
Dahi Dave tampak berkerut. "Apa kau yakin tidak mengenalnya? Coba kau ingat lagi?"
Jeslyn menatap ke kanan atas. Dia tampak berusaha untuk mengingat sesuatu. "Aku memang tidak mengenalnya Dave," jawab Jeslyn dengan yakin. "Memangnya ada apa?"
"Apakah 4 tahun lalu kau pernah ke negara bagian Timur Tengah?" Dave tampak mengamati ekspresi wajah Jeslyn. Dia ingin tahu, apakah Jeslyn akan jujur padanya atau sebaliknya.
"Pernah. Aku pergi ke salah satu negara konflik untuk menjadi relawan di sana," jawab Jeslyn jujur, "memangnya kenapa, Dave?"
Jeslyn tentu saja merasa heran kenapa Dave tiba-tiba membahas masalah kunjungannya 4 tahun silam ke negara bagian Timur Tengah tersebut.
"Saat di sana, apakah kau pernah menolong seorang pria?" tanya Dave dengan wajah serius.
Jeslyn tertawa kecil. "Tentu saja. Aku ke sana untuk menolong banyak orang, bukan hanya pria, tetapi wanita dan anak-anak juga. Banyak korban yang berjatuhan akibat konflik yang berkepanjangan di sana." Jeslyn merasa pertanyaan Dave adalah pertanyaan konyol.
"Maksudku, apa kau pernah menolong seorang pria yang mengalami kecelakaan yang bernama Glen Sebastian Tanujaya?"
Jeslyn tampak berusaha berpikir. Dia mencoba mengingat kejadian beberapa tahun silam. "Glen..? Glen Sebatian Tanujaya?" gumam Jeslyn sambil terus berpikir.
"Ohh yaa, Glen yang itu. Aku baru ingat. Benar, aku memang pernah menolong Glen," ucap Jeslyn sambil tersenyum. Detik kemudian Jeslyn menatap heran pada Dave, "tapi dari mana kau tahu mengenai Glen?"
Melihat Jeslyn tersenyum ketika membicarakan Glen, membuat suasana hati Dave bertambah buruk. "Dia temanku," jawab Dave singkat dengan wajah datar.
"Benarkah?" tanya Jeslyn memastikan.
"Yaa, dan saat ini dia sedang mencarimu." Dave mulai menampakkan wajah datar.
"Aku? Kenapa dia mencariku?" tanya Jeslyn dengan heran. Dia merasa tidak memiliki urusan apapun dengan Glen.
"Karena kau sudah membuatnya jatuh cinta padamu. Sudah lama dia mencari keberadaanmu, tapi dia tidak pernah berhasil menemukanmu. Dia bahkan melajang sampai saat ini karena dia berniat untuk menikahimu," ucap Dave dengan wajah tenang. Dave berusaha keras untuk menekan gejolak emosi dan cemburu yang ada di dadanya.
"Haaaa?" Mata Jeslyn langsung membulat. "Kami bahkan hanya pernah mengobrol satu kali, Dave. Kami tidak dekat. Bagaimana bisa dia memiliki niat seperti itu?"
Jeslyn masih tidak mengerti bagaimana bisa pertemuan singkatnya dengan Glen membuat Glen jatuh hati padanya, apalagi masih mencarinya sampai saat ini untuk menikahinya.
"Dia menyukaimu karena kebaikan hatimu Jes. Kau menyelematkan hidupnya bahkan merawatnya hingga dia sadar. Hal itu membuatnya jatuh hati padamu."
Menurut Jeslyn menolong orang adalah kewajibannya. Itu adalah hal biasa yang sudah sering dia lakukan. Lagi pula, tidak ada hal istimewa yang terjadi dengannya dan Glen saat itu.
"Jadi, kau bersikap aneh dan menghindariku hari ini karena masalah Glen?" tanya Jeslyn dengan tatapan menyelidik.
"Aku hanya ingin menenangkan diriku," jawab Dave pelan. "Aku takut akan mendengar hal yanh tidak kuinginkan dari mulutmu," ucap Dave jujur.
Jeslyn menghela napas. "Semenjak kapan kau tahu mengenai hal ini?"
"Baru hari ini." Dave manatap lekat mata istrinya. "Jes, jawab aku dengan jujur? Apa kau pernah menyukainya?"
Jeslyn langsung mengernyit sesaat. "Tentu saja tidak. Bukankah aku sudah pernah bilang padamu dari dulu aku hanya mencintaimu, Dave," terang Jeslyn.
"Apa kau yakin tidak memiliki perasaan apapun padanya?" Dave hanya ingin memastikan perasaan Jeslyn yang sesungguhnya.
"Kalau misalnya aku pernah mencintai Glen? Apa yang akan kau lakukan?" Sebenarnya, Jeslyn hanya ingin tahu, apa saja yang ada dipikiran suaminya saat ini.
