dion benar adanya. "Kau mau ke mana?" Dion menahan tangan Stella saat dia mulai melangkah.
"Aku mau.. Aku mau ke dapur," jawab Stella tanpa menatap Dion.
Dion merasa kalau Stella hanya mencari alasan untuk menghindarinya. Dia lalu menarik dengan kuat tangan Stella sehingga tubuh Stella membentur dada bidangnya. "Aku belum seleasai bicara, calon istriku," goda Dion seraya melingkarkan tangannya di pinggang Stella.
"Dion, lepas. Aku mau makan," bohong Stella.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku tidak mau melepaskanmu? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Dion dengan senyum nakalnya.
Stella meletakkan kedua tangannya di dada Dion untuk memberikan jarak diantra mereka berdua. "Dion, berhenti menggodaku. Tolong lepaskan aku. Aku ingin pergi ke dapur."
"Baiklah, tapi dengan satu syarat."
"Apa?" tanya Stella.
"Kau harus ikut aku pulang ke rumah orang tuaku, atau kau harus mengijinkan aku untuk menginap di sini," jawab Dion.
Sebenarnya alasan Dion memaksa Stella untuk ikut ke rumah orang tuanya adalah karena dia khawatir meninggalkan Stella sendiri di rumahnya.
"Tapi...Aku tidak enak dengan orang tuamu."
"Kenapa kau gugup sekali?" tanya Dion dengan alis terangkat.
Stella mengalihkan padangannya. "Aku tidak gugup," jawab Stella cepat.
Dion berbisik pada Stella. "Benarkah?? Kalau begitu kenapa kau tidak berani menatap mataku?"
Dion menjauhkan wajahnya dari telinga Stella. " Kata siapa aku tidak berani menatap matamu?" ucap Stella sambil menatap Dion dengan berani.
Dion tersenyum miring lalu menunduk, mendekatkan wajah mereka berdua. "Ap-apa yang akana kau lalukakan?" Stella kembali gugup ketika wajah mereka sangat dekat.
"Menurutmu apa yang akan aku lakukan?"
Dion tidak hentinya mengerjai Stella. Dia merasa terhibur ketika melihat kegugupan Stella. Dia terlihat seperti remaja yang baru jatuh cinta.
Buku mata terus bergerak dan beberapa kali berkedip. "Dion, aku ingin masuk." Stella hanya berusaha untuk mengalihkan perhatian Dion.
Stella langsung menggeleng kuat sambil menatap iris hitam milik Dion. "Bukan. Bukan itu maksudku, Dion. Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku hanya belum terbiasa saja," jawab Stella dengan cepat.
"Kalau begitu kau harus membiasakan diri," ujar Dion.
"Iyaa, maafkan aku, Dion." Stella menunduk dengan wajah bersalah.
Dion maju selangkah lalu mengecup kening Stella, kemudian turun ke hidung, lalu Dion meraih dagu Stella, mereka pun langsung bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. Dion tersenyum sebelum akhirnya menautkan bibir mereka.
Stella terlihat sedikit terkejut. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Dia akhirnya memilih diam membiarkan Dion menyapu dengan lembut bibir ranumnya. Ini adalah kali pertama mereka berciuman. Dion memang belum pernah sekalipun mencium bibir Stella selain kening dan pucuk kepalanya.
Dion bisa merasakan kalau Stella masih gugup. Bibirnya bergetar dan terasa kaku ketika dia mencecap dan melu*mat bibir Stella. "Jangan gugup, Stella," ucap Dion di sela-sela tautan mereka.
Stella mulai merilekskan tubuhnya. Dia juga mulai membalasan ciuman Dion hingga lidah mereka salin bertautan. Dion tersenyum ketika Stella memegang kedua lengannya. Mereka saling mencecap dalam waktu yang cukup lama hingga akhirnya Stella kesulitan untk menghirup oksigen disekitarnya barulah Dion melepaskan tautan mereka.
Dia tersenyum saat melihat wajah Stella yang memerah dan sedang tersipu malu. "Apa Dave tidak pernah mencium ketika kalian pacaran dulu?" tanya Dion sambil mengusap bibir Stella dengan ibu jarinya. Dion merasa heran karena saat Dion menciumnya Stella terlihat seperti seseorang yang belum pernah melakukannya.
Stella menunduk malu. "Pernah, hanya beberapa kali," jawab Stella dengan suara pelan.
"Lalu suamimu?"
