Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya

Berbagi Cinta : Cinta Sesungguhnya
Memberikan Waktu


__ADS_3

Dave berjalan menuju kamarnya. Rumahnya terasa sunyi, seolah rumah tersebut tidak berpenghuni. Saat membuka pintu kamarnya, dia melihat Jeslyn sedang terlelap. Dave mendekati Jeslyn dan duduk di tepi tempat tidur. Dia memandangi wajah istrinya dengan perasaan bersalah. Terlihat disudut mata istrinya ada bekas air mata.


Dave membungkukan tubuhnya, lalu mencium kening istrinya. “Maafkan aku sayang! Maafkan kalau aku hanya bisa memberikan luka padamu. Mungkin kali ini aku akan berbuat egois lagi, aku tidak bisa melepasmu begitu saja Jeslyn. Aku sangat mencintaimu. Aku mohon bertahanlah sedikit lagi. Akan kubuktikan, kalau anak yang ada dikandungan Felicia bukan anakku,” guman Dave dengan suara rendah.


Dia kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia baru saja pulang dari luar kota dan langsung menuju rumah sakit setelah mendapatkan dari Jeslyn kalau Felicia masuk rumah sakit karena pingsan.


Saat Dave keluar kamar mandi, dia melihat Jeslyn sedang duduk bersandar di tempat tidur sambil menatap kosong ke depan. Dave menghampiri Jeslyn. “Sayang, apa kau sudah makan?” tanya Dave lembut.


Jeslyn hanya diam, dia tidak merespon pertanyaan Dave. Semenjak dia tahu kalau Felicia hamil. Dia tidak memiliki selera makan sama sekali. Sebelum Dion mengantarnya pulang, terlebih dulu Dion mengajak Jeslyn untuk makan di restoran kesukaan Jeslyn.


Dia tahu kalau Jeslyn pasti tidak akan makan jika dia tidak memaksanya. Saat di restoran Jeslyn hanya menyentuh sedikit makanan. Yang dia inginkan adalah cepat pulang dan langsung tidur.


Melihat Jeslyn tidak meresponnya, Dave kembali bertanya, “Sayang apa kau sakit? Kenapa wajahmu pucat sekali?” tanya Dave sambil memegang dahi istrinya.


“Dave, kau tidak perlu mengkhawatirkanku lagi. Lebih baik kau urus saja istri dan calon anakmu.” Jeslyn tidak menoleh sedikitpun pada Dave. Setiap mengingat kalau Felicia sedang hamil. Hatinya langsung terasa sakit.


Kebahagian yang baru saja dia rasakan seketika musnah, saat mendengar kalau Felicia sedang hamil anak Dave. Selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya kalau suatu saat Felicia akan hamil. Itu karena Dave selalu meyakinkannya dirinya kalau dia tidak akan pernah menyentuh Felicia.


Dave menggenggam tangan istrinya. Dia melihat Jeslyn membuang pandangannya ke samping. Terlihat sekali kalau Jeslyn tidak ingin berbicara dengan Dave.


“Sayang dengarkan aku. Aku akan membuktikan kalau anak yang ada di perut Felicia bukahlah anakku. Aku mohon beri aku kesempatan untuk membuktikannya terlebih dahulu.”


Jeslyn menatap Dave dingin. “Bagaimana jika terbukti anak yang ada di kandungan Felicia adalah anakmu?”

__ADS_1


“Tidak mungkin sayang. Bukankah sudah sering aku katakan kalau aku tidak pernah menyentuhnya.”


Jeslyn memang tidak tahu perihal Dave mabuk saat dirinya pergi ke Surabaya. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Dave menyentuhnya Felicia atas keinginannya sendiri.


“Dave, aku juga memiliki batas kesabaran. Aku juga bisa lelah. Mungkin memang kita hanya berjodoh sampai di sini,” ucap Jeslyn dengan suara bergetar. Dia berusaha untuk menahan air mata yang akan keluar dari pelupuk matanya.


Dave langsung memeluk tubuh istrinya. “Tidak. Ini adalah ujian rumah tangga kita. Aku yakin kita bisa melewatinya. Aku mohon Jeslyn tolong tunggu sampai aku melakukan tes DNA pada kandungan Felicia,” mohon Dave sambil memeluk erat tubuh istrinya.


“Apa kau tahu, aku sudah mengurus perceraianku dengan Felicia beberapa hari yang lalu sebelum aku keluar kota. Aku sengaja ingin memberikanmu kejutan saat aku sudah selesai mengurus perceraianku dengan Felicia.” Dave yang semula ingin memberikan kejutan pada Jeslyn, kini malah dia yang mendapatkan kejutan dari Felicia.