Dave tampak terdiam sesaat setelah mendengar pertanyaan istrinya. "Aku tidak tahu. Aku tidak bisa berpikir saat ini," jawab Dave dengan suara pelan.
"Aku sudah menolong banyak orang Dave, termasuk pria tampan seperti Glen. Aku sudah sering bertemu dengan berbagai macam pria selama aku menjadi dokter. Aku tidak mudah jatuh hati pada seseorang. Menolong orang adalah pekerjaanku dan kewajibanku, Dave," terang Jeslyn.
__ADS_1
Dave mulai mencerna ucapan Jeslyn. Jawaban dari istrinya sedikit membuat hatinya lega. Setidaknya Jeslyn tidak memiliki perasaan apapun pada sahabatnya. Tinggal bagaimana caranya, dia memberitahu pada Glen nantinya.
Dave hanya tidak ingin persahabatan yang dia jalin dari mereka kecil akan hancur karena memperebutkan wanita. Apalagi ketika melihat bagaimana tekad Glen untuk menemukan istrinya.
"Apa kau tidak percaya denganku?" tanya Jeslyn lagi ketika melihat Dave hanya diam.
Dave tersenyum paksa sambil mengelus kepala istrinya. "Tidurlah. Besok kita bahas lagi."
Jeslyn merentangkan kedua tangannya. Dave kemudian mendekati Jeslyn lalu memeluknya. "Aku tidak pernah mencintainya, Dave. Aku hanya mencintaimu."
Jeslyn melepaskan pelukannya lalu menatap pada Dave. "Kau harus selalu ingat. Kalau aku hanya mencintaimu, Dave. Selamanya hanya ada kau di hatiku."
Jeslyn kemudian meraih wajah Dave lalu memagut bibir suaminya. Dave tampak diam sesaat lalu perlahan membalas pagutan istrinya. Malam itu, Jeslyn lebih berinisiatif dari biasanya.
Dave hanya menerima setiap perlakukan Jeslyn karena hatinya masih diliputi oleh kegelisahan dan Jeslyn hanya mencoba untuk membuktikan cintanya pada suaminya dan menghilangkan kegelisahan suaminya.
*****
Jeslyn merasa tubuhnya terasa pegal. Tentu saja karena tadi malam dia yang memulai lebih dulu percintaan mereka. Dia berusaha lebih aktif dari biasanya, walaupun pada akhirnya Dave yang kembali mendominasi dan menguasainya.
Jeslyn sengaja membiarkan suaminya melakukan dalam waktu lama hingga akhirnya Dave tumbang di atas tubuhnya ketika pagi menjelang.
Mereka baru selesai pada pukul 4 pagi. Perasaan gelisah Dave perlahan hilang setelah mereka selesai dengan kegiatan mereka. Dave tertidur dengan memeluk erat tubuh Jeslyn seolah takut akan ditinggalkan.
Pagi ini, Jeslyn bangun terlebih dahulu dan melihat suaminya masih terlelap. Jeslyn menunduk dan mencium pipi dan bibir suaminya. Setelah itu dia menuju kamar mandi untuk memberishkan tubuhnya.
Jeslyn berencana untuk memasak sesuatu untuk sarapan suaminya. Setelah selesai mandi, Jeslyn bergegas menuju dapur. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
Sebenarnya Dave akan terlambat, jika dia tidak membangunkannya saat ini, tapi melihat Dave yang tampak masih tertidur dengan lelap, membuatnya tidak tega untuk membangunkannya, sehingga dia memutuskan untuk membangunkan suaminya setelah dia selesai membuat sarapan.
"Tidak ada Bi. Saya hanya ingin memasak untuk Dave. Bibi lanjutkan saja pekerjaan Bibi yang lain," jawab Jeslyn sambil tersenyum.
"Baik, Nyonya." Bi Sarti pun mulai dengan kegiatan bersih-bersihnya.
Jeslyn mulai membuka kulkas dan mengeluarkan bahan makanan yang akan dia olah. Dengan cekatan Jeslyn mulai mencuci, memotong dan meracik bumbu. Dia berencana membuatkan nasi goreng Singapore dan bubur ayam untu sarapan suaminya.
Sebenarnya Dave tidak terbiasa sarapan dengan makanan berat. Jeslyn berpikir semalam Dave pasti belum makan malam, sebab itu dia ingin memasak 2 jenis makanan itu.
Dave memang biasa hanya sarapan roti dan segelas kopi, tapi belakang ini Jeslyn mulai mengganti kopi dengan segelas susu hangat. Jeslyn melarang Dave terlalu sering meminum kopi.
"Ting... Tong." Terdengar bel rumahnya berbunyi. Bi Sarti yang sedang bersih-bersih segera bergegas menuju ke depan untuk membuka pintu.
Tidak lama kemudian seseorang berjalan ke arah dapur. "Jes, kau sedang apa sayang?" tanya ibu mertuanya dengan lembut.
Jeslyn langsung menoleh saat mendengar suara ibu mertuanya. "Sedang memasak, Ma," jawab Jeslyn lembut sambil tersenyum.
