Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Tidak Mau Melepaskannya


__ADS_3

Pukul 8 pagi, Dave baru saja bangun dari tidurnya. Dia berusaha untuk menggerakkan tubuhnya, namun seperti ada yang menahannya. Dia mulai membuka mata lalu menoleh ke sisi kirinya. Dia tersenyum setelah melihat istrinya tampak tidur sambil memeluk tubuhnya.


Perlahan Dave mengangkat tangan Jeslyn yang ada di atas dadanya dan terlihat ada gerakan kecil dari Jeslyn ketika dia memindahkan tangan istrinya, kemudian menoleh sejenak pada Jeslyn. "Maaf sayang karena sudah membangunkanmu," ucap Dave ketika melihat Jeslyn sudah membuka matanya.


Jeslyn tidak menjawab, melainkan kembali memeluk tubuh suaminya sambil memejamkan matanya.


Melihat itu, Dave tampak mengeryitkan dahinya. "Sayang, aku harus mandi. Kau bisa melanjutkan tidurmu jika masih lelah," ucap Dave sambil menunduk menatap Jeslyn.


Melihat Jelsyn tidak bergerak dan masih tidur dengan tenang sambil memeluknya, Dave mengangkat sedikit kepalanya lalu menunduk ke bawah untuk melihat Jeslyn. "Sayang, apa kau tidur lagi?" tanya Dave lagi ketika melihat Jeslyn tampak diam saja.


Saat mendengar Dia teratur dari Jeslyn, Dave tersenyum karena itu berarti kalau istrinya kembali tertidur. Dia sebenarnya merasa sedikit bersalah pada istrinya karena dirinyalah yang membuat Jeslyn kurang tidur dan kelelahan. Pada akhirnya Dave memutuskan untuk berbaring lagi membiarkan Jeslyn tidur dengan nyaman sambil memeluknya.


Dengan susah payah dia meraih ponselnya lalu mengecek isinya. Terdapat banyak pesan masuk dan panggilan tidak terjawab di ponselnya. Dave mulai membalas satu persatu pesan yang masuk, terutama dari asisten, sekertarisnya, dan beberapa client pentingnya.


Satu jam setelahnya, Dave meletakkan ponselnya dan melihat Jeslyn masih terlelap. Dengan hati-hati dia kembali mengangkat tangan Jeslyn dari tubuhnya. Dia tidak langsung turun dari tempat tidur setelah terbebas dari Jeslyn, melainkan mengamati wajah istrinya terlebih dahulu. Dia takut istrinya akan terbangun setelah dia masuk ke kamar mandi.


Setelah memastikan Jeslyn tidak akan terbangun. Dave melangkah menuju kamar mandi. Butuhkan waktu setengah jam untuk membersihkan tubuhnya. Selesai mandi, dia melangkah menuju walk in closet untuk berpakaian. Setelah berpakaian dengan rapi, Dave kemudian mengambil jam tangan sambil memakainya lalu berjalan keluar dari walk in closet.


"Kau mau ke mana?" tanya Jeslyn ketika melihat Dave sudah berpakaian rapi.


Ternyata istrinya sudah bangun. Dave langsung mengangkat kepalanya sambil terus berjalan ke arah istrinya yang sedang duduk bersandar di tempat tidur dan sudah mengenakan pakaian rumahnya kemudian duduk di tepi ranjang di dekat istrinya.


"Aku akan bekerja, Sayang. Aku sudah terlambat," ucap Dave lembut sambil mengancingkan lengan bajunya.  


 


Jeslyn memicingkan matanya ke arah suaminya. "Kau akan pergi ke kantor atau berkencan?" tanya Jeslyn dengan tatapan curiga. Dia terus menatap ke arah suaminya yang tampak mengernyit setelah mendengar ucapannya.


"Ke kantor, Sayang," jawab Dave lembut sambil tersenyum pada istrinya.


"Tapi kenapa kau wangi sekali?" tanya Jeslyn masih dengan tatapan curiga. Jeslyn tampak masih tidak percaya dengan ucapan suaminya.


"Benarkah? tapi aku hanya memakai parfum sedikit, Sayang." Dave kemudian menunduk untuk mengendus beberapa bagian tubuhnya untuk memastikan ucapan istrinya, "menurutku ini tidak terlalu wangi, Sayang. Sama seperti biasanya," ucap Dave lagi setelah dia mencium wangi yang menempel di bajunya.