"Sudah 5 kali." Stella terlihat malu saat mengatakannnya.
"Apa hubungan kalian tidak baik selama kalian menikah?"
"Iyaaa, tapi setelah aku hamil dia mulai berubah," jelas Stella.
__ADS_1
"Pantas saja," ucap Dion sambil tersenyum tipis.
Stella mendongakkan kepalanya dengan wajh heran. "Pantas kenapa?"
Dion mendekatkan mulutnya ke telinga Stella. "Pantas saja kau tidak bisa berciuman," ungkap Dion.
Wajah Stella kembali memerah. "Maaf," ucap Stella sambil menunduk.
"Kenapa harus meminta maaf. Aku justru senang kalau kau tidak bisa, jadi, aku bisa mengajarimu nanti," goda Dion dengan senyum nakalnya.
"Apa kau sudah sering melakukannya?" Itulah yang ada di pikiran Stella.Dia merasa kalau Dion sudah sering melakukannya dengan wanita lain.
Dion terkekeh. "Aku belum pernah melakukannya dengan siapapun," jawab Dion dengan wajah bangga.
"Haaaaahh..??" Stella tampak terkejut mendengar perkataan Dion.
"Tadi itu adalah ciuman pertamaku," ungkap Dion.
Stella memicingkan matanya. Seolah tidak percaya dengan pengakuan Dion. "Benarkah? Tapi aku rasa kau sudah sering melakukannya."
"Aku hanya mengandalkan naluriku, Stella. Aku adalah pria dewasa. Tidak sulit bagiku untuk memperlajari hal seperti itu," terang Dion dengan wajah santai. Dia tidak tampak merasa malu sedikit pun. Mungkin karena dia seorang dokter sehingga pembahasan seperti itu sudah biasa menurutnya. Bahkan Dion sudah melihat tubuh pasiennya jadi pengendalian dirinya sangat baik.
Stella terlihat masih tidak percaya dengan ucapan Dion. "Aku belum pernah memiliki kasih sebelumnya," ungkap Dion.
Wajar saja Dion tidak pernah memiliki kekasih karena wanita yang dia cintai adalah Jeslyn. Dia tidak pernah sekalipun melirik gadis lain selain Jeslyn. Meskipun semasa sekolah dan kuliah mereka berdua termasuk siswa populer yang tentu saja memiliki banyak penggemar tapi kedua tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun sehingga timbul lah gosip kalau mereka memiliki hubungan karena mereka terlihat selalu bersama dan sangat dekat.
Dion kembali berbisik pada Stella. "Kau menjadi yang pertama. Mulai dari ciuman, menjadi kekasih, menjadi istri, serta kau jugalah yang nanti akan mengambil keper...."
"Stop Dion," pekik Stella dengan wajah yang sudah sangat memerah seperti kepiting rebus. Dia sudah bisa menebak apa yang akan dikatakan oleh Dion.
Dion kembali terkekeh. Sekali lagi dia berhasil menjahili Stella. "Ikutlah ke rumah orang tuaku. Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri di sini. Aku tidak akan tenang kalau kau tidak ikut denganku," pinta Dion seraya memegang kedua bahu Stella.
"Kau bilang ingin menginap di sini kalau aku tidak mau ikut ke rumah orang tuamu."
Dion melepaskan tangannya dari bahu Stella. "Aku tidak bisa menginap di sini. Seperti yang kau bilang kita belum menikah. Tidak baik kalau hanya kita berdua di sini. Aku tidak mau mencoreng nama baikmu."
Stella tertegun. Dia tidak menyangka kalau Dion memikirkan dirinya. "Baiklah. Aku akan ikut ke rumah orang tuamu." Melihat ketulusan Dion, Stella jadi merasa bersalah.
Sebenarnya Dion sudah memiliki rumah pribadi sendiri. Hanya saja tidak pernah dia tempati karena Dion lebih memilih untuk tinggal di apartemennya.
Mata Dion melebar. "Jadi, kau mau ikut pulang denganku?" Dion ingin memastikan kembali apa yang tadi dia dengar.
"Iyaaa," jawab Stella seraya mengangguk.
"Baiklah. Berkemas lah. Aku akan menunggumu di sini."
"Iyaa. Aku bersiap-siap dulu."
Stella masuk ke dalam setelah melihat anggukan dari Dion.
Bersambung...
Jika berkenan, silahkan baca juga karya baru Author dibawah ini.
__ADS_1