Jeslyn mencuci tangan lalu menghampiri ibu mertuanya. "Ini mama bawakan sesuatu untuk kamu." Ibu Dave menyodorkan tas belanja pada menantunya.
Jeslyn menerimanya. "Apa ini Ma?" tanya Jeslyn sambil melihat ke dalam isi dari tas belanja tersebut.
"Itu jamu untuk kamu supaya menambah kesuburan dan agar kau cepat hamil," jawab ibu Dave.
"Terima kasih, Ma."
Jeslyn meletakkan tas belanja tersebut di atas meja. Jeslyn merasa senang dengan perhatian ibu mertuanya. Sebenarnya dia juga sudah mengkonsumsi vitamin untuk dirinya, tetapi melihat ketulusan ibu mertuanya membuat Jeslyn merasa bahagia.
__ADS_1
"Mama sudah sarapan?"
"Sudah di rumah. Lanjutkan saja pekerjaanmu. Mama tunggu di sini." Ibu Dave kemudian duduk di meja memanjang yang ada di dapur.
Jeslyn mengambil sebuah cangkir dan membuatkan teh hangat untuk ibu mertuanya. "Diminum, Ma."
"Terima kasih sayang," ucap Ibu dave sambil meminum teh yang dibuatkan oleh menantunya.
"Tunggu ya Ma, sebentar lagi masakan Jeslyn selesai," ucap Jeslyn dengan lembut. Jeslyn melanjutkan kegiatan memasaknya yang sempat tertunda.
"Iyaa, santai saja," jawab Ibu Dave seraya mengedarkan pandangannya. "Apakah Dave sudah berangkat kerja?"
Jeslyn menoleh sejenak. "Belum Ma. Dave masih tidur."
Ibu Dave tampak mengerutkan keningnya. "Masih tidur?"
"Iya, Ma. Jesyn tidak tega membangunkannya karena Dave terlihat sangat lelah. Dave juga kurang tidur, Ma," jelas Jeslyn lagi.
"Apakah kalian habis begadang untuk membuatkan mama cucu?"
Seketika wajah Jeslyn merona merah mendengar pertanyaan frontal ibu mertuanya. Jeslyn tampak bingung bagaimana harus menjawabnya.
"Jes, kau tidak perlu malu. Mama juga pernah muda, jadi pernah merasakan sepertimu," sambung Ibu Dave lagi ketika melihat wajah malu menantunya.
Jeslyn pura-pura sibuk mengaduk masakannya padahal dia berusaha menyembuyikan wajahnya yang memerah. "Apakah Dave selalu kelelahan seperti itu?"
"Maksud Mama?" tanya Jeslyn tanpa menoleh pada ibu mertuanya. Perkataan ibu mertuanya terasa ambigu baginya.
"Maksud mama, apakah dia memiliki stamina yang buruk belakang ini?" tanya ibu Dave penasaran.
"Tidak juga, Ma. Mungkin karena pekerjaan Dave sedang banyak Ma, jadi membuatnya lelah," jelas Jeslyn pelan.
"Sepertinya mama harus membelikannya vitamin dan jamu agar dia tidak mudah lelah. Bagaimana bisa mama cepat memiliki cucu, kalau Dave saja mudah lelah. Mengecewakan sekali," monolog ibu Dave.
"Jes, kau tenang saja. Mama akan memberikan jamu yang mujarab untuk Dave agar dia tahan lama dan memiliki stamina yang bagus. Mama harap kau tidak kecewa dengannya."
Wajah Jeslyn langsung bersemu merah mendengar ucapan ibu mertuanya. Dia hanya tidak menyangka kalau ibu mertuanya akan membahas tentang hubungan suami istri dengannya tanpa canggung sedikitpun.
"Tidak perlu, Ma. Biar aku saja yang memberikan Dave vitamin," tolak Jeslyn lembut.
"Baiklah," ucap ibu Dave.
Ibu Dave takut kalau menantunya akan kecewa pada anaknya karena mudah lelah. Dia berpikir kalau anaknya tidak bisa bertahan lama dalam hubungan suami istri, sebab itu akan memperngaruhi keharmonisan rumah tangga anaknya. Tanpa ibu mertuanya tahu, kalau sebenarnya anaknya yang sering tidak bisa mengendalikan diri sehingga membuat Jeslyn sering kelelahan.
"Tidak, Ma."
Dalam hatinya dia bergumam kalau dirinya lah yang akan tumbang dan kelelahan jika sampai ibu mertuanya benar memberikan jamu pada Dave.
Dia tidak mugkin membeberkan fakta bahwa anaknya justru memiliki stamina yang sangat bagus hingga terkadang tidak mengenal lelah.
"Ma, bagaimana kalau kita mengobrol di ruang keluarga," ajak Jeslyn sambil menyiapkan beberapa camilan untuk ibu mertuanya.
"Baiklah."
Bersambung..
__ADS_1