Saat mendengar perkataan Dave tentang perceraianya dengan Felicia, dia tertawa miris. Berita yang seharusnya membahagiakan untuknya kita terasa sia-sia. Tidak ada gunanya lagi Dave membicarakannya, karena Felicia sudah hamil anak Dave. Dia tidak akan bisa menceraikannya sampai bayi itu lahir.


“Dave, tolong tinggalkan aku sendiri. Aku sedang tidak ingin membahas masalah ini. Aku lelah dan ingin istrirahat,” ucap Jeslyn lemah.


“Baiklah. Aku akan memberikanmu waktu untuk menenangkan pikiranmu, tetapi aku mohon jangan menghindariku terus-menerus.” Dave mengecup kening Jeslyn cukup lama. “Aku pergi ke kantor dulu. Aku akan menyuruh Zayn untuk ke sini nanti untuk membawakanmu makanan.”


Jeslyn hanya diam. Dia tidak menanggapi ucapan Dave. Air matanya seketika lolos setelah kepergian Dave. “Maafkan aku Dave. Aku tahu dia juga istrimu. Dia juga berhak mengandung anakmu, tapi hatiku tidak bisa menerima hal ini Dave.” Jeslyn kembali menitikkan air matanya.


******


Hari ini Dave tertahan di kantor hingga malam hari ini. Pekerjaan yang dia tinggalkan selama berada di luar kota menumpuk, membuatnya harus lembur hingga malam. Setelah menyelesaikan sebagian pekerjaanya. Dave memutuskan untuk pulang. Saat tiba di rumah waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Dahi Dave mengernyit saat melihat rumahnya tampak gelap. Dia berpikir kalau Jeslyn pasti tertidur hingga malam sehingga belum menyalakan lampu. Dave berjalan masuk sambil menyalakan semua lampu di dalam rumahnya.

__ADS_1


Dia berjalan ke lantai atas. Dia mnarik napas sebelum membuka pintu kamarnya. Dave berjalan masuk dengan langkah pelan. Dia tidak ingin membangunkan Jeslyn. Saat dia menyalakan lampu. Dia tidak mendapati Jeslyn berada di dalam kamarnya.


Dia berjalan ke kamar mandi dengan langkah cepat. Dia mulai gusar saat tidak menemukan keberadaan Jeslyn di kamar mandi. Dave langsung memeriksa semua ruangan yang ada di rumahnya satu persatu, tapi nihil. Dia tidak juga menemukan keberadaan Jeslyn.


Dave mencoba menghubungi ponsel Jeslyn, tetapi tidak aktif. Beberapa kali dia menguhungo ponsel istrinya tetapi tetap tidak bisa terhubung. Dave langsung meninju tembok yang ada di dekatnya.


“Aarrrggghhh,” teriak Dave sambil mengacak kasar rambutnya.


Dave memutuskan untuk menghubungi Zayn. “Zayn.. Cari sekarang juga di mana keberadaan istriku!” ucap Dave penuh penekanan. Dave berpikir kalau Jeslyn pasti sangat marah dengannya sehingga memutuskan untuk pergi dari rumah.


“Baik Tuan,” terdengar jawaban Zayn.


“Periksa semua CCTV rumah ini, dari 2 bulan lalu sampai hari ini!” perintah Dave.


“Baik Tuan.”


“Di mana kau Jes?” gumam Dave dengan suara rendah. Dia sudah tidak memperdulikan lagi tangannya yang mengeluarkan darah akibat menghantam tembok tadi.


Dave berjalan menuju ruang kerjanya. Dia sedang berdiri sambil menyalakan rokok di tangannya. “Di manapun kau berada. Aku harap kau baik-baik saja Jes,” gumam Dave sambil menghembuskan asap tebal ke udara.


Dia ingin sekali melampiaskan kegelisahannya dengan meminum alkohol, tetapi saat dia teringat kejadian saat dia mabuk, membuatnya mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin menimbulkan masalah lagi karena kecerobohannya.


Setelah menghabiskan rokoknya. Dave berjalan ke kamarnya. Dia membersikan tubuhnya lalu merebahkan diri ke kasur. Dia memeluk erat guling yang biasa istrinya gunakan. Wangi tubuh Jeslyn masih menempel pada guling tersebut.

__ADS_1


“Aku sangat merindukanmu Jes. Di mana kau sekarang?” ucap Dave lirih. “Cepatlah kembali. Aku bisa gila kalau sampai kau meninggalkan aku. Aku mohon kembalilah Jeslyn.”


Bersambung...


__ADS_2