Jeslyn masih memicingkan matanya tanpa berkata-kata. "Jangan berpikiran yang tidak-tidak, Sayang," ucap Dave lembut sambil mendekati istrinya. "Aku sungguh ingin ke kantor."


"Kalau begitu aku akan ikut denganmu ke kantor," ucap Jeslyn dengan cepat.


Dave meraih tangan istrinya lalu menatap lekat mata istrinya. "Kau di rumah saja, Sayang. Kau harus istirahat yang banyak. Wajahmu masih terlihat pucat karena kurang tidur," ucap Dave lembut.

__ADS_1


"Aku ingin ikut denganmu. Aku tidak mau sendiri di sini."


Dave menghela napas halus lau kembali tersenyum. "Besok saja kau ikut aku ke kantor. Hari ini istirahat saja di rumah. Aku tidak mau kau sakit, Sayang."


Sebenarnya Dave senang jika Jeslyn ingin ikut dengannya ke kantor. Hanya saja dia khawatir dengan keadaan istrinya karena Jeslyn tampak masih pucat dan wajahnya jelas terlihat masih lelah karena aktifitas yang mereka lakukan sampai pagi.


"Kau bisa memanggil Alea dan Stella untuk kemari jika kau kesepian, bagaimana?" usul Dave ketika melihat wajah istrinya yang tampak ditekuk. Tidak biasanya Jeslyn bersikukuh untuk ikut dengannya ke kantor.


Dave pikir kalau Jeslyn mungkin masih curiga dengan Diana, maka dari itu, dia ingin ikit dengannya ke kantor.


"Kenapa aku tidak boleh ke kantormu? Apa kau takut aku mengganggumu? Jangan-jangan kau ingin bertemu dengan wanita lain?" tuduh Jeslyn sambil menatap suaminya dengan wajah kesal sekaligus curiga.


Dave menghembuskan napas panjang karena merasa heran dengan istrinya yang tiba-tiba berpikiran sejauh itu. "Tidak ada wanita lain, Sayang," ucap Dave lembut sambil mengusap lembut pipi istrinya, "ada pekerjaan penting yang harus aku urus. Aku juga ada meeting tahunan yang harus aku hadiri, Sayang."


Jeslyn langsung mengalihkan pandangannya ke samping karena merasa kesal karena Dave tidak menginjinkannya untuk ikut. "Aku bukannya melarangmu untuk ikut denganku, Sayang. Hanya saja kau butuh istrirahat yang banyak. Kau baru tidur beberapa jam saja, sayang. Aku mengkhawatirkanmu keadaanmu. Aku janji akan mengajakmu besok ke kantor. Asalkan kau berisitirahat hari ini di rumah," bujuk Dave.


"Aku tidak mau besok. Aku maunya hari ini," tolak Jeslyn dengan wajah cemberut.


Dave melirik sekilas pada jam yang ada di pergelangan tangannya. Rapat akan di mulai satu jam lagi. Dia takut akan terlambat jika Jeslyn menahannya terlalu lama.


"Kau akan sendirian di ruanganku jika ikut hari ini, Sayang. Rapat tahunan akan memakan waktu yang lama. Aku takut kau akan bosan menungguku."


"Hari ini di rumah saja ya?" bujuk Dave lagi, "besok baru ikut aku kantor. Sekalian besok kita akan ke butik untuk mencoba baju yang akan kita gunakan untuk acara resepsi pernikahan kita."


Setelah dibujuk berkali-kali oleh Dave. Akhirnya Jeslyn mau menuruti perkataan suaminya. Dia juga sebenarnya masih merasa lelah dan mengantuk, tapi entah kenapa dia tidak ingin jauh dari Dave.


"Aku akan menelponmu nanti jika ada waktu senggang," ucap Dave sambil mengecup kening Jeslyn, "aku berangkat dulu, Sayang."


*****


Dave terlihat memijat tengkuknya sambil menggerakkan bagian lehernya yang terasa pegal. Setelah selesai melakukan rapat tahunan selama lebih dari 4 jam, dia langsung mengerjakan tugas lainnya dan dia baru saja selesai memeriksa berkas yang menumpuk di atas mejanya. Hari ini dia sangat sibuk dan merasa sangat lelah karena tenaganya sudah terkuras habis hari ini.


Dave kemudian menyandarkan tubuhnya di punggung kursi kebersarannya lalu melirik jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, Dave terlihat meraih ponsel di saku jasnya lalu mengirimkan pesan pada istrinya.


Sebenarnya dia sudah menghubungi Jeslyn ketika jam makan siang tadi. Mereka sempat berbicara sebentar karena istrinya terdengar beberapa kali menguap sehingga Dave memutuskan untuk membiarkan istrinya tidur kembali setelah dia terbangun karena dirinya menelponnya tadi.


 


"Tok... Tok." Pintu terbuka setelah terdengar suara ketukan pintu.

__ADS_1


"Dave, apa kau sedang sibuk?" Seorang pria langsung masuk dan berjalan ke arah Dave dengan santai.


"Aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku," jawab Dave sambil menatap pria yang sudah berdiri di depannya.


"Ada yang ingin aku bicarakan padamu," ucap pria itu dengan wajah serius.


"Kalau begitu duduklah dulu di sana," tunjuk Dave pada sofa yang tidak jauh dari pintu masuk.


Pria tersebut mengangguk lalu berjalan menuju sofa, sementara Dave tampak menghubungi seseorang dengan telpon kantor. Setelah itu, Dave berjalan mendekati pria tersebut. "Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Dave sambil duduk menyilangkan kedua kakinya.


Pria itu menampilkan wajah seriusnya. "Bantu aku mencari wanita itu." Pria yang berbicara dengan Dave adalah Glen, sahabat baiknya.


Dahi Dave mengeryit sesaat. "Bukankah kau bilang ingin mencarinya sendiri?" tanya Dave dengan santai lalu menyandarkan tubuhnya sambil menatap Glen.


"Aku rasa aku membutuhkan bantuanmu."


Tampak sekali kalau Glen mengharapkan bantuan dari sahabatnya. Dia tahu kalau Dave pasti bisa dengan mudah menemukan wanita yang dia cari selama ini.


"Kenapa kau tidak menyerah saja, Glen. Masih banyak wanita cantik yang bisa dengan mudah kau dapatkan. Untuk apa kau mencari wanita yang sudah lama menghilang?" Dave sebenarnya penasaran, wanita seperti apa yang bisa membuat sahabatnya tidak bisa berpaling pada wanita lain.


Glen memajukan tubuhnya sambil mengaitkan kedua telapak tangannya dengan siku yang bertumpu di kedua pahanya. "Dengar Dave, aku tidak ingin wanita lain. Hanya dia yang aku mau. Asal kau tahu, aku tidak berniat untuk melepaskannya," tutur Glen dengan tegas.


"Dia sudah menyelematkan hidupku. Jika saja waktu itu dia tidak mendonorkan darahnya untukku dengan segera, mungkin aku sudah tidak ada di dunia ini. Secara tidak langsung dia sudah menjadi bagian dari diriku. Darahnya mengalir tubuhku Dave. Aku harus mendapatkan dia bagaimana pun caranya." Glen tampak berbicara dengan wajah yang sangat serius.


Tipe golongan darah Glen saat itu sedang kosong di rumah sakit tersebut sehingga membutuhkan waktu untuk menemukan golongan darah yang cocok untuk Glen. Karena merasa iba, wanita itu akhirnya mengajukan diri sebagai pendonor untuk Glen.


Glen memang pernah bercerita padanya kalau wanita itu pernah menolongnya ketika dia mengalami kecelakaan. Dia bahkan membawanya ke rumah sakit, mendonorkan darahnya, serta menjaganya selama dua minggu hingga dia sadar karena saat itu, Glen tidak memiliki sanak saudara di sana yang bisa menjaganya di rumah sakit.


Dave sebenarnya mengerti kenapa Glen selama ini tidak pernah menyerah pada wanita tersebut. Hanya saja, kejadian tersebut sudah terjadi 4 tahun yang lalu. Waktu yang cukup lama untuk mencari keberadaan seseorang yang dia bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Dia hanya tahu nama panggilannya saja, karena saat dia sadar, Glen belum sempat bertanya banyak hal pada wanita itu.


Mereka hanya mengobrol hal ringan. Saat itu, dia tidak berpikir, kalau hari itu adalah hari terakhir dia bertemu dengan wanita itu karena keesokan harinya, wanita itu tidak pernah datang lagi untuk menemuinya.


Dari perawatlah Glen tahu kalau wanita itulah yang menyelamatkannya, mendonorkan darahnya serta yang selalu menjaganya selama dia belum sadar. Selain karena kecantikannya, Glen juga menyukainya karena kebaikan hatinya.


Bersambung...


Visual Glen.


__ADS_1


__ADS_2